Lakon
Indonesia
Naskah drama Indonesia yang pertama, ditulis oleh Rustam Effendi pada 1926.
Namanya Bebasari. Tetapi tidak berarti bahwa teater Indonesia waktu itu baru
lahir, karena naskah hanya salah satu bagian dari pertunjukan. Sebelum itu pun
teater Indonesia sudah marak. Berbagai teater tradisi tampil tanpa naskah namun
jelas punya cerita, plot, karakter, tema, missi yang mau mereka sampaikan,
persis seperti layaknya yang ditemukan dalam sebuah naskah drama.
Adanya naskah tertulis, hanyalah saat ketika teater mulai mengelompok pada
sastra. Karya-karya teater tidak lagi hanya merupakan seni pertunjukan, tetapi
diawali atau terekam dalam apa yang disebut naskah. Pada awalnya -- seperti
yang terjadi pada Bebasari -- naskah ditulis sebagai rancangan (blue print)
sebuah pementasan.
Waktu itu, naskah adalah tulisan yang berisi ide-ide dari pengarang untuk
dikembangkan secara visual oleh sutradara. Jadi dia merupakan embrio, ide,
gagasan dan wawasan abstrak yang memerlukan sentuhan kreativitas untuk mawujud
dalam tingkah, laku, gerak, bunyi serta situasi.
Tetapi pada perkembangan berikutnya, posisi naskah berkembang. Naskah dapat
merupakan langkah yang paralel dengan peristiwa penciptaan pertunjukan. Bahkan
kadangkala naskah adalah inventarisasi, dokumentasi, rekonstruksi atau
perivikasi dan koreksi dari apa yang sudah terjadi sesudah peristiwa
pertunjukan. Sangat tergantung dari proses penciptaannya dan siapa penciptanya.
Arifin C. Noer misalnya, sering menulis naskah bersamaan dengan latihan. (Saya
sendiri menulis Matahari Yang Penghabisan, sesudah mementaskan monolog tersebut
secara improvisatoris di Gedung BTN Yogya, pada tahun 1966. Naskah tersebut
merupakan embrio pada naskah KOK dalam kumpulan DAR-DER-DOR.)
Naskah drama sebagai karya sastra, sedikit kalau tidak bisa dikatakan
sangat berbeda dengan naskah drama sebagai rencana pertunjukan. Naskah drama
sebagai karya sastra, dapat dibaca oleh pembaca sastra tanpa masalah dengan
keindahan sastra yang tak menyusut. Ia lengkap memberikan keterangan, diskripsi
yang membuat pembaca mudah mengikuti alurnya sebagai sebuah cerita.
Kalau pun tidak terlalu banyak diskripsi, tetapi karakater sebagai
motor-motor yang membangun konflik, terpapar dan berkembang. Banyak yang
memamerkan dialog-dialog puitis yang mempesona dengan makna-maknanya yang
mendalam, sehingga menjadi pameran dan pertunjukan makna yang bisa bukan hanya
dipentaskan tetapi dibaca ulang oleh pembaca.
Banyak naskah drama Indonesia yang tidak pernah/jarang dipentaskan, tetapi
tetap tercatat sebagai naskah drama yang penting dalam kazanah sastra Indonesia
(Misalnya: Prabu dan Putri karya Rustandi Kartakusumah, Jalanan Mutiara karya
Sitor Situmorang), Copet-Copet (Taufiq Ismail). Dan sebaliknya, banyak naskah
drama yang berkali-kali dipentaskan, tetapi tidak pernah menggerakkan sebuah
penerbit pun untuk menerbitkannya sebagai buku (baca: karya sastra). Misalnya:
hampir semua koleksi naskah Bank Naskah DKJ, hasil sayembara penulisan lakon.
Membaca naskah drama yang karya sastra sama dengan kenikmatan membaca
cerpen, novel atau puisi. Dalam format sastra, penulis lakon berusaha
membimbing imajinasi pembaca dengan berbagai keterangan apa yang terjadi dengan
selengkap mungkin. Tidak hanya untuk mengumpan ide-ide sutradara yang akan
memvisualkan naskah tersebut, tetapi juga pembaca awam. Naskah drama semacam
itu, tidak hanya skrip buat para pemain yang berkepentingan untuk memainkan
karakater-karakter dalam naskah, tetapi juga umum, penonton yang akan menonton
pertunjukan tersebut -- mungkin sekali sebagian besar mereka tidak akan pernah
sempat menonton naskah itu sebagai pertunjukan. Teks mencoba menonton karya
tersebut lewat tulisan dan sebagai sastra.
Bahkan karena kepentingannya menghadirkan keindahan bahasa/sastra, banyak
sekali naskah-naskah drama tersebut mengutamakan bahasa dan mengabaikan salah
satu fungsinya sebagai timbunan kemungkinan pengalihan laku ke atas pentas,
sehingga ia hanya menjadi semakin kental sebagai karya sastra. Ayip Rossidi
menamakan naskah lakon semacam itu sebagai drama kloset. Drama-drama yang
berhenti sebagai bacaan saja.
Tetapi sebaliknya, banyak juga naskah drama yang benar-benar merupakan
bahan baku seorang sutradara atau awak pentas, sehingga sebagai karya sastra ia
susah dibaca. Tidak ada bimbingan atau petunjuk emosional di dalamnya. Yang ada
hanya dialog, sedikit masalah-masalah teknis. Naskah lakon mejadi dingin dan
penuh misteri. Ia memerlukan pisau bedah dan analisa serta interptretasi.
Naskah seperti itu benar-benar merupakan "esen", bibit kemungkinan
pementasan. Semakin kaya, semakin unik, ia menjadi naskah lakon yang menarik
karena bisa melahirkan berbagai interpretasi. Naskah yang multiintrepretable
semacam itu membuat dunia naskah lakon menjadi kubu tersendiri dengan
ahli-ahlinya, para pengamat dan kritikusnya yang sudah tak terjangkau lagi oleh
para pengamat sastra.
Naskah lakon yang "dingin" seperti di atas itu, tak mungkin atau
sulit langsung dinikmati bagi mereka yang tidak terbiasa. Karena naskahnya
sendiri tidak mengandung keterangan bahkan menuntut pengembayangan imajinasi
pembacanya. Bahkan banyak sutradara-sutradara yang terpaksa bekerja dengan
seorang dramaturg (ahli sejarah teater) untuk dapat menemukan interpretasi yang
setidak-tidaknya tidak melempas dari benang merah naskah.
Naskah lakon memang makin lama makin kering, langsung, tak banyak
bunga-bunga. Namun bagi mereka yang yang memiliki pengalaman pentas, dengan
mudah akan keluar kandungan adegan-adegannya, situasi, suasana, irama, tenaga
dan pesonanya sebagai sebuah pertunjukan yang bila diragakan baru terurai
dengan melimpah.
Naskah-naskah drama yang jenis kedua yang kering itu, oleh upaya penulisnya
sendiri dicoba untuk diterbitkan. Antara lain brsamaan dengan saat
pertunjuannya, sebagai tambahan informasi dan dokumentasi untuk penonton.
Naskah-naskah tersebut praktis hanya menjadi konsumsi sutradara dan
pemain-pemain kalau mereka berminat untuk mementaskan. Ditambah dengan dosen
dan mahasiswa fakultas sastra yang sudah mulai banyak memilih meneliti naskah
drama untuk mendapat gelar sarjana atau bahkan doktornya. Beberapa naskah
Arifin C. Noer, (Tengul) dan naskah saya sendiri (Gerr, Dor, Dag-Dig-Dug) sudah
mulai dijamah oleh penerbit dan bahkan setelah sepuluh tahun sempat mengalami
ulang cetak 2 sampai 3 kali.
Lakon tertulis yang menjadi sastra dan lakon tertulis yang tetap merupakan
bahan pementasan, tidak untuk dibandingkan sebagai acuan kualitas, tetapi
sebagai hanya bentuk/model. Di samping kedua model tersebut, masih ada model
ketiga, sebagaimana yang dilakukan oleh almarhum Motinggo Boesye, misalnya. Dia
menuliskan kembali naskah dramanya seperti Perempuan Itu Bernama Barabah, Malam
Pengantin Di Bukit Kera, Nyonya dan Nyonya, sebagai novelet. Saya sendiri
menuliskan naskah drama saya Bila Malam Bertabah Malam, supaya bisa
diterbitkan. Dan itu menjadi buku saya yang pertama. Pengarang drama paling
terkemuka di Singapura, Kuo Pau Kun, menuliskan salah satu karya monolognya
yang penting: The Coffin is Too Big For The Hole", langsung dalam bentuk
cerita pendek.
Tetapi bagaimana pun juga bentuknya, dunia mengakui naskah drama sebagai
bagian dari sastra. Beberapa kali penulis drama memenangkan hadiah nobel untuk
kesusatraan. Antara lain Samuel Beckett, misalnya.
Lepas dari bentuk penulisan lakon, cara pemanggungan sendiri sudah mulai
berubah. Pada era 70-an, setelah berdirinya TIM di Taman Ismail Marzuki, teknik
pemanggungan sudah mengalami kemajuan pesat sekali. Kalau pda tahun 60-an
Teater Indonesia di Yogya pimpina Mat Dhelan, dengan sutradara Sumantri
Sosrosuwondho melakukan pembaruan dengan menghidupkan teknik pemanggungan
"arena", TIM memulai tradisi efisien dan efektif dalam set dekor,
tata lampu, kostum, dan pengadegan. Dengan mempergunakan level-level, boks dan
tata lampu, kesulitan peralihan babak dapat diatasi dengan mudah. Efisiensi dan
praktisasi dalam kostum, karena sudah tidak lagi mengacu kepada tradisi realis,
menyebabkan pementasan relatif lebih murah, lebih kreatif, lebih menawarkan
banyak kemungkinan. Ini mendorong penulis naskah lebih bebas mengembangkan
naskahnya.
Tetapi kedudukan naskah juga sudah mulai bukan lagi merupakan salah satu
persayaratan mutlak pementasan. Bengkel Teater WS Rendra lewat penulis Syubah
Asa mementaskan puisi Berzanji tanpa lebih dahulu menuliskan sebagai bentuk
naskah drama. Kalau Arifin C Noer menuliskan naskahnya sambil melakukan
latihan, Teater Mandiri membuat pementasan yang sama sekali tidak berdasarkan
naskah pada tahun 1975 dan 1976 (Lho, Entah, Nol). Seorang aktor Teater Kecil,
membawakan apologi pembelaan Plato terhadap Socrates sebagai monolog. Rhadar
Panca Sarjana, dari Gelanggang Remaja Jakarta Selatan, pernah tampil dalam
babak final Festival Teater Remaja Jakarta dengan sama sekali tanpa naskah.
Banyak teater-teater muda di Jakarta, Bandung, Solo, Yogya, tidak mendasarkan
pementasannya dari sebuah naskah, mereka mengambil puisi, cerpen, bahkan juga
artikel atau esei untuk menjadi plot atau "cerita" dalam
pementasannya. Walhasil bukan saja naskah drama tidak lagi selalu harus
dikelompokkan sebagai karya sastra, tetapi naskah drama sendiri bukan
satu-satunya sumber sebuah pementasan.
Naskah drama pun mengalami perubahan. Formatnya bisa berupa naskah yang
konvensional sebagai cetak biru pementasan. Tapi ada juga yang ditulis dengan
gaya prosa, seperti yang dilakukan oleh Motionggo B oesye dengan “Nyonya Dan
Nyonya:, “Sepasang Pengangin Di Bukit Kera.”
Perkembangan penulisan lakon Indonesia seperti dianak-tirikan oleh sastra
Indonesia.Pada awal penulisan naskah drama,ketika drama banyak sekali diperguna
an untuk mengekspresikan ide Indonesia,naskah drama memang masih terasa sebagai
bagian dari sastra Indonesia.Walaupun banyak naskah-naskah itu lebih enak
dibaca daripada dimainkan. Bahkan mengandung kesulitan besar,sehinga ada naskah
yang belum sempat dimainkan kendati usianya sudah puluhan tahan.Ajip Rosidi
menyebut itu sebagai drama-drama kloset.
Dalam perkembangan selanjutnya,naskah drama lebih erat hubungannya dengan
pementasan.Dimulai oleh Usmar Ismail ( Api ) dan Dr.Abu Hanifah ( Taufan Di
Atas Asia ) dan menjadi-jadi di masa jayanya Utuy Tatang Sontany ( Awal dan
Mira ), drama benar-benar merupakan karya sastra yang menuntut untuk dipentas
kan. Dan pada jaman Sayembara Penulisan Naskah Drama DKJ ,setelah berdirinya
TIM yang melahirkan ratusan naskah drama baru,naskah drama mulai terpental dari
sastra karena merupakan konsep-konsep pemanggungan.Kadangkala sebagai karya
tulis agak sulit dinikmati.Jarangnya penerbitan,tetapi justru makin banyaknya
pementasan menyebabkan naskah itu hanya tersimpan di Bank Naskah DKJ dan hanya
merupakan literatur - karya sastra "semu".Sebagaimana yang terjadi
pada lakon-lakon tak tertulis pada teater rakyat dan teater tradisional.
Ada masa teater tradisionil-rakyat dibedakan dengan drama karena teater
modern mempergunakan naskah tertulis dalam bahasa Indonesia.Naskah pada teater
rakyat & teater tradisonal,sebagaimana dikenal dengan sebutan oral
literature,adalah semu karena wujudnya baru muncul setelah diragakan.Keadaan
ini tentu saja banyak mempengaruhi kualitasnya sebagai barang seni.Karena titik
tolaknya pada kemungkinan sebagai alat untuk diwujudkan.Kalau toh kemudian
ditulis,( sebagaimana terasa kalau membaca cerita Men Kelodang Keloncing yang
coba ditulis oleh Prof.Hoyskas dari mulut seorang Bali ) tidak sempurna bila
dibandingkan dengan karya yang memang sejak awal dimaksudkan untuk
dibaca,kemudian untuk diwujudkan sebagai pementasan.
Banyak hal tak tertulis dalam drama kontemporer. Misalnya,
irama,tekanan,tempo, kualitas ucapan,lagu - yang bisa menghidupkan,hanya
tersirat saja.Semua itu baru nyata setelah muncul sutrada dan pemain mewujud
kan ( dipraktekkan ).Dalam keadaan tertulis,drama seperti barang mentah.Keadaan
semacam itu berulang kembali pada naskah-naskah drama Indonesia yang ada di
dalam Bank Naskah DKJ.Mungkin ini sebabnya kritikus sastra tak begitu
mebicarakannya.Boleh dikatakan naskah drama Indonesia periode setelah TIM
berdiri terbuang dari sastra. ( Bedakan dengan pengertian : naskah drama yang
menolak sastra,sebagaimana terjadi dalam perkembangan naskah drama Barat )
Tetapi kenyataan tersebut,juga sekaligus merupakan bukti,bahwa kehidupan
penulisan drama,tidak lagi mengikuti tradisi Barat.Pada awal kegiatan penulisan
drama di Indonesia,bahkan sampai pada zaman Kirjomuljo dan Motinggo
Bosye,naskah drama masih ditulis sebagai sastra yang mengandung kemungkinan
dipentas kas.Tetapi sejak Arifin menulis Mega-Mega,kemudian disusul oleh
Kapai-Kapai,lalu muncul naskah-naskah Akhudiat,misalnya, yang benar-benar
merupakan embrio untuk dikembangkan dalam pementasan.Sesuatu yang tak cukup dan
kadangkala tak jelas hanya sebagai karya sastra.Namun usaha ini sama sekali
bukan sebagai usaha memberontak kepada sastra.Tak masuk akal.Karena Arifin dan
Akhudiat,misalnya,adalah seorang penyair yang sedikit banyak merasa dirinya
sastrawan dan menulis sastra.Tetapi ketika dia menulis drama,karena mereka juga
adalah sutradara yang memiliki kelompok teater dan biasanya menulis naskah itu
untuk kemudian disutradarainya sendiri,yang paling dipikirkannya adalah membuat
patokan-patokan yang dapat dipakai pegangan oleh pemain.
Pristiwa penulisan naskah dalam teater Indonesia kontemporer,sejak
berdirinya TIM ( untuk mengambil sekedar ancang-ancang waktu ) sejiwa dengan
keadaan pada teater tradisional dan teater rakyat.Yakni menuju pada sasaran
pertunjukan.Tidak semuanya memang.Dan karena para penulis drama tersebut memang
pada hakekatnya adalah sastrawan,semua karya-karya dramanya itu,meskipun lebih
ditujukan pada pemanggungan,tetapi tetap merupakan hasil sastra yang baik.Di
sini bedanya dengan oral literature ( Indonesia - seperti cerita Men
Kelodang-Keloncing ) yang murni.Contoh yang baik untuk uraian ini mungkin
Kapai-Kapai Arifin C.Noer.
Sebelum era tradisi baru,penulisan lakon berikut pemanggungannya mengikuti
tradisi teater Barat. Penulis lakon tradisi baru menggali bentuk dan jiwa
teater rakyat/tradisional,memiliki wujud lain.Kondisi penonton dan latar
belakang orang Indonesia diperhitungkan.Baik itu karena akibat langsung dari
penulis sendiri yang keindonesiannya tidak lagi merupakan slogan,tetapi sudah
ekspresi
.( Ini
erat hubungannya dengan usaha menutup-nutupi perbedaan latar belakang di masa
lalu,karena cita-cita persatuan.Akibatnya warna lokal,hal-hal yang sangat
subjektif pada pengarang seperti tertahan.Yang muncul adalah segala sesuatu dalam
formulasi kesatuan.Namun kini setiap
orang merasa bebas mengemukakan unsur-unsur daerah,segala keunikkannya yang
berbeda dengan orang lain.Karena itu tidak lagi menimbulkan sengketa,justru
orisinalitas pengarang.Sebagai contoh,muncul Arifin dengan latar belakang
Cirebon dan riwayat laluny sebagai keluarga pedagang sate.Akhudiat dengan
ludruk dengan kentrungan.Wisran Hadi dengan randai.Rendra dengan
ketoprak,wayang yang terasa amat Jawa.Bahkan Teguh Karya gelisah mencari ke
Bali lewat Jajaprana dan Batak,lewat Machbet dan film-filmnya.Semua itu
dilakukan tak sengaja dan sekaligus sengaja.
Bukan hanya dalam penulisan , seni pertunjukan pun mengalami perkembangan
yang sangat pesan. Idom –idion dari pertunjuakn tradisi baik bentuk dan
jiwanya, b aik struktur maupun kearifan l;okalnya diserap oleh perftunjukan
modern . Dengan sangat deras telah terjadi pembelokkan arah pertunjukan,bukan
lagi sebagai sesuatu yang kaku,formal,resmi,tetapi sebagai tontonan.
Di dalam tontonan ada jalinan yang akrab antara penonton dan yang
ditonton.Tontonan menjadi peristiwa bersama,sebagaimana terasa juga di dala
mpertunjukan di masa-masa yang lalu.Dan keadaan inilah yang dapat membawa
teater kontemporer kembali dekat dengan lingkungannya.Itu semua terjadi berkat
saling gesek-menggesek yang begitu intensif dan gencar di TIM.
Kata tontonan sendiri,bukan kata yang baru di Indonesia.Kata itu hidup dan
merupakan istilah sehari-hari yang dipahami oleh setiap orang. Di balik kata
yang sederhana itu,serta dapat diresapi oleh semua orang Indonesia,tersimpan
kebijaksanaan,ada sebuah dunia yang besar sekali.
0 komentar:
Posting Komentar