Jumat, 04 Januari 2013

Dalam berbisnis juga mempunyai etika yang disebut dengan etika bisnis. Etika atau “etis” secara praksis berarti nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktekkan atau justru tidak dipraktekkan, walaupun seharunya dipraktekkan. Sedangkan “etis” merupakan sifat dari tindakan yang sesuai dengan etika.

Etika bisnis adalah pemikiran atau refleksi tentang moralitas dalam ekonomi dan bisnis. Moralitas artinya aspek baik ataupun buruk, terpuji atau tercela dan karenanya diperbolehkan atau tidak dari perilaku manusia. Moralitas selalu berkaitan dengan apa yang dilakukan manusia, dan kegiatan ekonomis merupakan suatu bidang perilaku manusia yang penting.
Menurut Richard De George, perusahaan ingin sukses/berhasil memerlukan 3 hal pokok, yaitu produk yang baik, manajemen yang baik, serta memiliki etika. Selama perusahaan memiliki produk yang berkualitas dengan manajemen yang tepat dibidang produksi, sumber daya manusia dan lain sebagainya, tetapi tidak mempunyai etika maka kekurangan ini cepat atau lambat akan menjadi batu sandungan bahi perusahaan tersebut.
Etika bisnis dapat diibaratkan dengan etika yang kita miliki sebagai manusia dalam bergaul di masyarakat. Walaupun kita mempunyai penampilan yang menarik, otak yang cerdas, namun jika tidak memiliki etika kita tidak akan dapat diterima oleh masyarakat dengan baik. Jadi, mengapa bisnis harus berlaku etis? Sebetulnya sama dengan mengapa manusia pada umumnya harus berlaku etis. Bisnis disini hanya merupakan suatu bidang khusus dari kondisi manudia yang umum.
Berikut 3 jawaban mengapa bisnis harus berlaku etis:
1. Tuhan melalui agama/kepercayaan yang dianut, diharapkan melalui agama/kepercayaan yang dianut oleh setiap orang diharapkan pembisnis akan dibimbing oleh iman kepercayaannya dan menjadi tugas agama mengajak para pemeluknya untuk tetap berpegang pada motivasi moral.
2. Kontrak sosialn, umat manusia seolah-olah pernah mengadakan kontrak yang mewajibkan setiap anggotanya untuk berpegang pada norma-norma dan kontrak ini mengikat kita sebagai manusia, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa melepaskan diri daripadanya.
3. Keutamaan, menurut Plato dan Aristoteles, manusia harus melakukan yang baik, justru keena hal itu baik. Yang baik mempunyai nilai intristik, artinya yang baik adalah baik karena dirinya sendiri. Keutamaan sebagai disposisi tetap untuk melakukan yang baik, adalah penyempurnaan tertinggi dari kodrat manusia. Manusia yang berlaku etis adalah baik begitu saja, baik secara menyeluruh bukan menurut spek tertentu saja.


0 komentar:

Posting Komentar