Megawati dan PDIP melakukan blunder politik saat Kongres Nasional
PDIP di Bali beberapa waktu lalu. Bagaimana tidak, ia mengatakan “Jika tidak mau menjadi petugas partai, silakan keluar!”
Megawati sah-sah saja
mengatakan hal itu mengingat ia sedang berpidato dalam kapasitasnya
sebagai ketua umum PDIP. Dan pernyataan tersebut secara tidak langsung
menohok Jokowi yang saat itu hadir di kongres PDIP. Jokowi memang kader
partai tapi apakah ia seorang petugas (pagawai) partai?
Yang menjadi persoalan
adalah, Megawati tidak menyadari bahwa Jokowi saat itu adalah seorang
presiden yang ikut hadir dalam kongres. Bukan sekadar kader apalagi
petugas partai.
Dikatakan pula di media
bahwa Megawatti tidak menghormati Jokowi, malah disindir2, seakan-akan
Jokowi memang hanya seorang pesuruh, dan Megawati adalah bosnya. Miris
sekali.
Dalam kongres apalagi
berskala nasional sebuah partai, jabatan tertinggi adalah sang ketua
umum partai itu sendiri. Tapi ingat, kongres nasional PDIP waktu itu
dihadiri oleh Jokowi dan Jusuf Kalla. Yang menjadi pertanyaan adalah,
dalam kapasitas sebagai apa seorang Jokowi saat itu? Jika sebagai kader
atau anggota partai PDIP, ingat, di sana hadir juga Jusuf Kalla sang
Wakil Presiden. Berarti di dalam kongres PDIP tersebut, pejabat
tertinggi adalah sang wakil presiden, bukan ketua umum partai. Dan
Megawati harus menghormati Jusuf Kalla sebagai wakil presiden Republik
Indonesia, dengan berpidato secara halus, sopan, dan tidak terlalu
mencolok menyindir jokowi “si petugas partai” di hadapan sang wakil
presiden. Wah bisa jatuh nih martabat dan harga diri Jokowi di hadapan
wakilnya.
Sebaliknya, jika Jusuf
Kalla tidak dalam kapasitas sebagai wakil presiden, namun hanya tamu
undangan biasa, pertanyaannya kemudian, mewakili Partai Golkarkah?
Selama ini kan publik tahu bahwa Jusuf Kalla adalah mantan Ketua Umum
Partai Golkar, dan sekarang pun masih “orang Golkar”. Jika memang iya,
bagaimana dengan petinggi Partai Golkar yang lain, seperti Aburizal
Bakrie, Agung Laksono, Idrus Marham, Setya Novanto, dll? Koq mereka
tidak hadir, apakah tidak diundang, dan lain sebagainya?
Yang luar biasa,
apabila Jokowi hadir sebagai kader partai, petugas partai, dan Jusuf
Kalla sebagai tamu undangan biasa, maka kongres nasional PDIP kemarin
adalah kongres sebuah partai yang sanggup mengosongkan “kekuasaan”
negara selama beberapa hari, tanpa presiden dan wakil presiden. Dan
istana negara, istana merdeka, istana wapres, ditinggalkan “penghuni”nya
untuk menjadi masyarakat biasa. Ck… ck… ck… hebat sekali Megawati dan
PDIP ini.
Dan banyak sekali hal-hal menarik di kongres PDIP, seperti kader-kader muka lama yang tidak masuk dalam kepengurusan
PDIP, seperti Maruarar Sirait, Eva Kusuma Sundari, Rieke Diah Pitaloka.
Dan yang lucu lagi, Olly Dodokambey yang pernah jadi tersangka kasus
korupsi Hambalang, malah diangkat jadi Bendahara Umum. Ada apa ini?
Ah… kita lihat saja nanti manuver apa lagi yang akan dilakukan sang “bos” PDIP ini.
0 komentar:
Posting Komentar