Manusia kadang masih seperti ikan,
pikirnya, tak dapat bercampur baur dan hanya nyaman dengan golongan sejenisnya.
Di danau itu telah dimasukkan ikan
dari tempat asing, seperti ikan gabus Toraja, yang ternyata lebih suka memakan
telur ikan gabus asli dari danau itu maupun ikan-ikan lainnya. Ikan gabus asli
yang disebut khahabei itu harus dicari para penyelam di bagian danau terdalam.
Sedangkan ikan lohan yang juga asing di danau itu, tak hanya memakan
telur-telur ikan gabus, anak-anak ikan gabus, dan ikan-ikan kecil lain, tetapi
juga udang dan jengkerik . Maka ikan-ikan asli lain seperti ikan seli, ikan
gete-gete besar dan kecil, ikan gastor, ikan gabus merah, ikan gabus hitam yang
dahulu berlimpah kini hanya tertangkap dalam jumlah sedang; yang masih banyak
tinggal ikan-ikan hewu atau ikan pelangi, tetapi ikan kehilo semakin susah
dicari, mungkin karena makin jauh bersembunyi, mungkin juga memang tinggal
sedikit sekali. Tempat mereka telah diisi ikan-ikan asing yang disebut ikan
mata merah, ikan tambakan, ikan sepat siam, ikan nila, ikan nilem, dan ikan
mas. Barnabas tahu benar, dahulu setidaknya terdapat dua puluh sembilan jenis
ikan, termasuk ikan laut yang masuk dari muara sungai di sebelah timur, dan
sekarang hanya enam belas jenis, itu pun tinggal sembilan jenis yang asli.
Ikan makan ikan, apakah manusia
tidak memakan manusia? Barnabas tidak terlalu peduli apakah ia pernah menjawab
pertanyaannya sendiri.
Sudah beberapa hari Klemen menghilang.
Tetangganya menyampaikan kadang ada orang datang bertanya-tanya tentang
Klemen—bukan, mereka bukan sesama penduduk di negeri danau yang saling mengenal
sejak dilahirkan. Perahu bolotu yang digunakan Klemen juga masih di tempatnya,
ketika beberapa malam lalu mendadak terdengar deru perahu Johnson di kejauhan
pada tengah malam. Penduduk yang masih terjaga saling berpandangan. Mereka yang
terbiasa menyendiri memang harus menghadapi segala sesuatunya sendirian.
Barnabas menyelam makin dalam,
bahkan sampai menyentuh lumpur di dasar danau. Seekor ikan khahabei besar yang
waspada berkelebat, mengepulkan lumpur yang segera saja menutupi pandangan.
Barnabas tidak dapat melihat apa pun. Cahaya yang sejak pagi tidak pernah lebih
terang dari kekelabuan dalam hujan, di dasar danau ini tak dapat juga
memperlihatkan sesuatu kepada Barnabas.
Namun di antara kepulan lumpur pekat
Barnabas merasakan sesuatu datang dari dasar danau dan ia segera
menghindarinya. Tak urung, sesuatu yang mengambang karena gerakan ikan khahabei
itu telah melepaskan keterikatannya dari akar-akaran di dasar danau, menyentuh
tubuhnya juga dalam perjalanan ke permukaan danau.
Ia terkesiap dan melepaskan dirinya
dari kepulan lumpur, melesat dan menyusul sesuatu yang segera jelas merupakan
sesosok mayat. Dari balik kacamata selamnya yang buram, matanya terpaku kepada
sosok itu, yang perlahan tetapi pasti menuju ke atas sampai mengapung di
permukaan danau. Dengan cahaya yang sedikit lebih baik daripada di dasar danau,
meskipun tidak terlalu jelas, Barnabas dapat memastikan bahwa tangan dan kaki
mayat itu terikat, dan pengikatnya adalah robekan bendera bergaris biru putih,
sedangkan mulutnya disumpal dengan kain merah.
Di permukaan itu hujan bukan semakin
mereda tetapi menderas. Angin keras menyapu seluruh permukaan danau, sehingga
air hujan yang turun dari langit tersibak bagaikan tirai raksasa yang
melambai-lambai. Di antara deru angin yang menarik-narik daun pohon nyiur di
semua pulau, terdengarlah jeritan panjang dari tengah danau.
”Klemeeeeeeeennnn!”
Jayapura, 12-14 November 2011
*)cerpen Kompas, 8 Januari 201
Berjalan-jalan dari satu tulisan ke tulisan lain di laman ini membuat saya diliputi keheranan yang sangat. Dari mana energi itu dulu berasal. Saya begitu menikmati semuanya. Menulis dengan rutin. Berjejaring. Dan mensyukuri banyak hal.
Malam ini saya merasa seperti orang yang kalah. Dilanda gundah yang sangat. Cemas atas banyak hal yang belum nyata. Saya melihat harapan saya pupus, perlahan-lahan.
Pencapaian, eksistensi, penghargaan, waktu yang terbuang…
Kepala saya penuh.
Ada saran apa yang harus saya lakukan saat ini, ketika saya kehilangan saya …
Bergerak. Rinduku.
Kutitipkan ia, rinduku, di ujung atap pasar becek di pinggir kali. Di tepian ranting pohon randu yang berdiri berjajar di sepanjang rel. Di sela-sela kerikil di jalan setapak menuju rumah berpintu kayu. Di bunga eceng gondok warna ungu yang berkumpul di rawa dekat balai desa. Di biru air laut tak jauh dari stasiun Plabuan. Di nyanyian pelajar berseragam putih merah yang meniti aspal menuju sekolah. Di senyum ramah penjaja teh. Di harum yang ditinggalkan fajar sesaat sebelum ia benar-benar menghilang. Di ujung hijau daun pakis. Di dua bangku panjang di belakang bangunan tua bercat putih. Di wajah sabar pengendara sepeda yang menunggu palang kereta api dibuka. Di pijar matahari yang mulai tinggi. Di rerumputan yang bertetangga dengan talas. Di satu, dua, tiga, empat, lima burung berbulu putih yang terbang rendah menyebrangi persawahan.
Kelak, ketika kau melintasi jalan yang sama, kau akan jumpai, rindu, yang kutitipkan itu, di sana; ujung atap pasar becek di pinggir kali, tepian ranting pohon randu yang berdiri berjajar di sepanjang rel, sela-sela kerikil di jalan setapak menuju rumah berpintu kayu…
Oktober, antara Gambir-Tawang
untuk Eka, di mana rindu bermula dan bermuara
Hidup sepertinya terlalu bergegas dan saya tak mempersiapkan bekal yang cukup untuk itu. Seperti lalai membawa kotak makan ketika piknik akhir pekan. Atau seperti mendaki bukit dan diterpa kelelahan yang sangat.
Dan saya begitu merindu menulis. Tapi saya tak menulis ketika cemas. Kalimat menguap ketika sedih berkepanjangan.
Buntu
Ini hanya benang kusut yang harus diurai, pelan-pelan.
Malam ini saya putuskan:
Saya tak hendak menyerah pada hidup. Saya berjanji untuk itu…
Sekarang, saya benar-benar memerlukan secangkir coklat panas … sebuah sarana bermain yang merupakan mediasi dalam pembentukan kreativitas anak.
Seiring dengan berkembangnya zaman, marak sekali dimana ada aktivitas yang menyertai anak - anak,
maka disitulah banyak didirikan tempat bermain seperti ini.
Selain berkelas, dimana sebuah tempat yang memfasilisasi media ini, juga harus mempertimbangkan soal keamanan,
keselamatan, kebersihan serta kenyamanan bagi pengguna yang sebagian besar adalah anak - anak kita sayangi.
Diawali dari sebuah konsep desain yang telah di riset dan dicermati, serta mutu nilai - nilai produksi yang sudah
dikembangkan,Kami hadir dalam memberikan suatu pelayanan yang baik, seperti komitmen kami untuk menjaga sebuah
kualitas dan mengutamakan keamanan dalam setiap produk - produk kami.
Itulah yang selalu kami jaga seperti terhadap klien - klien kami terdahulu.
Baik dalam pencapain citra kami maupun anda.
Anak - anak kita adalah harta yang tidak ternilai,
Kami bisa berjalan juga karena anda dan mereka, yang sudah menjadi jadi bagian dari kami untuk memberikan yang terbaik.
Kami dari BRanda design, adalah sebuah bentuk usaha yantg bergerak dalam bidang desain interior, desain dan pembuatan untuk playground indoor dan outdoor.
Kami siap menjadi Mitra yang baik. Seperti komitmen Kami terhadap rekan-rekan bisnis terdahulu yang selalu Kami jaga dengan mutu dan pelayanan yang baik dari setiap pekerjaan yang dilaksanakan. Dan Kami selalu berangkat dari sebuah Konsep desain untuk mengawali sebuah pekerjaan. Agar semua terencana, aman/nyaman, mudah, dan sesuai dengan yang diinginkan.
Kunjungi Kami di
heboh membongkar-bongkar almari. Dia mencari baju yang berwarna pink. Setidak-tidaknya yang bernuansa pink. Ada pesta Valentine di kampus. Warna itu menjadi tiket masuk. Warna lain akan ditolak. Kecuali mau beli kaus oblong dari panitia yang berwarna pink. Tapi harganya selangit.
“Buat apa beli kaus oblong 200 ribu, kan pakainya juga hanya sekali,”kata Ami terus membongkar.
Bu Amat ikut membantu Ami mencari-cari, sampai-sampai terlambat menyiapkan makan malam. Amat langsung protes.
“Kenapa sih pakai ikut-ikutan valentin-valentinan. Itu kan bukan budaya kita!”
Ami dan ibunya tidak peduli.
“Mana makannya? Nanti maag-ku kumat!”
Bu Amat tak mendwengar. Ia terus membantu Ami mencari. Amat jadi kesal. Tapi makin dia kesal, makin Ami dan Bu Amat lebih tidak peduli. Amat jadi marah. Dia salin pakaian, lalu keluar rumah.
“Ke mana Pak?”
“Mau ikut valentine!” kata Amat tanpa menoleh.
Amat ke tukang sate di tikungan. Dia mau makan enak. Tapi ternyata tidak jualan. Orangnya kelihatan mau berangkat kundangan. Dia tersenyum melihat Amat datang.
“Mau ke situ juga Pak Amat?”
“Ke situ ke mana? Mau cari makan ini. Kenapa tutup?”
“Kan hari besar pak Amat.”
“Ah sejak kapan tukang sate ikut-ikutan valentine?”
“Bukan. Saya mau ke tempat Yuk Lee, kan ada makan-makan. Pak Amat mau ke situ juga kan?”
“Lee?”
“Ya”
“Sejak kapan di situ diundang Yuk Lee?”
“Ya namanya juga silaturahmi Pak Amat. Tidak perlu undangan. Kalau kita tahu ya harus datang. Saya kan langganan tetap dia dulu waktu masih jualan kue. Ayo ikutan.”
“Ah, mau cari makan ni!”
“Makan di situ saja, pasti enak semua! Yuk Lee pasti seneng kalau Pak Amat datang. Ayo Pak!”
Tukang sate itu menstater motornya.
“Ya sudah, ikut sampai di alun-alun, nanti turun di situ, makan ketupat!”
Amat naik ke boncengan. Tapi kemudian tidak turun di alun-alun, sebab asyik ngobrol. Tahu-tahu sudah sampai ke rumah Lee.
“Lho kok jadi ke sini?” kata Amat kaget.
Tukang sate hanya nyengir. Amat hampir saja mau kabur, tapi Lee muncul. Dia berteriak menyapa tukang sate. Waktu melihat Amat dia langsung datang dan mengguncang tangan Amat.
“Terimakasih pak Amat, terimakasih sudah datang. Tumben ini. Mimpi apa saya Pak Amat mau datang? Kebetulan semua pada sedang makan ini. Ayo cepetan masuk, Pak Amat. Jangan di luar, ke dalam saja!”
Amat dan tukang sate dibawa masuk ke dalam rumah. Ternyata dalam rumah lebar dan mewah. Padahal darii luar kelihatan sederhana. Lee memang kaya-raya, tapi tidak pernah pamer menunjukkan kekayaannya. Dia mulai dari jualan kue. Tiap hari istri dan anak-anaknya keliling. Lama-lama meningkat. Dasar ulet, sekarang tokonya ada lima. Mobilnya banyak. Tapi hubungannya dengan orang-orang yang dulu menjadi langganan kuenya tetap baik.
“Terimakasih Pak Amat, sudah mau datang ke rumah kami,”kata istri Lee menyambut.
Amat kemudian diperkenalkan kepada ketujuh putra-putri Lee. Ada yanhg sekolah di Amerika. Ada yang di Australia. Ada yang di Singapura. Ada juga yang di Hong Kong. Yang paling besar di rumah membantu Lee.
Amat malu sekali, seakan-akan Lee tahu dia datang untuk cari makan. Mula-mula Amat hanya sekedar nyicip. Tapi setelah melihat tukang sate dan tamu-tamu lain makan dengan rakus, Amat jadi lupa daratan. Ia makan sekenyang-kenyangnya.
Banyak sekali tamu datang silih berganti. Lee tak sempat lagi ngobrol dengan Amat. Dan ketika pulang, tak sempat lagi pamitan, sebab tamu semakin malam semakin melimpah. Diam-diam Amat dan tukang sate itu meninggalkan rumah Lee.
“Heran sudah kaya raya begitu, tamu-tamunya semua kok kelas naik motor seperti kita. Nggak ada mobil-mobil mewah ya,”kata Amat.
Tukang sate ketawa.
“Yang naik mobil nggak akan mau datang Pak Amat.”
“Kenapa?”
“Pasti malu,”
“Lho kenapa? Kan silaturahmi?”
“Nanti dikira cari Ang Pao.”
“Ang Pao?”
“Ya. Kalau buat kita sih rezeki. Orang-orang pakai mobil itu mana mau dapat amplop begini,:kata tukang sate merogoh dari sakunya dan menyerahkan pada Amat, ”ini untuk Pak Amat!”
Amat terkejut menerima amplop itu.
“Untuk saya ini?”
“Ya untuk pak Amat.”
“Bukannya untu di situ saja.”
“Saya sudah dapat Pak Amat. Tadi istri Lee sengaja ngasih lewat saya, dia tahu pak Amat pasti tidak akan mau kalau dikasih langsung.”
Amat tertegun.
“Gimana? Apa untuk saya saja?”
Sekarang jelas. Banyak yang datang ke rumah Lee, karena mengejar ang pao. Amat jadi malu. Ia ingin sekali mengembalikan amplop itu. Tapi tak mungkin. Itu bisa jadi salah paham.
“Gimana pak Amat? Untuk saya saja?”
Hampuir saja Amat mau menyerahkan amplop itu. Tapi jari tangannya merasakan amplop itu tebal. Ia jadi merasa saying.
“Ini tradisi mereka ya?”
“Betul pak Amat. Setiap tahun saya selalu ke situ. Tahun lalu juga. Isinya lumayan. Bagaimana itu untuk saya saja?”
“Tapi ini tradisi mereka kan?”
“Betul pak Amat.”
“Bukan soal uangnya, tapi soal tradisi kan? Kita menghormati tradisi kan?”
“Betul.”
“Ya sudah. Demi silahturahmi, saya terima ini. Terimakasih sudah ngajak ke situ tadi.”
“Tapi amplopnya untuk saya kan?”
Amat menggeleng.
“Meskipun Lee tidak melihat, kalau amplop ini saya berikan situ, berarti saya tidak menghargai Lee. Itu tidak baik. Jadi saya terima saja untuk silahturahmi.”
Amat lalu mengulurkan tangan. Mereka bersalaman. Tukang sate nampak gembira.
“Yuk Lee pasti senang sekali Pak Amat menerima amplop itu. Tadinya istrinya sudah berpesan, kalau pak Amat tidak mau, ya buat saya saja. Apa buat saya saja Pak Amat?”
Amat ketawa. Tanpa menjawab lagi dia pulang. Rasanya tubuhnya berisi. Di kantungnya ada amplop yang menurut ketebalannya tidak akan kurang dari satu juta. Sambil bersiul-siul, Amat masuk ke dalam rumah.
Ami kelihatan nongkrong di depan televisi bersama Bu Amat.
“Lho tidak ikut valentine?”
“Nggak ada baju pink.”
“Beli saja!”
“Duitnya dari mana?”
Amat ketawa. Dia merogoh amplop dan menyerahkan pada Ami.
“Nih. Lebihnya untuk Ibu.”
Ami dan Bu Amat melirik amplop itu dengan heran. Amat langsung saja menembak.
“Kita ini masyarakat plural, jadi harus bisa hidup saling menghargai. Itu namanya silahturahmi,”kata Amat.
Ami diam saja.
“Coba kalau tadi ngomong begitu, Ami sudah berangkat,”kata Bu Amat, “Bapak ini selalu terlambat!”
hanya masalah tari pendet. Bukan hanya masalah orang Bali. Ini harga diri kita sebagai bangsa. Kita tersinggung! Pulau direbut, hutan dicuri, TKI disiksa bahkan ada yang mati. Warisan budaya, tarian, bahkan masakan diklaim sebagai milik mereka. Ini sudah melanggar hukum. Satu kali oke, kedua kali masih oke, tapi kalau sudah berkali-kali namanya menantang. Kalau dibiarkan nanti jadi kebiasaan. Kita bisa dianggap bangsa kelas dua yang boleh diremehkan. Tidak! Kita harus marah! Apa mau mereka memanas-manaskan tungku yang sudah mendidih? Mentang-mentang kaya! Sakit hati karena pernah kita ganyang? Oke sekarang kita juga sakit hati. Dan berkali-kali! Kepala sudah beku karena coba dididingin-dinginkan. Kita tidak tahan lagi, kita harus ganyang!”.
“Sabar!” potong Amat menghentikan latihan pidato Ami, sebagai reaksi iklan parawisata Malaysia yang mengklaim tari pendet sebagai bagian warisan budayanya.
0 komentar:
Posting Komentar