Pada saat baru
lulus dari Perguruan Tinggi, pernahkah anda merasa “gamang” apa yang
harus dilakukan? Saya akan berkarir di bidang apa? Apa sebetulnya
kompetensi saya? Dan jika saya diterima bekerja, apa saja yang harus
saya persiapkan? Pertanyaan ini sangat wajar, dan hal ini bisa menimpa
siapa saja, bahkan saat saya baru lulus kuliah pada akhir tahun 70 an.
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut banyak ditanyakan pada saat ini, dimana persaingan dalam
mencari pekerjaan semakin ketat, namun di sisi lain peluang untuk
berkarir juga semakin luas, baik bagi kaum wanita atau laki-laki. Saya
juga sering mendengar omongan orang-orang yang bergerak di bidang HRD,
dan juga Direktur salah satu perusahaan, yang menyatakan….”anak
sekarang jauh lebih pintar, tapi bila di wawancara, sulit sekali
mencari yang match dengan kebutuhan perusahaan..” Nahh, dimana letak permasalahannya?
1. Pandai saat kuliah saja “tidak cukup”
Pada umumnya
bangku kuliah memberikan pendidikan formal, apalagi dengan sistem 144
sks saat ini yang membuat waktu mahasiswa sangat sempit untuk melakukan
kegiatan di luar kuliah. Sangat dianjurkan, pada saat kuliah, para
mahasiswa mempunyai kegiatan di luar kegiatan kuliah, syukur jika bisa
sambil bekerja paruh waktu, karena tanpa disadari pengalaman ini sangat
membantu pada saat mencari pekerjaan.
Apabila sudah
diterima bekerja, muncul kembali pertanyaan, kenapa ya kok saya kurang
merasa cocok dengan pekerjaan ini, dan ingin pindah pekerjaan. Jika
anda pindah pekerjaan setelah 6 (enam) bulan atau satu tahun, hal
tersebut wajar. Namun bagaimana jika baru bekerja 2 (dua) atau 3 (tiga)
bulan sudah merasa nggak cocok? Banyak keponakan, senior anak saya
yang curhat, tentang pekerjaan yang setiap kali dirasakan tak sesuai
dengan keinginannya. Dari hasil diskusi, ternyata dia sendiri
sebetulnya tak mengetahui apa yang diinginkan. Atau jika karena gajinya
sudah cocok, yang nggak cocok adalah situasi lingkungannya. Peralihan
dari kehidupan mahasiswa ke dunia kerja, memang merubah kebiasaan, dan
disadari ada orang yang mudah beradaptasi, dan ada pula yang harus
memerlukan waktu cukup lama. Dari hasil percakapan, akhirnya diperoleh
data bahwa sebetulnya yang bersangkutan merasa “gamang”, tak tahu apa
yang dikerjakan, dan mau bertanya pada sekelilingnya, rata-rata karyawan
senior sibuk. Pada saat ditanyakan, apakah dia membuat list apa-apa
yang harus dikerjakan sesuai job description, jawabannya adalah
karena karyawan baru, jadi dia hanya disuruh belajar. List yang
dibuat, kalau sewaktu-waktu ada kesempatan bertanya, tak dapat
dilaksanakan karena semua orang sibuk. Gajinya lumayan bu, tapi saya
merasa tak bisa berbuat apa-apa, keluhan fresh graduate tersebut.
Sebuah hasil penelitian terhadap fresh graduate pada beberapa perusahaan multinasional mengatakan, bahwa 20% dari para fresh graduate yang
“dicemplungkan” tanpa bimbingan dapat bekerja dan berkinerja sesuai
harapan perusahaan. Sejumlah 30% lainnya butuh waktu lebih lama untuk
beradaptasi, sedang 50% sisanya akan jadi karyawan yang tidak berkinerja
optimal, setidaknya satu tahun, atau bahkan selamanya (Eileen R. dan
Sylvina S, 2007). Anda bisa membayangkan kerugian yang diperoleh
karyawan maupun perusahaan, karena dari karyawan baru, hanya 50% yang
beradaptasi dan 30% masih memerlukan waktu. Apabila 50% kinerja karyawan
baru, berkinerja baik setelah melewati satu tahun, atau berkinerja
buruk selamanya, apakah tidak lebih baik jika perusahaan lebih
mempersiapkan sistem penerimaan para fresh graduate ini?
Dari pengamatan
secara pribadi, orang-orang yang berhasil melewati tahap wawancara
(biasanya merupakan tahap ke 6, sebelum test kesehatan), adalah para fresh graduate
yang saat menjadi mahasiswa aktif di berbagai kegiatan, sempat bekerja
paruh waktu, atau sempat bekerja lebih dulu di perusahaan lain. Mereka
lebih fokus dalam menjawab pertanyaan, jawaban lebih tertata, sehingga
memudahkan assessor dalam menilai apakah kompetensinya match
dengan kompetensi yang dibuthkan perusahaan. Pada umumnya para
pewawancara telah dibekali ilmu untuk bisa menggali kompetensi dari yang
diwawancara. Apabila kompetensi yang diperlukan belum muncul,
pewawancara akan mencoba mengajak mengobrol ringan, agar peserta tidak
stres dan dapat menunjukkan kemampuannya.
2. Kemampuan apa saja yang perlu dipersiapkan, yang tak diajarkan pada bangku kuliah?
Eileen R. dan
Sylvina S. menjelaskan, bagaimana pengalamannya pertama kali bekerja.
Hal-hal yang harus dipelajari, antara lain: Sistem dan prosedur, proses
bisnis, etik, “unggah-ungguh”, cara berkomunikasi, sampai
praktek-praktek yang nampak sederhana seperti “filling” , penomoran surat, standar kinerja, yang ternyata merupakan hal-hal “kantoran” yang masih merupakan hal-hal baru bagi para fresh graduate. Rahasia budaya kerja seperti “jangan anda yang berjalan, biar dokumennya yang berjalan” (di bawa oleh office boy)” atau pengamalan “clean desk policy” sulit dibayangkan dari bangku kuliah.
Menurut
pendapat saya (atas dasar pengalaman), pada saat pertama kali masuk ke
dunia kerja adalah “kenali budayanya”. Budaya kerja orang-orangnya,
seperti: cara berpakaian, gaya bicara jika menghadapi atasan ataupun
rekan kerja, bagaimana cara makan siang (keluar ruang atau pesan makan
dan makan ramai-ramai ditempat yang sudah ditentukan), apakah ada
semacam iuran untuk keperluan mendesak seperti teman sekerja ada yang
sakit atau kematian, dan hal-hal sepele lainnya. Dengan memperlajari
budaya kerja dilingkungan kantor tersebut, anda akan mudah
berkomunikasi dengan rekan kerja, mendapatkan simpati dari rekan kerja
yang lebih senior, yang akan dengan rela memberitahu pada anda apa yang
sebaiknya dilakukan.
Kemudian yang penting adalah pahami proses bisnis, dan posisi anda nantinya akan diproyeksikan kemana. Pelajari job description
posisi anda, apa hak dan kewajiban anda, dan anda diharapkan seperti
apa. Biasanya di perusahaan, ada karyawan senior yang secara tak
langsung ditugaskan membimbing adik-adiknya, namun sering sekali mereka
tak ada waktu untuk membimbing, karena jadual kesibukan yang padat.
Pandai-pandailah mencari celah untuk bertanya, kapan waktu yang tepat,
sementara anda harus jeli mengamati bagaimana cara senior melaksanakan
tugas-tugasnya, bagaimana cara meng handle klien yang sulit.
Untuk perusahaan besar, pada umumnya telah mempunyai manual standar
operasional, dari manual-manual yang ada anda bisa mempelajari tugas
berbagai macam posisi di perusahaan, juga pelajari bagaimana rangkaian
proses suatu keputusan. Jika anda beruntung, senior sering menawarkan
untuk melakukan diskusi sepulang jam kerja, atau kadang mengajak makan
di luar saat jam makan siang, disinilah kesempatan anda untuk menanyakan
hal-hal yang kurang dipahami.
3. Adakah perusahaan yang melakukan “induksi program” atau training?
Disadari, biaya training untuk para fresh graduate sangat mahal, untuk MDP (Management Training Development)
diperkirakan menghabiskan biaya antara Rp.150 juta s/d Rp.200 juta per
orang, dan memakan waktu sekitar satu tahun. Dari program MDP inipun
tak semua yang lulus ujian berhasil berkinerja baik, maksudnya yang
lulus program dengan nilai terbaikpun masih harus membuktikan bisa
mengaplikasikan ilmu yang diperoleh saat training di lapangan.
Kenapa banyak perusahaan yang tidak menggunakan program training ini?
Selain biaya dan energi (tak semua perusahaan mempunyai Divisi
Pendidikan dan Pelatihan), ada juga perusahaan yang menganggap bahwa
pelatihan bisa dilakukan sambil berjalan. Para fresh graduate
dapat langsung bekerja setelah lulus seleksi, namun kewenangan yang
dimiliki terbatas, seperti tak boleh melakukan tandatangan atau paraf
pada approval dan sebagainya.
Bagaimana jika posisi anda sebagai manager pada unit yang diberi tugas untuk mendidik fresh graduate agar mudah menyesuaikan diri? Dari pengalaman, para fresh graduate
dengan bimbingan mentor dapat bekerja mandiri setelah 6 (enam) bulan
bekerja. Mereka dibebani pekerjaan yang jadualnya ketat, dan agar mereka
bisa me manage waktu, mereka disuruh membuat miles stone tugas-tugas yang dihadapi, jangka waktu kapan harus selesai, person in charge
yang terkait dengan bidang tugas tersebut. Setiap bulan hasilnya di
monitor dan di evaluasi, disini diharapkan evaluasi dapat dilakukan
secara terbuka, termasuk ketidak puasan manager, agar trainee segera memahami kesalahannya. Bagi para trainee, harus dipahami bahwa teguran atasan dimaksudkan untuk membantu dan mengingatkan trainee, karena pada akhirnya tujuan bekerja adalah membuat pelanggan puas. Manager bisa meminta trainee melakukan
pekerjaan yang berat, di bawah tekanan, agar nantinya akan diketahui
siapa diantara mereka yang paling cepat beradaptasi, dan bisa memanage
stres, apalagi jika perusahaan ini bergerak dalam bidang usaha yang
membutuhkan kecepatan dan ketepatan.
Sebagaimana diutarakan oleh Eileen R., yang menyatakan bahwa seorang Direktur SDM sebuah perusahaan, selalu mengingatkan para “management trainee
nya”…”Anda akan saya bebani pekerjaan yang paling berat dan kotor. Jika
anda melewati masa ini, maka pekerjaan akan terasa mudah karena anda
sudah menemukan “selera” bekerja untuk seterusnya”.
4. Apa peran Perguruan Tinggi dalam mempersiapkan mahasiswanya agar bisa langsung berkarya di masyarakat?
Pada beberapa
Perguran Tinggi saya melihat ada yang sudah mempersiapkan mahasiswa
dengan melatih bekerja paruh waktu pada proyek inkubator di fakultas
masing-masing. Sayangnya proyek ini tak mampu menampung semua
mahasiswa, disamping tak semua mahasiswa berminat, karena jadual kuliah
yang padat.
Ada juga Perguruan Tinggi yang membuat pelatihan (berupa soft kompetensi),
yang dilakukan pada saat libur, bekerjasama dengan lembaga pelatihan
yang umumnya dimiliki oleh alumni Perguruan Tinggi tersebut, sehingga
biayanya bisa ditekan. Pelatihan semacam ini sangat berguna, untuk
mempersiapkan para mahasiswa tingkat akhir atau para fresh graduate, supaya bisa memasuki dunia kerja dengan mulus.
5. Keberhasilan ditentukan oleh kedua belah pihak.
Para fresh graduate
harus menyadari, dalam iklim dunia kerja yang semakin kompetitif ini,
mereka harus segera mampu beradaptasi jika memasuki dunia kerja.
Jadikan teguran atasan untuk lebih memacu kemampuan dan semangat kerja.
Para fresh graduate juga harus rajin belajar tanpa menunggu
dibimbing senior, menyerap dasar-dasar manajemen kerja yang ada
dilingkungannya, mempelajari cara-cara komunikasi formal maupun
informal, kode etik dan budaya kerja perusahaan tempatnya bekerja.
Para fresh graduate
juga harus bisa mengatur jadual kerjanya, mencatat, melakukan tugas
yang telah didisposikan kepadanya tanpa harus ditagih (jika perlu lebih
cepat dari waktu yang ditentukan), menyerap sebanyak-banyaknya ilmu
sehingga bisa berpartisipasi dalam rapat-rapat dimana trainee sering diminta ikut hadir.
Eileen R.
menjelaskan, bahwa masih ada ketrampilan dasar yang harus dipelajari
seperti: mengembangkan rasa percaya diri, membina hubungan pertemanan,
penajaman “common sense” serta sistematika berpikir. Proses
integrasi antara individu dan perusahaan perlu dimotori oleh kedua
belah pihak secara aktif, sebagaimana halnya kedua orang yang akan
menjalin ikatan perkawinan.
Bahan bacaan;
-
“Langkah kanan” Memasuki Dunia Kerja. Eileen Rachman dan Sylvina Savitri. Kompas, 22 September 2007, hal. 45.
-
Pengalaman penulis dalam pendidikan rekrutmen, Management Trainee , serta diskusi dengan beberapa Direktur SDM perusahaan BUMN.
0 komentar:
Posting Komentar