ABSTAK
Makalah
ini membahas tentang data angkatang kerja di indonesia. Makalah ini
menggunakan metode rasional dalam pengerjaannya. Sumber bahan penulisan
makalah ini adalah secara studi kepustakaan. Ada sejumlah faktor yang
mempengaruhi terjadinya kenaikan tingkat pengangguran di Indonesia. Dan
yang paling berpengaruh adalah jumlah penduduk dan pengangguran, karena
terjadinya hubungan timbal balik antara jumlah penduduk dan
pengangguran. Maka yang menjadi permasalahan adalah bagaimana
langkah-langkah kongkrit bagi negara agar mampu menciptakan kemakmuran
masyarakat secara merata serta bagaimana arah politik ekonomi negara
kita ke depan.
Sering
kali, apabila pada situasi menuntut kita untuk mengambil tindakan
keputusan, kita harus memutuskan untuk memilih satu dari dua atau lebih
alternatif tindakan yang dapat diambil. Pilihan akan sederhana jika
setiap tindakan hanya memiliki satu konsekuensi dan konsekuensi tersebut
diketahui secara pasti, sehingga pengambilan keputusan memilih tindakan
yang memiliki konsekuensi paling sesuai dengan keinginan kita. Dengan
kata lain, pengambilan keputusan cenderung pada kemungkinan-kemungkinan
yang memiliki konsekuensi akan terjadi.
Adalah
suatu aturan tertentu untuk mengambil keputusan dengan menggambarkan
proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara
pememcahan masalah yang disebut dengan sistem pendukung pengambilan
keputusan atau decision support system. Sedangkan statistik
merupakan suatu teknik pengumpulan hasil analisa yang didapat dari
observasi dan lain dari sampel yang ada. Jadi pengambilan keputusan jika
dilihat dari sudut pandang teori pengambilan keputusan secara
statistik, adalah suatu situasi pengambilan keputusan pada kondisi tidak
pasti, yang dinyatakan dalam bentuk tabel,diagram, polygon, histogram
dan lain sebagainya yang mendeskripsikan situasi tersebut. Dimana mereka
(diagram, polygon, histogram…red ) mengidentifikasikan keuntungan
maksimal dan kerugian minimal yang didapat untuk memungkinkan diwujudkan
dalam bentuk tindakan, berikut berikut alternatif yang ada. Selain itu
hasil dari analisa juga mengidentifikasikan probabilitas untuk setiap
kejadian yang saling meniadakan ( utually exclusive ).
Maka
makalah ini mencoba menyediakan data hasil sensus penduduk serta data
yang berhubungan dengan terjadinya tingkat inflasi yang semakin lama
semakin meningkat dengan menggunakan data distribusi frekuensi agar
mudah untuk dipahami oleh para pembaca.
Kata kunci : pengambilan keputusan, statistik, tingkat kesejahteraan.
PENDAHULUAN
Pertumbuhan
ekonomi merupakan salah satu indikator yang amat penting dalam menilai
kinerja suatu perekonomian, terutama untuk melakukan analisis tentang
hasil pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan suatu negara atau
suatu daerah. Ekonomi dikatakan mengalami pertumbuhan apabila produksi
barang dan jasa meningkat dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi
menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian dapat menghasilkan
tambahan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat pada periode tertentu.
Pertumbuhan
ekonomi suatu negara atau suatu wilayah yang terus menunjukkan
peningkatan menggambarkan bahwa perekonomian negara atau wilayah
tersebut berkembang dengan baik. Pembangunan ekonomi adalah sebuah
proses multidimensi yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam
struktur sosial, sikap masyarakat, dan kelembagaan nasional, seperti
halnya percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan dan
pemberantasan kemiskinan mutlak. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
berkelanjutan merupakan kondisi utama suatu keharusan bagi kelangsungan
pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Karena jumlah
penduduk bertambah setiap tahun yang dengan sendirinya kebutuhan
konsumsi sehari-hari juga bertambah setiap tahun, maka dibutuhkan
penambahan pendapatan setiap tahun.
Selain
dari sisi permintaan (konsumsi), dari sisi penawaran, pertumbuhan
penduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber
pendapatan). Pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dengan penambahan
kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian dari
penambahan pendapatan tersebut (ceteris paribus), yang
selanjutnya akan menciptakan suatu kondisi pertumbuhan ekonomi dengan
peningkatan kemiskinan. Pemenuhan kebutuhan konsumsi dan kesempatan
kerja itu sendiri hanya bisa dicapai dengan peningkatan output agregat
(barang dan jasa) atau GDP yang terus-menerus. Dalam pemahaman ekonomi
makro, pertumbuhan ekonomi adalah penambahan GDP, yang berarti
peningkatan Pendapatan Nasional. Berdasarkan data BPS menunjukkan
jumlah penduduk indonesia yang mengalami kenaikan dari tahun-ketahun.
Dimulai pada tahun 1980 sebesar 146.777.000 sampai pada tahun 2007
sebesar 224.904.000 jiwa (BPS, 1980 dan 2007). Kenaikan tersebut juga
diikuti oleh kenaikan jumlah pengangguran, hal ini menunjukkan kenaikan
jumlah penduduk tidak terserap ke lapangan pekerjaan sehingga jumlah
pengangguran pun naik.
Pengangguran
di Indonesia menjadi masalah yang terus menerus membengkak. Sebelum
krisis ekonomi tahun 1997, tingkat pengangguran di Indonesia pada
umumnya di bawah 5 persen dan pada tahun 1997 sebesar 4,68 persen.
Tingkat pengangguran sebesar 4,68 persen masih merupakan pengangguran
dalam skala yang wajar. pengangguran alamiah adalah suatu tingkat
pengangguran yang alamiah dan tak mungkin dihilangkan. Artinya jika
tingkat pengangguran paling tinggi 2 - 3 persen itu berarti bahwa
perekonomian dalam kondisi penggunaan tenaga kerja penuh (full employment)
(Sadono Sukirno, 2008). Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih
besar dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan
jurang (gap) yang terus membesar. Kondisi tersebut semakin membesar setelah krisis ekonomi.
Dengan
adanya krisis ekonomi tidak saja jurang antara peningkatan angkatan
kerja baru dengan penyediaan lapangan kerja yang rendah terus makin
dalam, tetapi juga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini
menyebabkan tingkat pengangguran di Indonesia dari tahun ke tahun terus
semakin tinggi. Berdasarkan tabel 1.1 dapat diketahui bahwa jumlah
angkatan kerja di Indonesia mengalami peningkatan rata-rata 2,1 persen
periode 1998 - 2007 serta mengalami pertumbuhan angkatan kerja yang
negatif yaitu sebesar -0,45 persen pada tahun 2003 sebesar 100.316.007
jiwa (Statistik Indonesia, 1998 – 2007). Hal tersebut disebabkan oleh
perubahan pada angka sensus penduduk yang dilakukan pemerintah.
Sayangnya tingkat pertumbuhan angkatan kerja di Indonesia ini tidak
dibarengi dengan terbukanya lapangan kerja.
Di
Indonesia, pengangguran merupakan masalah yang sangat penting untuk
diselesaikan mengingat angka atau besaran tingkat pengangguran di
Indonesia yang mengalami kenaikan tiap tahunnya diikuti bertambahnya
jumlah penduduk dan jumlah angkatan kerja Indonesia. Angka pengangguran
yang rendah dapat mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang baik, serta
dapat mencerminkan adanya peningkatan kualitas taraf hidup penduduk dan
peningkatan pemerataan pendapatan, Oleh karena itu kesejahteraan
penduduk meningkat.
Berdasarkan
pada latar belakang permasalahan tersebut, besarnya jumlah pengangguran
yang terus meningkat sejalan dengan tingginya tingkat angkatan kerja
yang rata-rata peningkatan setiap tahunnya 2,1 persen serta diiringi
oleh lambatnya pertumbuhan ekonomi disamping naiknya besaran GDP yang
dialami oleh Indonesia. Namun demikian tingginya pengangguran yang
terjadi ternyata juga diikuti oleh peningkatan upah yang diterima serta
berfluktuasinya inflasi di Indonesia. ekonomi tidak saja jurang antara
peningkatan angkatan kerja baru dengan penyediaan lapangan kerja yang
rendah terus makin dalam, tetapi juga terjadi pemutusan hubungan kerja
(PHK). Hal ini menyebabkan jumlah pengangguran di Indonesia dari tahun
ke tahun semakin tinggi. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat
ditarik beberapa pertanyaan penelitian yang terkait dengan latar
belakang masalah sebelumnya, diantaranya :
1. Bagaimana hubungan kenaikan jumlah penduduk dengan jumlah pengangguran?
2. Bagaimana hubungan antara naiknya besaran upah minimum yang ditetapkan pemerintah dengan kenaikan jumlah pengangguran?
3. Bagaimana hubungan kenaikan pertumbuhan ekonomi yang lambat dengan kenaikan jumlah pengangguran?
4. Dan bagaimana pemerintah melakukan solusi pengendalian pengangguran
Kasus
permasalahan pengangguran di Indonesia dirasa sudah cukup parah bagi
pembangunan. Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar
dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan
jurang (gap) yang terus membesar. Kondisi tersebut kini
membesar setelah krisis ekonomi. Dengan adanya krisis ekonomi Indonesia.
Ini akibat adanya fenomena ekonomi yang terjadi di Indonesia. Beberapa
indikatorindikator ekonomi sangat berpengaruh terhadap jumlah
pengangguran. Oleh karena itu, penelitian ini mengambil judul “TINGKAT
PENGANGGURAN DI INDONESIA”.
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk menganalisis hubungan antara kenaikan jumlah penduduk dengan kenaikan jumlah pengangguran.
2.
Untuk menganalisis hubungan antara naiknya besaran upah minimum yang
ditetapkan pemerintah dengan kenaikan jumlah pengangguran. untuk
menganalisis hubungan antara kenaikan pertumbuhan ekonomi yang
lambatdengan kenaikan jumlah pengangguran.
3. Untuk mengetahui bagaimana hubungan kenaikan pertumbuhan ekonomi yang lambat dengan kenaikan jumlah pengangguran
4. Dan untuk mengetahui bagaimana pemerintah melakukan solusi pengendalian pengangguran.
LANDASAN TEORI
I. Teori Pertumbuhan klasik
Menurut
pandangan ahli-ahli ekonomi klasik ada empat faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi, yaitu : jumlah penduduk, jumlah stok barang-barang
modal, luas tanah dan kekayaan alam, serta tingkat teknologi yang
digunakan. Walaupun menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi tergantung
kepada banyak faktor, ahli-ahli ekonomi klasik terutama menitikberatkan
perhatiannya kepada pengaruh pertambahan penduduk kepada pertumbuhan
ekonomi.
Menurut
ahli-ahli klasik hukum hasil tambahan yang semakin berkurang akan
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Ini berarti pertumbuhan ekonomi tidak
akan terus menerus berlangsung. Pada permulaannya, apabila penduduk
sedikit dan kekayaan alam relatif berlebihan, tingkat pengembalian modal
dari investasi yang dibuat adalah tinggi, para pengusaha akan
mendapatkan keuntungan yang besar. Hal ini akan menimbulkan investasi
baru, dan pertumbuhan ekonomi terwujud. Keadaan seperti itu tidak akan
terus-menerus berlangsung. Jika penduduk sudah terlalu banyak,
pertambahannya akan menurunkan tingkat kegiatan ekonomi karena
produktivitas setiap penduduk telah menjadi negatif, ini mengakibatkan
kemakmuran masyarakat menurun kembali. Ekonomi akan mencapai tingkat
perkembangan yang sangat rendah, Apabila keadaan ini dicapai, maka
ekonomi dikatakan telah mencapai keadaan yang tidak berimbang (stationary state). Pada keadaan ini pendapatan pekerja hanya mencapai tingkat cukup hidup (subsistence).
Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik setiap masyarakat tidak akan
mampu menghalangi terjadinya keadaan tidak berimbang tersebut.
Berdasarkan penjelasan ahliahli ekonomi klasik, dikemukakan suatu teori
yang menjelaskan perkaitan di antara pendapatan per kapita dan jumlah
penduduk. Teori tersebut dinamakan teori penduduk optimum. Dari uraian
tersebut dapat dilihat apabila kekurangan penduduk, produksi marjinal
adalah lebih tinggi daripada pendapatan per kapita. Akibatnya
pertambahan penduduk akan menaikkan pendapatan per kapita. Di sisi lain,
apabila penduduk sudah terlalu banyak, hukum hasil tambahan yang
semakin berkurang akan mempengaruhi fungsi produksi, maka produksi
marjinal akan mulai mengalami penurunan. Berdasarkan hal tersebut,
pendapatan nasional dan pendapatan per kapita menjadi semakin lambat
pertumbuhannya.
II. Teori Ketenagakerjaan
Sumber daya manusia atau sering disebut dengan human resources merupakan
penduduk secara keseluruhan. Dari segi penduduk sebagai faktor
produksi, maka tidak semua penduduk dapat bertindak sebagai faktor
produksi, hanya penduduk yang berupa tenaga kerja (man power)
yang dapat dianggap sebagai faktor produksi. Tenaga kerja mencakup
penduduk yang sudah bekerja atau sedang bekerja, yang sedang mencari
pekerjaan, dan yang sedang melakukan kegiatan lain, seperti bersekolah
dan mengurus rumah tangga (Payaman Simanjuntak,1985). Sedangkan menurut
Secha Alatas (dalam Aris Ananta, 1990), tenaga kerja merupakan bagian
dari penduduk yang mampu bekerja untuk memproduksi barang dan jasa.
Perserikatan BangsaBangsa (PBB) menggolongkan penduduk usia 15-64 tahun
sebagai tenaga kerja. Menurut Payaman simanjuntak (1985) konsep dari
tenaga kerja terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.
Angkatan kerja (labour force) merupakan bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlihat atau berusaha untuk terlibat.
.
III. Teori Pengangguran
Pengangguran
merupakan suatu ukuran yang dilakukan jika dalam kegiatan produktif
yaitu menghasilkan barang dan jasa. Angkatan kerja ini terdiri dari
golongan yang bekerja dan golongan yang menganggur. Golongan yang
bekerja (employed persons) merupakan sebagian masyarakat yang
sudah aktif dalam kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa. Sedangkan
sebagian masyarakat lainnya yang tergolong siap bekerja dan mencari
pekerjaan termasuk dalam golongan menganggur. Bukan angkatan kerja
adalah bagian dari tenaga kerja yang tidak bekerja maupun mencari
pekerjaan, atau bisa dikatakan sebagai bagian dari tenaga kerja yang
sesungguhnya tidak terlibat atau tidak berusaha terlibat dalam kegiatan
produksi.
Kelompok
bukan angkatan kerja ini terdiri dari golongan yang bersekolah,
golongan yang mengurus rumah tangga, dan golongan lain yang menerima
pendapatan. Pekerja tidak dibayar adalah seseorang yang bekerja membantu
usaha untuk memperoleh penghasilan/keuntungan yang dilakukan oleh salah
seorang rumah tangga atau bukan anggota rumah tangga tanpa mendapat
upah/gaji seseorang tidak memiliki pekerjaan tetapi mereka sedang
melakukan usaha secara aktif dalam empat minggu terakhir untuk mencari
pekerjaan (Kaufman dan Hotchkiss,1999). Pengangguran merupakan suatu
keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin
mendapatkan pekerjaan tetapi mereka belum dapat memperoleh pekerjaan
tersebut (Sadono Sukirno, 1994). Pengangguran dapat terjadi disebabkan
oleh ketidakseimbangan pada pasar tenaga kerja. Hal ini menunjukkan
bahwa jumlah tenaga kerja yang ditawarkan melebihi jumlah tenaga kerja
yang diminta. Menurut Sadono Sukirno (1994), pengangguran adalah suatu
keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin
mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Seseorang yang
tidak bekerja, tetapi tidak secara aktif mencari pekerjaan tidak
tergolong.
IV Teori upah
Upah
adalah pendapatan yang diterima tenaga kerja dalam bentuk uang, yang
mencakup bukan hanya komponen upah/gaji, tetapi juga lembur dan
tunjangan-tunjangan yang diterima secara rutin/reguler (tunjangan
transport, uang makan dan tunjangan lainnya sejauh diterima dalam bentuk
uang), tidak termasuk Tunjangan Hari Raya (THR), tunjangan bersifat
tahunan, kwartalan, tunjangantunjangan lain yang bersifat tidak rutin
dan tunjangan dalam bentuk natural (BPS, 2008). Menurut Gilarso (2003)
balas karya untuk faktor produksi tenaga kerja manusia disebut upah
(dalam arti luas, termasuk gaji, honorarium, uang sebagai penganggur.
Faktor utama yang menimbulkan pengangguran adalah kekurangan pengeluaran
agregat.
Para
pengusaha memproduksi barang dan jasa dengan maksud untuk mencari
keuntungan. Keuntungan tersebut hanya akan diperoleh apabila para
pengusaha dapat menjual barang yang mereka produksikan. Semakin besar
permintaan, semakin besar pula barang dan jasa yang akan mereka
wujudkan. Kenaikan produksi yang dilakukan akan menambah penggunaaan
tenaga kerja. Masih menurut Gilarso upah biasanya dibedakan menjadi dua,
yaitu: upah nominal (sejumlah uang yang diterima) dan upah riil (jumlah
barang
dan
jasa yang dapat dibeli dengan upah uang itu). Upah dalam arti sempit
khusus dipakai untuk tenaga kerja yang bekerja pada orang lain dalam
hubungan kerja (sebagai karyawan/buruh). Di indonesia banyak orang
berusaha sendiri dan tidak memperhitungkan ”upah” untuk dirinya sendiri.
Tetapi dalam analisis ekonomi, besar kecilnya balas karya mereka
sebagai tenaga kerja seharusnya ikut diperhitungkan.
METODE PENELITIAN
1. Lokasi dan Waktu
Lokasi
penelitian ini difokuskan pada data yang disediakan di internet.
Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan 2 minggu, yaitu mulai tanggal 9
Mei 2012 sampai dengan tanggal 23 Mei 2012.
2. Jenis dan Sumber data
Sumber
data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Jenis dan sumber
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
3.Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan
data dalam suatu penelitian dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan
yang relevan, akurat dan realistis Metode pengumpulan data yang
digunakan pada penelitian ini adalah studi pustaka sebagai metode
pengumpulan data.
4.Metode Analisis
Penelitian
ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi yang diterapkan adalah
metode analisisstatistik deskriptif dan analisis korelasi, yaitu
menganalisis dan menginterpretasikan hubungan antar variabel melalui
data. Penelitian ini menggunakan analisis deskripsi data secara grafis,
yaitu dengan menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafis, lalu
diinterprestasikan dengan melihat hubungan dan kecenderungan antar
variabel Dengan melihat data-data terkait (Dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi) guna mendukung suatu teori. Periode data yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah tahun 2009-2011. Sebagai pendukung
data juga diperoleh dari buku-buku, jurnal-jurnal, browsing
internet , serta koran-koran. jumlah pengangguran dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya seperti jumlah penduduk dan angkatan kerja, tingkat
inflasi, besaran upah, dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, lalu di
lihat hubungan dan kecenderungan antar variabel tersebut melalui nilai
koefisien korelasi antar variabel-variabel tersebut. Pada penelitian ini
menggunakan microsoft excel untuk mengolah data dan mencari nilai koefisien korelasi.
Analisis Statistik Deskriptif
Analisis
statistik deskriptif adalah metode-metode statistika yang digunakan
untuk menggambarkan data yang telah dikumpulkan. Pendekatan ini
berangkat dari data, ibarat bahan baku dalam suatu pabrik, data ini
diproses dan dimanipulasi menjadi informasi yang berharga bagi
pengambilan keputusan. Pemrosesan dan manipulasi data mentah menjadi
informasi yang bermanfaat yang merupakan jantung dari analisis
kuantitatif. Analisis statistik merupakan analisis yang paling luas
diterapkan dalam bisnis. Penelitian yang disebut survei secara umum
menggunakan analisis statistik.
II Analisis Korelasi
Analisis
korelasi merupakan analisis yang bertujuan untuk mengukur kuat atau
derajad hubungan antar dua variabel, sangat erat berhubungan tetapi
sangat berbeda dalam konsep dari analisis regresi. Menurut Mason (1996)
analisis korelasi adalah sekumpulan teknik statistika yang digunakan
untuk mengukur keeratan hubungan analisis statistik merupakan analisis
yang paling luas diterapkan dalam bisnis. Penelitian yang disebut survei
secara umum menggunakan analisis statistik (Mudrajad Kuncoro, 2004).
Berbeda
dalam konsep dari analisis regresi (Gujarati, 1998). Menurut Mason
(1996) analisis korelasi adalah sekumpulan teknik statistika yang
digunakan untuk mengukur keeratan hubungan (korelasi) antara dua
variabel. Fungsi utama analisis korelasi adalah untuk antara dua
variabel. Salah satu ukuran yang menyatakan keeratan hubungan adalah koefisien korelasi.
Koefisien ini bernilai -1 sampai menentukan seberapa erat hubungan
dengan +1. Ukuran ini dapat digunakan pada data berskala selang dan
rasio.
ANASISI PEMBAHASAN
I Keadaan Angkatan Penduduk Indonesia
Pertumbuhan
penduduk di Indonesia tidak selalu mengalami pertumbuhan positif.
Contohnya di tahun 1990 dan 2000, Indonesia mengalami pertumbuhan
penduduk yang negatif. Pada tahun 1990 laju pertumbuhan penduduk sebesar
-0,22 persen. Hal ini dikarenakan pemerintah berhasil menekan angka
pertumbuhan penduduk di tahun tersebut dengan program Keluarga Berencana
(KB). Pada tahun 2000 laju pertumbuhan penduduk sebesar -3,69 persen
yang disebabkan oleh perubahan perhitungan sensus yang tidak menghitung
populasi penduduk hal ini dapat dilihat pada gambar 1.6, pada gambar
tersebut jumlah pengangguran cenderung mengalami pertambahan, begitu
juga dengan jumlahangkatan kerja, walaupun pertumbuhan cenderung stabil
tetapi jumlah dari penduduk Indonesia selalu bertambah. Kecenderungan
searah ini mengindikasikan bahwa bertambahnya jumlah penduduk secara
tidak langsung berhubungan dengan bertambahnya pengangguran.
Catatan/Note:
1. a. Tidak/belum pernah sekolah/No schooling
b. Tidak/belum tamat SD/ Did Not Complete/Not Yet Completed Primary School
2. SD/Primary School
3. SLTP/Junior High School
4. a. SMTA Umum/Senior High School (General)
b. SMTA Kejuruan/Senior High School (Vocational)
5. a. Diploma I/II/III/Akademi/Diploma I/II/III/Academy
b. Universitas/University
Angka yang tercetak miring adalah jumlah penduduk yang bekerja
II. Kondisi Tingkat Upah Di Indonesia
Menurut
PP No. 8/1981, upah merupakan suatu penerimaan sebagai imbalan dari
pengusaha kepada karyawan untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah
atau akan dilakukan dan dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang yang
ditetapkan atas dasar suatu persetujuan atau peraturan
perundang-undangan serta dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja
antara pengusaha dengan karyawan termasuk tunjangan, baik untuk karyawan
itu sendiri maupun untuk keluarganya (Aris Ananta, 1990). Oleh karena
itu, setiap orang yang melakukan pekerjaan tertentu berhak untuk
menerima upah atas pekerjaan yang telah dilakukan atau dikerjakan.
Kondisi
sistem pengupahan yang terjadi di Indonesia dapat ditunjukkan melalui
Lampiran A. Pada tabel tersebut menggambarkan besarnya upah rata-rata
propinsi yang berlaku di Indonesia serta tingkat pertumbuhan upah dari
tahun 2009-2011. Besarnya tingkat upah yang berlaku selalu mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 besarnya upah rata-rata
propinsi yang berlaku di Indonesia sebesar Rp.839.400 dan mencapai
Rp.988.829 di tahun 2011. Berdasarkan gambar Tabel 1.7 yang mencerminkan
upah minimum ratarata propinsi yang diterima oleh pekerja. Grafik yang
bergerak keatas mengindikasikan jumlah upah yang terus bertambah. Upah
merupakan hal yang sangat penting bagi pengusaha dan pekerja, karena hal
ini dapat berkaitan secara tidak langsung terhadap jumlah pengangguran.
Gambar 1.7 menggambarkan kecenderungan hubungan upah dan pengangguran.
Tingkat
upah yang tinggi ternyata mengakibatkan bertambahnya pengangguran.
Kenaikan biaya produksi berupa upah minimum yang ditetapkan pemerintah
ternyata mengakibatkan perusahaan mengurangi pekerjanya untuk mengurangi
biaya produksi.
Interpretasi hasil deskripsi hubungan jumlah penduduk dan jumlah angkatan kerja,
besaran upah, terhadap jumlah pengangguran di Indonesia pada tahun 2009-2011 adalah sebagai berikut:
1. Jumlah Penduduk
Berdasarkan
grafik dan data yang disajikan sebelumnya dapat diketahui bahwa jumlah
penduduk yang bertambah tiap tahunnya ternyata memiliki hubungan searah
dengan jumlah pengangguran. Dengan bertambahnya jumlah penduduk akan
mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran. Hal ini juga didapat
dari nilai koefisien korelasi antara jumlah penduduk dan jumlah
pengangguran. Hal ini mengindikasikan hubungan positif dan kuat antara
jumlah penduduk dan jumlah pengangguran. Berdasarkan nilai koefisien
dapat disimpulkan bahwa peningkatan jumlah penduduk seiring dengan
peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia. Hal ini disebabkan
kurangnya Penyerapan tenaga kerja, sehingga hubungan antara kenaikan
jumlah penduduk di Indonesia sangat kuat dengan kenaikan jumlah
pengangguran.
Hubungan
yang searah tersebut sesuai dengan teori pertumbuhan klasik, di mana
penduduk yang sudah terlalu banyak, hukum hasil tambahan yang semakin
berkurang akan mempengaruhi fungsi produksi, maka produksi marginal akan
mengalami penurunan. Oleh karena itu, dengan adanya pertambahan
penduduk yang terlalu banyak maka akan menurunkan kegiatan ekonomi,
sehingga mengakibatkan penduduk bekerja, hal tersebut mengindikasikan
bertambahnya jumlah pengangguran hal tersebut disebabkan oleh sempitnya
lapangan pekerjaan serta kompetensi pekerja yang tidak sesuai dengan
peluang kerja yang ada.
2. Upah
Berdasarkan
hasil deskripsi statistik secara grafik dan data ditemukan bahwa
besaran upah memiliki kecenderungan searah terhadap jumlah pengangguran
di Indonesia tahun2009-2011. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien
korelasi yang mengindikasikan hubungan kenaikan upah dengan kenaikan
jumlah pengangguran bersifat positif dan kuat. Kenaikan besaran upah
minimum ratarata propinsi memiliki hubungan yang kuat dengan kenaikan
pada jumlah pengangguran. Hubungan searah ini disebabkan ketika
pemerintah menaikkan upah minimum, maka kenaikan penawaran tenaga kerja
pun meningkat, akan tetapi perusahaan lebih memilih mengurangi biaya
produksi dengan mengurangi jumlah pekerja agar tidak terjadi collaps karena mengalami defisit, sehingga jumlah pengangguran pun meningkat seiring kenaikan upah yang ditetapkan oleh pemerintah.
Peningkatan
pada upah minimum akan memiliki dampak negatif pada tenaga kerja sektor
formal di perkotaan, kecuali pada pekerja ”white-collar”. Jika
peningkatan dalam upah minimum mengurangi pertumbuhan tenaga kerja pada
sektor modern di bawah pertumbuhan pada populasi angkatan kerja, maka
akan semakin banyak pekerja yang tidak terampil akan dipaksa untuk
menerima upah yang lebih rendah dengan kondisi kerja yang buruk dalam
sektor informal. Menurut Adi Nugroho (Staff Seksi Pengupahan dan Kerja)
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi secara teori, hasil tersebut juga
sesuai dengan pendapat Kaufman dan Hotckiss yang berpendapat bahwa
penetapan tingkat upah yang dilakukan pemerintah pada suatu negara akan
memberikan pengaruh terhadap besarnya tingkat pengangguran yang ada.
Semakin tinggi besaran upah yang ditetapkan oleh pemerintah, maka hal
tersebut akan berakibat pada penurunan jumlah orang yang bekerja pada
negara tersebut.
Simpulan
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.
Jumlah penduduk memiliki hubungan yang positif dan kuat terhadap jumlah
pengangguran. Hal ini menunjukkan keterkaitan antara jumlah penduduk
dan pengangguran sangat besar.
2.
Inflasi memiliki hubungan positif dan lemah terhadap pengangguran. Hal
ini menunjukkan tidak ada keterkaitan antara inflasi dan pengangguran.
3.
Upah memiliki hubungan positif dan kuat terhadap pengangguran yaitu
sebesar. Hal tersebut mengindikasikan keterkaitan yang kuat antara upah
dan pengangguran.
4.
Pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan positif dan cukup kuat terhdapa
pengangguran. Hal tersebut mengindikasikan adanya keterkaitan antara
pertumbuhan ekonomi dengan pengangguran
Keterbatasan
Kelemahan
dan kekurangan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah keterbatasan
data yang diperoleh. Data upah per sektor dan upah nominal per propinsi
seharusnya dapat disajikan, akan tetapi karena dinas-dinas terkait sudah
tidak mempunyai data-data tersebut maka peneliti hanya menyajikan data
upah rata-rata propinsi. Lalu ada beberapa data yang tidak tersedia lagi
pada tahun-tahun tertentu sehingga peneliti menggunakan data per 3
tahun terakhir.
Saran
Berdasarkan
penelitian yang sudah dilakukan, peneliti mencoba memberi saran
terhadap hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu:
1.
Berdasarkan kesimpulan bahwa jumlah penduduk memiliki keterkaitan yang
kuat dengan jumlah pengangguran di Indonesia. Oleh karena itu, jumlah
penduduk yang semakin banyak di Indonesia haru dapat ditekan, sehingga
jumlah pengangguran pun tidak
semakin bertambah.
2.
Berdasarkan kesimpulan bahwa upah memiliki keterkaitan yang kuat dengan
jumlah pengangguran, penelitian ini mencoba mengadaptasi dari pendapat
staff disnakertrans, bahwa seharusnya dalam penentuan upah harus di
musyawarahkan antara pengusaha dan pegawai, upah yang baik adalah di
mana pekerja menerima upah yang lebih jika perusahaan mendapat
keuntungan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, dengan meningkatnya
kesejahteraan pekerja, maka produktivitas pun akan meningkat, hal ini
dapat meningkatkan produksi dan menguntungkan perusahaan. Akan tetapi,
jika perusahaan mengalami kerugian, perusahaan cukup membayar upah
pegawai tidak di bawah upah minimum yang ditetapkan.
3.
Berdasarkan kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki keterkaitan
yang cukup kuat dengan pengangguran, maka untuk menekan angka
pengangguran, pertumbuhan ekonomi di Indonesia seharusnya berorientasi
pada padat karya, sektor-sektor yang dominan seperti sektor industri
diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi, agar tenaga kerja
dapat terserap banyak, sehingga angka pengangguran pun dapat berkurang.
DAFTAR PUSTAKA
Amri Amir. 2007. “Pengaruh inflasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap
pengangguran di Indonesia”. Jurnal Inflasi dan Pengangguran Vol. 1 no. 1,
2007, jambi.
Aris Ananta. 1990. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lembaga Demografi
FE UI.
Aris Ananta. 1990. Ciri demografis Kualitas Penduduk dan Pembangunan Ekonomi.
Jakarta: Lembaga Demografi FE UI.
Asep Suryahadi. dkk,2003. ”Minimum Wage Policy and Its Impact on Employment
in The Urban Sector”. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol. 39, no.1,
2003.
Biro Pusat Statistik. Keadaan Angkatan Kerja Indonesia Berbagai Edisi. Jakarta:
Biro Pusat Statistik.
Biro Pusat Statistik. Statistik Indonesia Berbagai Edisi. Jakarta: Biro Pusat Statistik
Biro Pusat Statistik. Statisik Kesejahteraan Rakyat, Berbagai edisi. Jakarta: Biro
Pusat Statistik.
Boediono. 1991. Ekonomi Mikro. Yogyakarta: BPFE- UGM.
Coki. A. Syahwier. 2005. Realitas Makroekonomi: Pertumbuhan Ekonomi dan
Kemiskinan. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan vol.1 no. 1, 2005.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Dernburg, Thomas F dan Karyaman Muchtar. 1992. Makro Ekonomi- Konsep, Teori
dan Kebijakan Edisi Ketujuh. Jakarta: Erlangga.
Dharendra Wardhana. 2006. Pengangguran Struktural Di Indonesia: Keterangan Dari
Analisis SVAR Dalam Kerangka Hysteresis. Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Indonesia vol.3 no., 2006. Universitas Gadjah Mada.
Dinarno, John and Mark. P. Moore. 1999 “The Phillips Curve is Back? Using Panel
Data to Analyze The Relationship Between Unemployment and Inflation in an
Open Economy”. NBER Working Paper Series, Working Paper 7328,
http://www.nber.org/paper/w7328
.
Ester Magdalena. 2009. “Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pengangguran
di Indonesia”. Jurnal Pertumbuhan Ekonomi vol.1 no.1, 2009. Jakarta
Gilarso. 2003. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: kanisius.
Gujarati, Damodar. 1998. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga
Handayani, T., dan Mangku. Kondisi Ekonomi: Kesengsaraan Rakyat Parah [Suara
Karya Online].
Kaufman, Bruce E and Julie L Hotchkiss. 1999. The Economic Labor Markets. USA:
Georgia State University.
Lipsey, R.G.,P.N. Courant, D. D. Purvis, dan P.O.Steiner. 1996. Pengantar
Makroekonomi Jilid 1. Edisi ke-10. Wasana, Kirbrandoko, dan Budijanto
[penerjemah]. Jakarta: Binarupa Aksara.
Mankiw, N. Gregory. 2006. Pengantar Ekonomi Mikro Edisi 3. Jakarta: Salemba
Empat.
Mankiw, N. Gregory. 2000. Teori Makro Ekonomi. Jakarta: Erlangga.
Mason, D.Robert. 1996. Teknik Statistika Untuk Bisnis dan Ekonomi Jilid 1 & 2.
Jakarta:Erlangga
Mohammad Nazir. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Mudrajad Kuncoro. 2004. Metode Kuantitatif: Teori dan Aplikasi Untuk Bisnis dan
Ekonomi. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN
Nopirin. 2000. Ekonomi Moneter Buku II. Yogyakarta: BPFE
Noegroho Boedijoewono. 2001. Pengantar Statistik Ekonomi dan Bisnis.
Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN
Payaman. J. Simanjuntak. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta:
LPFE UI.
Pikiran Rakyat. Pertumbuhan Ekonomi Ditargetkan 5 persen [Pikiran Rakyat Cyber
Media]. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0803/13/0602.htm [13
Agustus
2003]
Sadono Sukirno. 1994. Pengantar Teori Ekonomi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Sadono Sukirno. 2005. Mikro Ekonomi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Sadono Sukirno. 2008. Makroekonomi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Samuelson, A. Paul & Nordhaus, D. William. 1997. Mikroekonomi. Jakarta: Erlangga
Suharsimi, Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka cipta
Suharyadi dan Purwanto. 2003. Statistika Untuk Ekonomi dan Keuangan Modern.
Jakarta: Salemba empat
Sumitro Djojohadikusumo, 1994. Perkembangan Pemikiran Ekonomi- Dasar Teori
Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Jakarta: LP3ES
Suparmoko, M dan Irawan, 1997. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta: BPFE
Todaro, P Michael. 1988. Pembangunan Ekonomi di Dunia ke-3. Jakarta: Erlangga.
Tulus T.H. Tambunan. 2009. Perekonomian Indonesia. Bogor: Ghalia Indonesia.
International Monetary fund. 2007. Data Pertumbuhan Ekonomi dan GDP.
www.imf.org
0 komentar:
Posting Komentar