Jumat, 04 Januari 2013

E KULIAH PEDIA

ABSTAK
Makalah ini membahas tentang data angkatang kerja di indonesia. Makalah ini menggunakan metode rasional dalam pengerjaannya. Sumber bahan penulisan makalah ini adalah secara studi kepustakaan. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi terjadinya kenaikan tingkat pengangguran di Indonesia. Dan yang paling berpengaruh adalah jumlah penduduk dan pengangguran, karena terjadinya hubungan timbal balik antara jumlah penduduk dan pengangguran. Maka yang menjadi permasalahan adalah bagaimana langkah-langkah kongkrit bagi negara agar mampu menciptakan kemakmuran masyarakat secara merata serta bagaimana arah politik ekonomi negara kita ke depan.
Sering kali, apabila pada situasi menuntut kita untuk mengambil tindakan keputusan, kita harus memutuskan untuk memilih satu dari dua atau lebih alternatif tindakan yang dapat diambil. Pilihan akan sederhana jika setiap tindakan hanya memiliki satu konsekuensi dan konsekuensi tersebut diketahui secara pasti, sehingga pengambilan keputusan memilih tindakan yang memiliki konsekuensi paling sesuai dengan keinginan kita. Dengan kata lain, pengambilan keputusan cenderung pada kemungkinan-kemungkinan yang memiliki konsekuensi akan terjadi.
Adalah suatu aturan tertentu untuk mengambil keputusan dengan menggambarkan proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pememcahan masalah yang disebut dengan sistem pendukung pengambilan keputusan atau decision support system. Sedangkan statistik merupakan suatu teknik pengumpulan hasil analisa yang didapat dari observasi dan lain dari sampel yang ada. Jadi pengambilan keputusan jika dilihat dari sudut pandang teori pengambilan keputusan secara statistik, adalah suatu situasi pengambilan keputusan pada kondisi tidak pasti, yang dinyatakan dalam bentuk tabel,diagram, polygon, histogram dan lain sebagainya yang mendeskripsikan situasi tersebut. Dimana mereka (diagram, polygon, histogram…red ) mengidentifikasikan keuntungan maksimal dan kerugian minimal yang didapat untuk memungkinkan diwujudkan dalam bentuk tindakan, berikut berikut alternatif yang ada. Selain itu hasil dari analisa juga mengidentifikasikan probabilitas untuk setiap kejadian yang saling meniadakan ( utually exclusive ).

Maka makalah ini mencoba menyediakan data hasil sensus penduduk serta data yang berhubungan dengan terjadinya tingkat inflasi yang semakin lama semakin meningkat dengan menggunakan data distribusi frekuensi agar mudah untuk dipahami oleh para pembaca.
Kata kunci : pengambilan keputusan, statistik, tingkat kesejahteraan.

PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang amat penting dalam menilai kinerja suatu perekonomian, terutama untuk melakukan analisis tentang hasil pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan suatu negara atau suatu daerah. Ekonomi dikatakan mengalami pertumbuhan apabila produksi barang dan jasa meningkat dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian dapat menghasilkan tambahan pendapatan atau kesejahteraan masyarakat pada periode tertentu.
Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau suatu wilayah yang terus menunjukkan peningkatan menggambarkan bahwa perekonomian negara atau wilayah tersebut berkembang dengan baik. Pembangunan ekonomi adalah sebuah proses multidimensi yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap masyarakat, dan kelembagaan nasional, seperti halnya percepatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan ketidakmerataan dan pemberantasan kemiskinan mutlak. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama suatu keharusan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Karena jumlah penduduk bertambah setiap tahun yang dengan sendirinya kebutuhan konsumsi sehari-hari juga bertambah setiap tahun, maka dibutuhkan penambahan pendapatan setiap tahun.
Selain dari sisi permintaan (konsumsi), dari sisi penawaran, pertumbuhan penduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan). Pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian dari penambahan pendapatan tersebut (ceteris paribus), yang selanjutnya akan menciptakan suatu kondisi pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kemiskinan. Pemenuhan kebutuhan konsumsi dan kesempatan kerja itu sendiri hanya bisa dicapai dengan peningkatan output agregat (barang dan jasa) atau GDP yang terus-menerus. Dalam pemahaman ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi adalah penambahan GDP, yang berarti peningkatan Pendapatan Nasional. Berdasarkan data BPS menunjukkan jumlah penduduk indonesia yang mengalami kenaikan dari tahun-ketahun. Dimulai pada tahun 1980 sebesar 146.777.000 sampai pada tahun 2007 sebesar 224.904.000 jiwa (BPS, 1980 dan 2007). Kenaikan tersebut juga diikuti oleh kenaikan jumlah pengangguran, hal ini menunjukkan kenaikan jumlah penduduk tidak terserap ke lapangan pekerjaan sehingga jumlah pengangguran pun naik.
Pengangguran di Indonesia menjadi masalah yang terus menerus membengkak. Sebelum krisis ekonomi tahun 1997, tingkat pengangguran di Indonesia pada umumnya di bawah 5 persen dan pada tahun 1997 sebesar 4,68 persen. Tingkat pengangguran sebesar 4,68 persen masih merupakan pengangguran dalam skala yang wajar. pengangguran alamiah adalah suatu tingkat pengangguran yang alamiah dan tak mungkin dihilangkan. Artinya jika tingkat pengangguran paling tinggi 2 - 3 persen itu berarti bahwa perekonomian dalam kondisi penggunaan tenaga kerja penuh (full employment) (Sadono Sukirno, 2008). Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan jurang (gap) yang terus membesar. Kondisi tersebut semakin membesar setelah krisis ekonomi.
Dengan adanya krisis ekonomi tidak saja jurang antara peningkatan angkatan kerja baru dengan penyediaan lapangan kerja yang rendah terus makin dalam, tetapi juga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran di Indonesia dari tahun ke tahun terus semakin tinggi. Berdasarkan tabel 1.1 dapat diketahui bahwa jumlah angkatan kerja di Indonesia mengalami peningkatan rata-rata 2,1 persen periode 1998 - 2007 serta mengalami pertumbuhan angkatan kerja yang negatif yaitu sebesar -0,45 persen pada tahun 2003 sebesar 100.316.007 jiwa (Statistik Indonesia, 1998 – 2007). Hal tersebut disebabkan oleh perubahan pada angka sensus penduduk yang dilakukan pemerintah. Sayangnya tingkat pertumbuhan angkatan kerja di Indonesia ini tidak dibarengi dengan terbukanya lapangan kerja.




Di Indonesia, pengangguran merupakan masalah yang sangat penting untuk diselesaikan mengingat angka atau besaran tingkat pengangguran di Indonesia yang mengalami kenaikan tiap tahunnya diikuti bertambahnya jumlah penduduk dan jumlah angkatan kerja Indonesia. Angka pengangguran yang rendah dapat mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang baik, serta dapat mencerminkan adanya peningkatan kualitas taraf hidup penduduk dan peningkatan pemerataan pendapatan, Oleh karena itu kesejahteraan penduduk meningkat.
Berdasarkan pada latar belakang permasalahan tersebut, besarnya jumlah pengangguran yang terus meningkat sejalan dengan tingginya tingkat angkatan kerja yang rata-rata peningkatan setiap tahunnya 2,1 persen serta diiringi oleh lambatnya pertumbuhan ekonomi disamping naiknya besaran GDP yang dialami oleh Indonesia. Namun demikian tingginya pengangguran yang terjadi ternyata juga diikuti oleh peningkatan upah yang diterima serta berfluktuasinya inflasi di Indonesia. ekonomi tidak saja jurang antara peningkatan angkatan kerja baru dengan penyediaan lapangan kerja yang rendah terus makin dalam, tetapi juga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini menyebabkan jumlah pengangguran di Indonesia dari tahun ke tahun semakin tinggi. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat ditarik beberapa pertanyaan penelitian yang terkait dengan latar belakang masalah sebelumnya, diantaranya :
1. Bagaimana hubungan kenaikan jumlah penduduk dengan jumlah pengangguran?
2. Bagaimana hubungan antara naiknya besaran upah minimum yang ditetapkan pemerintah dengan kenaikan jumlah pengangguran?
3. Bagaimana hubungan kenaikan pertumbuhan ekonomi yang lambat dengan kenaikan jumlah pengangguran?
4. Dan bagaimana pemerintah melakukan solusi pengendalian pengangguran
Kasus permasalahan pengangguran di Indonesia dirasa sudah cukup parah bagi pembangunan. Peningkatan angkatan kerja baru yang lebih besar dibandingkan dengan lapangan kerja yang tersedia terus menunjukkan jurang (gap) yang terus membesar. Kondisi tersebut kini membesar setelah krisis ekonomi. Dengan adanya krisis ekonomi Indonesia. Ini akibat adanya fenomena ekonomi yang terjadi di Indonesia. Beberapa indikatorindikator ekonomi sangat berpengaruh terhadap jumlah pengangguran. Oleh karena itu, penelitian ini mengambil judul “TINGKAT PENGANGGURAN DI INDONESIA”.
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk menganalisis hubungan antara kenaikan jumlah penduduk dengan kenaikan jumlah pengangguran.
2. Untuk menganalisis hubungan antara naiknya besaran upah minimum yang ditetapkan pemerintah dengan kenaikan jumlah pengangguran. untuk menganalisis hubungan antara kenaikan pertumbuhan ekonomi yang lambatdengan kenaikan jumlah pengangguran.
3. Untuk mengetahui bagaimana hubungan kenaikan pertumbuhan ekonomi yang lambat dengan kenaikan jumlah pengangguran
4. Dan untuk mengetahui bagaimana pemerintah melakukan solusi pengendalian pengangguran.




LANDASAN TEORI
I. Teori Pertumbuhan klasik
Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik ada empat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu : jumlah penduduk, jumlah stok barang-barang modal, luas tanah dan kekayaan alam, serta tingkat teknologi yang digunakan. Walaupun menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi tergantung kepada banyak faktor, ahli-ahli ekonomi klasik terutama menitikberatkan perhatiannya kepada pengaruh pertambahan penduduk kepada pertumbuhan ekonomi.
Menurut ahli-ahli klasik hukum hasil tambahan yang semakin berkurang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Ini berarti pertumbuhan ekonomi tidak akan terus menerus berlangsung. Pada permulaannya, apabila penduduk sedikit dan kekayaan alam relatif berlebihan, tingkat pengembalian modal dari investasi yang dibuat adalah tinggi, para pengusaha akan mendapatkan keuntungan yang besar. Hal ini akan menimbulkan investasi baru, dan pertumbuhan ekonomi terwujud. Keadaan seperti itu tidak akan terus-menerus berlangsung. Jika penduduk sudah terlalu banyak, pertambahannya akan menurunkan tingkat kegiatan ekonomi karena produktivitas setiap penduduk telah menjadi negatif, ini mengakibatkan kemakmuran masyarakat menurun kembali. Ekonomi akan mencapai tingkat perkembangan yang sangat rendah, Apabila keadaan ini dicapai, maka ekonomi dikatakan telah mencapai keadaan yang tidak berimbang (stationary state). Pada keadaan ini pendapatan pekerja hanya mencapai tingkat cukup hidup (subsistence). Menurut pandangan ahli-ahli ekonomi klasik setiap masyarakat tidak akan mampu menghalangi terjadinya keadaan tidak berimbang tersebut. Berdasarkan penjelasan ahliahli ekonomi klasik, dikemukakan suatu teori yang menjelaskan perkaitan di antara pendapatan per kapita dan jumlah penduduk. Teori tersebut dinamakan teori penduduk optimum. Dari uraian tersebut dapat dilihat apabila kekurangan penduduk, produksi marjinal adalah lebih tinggi daripada pendapatan per kapita. Akibatnya pertambahan penduduk akan menaikkan pendapatan per kapita. Di sisi lain, apabila penduduk sudah terlalu banyak, hukum hasil tambahan yang semakin berkurang akan mempengaruhi fungsi produksi, maka produksi marjinal akan mulai mengalami penurunan. Berdasarkan hal tersebut, pendapatan nasional dan pendapatan per kapita menjadi semakin lambat pertumbuhannya.

II. Teori Ketenagakerjaan
Sumber daya manusia atau sering disebut dengan human resources merupakan penduduk secara keseluruhan. Dari segi penduduk sebagai faktor produksi, maka tidak semua penduduk dapat bertindak sebagai faktor produksi, hanya penduduk yang berupa tenaga kerja (man power) yang dapat dianggap sebagai faktor produksi. Tenaga kerja mencakup penduduk yang sudah bekerja atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan, dan yang sedang melakukan kegiatan lain, seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga (Payaman Simanjuntak,1985). Sedangkan menurut Secha Alatas (dalam Aris Ananta, 1990), tenaga kerja merupakan bagian dari penduduk yang mampu bekerja untuk memproduksi barang dan jasa. Perserikatan BangsaBangsa (PBB) menggolongkan penduduk usia 15-64 tahun sebagai tenaga kerja. Menurut Payaman simanjuntak (1985) konsep dari tenaga kerja terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan kerja (labour force) merupakan bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlihat atau berusaha untuk terlibat.
.
III. Teori Pengangguran
Pengangguran merupakan suatu ukuran yang dilakukan jika dalam kegiatan produktif yaitu menghasilkan barang dan jasa. Angkatan kerja ini terdiri dari golongan yang bekerja dan golongan yang menganggur. Golongan yang bekerja (employed persons) merupakan sebagian masyarakat yang sudah aktif dalam kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa. Sedangkan sebagian masyarakat lainnya yang tergolong siap bekerja dan mencari pekerjaan termasuk dalam golongan menganggur. Bukan angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang tidak bekerja maupun mencari pekerjaan, atau bisa dikatakan sebagai bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya tidak terlibat atau tidak berusaha terlibat dalam kegiatan produksi.
Kelompok bukan angkatan kerja ini terdiri dari golongan yang bersekolah, golongan yang mengurus rumah tangga, dan golongan lain yang menerima pendapatan. Pekerja tidak dibayar adalah seseorang yang bekerja membantu usaha untuk memperoleh penghasilan/keuntungan yang dilakukan oleh salah seorang rumah tangga atau bukan anggota rumah tangga tanpa mendapat upah/gaji seseorang tidak memiliki pekerjaan tetapi mereka sedang melakukan usaha secara aktif dalam empat minggu terakhir untuk mencari pekerjaan (Kaufman dan Hotchkiss,1999). Pengangguran merupakan suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi mereka belum dapat memperoleh pekerjaan tersebut (Sadono Sukirno, 1994). Pengangguran dapat terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan pada pasar tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja yang ditawarkan melebihi jumlah tenaga kerja yang diminta. Menurut Sadono Sukirno (1994), pengangguran adalah suatu keadaan di mana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Seseorang yang tidak bekerja, tetapi tidak secara aktif mencari pekerjaan tidak tergolong.

IV Teori upah
Upah adalah pendapatan yang diterima tenaga kerja dalam bentuk uang, yang mencakup bukan hanya komponen upah/gaji, tetapi juga lembur dan tunjangan-tunjangan yang diterima secara rutin/reguler (tunjangan transport, uang makan dan tunjangan lainnya sejauh diterima dalam bentuk uang), tidak termasuk Tunjangan Hari Raya (THR), tunjangan bersifat tahunan, kwartalan, tunjangantunjangan lain yang bersifat tidak rutin dan tunjangan dalam bentuk natural (BPS, 2008). Menurut Gilarso (2003) balas karya untuk faktor produksi tenaga kerja manusia disebut upah (dalam arti luas, termasuk gaji, honorarium, uang sebagai penganggur. Faktor utama yang menimbulkan pengangguran adalah kekurangan pengeluaran agregat.
Para pengusaha memproduksi barang dan jasa dengan maksud untuk mencari keuntungan. Keuntungan tersebut hanya akan diperoleh apabila para pengusaha dapat menjual barang yang mereka produksikan. Semakin besar permintaan, semakin besar pula barang dan jasa yang akan mereka wujudkan. Kenaikan produksi yang dilakukan akan menambah penggunaaan tenaga kerja. Masih menurut Gilarso upah biasanya dibedakan menjadi dua, yaitu: upah nominal (sejumlah uang yang diterima) dan upah riil (jumlah barang
dan jasa yang dapat dibeli dengan upah uang itu). Upah dalam arti sempit khusus dipakai untuk tenaga kerja yang bekerja pada orang lain dalam hubungan kerja (sebagai karyawan/buruh). Di indonesia banyak orang berusaha sendiri dan tidak memperhitungkan ”upah” untuk dirinya sendiri. Tetapi dalam analisis ekonomi, besar kecilnya balas karya mereka sebagai tenaga kerja seharusnya ikut diperhitungkan.


METODE PENELITIAN


1. Lokasi dan Waktu

Lokasi penelitian ini difokuskan pada data yang disediakan di internet. Sedangkan waktu penelitian dilaksanakan 2 minggu, yaitu mulai tanggal 9 Mei 2012 sampai dengan tanggal 23 Mei 2012.
2. Jenis dan Sumber data
Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.

3.Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam suatu penelitian dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat dan realistis Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah studi pustaka sebagai metode pengumpulan data.
4.Metode Analisis
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi yang diterapkan adalah metode analisisstatistik deskriptif dan analisis korelasi, yaitu menganalisis dan menginterpretasikan hubungan antar variabel melalui data. Penelitian ini menggunakan analisis deskripsi data secara grafis, yaitu dengan menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafis, lalu diinterprestasikan dengan melihat hubungan dan kecenderungan antar variabel Dengan melihat data-data terkait (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi) guna mendukung suatu teori. Periode data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tahun 2009-2011. Sebagai pendukung data juga diperoleh dari buku-buku, jurnal-jurnal, browsing internet , serta koran-koran. jumlah pengangguran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti jumlah penduduk dan angkatan kerja, tingkat inflasi, besaran upah, dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, lalu di lihat hubungan dan kecenderungan antar variabel tersebut melalui nilai koefisien korelasi antar variabel-variabel tersebut. Pada penelitian ini menggunakan microsoft excel untuk mengolah data dan mencari nilai koefisien korelasi.
Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif adalah metode-metode statistika yang digunakan untuk menggambarkan data yang telah dikumpulkan. Pendekatan ini berangkat dari data, ibarat bahan baku dalam suatu pabrik, data ini diproses dan dimanipulasi menjadi informasi yang berharga bagi pengambilan keputusan. Pemrosesan dan manipulasi data mentah menjadi informasi yang bermanfaat yang merupakan jantung dari analisis kuantitatif. Analisis statistik merupakan analisis yang paling luas diterapkan dalam bisnis. Penelitian yang disebut survei secara umum menggunakan analisis statistik.

II Analisis Korelasi
Analisis korelasi merupakan analisis yang bertujuan untuk mengukur kuat atau derajad hubungan antar dua variabel, sangat erat berhubungan tetapi sangat berbeda dalam konsep dari analisis regresi. Menurut Mason (1996) analisis korelasi adalah sekumpulan teknik statistika yang digunakan untuk mengukur keeratan hubungan analisis statistik merupakan analisis yang paling luas diterapkan dalam bisnis. Penelitian yang disebut survei secara umum menggunakan analisis statistik (Mudrajad Kuncoro, 2004).

Berbeda dalam konsep dari analisis regresi (Gujarati, 1998). Menurut Mason (1996) analisis korelasi adalah sekumpulan teknik statistika yang digunakan untuk mengukur keeratan hubungan (korelasi) antara dua variabel. Fungsi utama analisis korelasi adalah untuk antara dua variabel. Salah satu ukuran yang menyatakan keeratan hubungan adalah koefisien korelasi. Koefisien ini bernilai -1 sampai menentukan seberapa erat hubungan dengan +1. Ukuran ini dapat digunakan pada data berskala selang dan rasio.

ANASISI PEMBAHASAN
I Keadaan Angkatan Penduduk Indonesia
Pertumbuhan penduduk di Indonesia tidak selalu mengalami pertumbuhan positif. Contohnya di tahun 1990 dan 2000, Indonesia mengalami pertumbuhan penduduk yang negatif. Pada tahun 1990 laju pertumbuhan penduduk sebesar -0,22 persen. Hal ini dikarenakan pemerintah berhasil menekan angka pertumbuhan penduduk di tahun tersebut dengan program Keluarga Berencana (KB). Pada tahun 2000 laju pertumbuhan penduduk sebesar -3,69 persen yang disebabkan oleh perubahan perhitungan sensus yang tidak menghitung populasi penduduk hal ini dapat dilihat pada gambar 1.6, pada gambar tersebut jumlah pengangguran cenderung mengalami pertambahan, begitu juga dengan jumlahangkatan kerja, walaupun pertumbuhan cenderung stabil tetapi jumlah dari penduduk Indonesia selalu bertambah. Kecenderungan searah ini mengindikasikan bahwa bertambahnya jumlah penduduk secara tidak langsung berhubungan dengan bertambahnya pengangguran.

Catatan/Note:
1. a. Tidak/belum pernah sekolah/No schooling
b. Tidak/belum tamat SD/ Did Not Complete/Not Yet Completed Primary School
2. SD/Primary School
3. SLTP/Junior High School
4. a. SMTA Umum/Senior High School (General)
b. SMTA Kejuruan/Senior High School (Vocational)
5. a. Diploma I/II/III/Akademi/Diploma I/II/III/Academy
b. Universitas/University

Angka yang tercetak miring adalah jumlah penduduk yang bekerja


II. Kondisi Tingkat Upah Di Indonesia
Menurut PP No. 8/1981, upah merupakan suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha kepada karyawan untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan dan dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang yang ditetapkan atas dasar suatu persetujuan atau peraturan perundang-undangan serta dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara pengusaha dengan karyawan termasuk tunjangan, baik untuk karyawan itu sendiri maupun untuk keluarganya (Aris Ananta, 1990). Oleh karena itu, setiap orang yang melakukan pekerjaan tertentu berhak untuk menerima upah atas pekerjaan yang telah dilakukan atau dikerjakan.
Kondisi sistem pengupahan yang terjadi di Indonesia dapat ditunjukkan melalui Lampiran A. Pada tabel tersebut menggambarkan besarnya upah rata-rata propinsi yang berlaku di Indonesia serta tingkat pertumbuhan upah dari tahun 2009-2011. Besarnya tingkat upah yang berlaku selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009 besarnya upah rata-rata propinsi yang berlaku di Indonesia sebesar Rp.839.400 dan mencapai Rp.988.829 di tahun 2011. Berdasarkan gambar Tabel 1.7 yang mencerminkan upah minimum ratarata propinsi yang diterima oleh pekerja. Grafik yang bergerak keatas mengindikasikan jumlah upah yang terus bertambah. Upah merupakan hal yang sangat penting bagi pengusaha dan pekerja, karena hal ini dapat berkaitan secara tidak langsung terhadap jumlah pengangguran. Gambar 1.7 menggambarkan kecenderungan hubungan upah dan pengangguran.







Tingkat upah yang tinggi ternyata mengakibatkan bertambahnya pengangguran. Kenaikan biaya produksi berupa upah minimum yang ditetapkan pemerintah ternyata mengakibatkan perusahaan mengurangi pekerjanya untuk mengurangi biaya produksi.


Interpretasi hasil deskripsi hubungan jumlah penduduk dan jumlah angkatan kerja,
besaran upah, terhadap jumlah pengangguran di Indonesia pada tahun 2009-2011 adalah sebagai berikut:

1. Jumlah Penduduk
Berdasarkan grafik dan data yang disajikan sebelumnya dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang bertambah tiap tahunnya ternyata memiliki hubungan searah dengan jumlah pengangguran. Dengan bertambahnya jumlah penduduk akan mengakibatkan bertambahnya jumlah pengangguran. Hal ini juga didapat dari nilai koefisien korelasi antara jumlah penduduk dan jumlah pengangguran. Hal ini mengindikasikan hubungan positif dan kuat antara jumlah penduduk dan jumlah pengangguran. Berdasarkan nilai koefisien dapat disimpulkan bahwa peningkatan jumlah penduduk seiring dengan peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia. Hal ini disebabkan kurangnya Penyerapan tenaga kerja, sehingga hubungan antara kenaikan jumlah penduduk di Indonesia sangat kuat dengan kenaikan jumlah pengangguran.
Hubungan yang searah tersebut sesuai dengan teori pertumbuhan klasik, di mana penduduk yang sudah terlalu banyak, hukum hasil tambahan yang semakin berkurang akan mempengaruhi fungsi produksi, maka produksi marginal akan mengalami penurunan. Oleh karena itu, dengan adanya pertambahan penduduk yang terlalu banyak maka akan menurunkan kegiatan ekonomi, sehingga mengakibatkan penduduk bekerja, hal tersebut mengindikasikan bertambahnya jumlah pengangguran hal tersebut disebabkan oleh sempitnya lapangan pekerjaan serta kompetensi pekerja yang tidak sesuai dengan peluang kerja yang ada.
2. Upah
Berdasarkan hasil deskripsi statistik secara grafik dan data ditemukan bahwa besaran upah memiliki kecenderungan searah terhadap jumlah pengangguran di Indonesia tahun2009-2011. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien korelasi yang mengindikasikan hubungan kenaikan upah dengan kenaikan jumlah pengangguran bersifat positif dan kuat. Kenaikan besaran upah minimum ratarata propinsi memiliki hubungan yang kuat dengan kenaikan pada jumlah pengangguran. Hubungan searah ini disebabkan ketika pemerintah menaikkan upah minimum, maka kenaikan penawaran tenaga kerja pun meningkat, akan tetapi perusahaan lebih memilih mengurangi biaya produksi dengan mengurangi jumlah pekerja agar tidak terjadi collaps karena mengalami defisit, sehingga jumlah pengangguran pun meningkat seiring kenaikan upah yang ditetapkan oleh pemerintah.
Peningkatan pada upah minimum akan memiliki dampak negatif pada tenaga kerja sektor formal di perkotaan, kecuali pada pekerja ”white-collar”. Jika peningkatan dalam upah minimum mengurangi pertumbuhan tenaga kerja pada sektor modern di bawah pertumbuhan pada populasi angkatan kerja, maka akan semakin banyak pekerja yang tidak terampil akan dipaksa untuk menerima upah yang lebih rendah dengan kondisi kerja yang buruk dalam sektor informal. Menurut Adi Nugroho (Staff Seksi Pengupahan dan Kerja) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi secara teori, hasil tersebut juga sesuai dengan pendapat Kaufman dan Hotckiss yang berpendapat bahwa penetapan tingkat upah yang dilakukan pemerintah pada suatu negara akan memberikan pengaruh terhadap besarnya tingkat pengangguran yang ada. Semakin tinggi besaran upah yang ditetapkan oleh pemerintah, maka hal tersebut akan berakibat pada penurunan jumlah orang yang bekerja pada negara tersebut.
Simpulan
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Jumlah penduduk memiliki hubungan yang positif dan kuat terhadap jumlah pengangguran. Hal ini menunjukkan keterkaitan antara jumlah penduduk dan pengangguran sangat besar.

2. Inflasi memiliki hubungan positif dan lemah terhadap pengangguran. Hal ini menunjukkan tidak ada keterkaitan antara inflasi dan pengangguran.

3. Upah memiliki hubungan positif dan kuat terhadap pengangguran yaitu sebesar. Hal tersebut mengindikasikan keterkaitan yang kuat antara upah dan pengangguran.

4. Pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan positif dan cukup kuat terhdapa pengangguran. Hal tersebut mengindikasikan adanya keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi dengan pengangguran

Keterbatasan
Kelemahan dan kekurangan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah keterbatasan data yang diperoleh. Data upah per sektor dan upah nominal per propinsi seharusnya dapat disajikan, akan tetapi karena dinas-dinas terkait sudah tidak mempunyai data-data tersebut maka peneliti hanya menyajikan data upah rata-rata propinsi. Lalu ada beberapa data yang tidak tersedia lagi pada tahun-tahun tertentu sehingga peneliti menggunakan data per 3 tahun terakhir.

Saran
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, peneliti mencoba memberi saran terhadap hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu:
1. Berdasarkan kesimpulan bahwa jumlah penduduk memiliki keterkaitan yang kuat dengan jumlah pengangguran di Indonesia. Oleh karena itu, jumlah penduduk yang semakin banyak di Indonesia haru dapat ditekan, sehingga jumlah pengangguran pun tidak
semakin bertambah.
2. Berdasarkan kesimpulan bahwa upah memiliki keterkaitan yang kuat dengan jumlah pengangguran, penelitian ini mencoba mengadaptasi dari pendapat staff disnakertrans, bahwa seharusnya dalam penentuan upah harus di musyawarahkan antara pengusaha dan pegawai, upah yang baik adalah di mana pekerja menerima upah yang lebih jika perusahaan mendapat keuntungan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, dengan meningkatnya kesejahteraan pekerja, maka produktivitas pun akan meningkat, hal ini dapat meningkatkan produksi dan menguntungkan perusahaan. Akan tetapi, jika perusahaan mengalami kerugian, perusahaan cukup membayar upah pegawai tidak di bawah upah minimum yang ditetapkan.
3. Berdasarkan kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki keterkaitan yang cukup kuat dengan pengangguran, maka untuk menekan angka pengangguran, pertumbuhan ekonomi di Indonesia seharusnya berorientasi pada padat karya, sektor-sektor yang dominan seperti sektor industri diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi, agar tenaga kerja dapat terserap banyak, sehingga angka pengangguran pun dapat berkurang.


DAFTAR PUSTAKA
Amri Amir. 2007. “Pengaruh inflasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap
pengangguran di Indonesia”. Jurnal Inflasi dan Pengangguran Vol. 1 no. 1,
2007, jambi.

Aris Ananta. 1990. Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta: Lembaga Demografi
FE UI.

Aris Ananta. 1990. Ciri demografis Kualitas Penduduk dan Pembangunan Ekonomi.
Jakarta: Lembaga Demografi FE UI.

Asep Suryahadi. dkk,2003. ”Minimum Wage Policy and Its Impact on Employment
in The Urban Sector”. Bulletin of Indonesian Economic Studies Vol. 39, no.1,
2003.
Biro Pusat Statistik. Keadaan Angkatan Kerja Indonesia Berbagai Edisi. Jakarta:
Biro Pusat Statistik.

Biro Pusat Statistik. Statistik Indonesia Berbagai Edisi. Jakarta: Biro Pusat Statistik

Biro Pusat Statistik. Statisik Kesejahteraan Rakyat, Berbagai edisi. Jakarta: Biro
Pusat Statistik.

Boediono. 1991. Ekonomi Mikro. Yogyakarta: BPFE- UGM.

Coki. A. Syahwier. 2005. Realitas Makroekonomi: Pertumbuhan Ekonomi dan
Kemiskinan. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan vol.1 no. 1, 2005.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Dernburg, Thomas F dan Karyaman Muchtar. 1992. Makro Ekonomi- Konsep, Teori
dan Kebijakan Edisi Ketujuh. Jakarta: Erlangga.

Dharendra Wardhana. 2006. Pengangguran Struktural Di Indonesia: Keterangan Dari
Analisis SVAR Dalam Kerangka Hysteresis. Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Indonesia vol.3 no., 2006. Universitas Gadjah Mada.

Dinarno, John and Mark. P. Moore. 1999 “The Phillips Curve is Back? Using Panel
Data to Analyze The Relationship Between Unemployment and Inflation in an
Open Economy”. NBER Working Paper Series, Working Paper 7328,
http://www.nber.org/paper/w7328
.

Ester Magdalena. 2009. “Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pengangguran
di Indonesia”. Jurnal Pertumbuhan Ekonomi vol.1 no.1, 2009. Jakarta

Gilarso. 2003. Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta: kanisius.

Gujarati, Damodar. 1998. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga

Handayani, T., dan Mangku. Kondisi Ekonomi: Kesengsaraan Rakyat Parah [Suara
Karya Online].

Kaufman, Bruce E and Julie L Hotchkiss. 1999. The Economic Labor Markets. USA:
Georgia State University.

Lipsey, R.G.,P.N. Courant, D. D. Purvis, dan P.O.Steiner. 1996. Pengantar
Makroekonomi Jilid 1. Edisi ke-10. Wasana, Kirbrandoko, dan Budijanto
[penerjemah]. Jakarta: Binarupa Aksara.

Mankiw, N. Gregory. 2006. Pengantar Ekonomi Mikro Edisi 3. Jakarta: Salemba
Empat.

Mankiw, N. Gregory. 2000. Teori Makro Ekonomi. Jakarta: Erlangga.

Mason, D.Robert. 1996. Teknik Statistika Untuk Bisnis dan Ekonomi Jilid 1 & 2.
Jakarta:Erlangga

Mohammad Nazir. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Mudrajad Kuncoro. 2004. Metode Kuantitatif: Teori dan Aplikasi Untuk Bisnis dan
Ekonomi. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN

Nopirin. 2000. Ekonomi Moneter Buku II. Yogyakarta: BPFE

Noegroho Boedijoewono. 2001. Pengantar Statistik Ekonomi dan Bisnis.
Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN

Payaman. J. Simanjuntak. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta:
LPFE UI.

Pikiran Rakyat. Pertumbuhan Ekonomi Ditargetkan 5 persen [Pikiran Rakyat Cyber
Media]. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0803/13/0602.htm [13
Agustus
2003]

Sadono Sukirno. 1994. Pengantar Teori Ekonomi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Sadono Sukirno. 2005. Mikro Ekonomi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Sadono Sukirno. 2008. Makroekonomi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Samuelson, A. Paul & Nordhaus, D. William. 1997. Mikroekonomi. Jakarta: Erlangga

Suharsimi, Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka cipta

Suharyadi dan Purwanto. 2003. Statistika Untuk Ekonomi dan Keuangan Modern.
Jakarta: Salemba empat

Sumitro Djojohadikusumo, 1994. Perkembangan Pemikiran Ekonomi- Dasar Teori
Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Jakarta: LP3ES

Suparmoko, M dan Irawan, 1997. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta: BPFE

Todaro, P Michael. 1988. Pembangunan Ekonomi di Dunia ke-3. Jakarta: Erlangga.

Tulus T.H. Tambunan. 2009. Perekonomian Indonesia. Bogor: Ghalia Indonesia.

International Monetary fund. 2007. Data Pertumbuhan Ekonomi dan GDP.
www.imf.org

0 komentar:

Posting Komentar