Rabu, 22 Februari 2012

baruuu


Daerah kebudayaan Jawa
iani pada 16 April 2010 pukul 12:15 ·
"Eli, Eli, lama sabakhtani..."
Kesah gelisah Isa mengakhiri segalanya, deritanya...
Sendiri menelan setiap rajam dalam cekam

Para nabi terluka, dan Tuhan membiarkannya...
Mereka yang dimuliakanNya dinista tanpa bisa berbuat apa-apa
Tak perlu bertanya-tanya, Khidir berkata pada Musa

Sebab banyak tanya yang mengubur jawab dalam-dalam
Memendamnya pada lajur, baris, juga bilah bunyi penuh misteri
Lalu menjelma tekateki abadi

"Tuhan, mulialah namaMu, jadilah hendakMu,
ampuni kami yang mengampuni mereka
bebaskan kami dari yang jahat"

Maka tanggallah jubah dan mahkota yang diangsurkan para pendosa
Tak ada kepala yang terpisah, hanya dentum belaka
Perih sirna bersama moksa dan Tuhan yang menjelang di ujung cahaya

belahan jiwa

Langit adalah dekapku yang menyambutmu hangat, "Kemari, berlarilah ke pelukku!"
Tak perlu takut terhempas
Karena menimangmu dengan sejuta rindu,
Begitu menyenangkan, membahagiakan

Tak perlu kau halau awan
Mereka asap rinduku yang membubung
Mengejarmu, membelai hatimu
Ulurkan tangan, raih dan simpan di sakumu
Ambil sejumput saat kau butuh hadirku
"Ya, aku kan janji akan menemanimu."

Kalau awan itu berubah jadi hujan,
Jangan lontarkan umpatan
Tanggalkan keraguan, cepatlah melesat
"Aku menunggumu di pintu."
Mari kita lari, bermain hujan di lapangan
Kita rasakan hujan cinta sambil bergandengan

Hujan reda, dan langit biru lagi, "Jangan lepaskan genggamanmu. Lihat, ada pelangi."
Ada bangku beton yang kokoh di ujung sana
Bergandengan, kita berjalan memburunya
Lalu duduk menatap sapuan warna di angkasa

Cakrawala berubah jingga,
Dan kita masih di sana,
menatap langit terpesona
"Aku suka duduk di sini."
Di bangku serupa janji, yang sederhana tapi pasti.
Bangku kokoh berbahan kasih

Jingga jadi violet kini
Bayanganmu jadi siluet yang indah
Kurasakan rangkulanmu di bahu
"Adakah bayangan rumah di pelupukmu?"
Kali ini kau yang bicara.

Aku diam, kamu juga diam
Tapi aku dengar kita bicara
Bukan, bukan kita, tapi hati kita
Mereka tengah berkhayal tentang masa depan
Tentang rumah berkamar banyak,
Tentang ruang kerja yang hangat,
Tentang kopi dingin dalam kulkas,
Tentang TV, DVD, dan sudut baca di sisi ranjang
Tentang foto di atas microeave,
Juga tentang ciuman, dekapan, belaian, dan kasih sayang tak berjeda

Bicara mereka membuat kita tertawa. Kelu.
"Terlalu tak mungkin, ya?" cetusku
"Ya, terlalu banyak yang harus dikorbankan," katamu
"Ya, dan aku tak ingin menyakiti siapa pun," kubilang

Kita terdiam
Ternyata kiya yang disakiti keadaan.
"Kita cuma punya harapan. Apa itu salah?" tanyaku
"Ya, apa salah kita berharap?" tanyamu
Dan pertanyaan kita terbang ke angkasa
Ditelan semesta

0 komentar:

Posting Komentar