Jumat, 04 Januari 2013

PEKAT


Sawah-sawah yang dilewati seperti lautan, gelap pekat, lengkap dengan kerlip “lampu kapal nelayan” yang berasal dari lampu rumah penduduk. Shalat subuh di tengah laju maksimum kereta barang benar-benar pengalaman yang tidak akan terulang. Sesuai perkiraan pas sekali waktu sampai kereta barang di Tegal dengan keberangkatan Tegal Arum, dengan tergesa turun menuju loket berharap bisa segera menempuh perjalanan sambil nyaman beristirahat, dan sekali lagi mendapat jawaban tiket habis.

Crazy Trip (sempat-sempatnya foto ^^)
Saya cuma bisa menggeleng kepala, tidak habis fikir, bagaimana bisa seluruh rencana alternatif A, B, C dan D tidak berjalan? Ada dua pilihan untuk saya saat itu, yang pertama menuju ke Jakarta dengan bis, yang kedua mampir ke kampung halaman di Brebes.
Sekitar setengah jam berpikir saya memilih pilihan ketiga, tidak memilih yang pertama karena saya tidak mau naik turun kendaraan lagi ke terminal, mengabaikan pilihan kedua karena untuk saat itu saya sedang pundung dan tidak mau pulang ke rumah. Saya melanjutkan perjalanan sampai Cirebon dengan kereta barang, berharap keberuntungan di Cirebon ada kereta pagi yang bisa saya tumpangi, meskipun catatan saya menunjukan semua keberangkatan di Cirebon siang sampai sore hari. Hasilnya, di Cirebon saya kembali mengabaikan pilihan ke terminal untuk naik bis.
Beberapa saat sebelum kereta berangkat seorang berbaju merah berusia sekitar 35 naik gerbong di samping saya, membawa sebuah tas kecil coklat dengan merk imitasi Ziger. Ia sempat berbasa-basi dengan menanyakan tujuan saya, saya jawab Jakarta tapi kemungkinan besar turun di Jatibarang untuk naik bis (kebetulan letak stasiun Jatibarang tidak jauh dari jalan raya).
Tidak lama naik seorang pemuda di gerbong yang sama di area paling kiri. Sekilas saya memperhatikan, ia berusia paling tua 25 tahun, mengenakan baju putih dan anting di telinga kanannya. Saat itu sebenarnya saya merasa firasat yang kurang enak. Terutama caranya menghembuskan asap rokok ke atas, menurut sebuah buku itu adalah gesture “I am stronger than you”. Saya merasa ada sesuatu yang ganjil saat itu, tapi saya tidak tahu apa. Barangkali saya terlalu lelah setelah perjalanan panjang saya mengabaikan firasat itu. Saya tertidur persis ketika kereta mulai melaju perlahan.
Saya terbangun karena sesuatu menyengat leher belakang saya. Saat membuka mata, sebatang golok menekan leher


Diantara pergantian siang dan malam ada tanda-tanda kekuasaan Tuhan,tentu hanya bagi yang mau memikirkannya.
Bumi bergerak pada garis edarnya,bulan bergerak pada garis edarnya tidak mungkin siang mendahului malam,semua sudah ada dalam aturanNYA.
Manusia sebagai makhluk paling mulia karena dianugrahi akal untuk memikirkan aturan Tuhan,dan membuahkan keimanan.
Keimanan adalah rasionalitas,diterima oleh akal tanpa paksaan dan inilah makna dari sebuah agama.
Mereka yang beriman pasti bisa melihat,mendengar,merasakan kekuasaan Tuhan dengan seyakin-yakinnya.
Mereka hanya bisa pasrah dan berserah diri atas aturan yang menjadi kekuasaan Tuhan sembari berkata ” kami dengar,kami taat “
Karena mereka melihat kekuasaan Tuhan dan selalu merasa dalam pengawasanNYA

Galau memikirkan siapa yang berhak disembah
kala muncul bulan, dia bisa menghilang hingga tak layak disembah
muncul bintang, kemudian hilang menjelang matahari naik merambah
matahari bersinar, petang datang matahari hilang tertelan malam
semua kejadian ada penciptaNya, itulah yang  wajib disembah.
++++++
Konon sang ayah bernama Azar bukanlah Gangsar
keahlianya membuat tuhan kecil maupun sangat besar
tersimpan rapi di dalam altar
menjadi tempat tujuan para pesiar
++++++
Wahai abati, segeralah sadari
ungkapan Ibrahim pada ayah dengan empati
Allah akan murka, kalau abah durhakai
‘Ibrahim tahu apa kau tetang sesembahan kami’
dari nenek moyang hingga kini
patung ini pembawa rejeki, begitulah abah sangat mempercayai.
++++++
Abah kenapa berani mengingkari
apa karena takut rejeki hilang karena tuhanmu tak ada yang membeli
patung itu tak bisa memberi arti
namun mereka tetap tak mempercayai
Ibrahim berjanji membuat kheki
suatu malam semua tuhan dihabisi
kecuali satu yang besar sekali
kelak ditanya bisa sebagai bukti.
+++++
Siapa yang berani membunuh tuhan-tuhan kami
berkumpul orang untuk mengetahui
menunjuk Ibrahim agar dibawa kemari
‘engkaukah yang telah membunuh tuhan kami?’
“bukan, tetapi dialah yang paling besar pembawa kapak sebagai bukti”
‘mana mungkin patung merusak dan membunuh tuhan-tuhan kami’
“kalau tidak mungkin kenapa engkau ibadahi”
tak bisa berkata, malu dan  hilanglah akal budi
Ibrahim engkau harus dihukum mati
siapkan kayu, matilah kamu bersama api
hanya terucap’ hasbiyallah wani’mal wakil’ saat memasuki
hampir mati karena kedinginan bukan karena api
ibrahim keluar, mereka takut kemudian lari
Allah menyelamatkan Ibrahim ke sebuah negeri yang diberkahi
meninggalkan ayah dan kaum yang mendholimi,
=======
Makassar, 03012013

0 komentar:

Posting Komentar