Sabtu, 16 Februari 2013

ERO: Mas Putu sejak kapan mengenal teater?
PW:Di Tabanan, Bali, kota kelahiran saya ada 2 gedung bioskop. Nusantara dan Bali Teater. Nusantara kadang-kadang diubah jadi gedung pertunjukan amal untuk mencari dana. Yang dipertunjukan adalah sandiwara yang berlatar perjuangan revolusi. Latihannya kadang di dekat rumah saya, sehingga waktu kecil saya sudah mulai melihat orang berlatih bersandiwara. Saya senang sekali. Tetapi setiap kali TK saya mengadakan pertunjukan, saya tidak pernah terpilih ikut main.Di gedung NUSANTARA (sekarang jadi took swalayan) itu juga pernah main rombongan sandiwara dari Persari Jakarta, dengan artis-artis seperti raden Mochtar (terkenal
dalam film Bengawan Solo).
VERO: Mas Putu belajar dari mana mengenai teater?

PW:Di SMP saya semakin senang mihat pertunjukan teater, tetapi dalam perpisahan sekolah tidak pernah ditunjuk/terpilih ikut. Baru di SMS Singaraja, Kesempatan pertama datang ketika Gde Dharna, sastrawan terkenal di SIngaraja diminta sekolah menyutradarai dramanya untuk perpisahan sekolah. Tapi kemudian gagal karma saya sakit dan irawat di Rumah Sakit terserang malaria.Kesempatan kedua waktu kelas duua SMS ketika Kirjomulyo yang diminta oleh Kepala Sekolah Ibu Gedong Bagoes Oka) untuk menyutradarai pertunjukan perpisahan sekolah, memilih saya untuk main. Saya dipilih, karena waktu itu saya Juara Deklamasi seluruh Singaraja (kemudian juga Bali). Itu pertama kali saya main. Dramanya Badak- terjemahan Nasyah Djamin dari Rhe Boor karya Anton Chekov (Rendra menerjemahkannya dengan Orang Kasar)

VERO: Apa yang melatar belakangi mas Putu untuk mengeluti dunia teater?

PW: Sejak kecil saya sudah suka nonton wayang. Saya sering menyuruh orang membuat wayang dari karton dan kemudian meminta memainkannya. Saya yang mengarang ceritan ya. Pernah saya mengajhak teman-teman memainkan adegan di dalam komik. Baru di SMA saya benar-benar menggeluti Teater. Setelah disutradarai oleh Kirjomulyo, kemudian saya mementaskan sendiri Wanita Itu Bernama Barabah karya Motinggo Boesye, main dan sekaligus menyutradarai.

VERO: Mas Putu dulu pernah bergabung dengan Bengkel Teater Rendra, dan pernah ikut bermain dengan Teater ‘Mini Kata”-nya Rendra, apakah hal itu memberikan suatu inspirasi bagi mas Putu untuk menciptakan suatu bentuk teater yang sama atau tidak?

PW:Di Bengkel Teater, waktu pertunjukan pertama Mini Kata, yang terdiri dari nomor-nomor, saya memnyumbangkan tiga nomor yang saya buat dan mainkan sendiri. Judulnya: SSSSSSSTTTTTT, Pedang Topi Dan Tertawa, dan satu lagi saya lupa. Yang lebih punya pengaruh pada saya ketika di Bengkel Teater ( ikut menditikan Bengkel pada 1967 bersama: Chairil Umam, Moortri Putnomo, Aswar, Bakdi Soemanto dll) casra Rendra memberikan suduyt pandang/reinterptretasin terhadap sesuatu. Main sebagai POZZO dalam Waiting for Godot ( 1969) sangat mengesankan saya. Saya begitu suka pada Beckett. Saya merasa cocok dengan Beckett.

VERO: Alasan apa yang melatar belakangi mas Putu mendirikan Teater Mandiri?

PW: Pada 1967, saya diajak Rendra ke Jakarta. Pertama kali lihat Jakarta, saya langusng jatuh cinta. Pada 1969, setelah tamat Fakultas Hukumj, saya langusng pindah ke Jakarta Di Yogya selain ikut Bengkel teater, saya juga punya kelompok teater sendiri yang sedianya dinamakan Teater Mandiri, tetapi tidak kesampaian.Setelah pindah ke Jakarta saya bergabung dengan teater Kecil, lalu sekali pernah ikut pmentasan teater Populer (Djajaprana). Keinginan untuk membuat pementasan sendiri sudah menggebu-gebu. Saya hanya membuat worshop bersama Tizsar Putbaya di gereja Santa (Kebayotan).Pada suatu kali Tizar Purbaya datang menawarkan kesempatan membuat pertunjukan di televise (masih hitam-putih). Dengan gembira saya sambut. Tapi perlu sebuah nama. Lalu saya cari nama apa sebaiknya. Mula-mula terpikir Teater Kita. Kemudian saya memilih Teater Mandii.
VERO: Kenapa memilih nama teater ‘Mandiri’?

PW: Kata Mandii saya kenal ketika kmuliah sosiologi pada Prof. Djojodigoeno. Beliau dosen hukum adat dan sosiologi yang banyak menyalin istilah asing (Belanda) dengan bahasa Jawa. Antara lain kata mandiri (dari bahasa Jawa) adalah pada kata untuk independent. Mampu berdiri sendiri tetapi juga bisa bekerjasama.Saya sanbgat jatuh cinta pada makna kata itu. Akhirnya saya jadikan nama, karena saya kira itulah yang saat itu kurang pada bangasa Indonesia. Tak kurang dari Arifin C Noer sendiri geli mendengar kata itu, sebab kedengarannya masih aneh. Sekatang kata mandiri sudah milik umum.

VERO: Sejak kapan teater Mandiri berdiri, dan dimana tempatnya?

PW: Saya bekerja di majalah TEMPO sejak berdirinya (saya ikut sebagai pendidi) pada 1971. Kantor kami di Senen Raya 83, sekarang Atrium. Saya juga tidur di kantor di atas meja atau kursi hampir 2 tahun pertama. Setelah jam kantor tutup, di gedung berlantai dua itu saya mengadakan latihan-latihan gerak di lantai bawah.Mula-mula yang ikut hanya para pegawai yang tidur di kantor seperti: Ali Said, Sutarno SK (sutradara Teater Kail), Mustafa, Zubaidi. kemudian bergabung Muthalin dan Soegeng (keduanya Dari TIM). Lalu Etu Asa. Di situlah saya menyiapkan pertunjukan pertama untuk TV, judulnya ORANG-ORANG MANDIRI. Tahun itu saya anggap sebagai lahirnya Mandiri.

VERO: Siapa saja yang pertama kali bergabung dengan Teater Mandiri?

PWI: Generasi pertama Mandiri, nama-nama yang saya sebut tadi.

VERO: Teater Mandiri pertama kali mementaskan lakon apa?

PW: di TV: Orang-Orang Mandiri, Apa Boleh Buat, Tidak, Aduh, Kasak-Kusuk ( dua yang terakhir ini tidak disiarkan karena dianggap SARA). Pementasan pertama di TIM: Aduh (judulnya sama tapi lain dengan Aduh untuk TV)

VERO: Mas Putu dulu pernah menulis naskah yang konvensional seperti Bila Malam bertambah Malam, alasan apa yang melatar belakangi mas Putu untuk berubah memainkan drama yang in-konvensional?

PW:Bila Malam Bertambah Malam saya tulis pada 1964/65, saat saya berusia 20 tahun saya dedikasi8kan untuk pacar saya Nelly yang berbeda kasta dnegna saya dan khawatir kasta itu akan menjadi halangan hubungan kami. Sesudah itu saya menulis Lautan Bernyanyi, Dalam Cahaya Bulan, Orang-Orang Malam, Tak Sampai Tiga Bulan, Matahari Yang Terakhir – semuanya puitis.Pada 1969, hidup saya mulai pahit karena ditinggal olejh Nelly dan kemudian Pier begitu saja. Saya mulai menulis naskah Dap-Dap yang kemudian disemputnakan menjadi ADUH. Setelah itu saya selalu menulis judul dengan satu huruf.

VERO: Sejak kapan mas Putu melakukan pementasan dengan tidak menggunakan naskah?

PW: Sejak 1991, karena harus membuat pertunjukan keliling Amerika, mewakili Indonesia pada KIAS (lihat wawancara dengan LIES di ATT)

VERO: Dalam teater mas Putu, apakah mengikuti suatu bentuk aliran tertentu atau tidak?

PW: Saya memanfaatkan semuanya. Realisme (Stanbilavsky, Bolelavsky), surealis (sperti lukiosan-lukisan Chagall), absurditas (Beckett) dan segala yang berguna saya pakai, tetapi tidak menganutnya sebagai aliran.

VERO: Menurut mas Putu, apa itu teater eksperimental?

PW: Saya menulis esei tentang teater eksperimental.
VERO: Mas Putu, sejak kapan mencoba melakukan eksperimentasi dalam teater mas Putu?

PW: Seluruh proses saya adalah sebuah eksprimen – sebuah usaha mencari yang tak pernah selesai – karena itu pertun jukan kami setiap malam berbeda, berkembang, tumbuh danb berubah – tetapi saya memberikan label eksperimen sebab itu akan menjadi artificial/dibuat-buat.

VERO: Apa yang melatar belakangi eksperimen itu, dan kenapa mas Putu tertarik melakukan berbagai eksperimen dalam pementasan teater mas Putu?

PW: Esperimen pada hakekatnya adalah teror. Teror (saya membatasinya pada Teror Mental) ada;ah upaya untuk mengganggu/mengusik/mengajak orang mempertimbangkan kembali/sekali lagi keputusannya.Dalamm keadaan bimbnag orang akan berpikir sekali lagi, karena itu kebimbangan buat saya adalah suci. Teror itu juga bisa dilakukan kepada diri sendiri untuk mendapatkan penyegaran dan keseimbangan batin Distorsi batin kita perlukan untuk lahir berkali-kali dalam menghadapi banyak perubahan/perkembangan, sesuai dengan konsep hidup Desa-kala-patra (tempat -wakti-keadaan)
VERO: Mas Putu mendapatkan ide atau pengaruh dari mana untuk melakukan eksperimentasi itu?

PW: Nggak tahu saya. Tapi sejak kecil saya selalu ingin melakukan sesuatu dengan cara lain. Itu saya amati terjadi juga pada anak saya (Taksu) sekarang.

VERO: Dalam setiap pementasan mas Putu, bentuk teater yang ditampilkan sangat dominan sekali dengan visualisasi seperti penggunaan slide proyektor, layar besar, dan lain-lain. Apakah itu merupakan gaya yang menjadi ciri khas mas Putu dalam membuat pementasan teater?

PW: Lebih baik jangan memakai kata “gaya”, sebab itu akan berarti pengulangan. Saya menamakannya sebagai “idiom”, ungkapan. Hal-hal yang visual, seperti layar itu adalah idiom saya dalam berekspressi.Saya suka senirupa dan dulu sebenarnya ingin men jadi pelukis.Saya mengagumi Van Gogh, Afandi dan senirupa impresionis Prancis, kemudian saya suka surelisme Chagall. Dengan pertunjukan dan sastra saya juga ingin menggambar suasana. Drama-drama saya yang pakai dialog juga adalah suasana-suasana, periostiwa-peristiwa.
VERO: Mas Putu, kenapa menyebutkan teater mas Putu sebagai Teater Seni Rupa, apa alasannya?

PW: Saya menghentikan ambisi saya untuk menjadi pelukis ketika saya tak mampu menegrjakan tugas saya untuk bisa naik kelas ketika di ASRI. Tetapi kemudian saya tak mampu menahan dorongan “setan rupa” itu, sehingga saya terpaksa membocorkannya pada sastra dan teater. Pada tahun 1975 ketiak mementaskan LHO, ENTAH, NOL dan pada 1991 memainkan YEL, saya benar-benar melukis dengan pertunjukan.

VERO: Siapa saja orang-orang yang memberikan pengaruh atau inspirasi bagi mas Putu untuk menciptakan suatu bentuk teater yang seperti itu?

PW: Pertunjukan Mini Kata. Bengkel Teater ( 1967) kemudian pertunjukan Sardono, Dongeng Dari Dirah (1974) membuat saya gelisah dan kemudian memberikan saya inspkirasi untuk percaya kepada kekuatan bentuk – bukan hanya kata-kata.

VERO: Apakah gaya yang mas Putu geluti sudah paten ataukah masih dalam pencarian (proses)?

PW: Bagi saya hidup adalah sebuah proses yang tak ada hentinya. Saya malah berpikir bahwa saya hanya membuat sebuah pertunjukan, sebuah novel, sebuah cerpen dan sebuah esei yang tak pernah selesai

VERO:Dalam setiap pertunjukan teater Mandiri, mas Putu selalu menggunakan properti yang besar-besar seperti penggunaan boneka, layar, kardus, dan lain-lain.

0 komentar:

Posting Komentar