Jumat, 04 Januari 2013

LEAAAH KARENA KAMU IBLISS

Senja sudah nyaris pudar.  Langit pucat pasi.  Dan dia datang lagi.  Entah kenapa.  Dasar iblis.  Muka badak.  Tak juga mau menyerah.  Walau sudah berpuluh kali, aku bilang tidak.
“Ini benar-benar untuk kamu,” katanya dengan nada meminta.
Aku hanya menyeringai.  Aku ingat.  Pernah membaca riwayatnya.  Di koran ibukota.  Dengan kejam membunuh seorang wanita sedang hamil.  Dia juga yang menghamilinya.  Tapi dengan kejam juga membunuhnya.  Seperti iblis.  Benar-benar iblis.
Aku juga pernah membaca.  Beberapa tahun setelah kejadian pertama.  Dia bunuh sebuah keluarga.  Lengkap dengan pembantunya pula.  Iblis.  Benar-benar iblis dia.
Sekarang dia mengaku telah bertobat.  Dan hendak memberiku sepotong surban.  Sebagai wujud permintaan maafnya.  Dan pengakuannya pada Tuhan yang selama ini telah ditinggalkannya.
“Kenapa kau berikan padaku?” tanyaku masih dalam kata sinis.
“Karena kamu ustad,” katanya sambil menunduk.
“Kamu tidak tahu emangnya.  PPATK melaporkan para ustad di kemenag yang selama ini mengurusi haji?  Kamu tidak tahu, ustad kampung sebelah yang juga korupsi pembelian Quran untuk masjid kampungnya?”  kataku agak marah.
“Tapi, aku benar-benar ingin bertaubat,” pintanya.  Air matanya benar-benar sudah mulai jatuh.
“Tidak!” bentakku.
“Kenapa?” tanyanya sedih.
“Karena kamu iblis!”
“Apa iblis tak boleh bertaubat?”
“Tidaak..!!!”
Dia mengambil sesuatu dari balik bajunya.  Sebuah pisau.  Lalu dia mendekatiku dengan muka yang memerah.  Terus lamat-lamat, aku terhuyung jatuh.  Pisau itu tertancap di dadaku.  Kulihat dia pergi.  Dengan langkah pasti.
“Dasar iblis!” kataku.  Tapi hanya aku yang mendengarnya.  Dan terasa kata-kata itu justru ditujukan pada diriku sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar