Foto-foto [dalam pameran ini] adalah senjata dalam perang personal
melawan lupa. Mereka adalah inspirasi di balik banyak karya-karya
lukisnya yang paling dikenang, subjek yang pada saat yang sama berposisi
sebagai persepsi, aksi melihat dan mengacuhkan. Melalui distorsi dari
representasi fotografis, Richter berupaya untuk menunjukkan bagaimana
mata kita bisa mengiluminasi dan memperdaya. Masa lalu adalah sesuatu
yang tak pernah stabil, tampaknya demikianlah yang agaknya sedang ia
coba untuk nyatakan. Imaji, baik fotografis maupun dalam bentuk lain,
selalu bersifat artifisial. Tidak ada kebenaran. Yang ada hanyalah
interpretasi, yang diterapkan melalui narasi personal kita sendiri,
sebagaimana ia sejak lama menghantui masa lalu Jerman. (‘Measuring the
Richter scale’ by Jason Cowley, 6 May 2002, News Statesman, on the
occasion of ‘Gerhard Richter: 40 Years of Painting at Museum of Modern
Art, New York, 2002).
Sudut pandang paling umum yang acap muncul dalam pembahasan mengenai karya-karya lukisan yang mendasarkan diri pada imaji fotografis tersebut adalah bagaimana imaji fotografi diolah dalam konsep lukisan, yang kemudian mempertemukan elemen dari masing-masing medium—warna, komposisi, cahaya—untuk direkontekstualisasi dan direkreasi dalam cara lihat yang baru. Salah satu seniman Indonesia yang juga bekerja melintasi batas medium antara lukisan dan fotografi dengan perspektif yang unik adalah RE Hartanto, terutama dalam seri karya-karya “Korean: Post Nuclear” (2008). Secara menarik, Hartanto mengembangkan proses pengambilan imaji fotografinya serupa dengan pijakan gagasan atas self-performance dari orang-orang yang terlibat sebagai modelnya.
*****
Lukisan tentu saja telah memiliki sejarah yang lebih panjang dalam dunia seni rupa ketimbang fotografi. Tetapi, beberapa waktu belakangan, himpitan antara keduanya merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Penemuan kamera sebagai sebuah mesin perekam imaji visual membuat kemungkinan-kemungkinan yang tercipta atas lukisan menjadi semakin kaya. Hampir empat abad yang lalu, para pelukis memindahkan kenyataan ke atas kanvas dengan mengandalkan ketepatan dalam melihat subjek dan mendistorsi atau mempersonalisasi kenyataan itu dengan pandangan personalnya atas dunia. Ketika teknologi fotografi ditemukan, secara tidak langsung, seniman menjadi berjarak dengan kenyataan karena adanya lensa kamera yang memindahkan ingatan dari benak ke atas sesuatu yang tercetak. Sebaliknya, dalam dua dekade belakangan ini, karena himpitan-himpitan yang makin terasa di antara kedua medium dan semakin mapannya posisi fotografi sebagai bagian dari seni rupa kontemporer, maka dapat dilihat pula bagaimana seniman fotografi banyak menimba pijakan visual dari karya-karya lukisan. Terutama sejak berkembangnya genre fotografi seni sebagai satu kategori yang cukup mapan, maka keinginan para fotografer untuk bermain-main dengan logika visual dan representasi kenyataan menunjukkan pengaruh besar dari medium-medium lain di luar dirinya.
Masing-masing seniman dalam pameran ini menunjukkan bagaimana keduanya memberikan pandangan yang menarik berkaitan dengan relasi saling pengaruh antara lukisan dan fotografi. Di antara empat seniman, dua orang merupakan seniman dengan fotografi sebagai medium utamanya yaitu Angki Purbandono dan Lovis Ostenrik, sementara dua yang lain merupakan seniman dengan medium lukis, yakni Andy Dewantoro dan Tommy Aditama Putra.
Karya yang diciptakan Angki Purbandono adalah imaji digital yang diciptakan dengan teknik scan. Teknik ini sudah ia kembangkan selama lebih dari 3 tahun belakangan. Gagasan utamanya, bersumber dari identitas kesenimannya sebagai seorang fotografer, ia ingin mempertanyakan kembali relasi antara diri(nya) dengan kamera, antara mata dengan lensa, antara otak dengan alat. Teknologi digital telah membawa banyak perubahan penting dalam perkembangan fotografi, terutama mengenai pembahasan yang beredar di seputar keaslian citra gambar, karena komputer bisa menyempurnakan semua imaji yang dihasilkan oleh seorang fotografer. Gambar juga dapat diciptakan dari banyak sumber, melalui berbagai program yang disediakan oleh komputer.
Dari situ, secara kritis Angki mengajukan pertanyaan, apakah kemudian identitas fotografer selalu merujuk pada kamera sebagai alat? Jika seorang seniman meninggalkan kameranya, apakah ia tetap dirujuk sebagai fotografer? Melalui teknik pemindaian ini, Angki tidak lagi memerlukan kamera. Subjek benda dipindah langsung di atas mesin, lalu arsip digitalnya inilah yang posisinya disamakan dengan hasil jepretan kamera digital. Di luar situasi bahwa seni bisa menjadi apa saja, melampaui definisi dan kategori, apa yang dilakukan Angki menjadi penting untuk dicatat dalam konteks perkembangan fotografi di Indonesia.
Menariknya, menelusuri relasi antara fotografi dan lukisan, karya-karya Angki menunjukkan bagaimana imaji digital dihasilkan layaknya sebuah lukisan. Ia mengambil objek sehari-hari yang telah disusun dan dipermainkan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kolase objek dengan makna dan komposisi baru. Sementara ia sendiri tidak mengolah hasil scan itu secara digital. Warna-warna dibiarkan sebagaimana aslinya. Sebagian besar subjek yang dipakai Angki adalah benda sehari-hari yang akrab dengan manusia, mulai makanan, buah-buahan hingga mainan. Dalam seri buah-buahan, misalnya, sebagaimana para pelukis surealis, Angki menjadikan buah itu seolah-olah sebagai lanskap bagi objek yang lain.
Untuk pameran ini, Angki membuat seri kaleng Coca Cola. Objek ini merupakan benda temuan yang biasanya ia bawa dari perjalanan ke beberapa tempat, misalnya dari Indonesia, Korea, atau Malaysia. Ia melihat bahwa ada varian visual yang menarik untuk didokumentasikan dari kaleng coca cola. Secara umum, ketiga imaji yang ditampilkan dalam lukisan nyaris sama, tetapi sebagaimana ditemukan dalam lukisan, dengan sudut gambar yang berbeda, juga dengan rekaan tekstur atau komposisi, maka citra visual sebuah objek menjadi berbeda pula. Diambil langsung dari objek trimatra, penonton dapat melihat jelas (bahkan menjadi sangat ekstrem dengan pembesaran yang dilakukan), tiap lekukan yang membentuk tekstur dari masing-masing kaleng.
Sementara Lovis Ostenrik, berbeda dengan Angki tertarik untuk menjadikan tubuh manusia sebagai subjek gagasannya. Selama setahun belakangan, ia menggeluti proyek citra tubuh para penari dengan gerakan melompat, yang ia beri judul sebagai proyek “momentum”. Dalam seri ini, Lovis ingin menampilkan tubuh manusia yang sedang bergerak sebagai manifestasi dari gravitasi alam. Tubuh adalah simbol fisik dari eksistensi manusia sebelum akhirnya ia diberi makna-makna lain baik dalam perspektif sosial, politik, ekonomi maupun seni. Karena itulah, Lovis menampilkan tubuh-tubuh manusia dalam keadaan yang paling polos, telanjang. Ia juga memberikan penekanan khusus pada efek bayangan, yang menjadi subjek sekunder yang penting dalam karya Lovis.
Berhadapan dengan subjek yang hidup dan bergerak, Lovis menghadapi tantangannya sebagai fotografer karena gerak manusia, sesuatu yang ingin ia tangkap melalui lensa kamera sangat berbeda satu sama lain. Ketika ia mempunyai bayangan tertentu atas imaji visual yang dibentuk oleh tubuh sang model, hasil yang ia dapatkan bisa menjadi sangat berbeda karena interpretasi personal subjek. Di sinilah, fotografi menunjukkan adanya jarak antara seniman dengan subjeknya, antara mata dengan lensa, antara yang nyata dan yang ditampilkan.
Latar karya Lovis yang putih bersih, dengan subjek yang sederhana dan minimal, mengingatkan saya pada kanvas lukisan. Komposisi, cahaya, warna, dan elemen-elemen visual yang mendasar diolah melalui teknologi kamera dan penyesuaian dengan program olah gambar di komputer. Kamera dan program inilah yang menggantikan posisi cat dan kuas dari seorang pelukis. Lovis bekerja dengan perencanaan yang cukup detail ketika ia membuat sesi pemotretan, sehingga prosesnya dapat disamakan dengan pembuatan sketsa para pelukis.
Dari ranah lukisan, sebagaimana dua fotografer di atas, masing-masing merepresentasikan subjek manusia dan subjek benda. Andy Dewantoro sudah melakukan studi penciptaan kembali atas lanskap perkotaan yang sumber citra visualnya sejak tiga tahun terakhir. Belajar di jurusan arsitektur Institut Teknologi Bandung, wajarlah jika Andy tertarik pada isu tentang tata kota dan rancang bangun. Ia juga senang mengambil gambar lanskap kota ketika sedang melakukan perjalanan-perjalanan ke berbagai tempat. Meski demikian, tidak semua citra fotografis yang menjadi basis penciptaannya merupakan hasil dari perburuan dengan kameranya. Sebagian imaji-imaji itu ia temukan melalui internet, majalah, buku perjalanan, dan banyak sumber lain. Kemudian, beberapa ikon dan landmark ia gabung-gabungkan dengan teknik kolase membentuk satu citra baru di atas kanvas.
Ketika dipindahkan ke atas kanvas, gambar-gambar itu menampilkan dengan kuat kesan atas kota industrial yang dingin, sepi, dan seperti tak manusiawi. Andy tidak tertarik untuk menempatkan subjek manusia di dalam citra yang diciptakannya, tetapi, dengan cara tertentu, terutama melalui pilihan warna monokrom, justru lukisan-lukisannya bisa dengan jelas menggambarkan bagaimana situasi manusia yang terasing di tengah gempuran pembangunan gedung-gedung tinggi dan kokoh serta jalanan yang megah dan massif.
Pada karya Andy, imaji fotografis memang ditempatkan sebagai titik pijak, yang jejaknya masih terasakan dengan cukup jelas. Akan tetapi, eksekusinya dalam lukisan menyebabkan suasana ekstrem atas industrialisasi yang mengubah relasi manusia dengan alam dan semesta bisa dieksplorasi dengan lebih maksimal. Gedung dan jalan raya yang menjadi subjek utama lukisan-lukisan Andy, ditautkan dengan ilalang, pepohonan atau langit malam, sehingga bisa dirasakan bagaimana beton-beton itu diciptakan seperti menjadi semesta baru manusia.
Tommy Aditama Putra mengolah tema dan kecenderungan yang belakangan menjadi populer dalam seni kontemporer Indonesia, yaitu potret diri. Sebagaimana beberapa seniman yang sudah melakukan jelajah atas tema yang sama, Tommy mengeksplorasi gagasan personalnya atas dunia dan merepresentasika pandangan itu dengan menghadirkan sosok tubuh dan wajahnya dalam karya, dengan menggabungkan dengan konteks lain yang lebih besar di luar dirinya. Salah satu tema yang sudah dikerjakannya dalam beberapa waktu belakangan ini adalah merefleksikan gagasan keseniannya dengan gagasan kesenian dari seniman-seniman senior seperti Agus Suwage, FX Harsono, dan RE Hartanto, yang juga mengolah imaji tentang potret diri. Pada saat yang lain, ia juga mengolah citra atas tokoh-tokoh lain, seperti yang dipamerkan kali ini, Bung Tomo. Dengan bahasa visual yang penuh humor, ia memplesetkan menjadi identitas dirinya, “Bung Tommy”, sebuah cara yang unik dan personal untuk berdialog dengan sejarah.
Dengan demikian, ada beberapa citra fotografis yang dilampaui Tommy. Pertama-tama, ia mempelajari gambar dari tokoh atau konteks yang sedang ingin ia jelajahi. Kedua, ia membayangkan atau merancang citra dari representasi diri sendiri yang ingin ia tampilkan. Lalu, membuat gabungan dari kedua citra tersebut menjadi satu imaji baru. Barulah kemudian ia memindahkan imaji tersebut ke atas kanvas atau kertas, sebagian besar dengan carkul.
Karena sebagian besar imajinya dibuat dalam warna hitam dan putih, memindahkan gambar foto diri ke atas kanvas dengan latar belakang yang minimal dan cenderung gelap, memunculkan efek dramatis dalam karya Tommy, terutama yang ditampilkan melalui goresan carkulnya.
******
Seluruh proses yang dilalui oleh masing-masing seniman dalam pameran ini menunjukkan bagaimana ada banyak lapisan dari proses menyerap persepsi visual dari seorang individu. Mata bekerja dengan banyak penyaring, memilih dan menyeleksi citra visual yang bisa masuk ke dalam kotak ingatan. Karena lahir dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, citra fotografis, selain juga citra-citra dari gambar bergerak seperti dalam layar televisi atau film, menjadi sesuatu yang meneror indera pelihat kita.
Dengan mengolah kembali imaji fotografi, atau, sebaliknya, menimba gagasan visual dari lukisan, para seniman membantu kita untuk berjarak dengan kenyataan sehari-hari, dan melihat subjek dengan satu sudut pandang yang sama sekali lain. Transformasi gagasan dari satu media ke media yang lain, dari teknik tertentu ke teknik lain, membuat sebuah citra visual punya kesan dan makna yang tidak lagi sama. Ada ilusi-ilusi visual yang ditawarkan melalui distorsi kenyataan, baik melalui komposisi, bebayang, warna dan goresan, adalah sebuah cara untuk menggarisbawahi apa yang tidak biasa dari persepsi visual yang kita cerap. Karya-karya seperti dalam pameran ini, sedikit banyak memunculkan pertanyaan tentang sesuatu yang kita anggap sebagai bagian wajar dari keseharian kita (buah, jembatan kota, tubuh, atau wajah diri), karena ia dipresentasikan dengan sudut pandang berbeda, yang kadang membetot emosi karena terasa dramatis, melankolis, liris dan juga ironis.
Sudut pandang paling umum yang acap muncul dalam pembahasan mengenai karya-karya lukisan yang mendasarkan diri pada imaji fotografis tersebut adalah bagaimana imaji fotografi diolah dalam konsep lukisan, yang kemudian mempertemukan elemen dari masing-masing medium—warna, komposisi, cahaya—untuk direkontekstualisasi dan direkreasi dalam cara lihat yang baru. Salah satu seniman Indonesia yang juga bekerja melintasi batas medium antara lukisan dan fotografi dengan perspektif yang unik adalah RE Hartanto, terutama dalam seri karya-karya “Korean: Post Nuclear” (2008). Secara menarik, Hartanto mengembangkan proses pengambilan imaji fotografinya serupa dengan pijakan gagasan atas self-performance dari orang-orang yang terlibat sebagai modelnya.
*****
Lukisan tentu saja telah memiliki sejarah yang lebih panjang dalam dunia seni rupa ketimbang fotografi. Tetapi, beberapa waktu belakangan, himpitan antara keduanya merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Penemuan kamera sebagai sebuah mesin perekam imaji visual membuat kemungkinan-kemungkinan yang tercipta atas lukisan menjadi semakin kaya. Hampir empat abad yang lalu, para pelukis memindahkan kenyataan ke atas kanvas dengan mengandalkan ketepatan dalam melihat subjek dan mendistorsi atau mempersonalisasi kenyataan itu dengan pandangan personalnya atas dunia. Ketika teknologi fotografi ditemukan, secara tidak langsung, seniman menjadi berjarak dengan kenyataan karena adanya lensa kamera yang memindahkan ingatan dari benak ke atas sesuatu yang tercetak. Sebaliknya, dalam dua dekade belakangan ini, karena himpitan-himpitan yang makin terasa di antara kedua medium dan semakin mapannya posisi fotografi sebagai bagian dari seni rupa kontemporer, maka dapat dilihat pula bagaimana seniman fotografi banyak menimba pijakan visual dari karya-karya lukisan. Terutama sejak berkembangnya genre fotografi seni sebagai satu kategori yang cukup mapan, maka keinginan para fotografer untuk bermain-main dengan logika visual dan representasi kenyataan menunjukkan pengaruh besar dari medium-medium lain di luar dirinya.
Masing-masing seniman dalam pameran ini menunjukkan bagaimana keduanya memberikan pandangan yang menarik berkaitan dengan relasi saling pengaruh antara lukisan dan fotografi. Di antara empat seniman, dua orang merupakan seniman dengan fotografi sebagai medium utamanya yaitu Angki Purbandono dan Lovis Ostenrik, sementara dua yang lain merupakan seniman dengan medium lukis, yakni Andy Dewantoro dan Tommy Aditama Putra.
Karya yang diciptakan Angki Purbandono adalah imaji digital yang diciptakan dengan teknik scan. Teknik ini sudah ia kembangkan selama lebih dari 3 tahun belakangan. Gagasan utamanya, bersumber dari identitas kesenimannya sebagai seorang fotografer, ia ingin mempertanyakan kembali relasi antara diri(nya) dengan kamera, antara mata dengan lensa, antara otak dengan alat. Teknologi digital telah membawa banyak perubahan penting dalam perkembangan fotografi, terutama mengenai pembahasan yang beredar di seputar keaslian citra gambar, karena komputer bisa menyempurnakan semua imaji yang dihasilkan oleh seorang fotografer. Gambar juga dapat diciptakan dari banyak sumber, melalui berbagai program yang disediakan oleh komputer.
Dari situ, secara kritis Angki mengajukan pertanyaan, apakah kemudian identitas fotografer selalu merujuk pada kamera sebagai alat? Jika seorang seniman meninggalkan kameranya, apakah ia tetap dirujuk sebagai fotografer? Melalui teknik pemindaian ini, Angki tidak lagi memerlukan kamera. Subjek benda dipindah langsung di atas mesin, lalu arsip digitalnya inilah yang posisinya disamakan dengan hasil jepretan kamera digital. Di luar situasi bahwa seni bisa menjadi apa saja, melampaui definisi dan kategori, apa yang dilakukan Angki menjadi penting untuk dicatat dalam konteks perkembangan fotografi di Indonesia.
Menariknya, menelusuri relasi antara fotografi dan lukisan, karya-karya Angki menunjukkan bagaimana imaji digital dihasilkan layaknya sebuah lukisan. Ia mengambil objek sehari-hari yang telah disusun dan dipermainkan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kolase objek dengan makna dan komposisi baru. Sementara ia sendiri tidak mengolah hasil scan itu secara digital. Warna-warna dibiarkan sebagaimana aslinya. Sebagian besar subjek yang dipakai Angki adalah benda sehari-hari yang akrab dengan manusia, mulai makanan, buah-buahan hingga mainan. Dalam seri buah-buahan, misalnya, sebagaimana para pelukis surealis, Angki menjadikan buah itu seolah-olah sebagai lanskap bagi objek yang lain.
Untuk pameran ini, Angki membuat seri kaleng Coca Cola. Objek ini merupakan benda temuan yang biasanya ia bawa dari perjalanan ke beberapa tempat, misalnya dari Indonesia, Korea, atau Malaysia. Ia melihat bahwa ada varian visual yang menarik untuk didokumentasikan dari kaleng coca cola. Secara umum, ketiga imaji yang ditampilkan dalam lukisan nyaris sama, tetapi sebagaimana ditemukan dalam lukisan, dengan sudut gambar yang berbeda, juga dengan rekaan tekstur atau komposisi, maka citra visual sebuah objek menjadi berbeda pula. Diambil langsung dari objek trimatra, penonton dapat melihat jelas (bahkan menjadi sangat ekstrem dengan pembesaran yang dilakukan), tiap lekukan yang membentuk tekstur dari masing-masing kaleng.
Sementara Lovis Ostenrik, berbeda dengan Angki tertarik untuk menjadikan tubuh manusia sebagai subjek gagasannya. Selama setahun belakangan, ia menggeluti proyek citra tubuh para penari dengan gerakan melompat, yang ia beri judul sebagai proyek “momentum”. Dalam seri ini, Lovis ingin menampilkan tubuh manusia yang sedang bergerak sebagai manifestasi dari gravitasi alam. Tubuh adalah simbol fisik dari eksistensi manusia sebelum akhirnya ia diberi makna-makna lain baik dalam perspektif sosial, politik, ekonomi maupun seni. Karena itulah, Lovis menampilkan tubuh-tubuh manusia dalam keadaan yang paling polos, telanjang. Ia juga memberikan penekanan khusus pada efek bayangan, yang menjadi subjek sekunder yang penting dalam karya Lovis.
Berhadapan dengan subjek yang hidup dan bergerak, Lovis menghadapi tantangannya sebagai fotografer karena gerak manusia, sesuatu yang ingin ia tangkap melalui lensa kamera sangat berbeda satu sama lain. Ketika ia mempunyai bayangan tertentu atas imaji visual yang dibentuk oleh tubuh sang model, hasil yang ia dapatkan bisa menjadi sangat berbeda karena interpretasi personal subjek. Di sinilah, fotografi menunjukkan adanya jarak antara seniman dengan subjeknya, antara mata dengan lensa, antara yang nyata dan yang ditampilkan.
Latar karya Lovis yang putih bersih, dengan subjek yang sederhana dan minimal, mengingatkan saya pada kanvas lukisan. Komposisi, cahaya, warna, dan elemen-elemen visual yang mendasar diolah melalui teknologi kamera dan penyesuaian dengan program olah gambar di komputer. Kamera dan program inilah yang menggantikan posisi cat dan kuas dari seorang pelukis. Lovis bekerja dengan perencanaan yang cukup detail ketika ia membuat sesi pemotretan, sehingga prosesnya dapat disamakan dengan pembuatan sketsa para pelukis.
Dari ranah lukisan, sebagaimana dua fotografer di atas, masing-masing merepresentasikan subjek manusia dan subjek benda. Andy Dewantoro sudah melakukan studi penciptaan kembali atas lanskap perkotaan yang sumber citra visualnya sejak tiga tahun terakhir. Belajar di jurusan arsitektur Institut Teknologi Bandung, wajarlah jika Andy tertarik pada isu tentang tata kota dan rancang bangun. Ia juga senang mengambil gambar lanskap kota ketika sedang melakukan perjalanan-perjalanan ke berbagai tempat. Meski demikian, tidak semua citra fotografis yang menjadi basis penciptaannya merupakan hasil dari perburuan dengan kameranya. Sebagian imaji-imaji itu ia temukan melalui internet, majalah, buku perjalanan, dan banyak sumber lain. Kemudian, beberapa ikon dan landmark ia gabung-gabungkan dengan teknik kolase membentuk satu citra baru di atas kanvas.
Ketika dipindahkan ke atas kanvas, gambar-gambar itu menampilkan dengan kuat kesan atas kota industrial yang dingin, sepi, dan seperti tak manusiawi. Andy tidak tertarik untuk menempatkan subjek manusia di dalam citra yang diciptakannya, tetapi, dengan cara tertentu, terutama melalui pilihan warna monokrom, justru lukisan-lukisannya bisa dengan jelas menggambarkan bagaimana situasi manusia yang terasing di tengah gempuran pembangunan gedung-gedung tinggi dan kokoh serta jalanan yang megah dan massif.
Pada karya Andy, imaji fotografis memang ditempatkan sebagai titik pijak, yang jejaknya masih terasakan dengan cukup jelas. Akan tetapi, eksekusinya dalam lukisan menyebabkan suasana ekstrem atas industrialisasi yang mengubah relasi manusia dengan alam dan semesta bisa dieksplorasi dengan lebih maksimal. Gedung dan jalan raya yang menjadi subjek utama lukisan-lukisan Andy, ditautkan dengan ilalang, pepohonan atau langit malam, sehingga bisa dirasakan bagaimana beton-beton itu diciptakan seperti menjadi semesta baru manusia.
Tommy Aditama Putra mengolah tema dan kecenderungan yang belakangan menjadi populer dalam seni kontemporer Indonesia, yaitu potret diri. Sebagaimana beberapa seniman yang sudah melakukan jelajah atas tema yang sama, Tommy mengeksplorasi gagasan personalnya atas dunia dan merepresentasika pandangan itu dengan menghadirkan sosok tubuh dan wajahnya dalam karya, dengan menggabungkan dengan konteks lain yang lebih besar di luar dirinya. Salah satu tema yang sudah dikerjakannya dalam beberapa waktu belakangan ini adalah merefleksikan gagasan keseniannya dengan gagasan kesenian dari seniman-seniman senior seperti Agus Suwage, FX Harsono, dan RE Hartanto, yang juga mengolah imaji tentang potret diri. Pada saat yang lain, ia juga mengolah citra atas tokoh-tokoh lain, seperti yang dipamerkan kali ini, Bung Tomo. Dengan bahasa visual yang penuh humor, ia memplesetkan menjadi identitas dirinya, “Bung Tommy”, sebuah cara yang unik dan personal untuk berdialog dengan sejarah.
Dengan demikian, ada beberapa citra fotografis yang dilampaui Tommy. Pertama-tama, ia mempelajari gambar dari tokoh atau konteks yang sedang ingin ia jelajahi. Kedua, ia membayangkan atau merancang citra dari representasi diri sendiri yang ingin ia tampilkan. Lalu, membuat gabungan dari kedua citra tersebut menjadi satu imaji baru. Barulah kemudian ia memindahkan imaji tersebut ke atas kanvas atau kertas, sebagian besar dengan carkul.
Karena sebagian besar imajinya dibuat dalam warna hitam dan putih, memindahkan gambar foto diri ke atas kanvas dengan latar belakang yang minimal dan cenderung gelap, memunculkan efek dramatis dalam karya Tommy, terutama yang ditampilkan melalui goresan carkulnya.
******
Seluruh proses yang dilalui oleh masing-masing seniman dalam pameran ini menunjukkan bagaimana ada banyak lapisan dari proses menyerap persepsi visual dari seorang individu. Mata bekerja dengan banyak penyaring, memilih dan menyeleksi citra visual yang bisa masuk ke dalam kotak ingatan. Karena lahir dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, citra fotografis, selain juga citra-citra dari gambar bergerak seperti dalam layar televisi atau film, menjadi sesuatu yang meneror indera pelihat kita.
Dengan mengolah kembali imaji fotografi, atau, sebaliknya, menimba gagasan visual dari lukisan, para seniman membantu kita untuk berjarak dengan kenyataan sehari-hari, dan melihat subjek dengan satu sudut pandang yang sama sekali lain. Transformasi gagasan dari satu media ke media yang lain, dari teknik tertentu ke teknik lain, membuat sebuah citra visual punya kesan dan makna yang tidak lagi sama. Ada ilusi-ilusi visual yang ditawarkan melalui distorsi kenyataan, baik melalui komposisi, bebayang, warna dan goresan, adalah sebuah cara untuk menggarisbawahi apa yang tidak biasa dari persepsi visual yang kita cerap. Karya-karya seperti dalam pameran ini, sedikit banyak memunculkan pertanyaan tentang sesuatu yang kita anggap sebagai bagian wajar dari keseharian kita (buah, jembatan kota, tubuh, atau wajah diri), karena ia dipresentasikan dengan sudut pandang berbeda, yang kadang membetot emosi karena terasa dramatis, melankolis, liris dan juga ironis.
0 komentar:
Posting Komentar