Tradisi
Baru
Taman Ismail Marzuki yang berdiri tahun 1968, hadiah dari Gubernur Ali
Sadikin, memberikan kesegaran pada kehidupan seni pertunjukan. Dewan Kesenian
yang memiliki komite seni rupa, tari, musik, film dan teater, ternyata tidak
hanya mencoba mengembangkan segala macam kesenian yang ada di DKI. Masing-masing
komite menoleh ke berbagai wilayah budaya Indonesia. Kesenian tradisional, seni
rakyat dan seni kontemporer dari seluruh Indonesia dibina. Secara berkala
muncul duta-duta kesenian daerah, di TIM. Pusat Kesenian itu praktis menjadi
pusat pembinaan kesenian nasional.
Pekan Kesenian, Festival Kesenian, diskusi, lokakarya dan seminar dari
berbagai cabang kesenian yang diikuti oleh wakil-wakil daerah terselenggara
secara teratur dan intensif. Kesenian tradisional, kesenian rakyat serta
kesenian kontemporer hadir bersama-sama dalam gedung dengan fasilitas yang sama. Dijemput juga berbagai
kelompok kesenian dari mancanegara, seperti Kathakali dari India, ballet Martha
Graham, kelompok Jazz dari Jerman, Bhiakosa dari Jepang -- untuk menyebut
beberapa contoh – yang mengubah TIM menjadi tempat berdialog antara
seni/seniman-tradisional - kontemporer - rakyat dan seni/seniman dari berbagai
desiplin kesenian mancanegara. Secara tak langsung forum seni
daerah-nasional-internasional pun hidup.
Kesempatan itu membuat kesenian ''lenong'', misalnya, yang semula hidupnya
sekarat di pinggiran Jakarta, sehat kembali. Atas jasa Ali Shahab, aamarhum S.M
Ardan , D Djajakusuma serta Soemantri Sosrosuwondo, teater rakyat Betawi itu
naik ke panggung Teater Terbuka. (Bekangan masuk ke layar TV dan tembus ke RCTI
sebagai Lenong Rumpi -- bahkan melahirkan sebuah film). Kesempatan itu
menyuntik dan mempopulerkan berbagai cabang kesenian yang sudah pinsan.
Wayang, Samrah, Arja, Gambuh, Cokek, Debus, Makyong, Mamanda, Ludruk, Ketoprak,
Dagelan Mataram, Mis Cicih, Dombret, Gambang Kromong, Tanjidor, Srimulat dan
sebagainya mendapat angin. Interaksi yang kemudian terjadi, baik antara
kesenian daerah-nasional-internasional itu menumbuhkan iklim untuk
mempergunakan atau menggali jiwa dan bentuk kesenian tradisional dalam
karya-karya baru. Bandingan-bandingan yang datang dari berbagai negara, membuat
para seniman tiba-tiba menyadari identitasnya dan ingin mencuat ke gelanggang
internasional dengan ciptaan yang baru.
ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) yang dipimpin oleh Asrul Sani,
sudah menambah perbendaharaan seni akting dan pemanggungan sandiwara -- yang
sebelumnya tidak diketahui. Dengan berdasarkan naskah-naskah terjemahan dan
teori-teori akting Stanilavsky dan Bolelavsky, Asrul Sani telah melahirkan
aktor/sutradara seperti Teguh Karya yang kemudian mendirikan Teater Populer.
Kelompok inilah yang melahirkan pemain-pemain seperti Slamet Raharjo dan Tuty
Indra Malaon (almarhumah) serta kemudian dramawan N.Riantiarno (Teater Koma). Teguh
Karya/Teater Populer meneruskan tradisi teater Barat, seperti yang dirintis
oleh Asrul Sani. Mengenalkan bagaimana pertunjukan teater yang profesional
dilangsungkan.
Dari pertunjukan-pertunjukan yang menurut para pengamat adalah pertunjukan
bule/indo, Teguh Karya tiba-tiba membuat kejutan dengan pementasan Djajaprana
pada awal tahun 70-an. Ia memasukkan unsur Bali di dalam produksi itu dengan
membawa serta I Wayan Diya. Setelah itu ia meneruskan langkahnya dengan
memainkan Macbeth dengan memakai kostum Batak, dan Perkawinan Darah yang
mencoba mengolah randai. Ketiga produksi tersebut jelas merupakan hasil
interaksi yang terjadi di TIM.
W.S Rendra yang mendirikan Bengkel Teater pada tahun 1967 di Yogya, ikut
menggebrak TIM dengan menampilkan teater Mini Kata. Pementasan nomor-nomor yang
mempergunakan kata-kata dengan sangat minimal itu, menjadi peristiwa teater.
Nomor Bip-Bop, yang kemudian juga tampil di TVRI yang didukung juga oleh Teguh
Karya sebagai pemain, memberi kemungkinan baru pada penampilan drama yang
sebelumnya amat didominasi oleh apa yang disebut naskah. Pementasan tersebut
disusul oleh pementasan Kasidah Barzanji yang menampilkan seni suara dan musik
dengan bloking dan gruping serta koor-koor yang diilhami dari seni kasidahan.
Ketika Rendra muncul dengan Machbeth yang mempergunakan kostum Jawa, gamelan
serta struktur pengadeganan ketoprak, interaksi antara teater
tradisional-rakyat-tradisional semakin jelas.
Arifin C Noer salah seorang penulis drama puncak di Indonesia, mendirikan
Teater Kecil di Jakarta. Ia mementaskan Mega-Mega, pemenang kedua sayembara
penulisan drama BPTNI (Badan Pembina Teater Nasional Indonesia) 1967 pada tahun
1968 di TIM. Karyanya yang sangat berbeda dengan drama-drama Indonesia yang
ditulis sebelumnya itu, dimainkan dengan stilisasi dan topeng. Baik dalam
struktur penulisan maupun pengadegan dan akting, ia memberikan tawaran baru.
Dari Arifin kemudian lahir naskah dan pementasan seperti Kapai-Kapai yang
merupakan salah satu puncak dan pembaruan dalam drama Indonesia.
Kemudian lahir pementasan Dongeng Dari Dirah oleh Sardono W.Kusumo. Penari
ini meramu kembali teater Bali dalam kemasan kontemporer. Batas tari dan
"teater" menjadi tipis. Pementasan yang kemudian mendapat sambutan di
Paris itu, memberikan kepercayaan pada kehidupan teater kontemporer. Bahwa
bukan hanya seni tradisi, tetapi juga seni kontemporer Indonesia dapat bersaing
di forum internasional. Hubungan seni kontemporer dengan seni tradisi
berkelanjutan akrab. Tidak ada jarak gengsi dan wilayah lagi seperti
sebelum-sebelumnya.
Itu peristiwa yang penting. Karena itu mendorong usaha-usaha teater
kontemporer Indonesia melakukan ekplorasi. Batas antara teater dengan senirupa,
musik dan film juga makin hilang. Pementasan multi media mulai dipacu.
Eksperimen-ekperimen dilaksanakan. Ada yang berhasil, banyak juga yang konyol.
Wisran Hadi dari Padang menggali randai. Akhudiat di Surabaya menggali
kentrungan. Ikra Negara mencoba memasukkan unsur teater Bali. Vredi Kastam
Matra dan Noorca Marendra mengolah mistik dan kebatinan Jawa. Di Ujung Pandang
ada Aspar yang mengolah budaya daerahnya. Kemudian N.Riantiarno dengan Teater
Koma mencoba pertunjukan musikal/operet. STB Bandung dengan pimpinan Suyatna
Anirun, serta penulis lakon Zaini KM, menampilkan budaya Sunda di dalam
pementasannya. Belakangan muncul Teater Dinasti, Yogya mengangkat gamelan dan
Teater Gandrik yang mengolah sampalan di dalam ketoprak. Teater Mandiri memacu
tontonan dan unsur seni rupa ke atas pentas/naskah, yang merupakan repfleksi
dari latar belakang Bali.
Semua peristiwa tersebut menjadi sejarah kehidupan teater Indonesia, yang
menjadi panutan-contoh-bandingan-teladan-tantangan, bagi kegiatan teater
Indonesia selanjutnya. Sehingga bicara tentang teater Indonesia tidak lagi
hanya mengembalikan semuanya kepada referensi Barat - karena itu akan terasa
sebagai ''perkosaan''. Teater modern Indonesia telah memiliki referensinya
sendiri. Sebuah “Tradisi Baru”.
TIM memberikan tawaran baru dengan terobosan-terobosan. Kemajuan pesat
terjadi dalam kehidupan teater baik dalam hal pemanggungan maupun penulisan
naskah. Puncak-puncak pementasan Bengkel Teater, Teater Populer, Teater Kecil,
kemudian disusul oleh Teater Sardono, Teater Mandiri, dan lain sebagainya,
menjadi tradisi baru, yang mempengaruhi paling sedikit mengawali kehidupan
teater modern Indonesia selanjutnya, yang jelas ciri-cirinya.
Dipacu oleh tulisan-tulisan di media masa serta TVRI (khususnya lenong),
publikasi dari DKJ, bentuk dan jiwa teater tradisional/rakyat mengalir deras ke
dalam kegiatan teater modern. Dan sebaliknya aspek ''kontemporer'' juga
mengalir deras ke dalam teater tradisional/rakyat. Baik melalui usaha langsung
sebagaimana yang dilakukan oleh D.Djajakusuma dengan lenong dan wayang wong
(Wayang Wong Bharata), atau tak langsung berkat keikutsertaan kelompok
tradisional itu dalam pementasan kontemporer -- seperti dialami oleh para
seniman tradisional Bali ketika mengikuti pertunjukan Dongeng Dari Dirah.
Yang sangat menarik adalah bahwa bukan hanya di dalam teater lahir tradisi
baru. Juga di dalam seni rupa, sastra, tari dan musik muncul hal yang sama.
(Untuk musik, dilukiskan dengan bagus sekali dalam ceramah Franki Raden tentang
musik di Teater Arena TIM). Ini menunjukkan bahwa kesenian tradisi kita itu
sebenarnya hidup, dinamis dan aktual. Khususnya jiwanya.
Pada tahun 1974 ketika dimulai Festival Teater Remaja yang diikuti oleh 114
kelompok teater di seluruh Jakarta, muncul pementasan-pementasan yang
menjelaskan betapa dalam waktu singkat TIM telah menyusun tradisi baru. Corak
pementasan yang muncul sudah berbeda dengan tradisi teater barat yang
diletakkan oleh ATNI. Dalam kesederhanaan mutunya, pementasan-pementasan itu
pada dasarnya dapat dikembalikan kepada corak Bengkel Teater, Teater Kecil dan
Teater Populer. Belakangan corak itu dilengkapi dengan corak yang meneruskan
apa yang dilakukan oleh Teater Mandiri, Teater Saja dan kini Teater Koma.
Selanjutnya oleh Bumi Teater, Teater Sae, Teater Gandrik, Teater Kubur yang
dipimpin oleh Dindon. Lalu Teater Payung Hitam, Teater Garasi dan Teater Satu.
Peristiwa tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Almarhum Wahyu Sihombing
yang menjadi arsitek festival itu (BPH dan Ketua Komite teater) memberikan
ketentuan bahwa pada tingkat final, para peserta harus mempergunakan naskah
pemenang dalam Sayembara Penulisan Lakon DKJ. Sayembara yang dimulai pada tahun
1972 itu telah menelorkan naskah-naskah baru. Naskah-naskah yang mendapat
inspirasi dari proses interaksi -- baca tradisi baru -- yang disebut di atas.
Persinggungan dengan seni tradisional dan bandingan pertunjukan dari
mancanegara ikut membentuk Wisran Hadi, Akhudiat, Noorca Marendra, Yudhistira
A. Nugraha, Vredy Kastam Mastra dan Saini Km, dalam melahirkan naskah-naskah
drama baru. Drama mereka memiliki kecendrungan berbeda dari puncak-puncak
penulisan naskah drama sebelumnya. Karya-karya itu tidak lagi mengikuti
struktur penulisan seperti karya-karya dari Utuy Tatang Sontany, Nasyah Djamin,
Kirjomulyo, Motinggo Boesye. Karya-karya itu, seperti melanjutkan semangat yang
sudah muncul dalam karya Arifin C. Noer yang berjudul Mega-Mega, yang semakin
kental dalam Kapai-Kapai. Karya yang membumi.
Pementasan naskah-naskah itu dalam Festival Teater Remaja juga memberikan
umpan balik kepada para penulis dalam menuliskan karya-karya berikutnya. Mereka
semakin sadar menggali bentuk dan jiwa teater tradisional/rakyat. Meskipun
sayembara itu semakin lama semakin mundur mutunya, tetapi sejumlah karya telah
mengisi Tradisi Baru. Sebuah pola penulisan baru terwujud. Batas antara teater
dengan senirupa, seni tari dan seni musik semakin lama semakin hilang. Teater
modern Indonesia semakin dekat pada struktur tontonan.
Membaca naskah-naskah drama yang ditulis dalam era tradisi baru, kita akan
menemukan manusia Indonesia, masalah Indonesia dan bumi Indonesia. Akhudiat
mengolah kentrungan. Wisran Hadi mengolah randai. Rendra mengolah ketoprak.
Arifin mengolah seni rakyat. Dan sebagainya.
Usaha untuk menggali tradisi sementara itu berkelanjutan pada berbagai
kelompok teater senior. Menonton pertunjukan-pertunjukan dalam era tradisi
baru, kita akan melihat idiom-idiom yang ada dalam teater tradisional dan
teater rakyat. Konsep tontonan sebagai peristiwa dan upacara bersama,
melahirkan pertunjukan yang akrab. Proses kerja yang memberikan kepercayaan
pada proses itu sendiri, melahirkan hasil-hasil yang membumi. Hilangnya batas
antara desiplin seni satu sama lain, menyebabkan teater kembali komplit seperti
hidup. Danarto bahkan memproklamirkan gagasan Teater Tanpa Penonton, konsep
yang mengajak penonton menyerang tontonan dan menjadi bagian dari peristiwa itu
-- sebagaimana yang ada di dalam Teater Calon Arang di Bali. Konsep drama
realis, bukan lagi kebenaran satu-satunya. Pentas/naskah drama seperti
tiba-tiba merdeka unmtuk mengungkap imajinasi, fantasi di samping renungan dan
pikiran-pikiran.
Secara phisik pentas/naskah menjadi lebih bebas dan kaya. Kita lihat
kerepotan baru yang kurang dikerjakan oleh pertunjukan/penulisan drama
sebelumnya. Musik menjadi penting. Tarian dan stilisasi digarap. Tata rias,
kostum, pengadegan, bahkan cara berbicara kadangkala langsung meniru bentuk
teater rakyat. Cerita rakyat dan tokoh-tokoh sejarah lahir kembali dalam
intrepretasi baru. Struktur uro-uro yang disebut bebagrigan di Bali -
dihadirkan dengan dengan lantang. Batas antara penonton dengan pemain, antara
penonton dan panggung diterobos. Fantasi dan kenyatan berbaur melahirkan
dongeng-dongeng dan tontonan di atas pentas/naskah.
Ada sejumlah pengamat di dalam membuat peta, mencari referensi teater
Barat. Mereka menyebut itu gejala surealisme, eksistensialisme atau absurdisme.
Lompatan dalam tempo yang pendek itu diterima dengan ragu-ragu dan curiga.
Ada pengamat yang tetap merasa kehidupan teater modern Indonesia adalah bagian
dari kehidupan teater Barat. Apa yang sudah dikerjakan baik oleh
Rendra-Arifin-Teguh dll. -- yang menjadi Tradisi baru -- hanya kelanjutan citra
teater Barat. Kita harus cermat mengikuti perjalanan teater Indonesia -- baik
pementasan maupun penulisannya. Hanya berpegang pada referensi teater Barat
adalah perkosaan.
Kekeliruan/kecurigaan itu tersebut memuncak pada pandangan Rustandi
Kartakusuma pada tahun 70-an. Lewat komentarnya terhadap hasil Sayembara
Penulisan Lakon DKJ 1973 (Aduh), dengan keras ia menyatakan bahwa itu hanya
tiruan pada drama absurd Prancis. Baginya apa yang sedang terjadi adalah
peniruan yang membabi buta dan tanpa pengetahuan atas drama absurd di Prancis.
Reaksi keras muncul dari Goenawan Mohammad yang panjang lebar menuliskan
pembelaan terhadap Teater Indonesia di dalam majalah Budaya Djaja. Ia membantah
pendapat Rustandi Kartakusuma dengan antara lain menunjukkan bahwa drama-drama
yang dihasilkan dalam periode itu adalah melalui proses lapangan. Misalnya, ia
menjelaskan bagaimana Arifin C.Noer menuliskan naskah-naskahnya, sementara para
pemainnya berlatih untuk bagian-bagian yang sudah rampung - sekaligus
mengilhami kelanjutan naskah itu.
Citra Indonesia di dalam teater modern adalah proses kesibukan yang ramai
dan terus-menerus. Kita tidak mengelak bahwa interaksi yang terjadi di TIM -
seperti disebut pada awal tulisan ini - tidak hanya menampilkan kan Rendra,
Teguh, Arifin, Suyatna, Putu, Wisran, Ikra, Akhudiat, Aspar, Vredy, Zain,
Riantiarno, Norcaa, Yudhis dan sebagainya, tapi juga terus memberikan hak hidup
pada apa yang sudah dirintis oleh ATNI. Sebagaimana kita rasakan dalam
pementasan-pementasan almarhum Wahyu Sihombing dan Pramana Pmd, misalnya.
Menonton pertunjukan-pertunjukan teater modern Indonesia sekarang dan
membaca naskah-naskah teater karya pengarang Indonesia kini -- Tradisi Baru
adalah citra Indonesia dalam drama modern Indonesia. Bahwa citra teater Barat
juga ada dan hidup adalah bagian yang wajar dalam kehidupan teater Indonesia,
sebagaimana juga citra teater tradisional dan citra teater rakyat. Semuanya
saling melengkapi. Proses interaksi tak pernah selesai. Semuanya sah. Kebulatan
semua itulah Teater Indonesia. Citra yang terus tumbuh dan mengelak kalau
dijebak dengan definisi-definisi kaku. Walhasil, citra Indonesia dalam seni
pertunjukan adalah pengertian yang bergerak dan selalu actual.
0 komentar:
Posting Komentar