Sabtu, 16 Februari 2013

Itu yang celaka! Kita menyambut Hari Kesaktian Panca Sila mestinya untuk membangun kepercayaan. Tapi ternyata kita sudah melakukan penipuan. Itu bisa tambah merusakkan Panca Sila!”
Ami mengernyitkan dahinya.
“Masak begitu?”
“Ya! Kalian anak-anak muda kan sudah banyak sekali menyimpan kedongkolan dan ketidakpuasan. Makanya kalian semua cepat marah. Belum apa-apa pasti langsung maunya demo, turun ke jalan berteriak-teriak, menentang, menggempur apa saja. Bapak mengerti sekali itu. Sekarang akan tambah bukti lagi, aku tua bangka ini sudah mempermainkan mereka!”
“Makanya kalau belum pasti Bapak jangan suka janji-janji.”
“Habis kalau tidak dipikat begitu, mereka pasti tidak akan mau datang!”
Ami nampak beringas.
“O, jadi Bapak memancing mereka datang dengan nasi kuning dan betutu? Bapak pikir mereka ngiler nasi kuning dan betutu?”
“Ya kan?!”
Ami tiba-tiba tertawa.
“Kok ketawa?”
“Yang ngiler sama nasi kuning dan betutu itu kan Bapak! Teman-temanku itu sekarang lebih seneng makan pizza, burger atau fried chicken. Mereka sama sekali tidak tertarik pada pancingan Bapak itu. Mereka tertarik karena masih ada orang mau meryakan Panca Sila di rumahnya secara pribadi. Itu berarti Panca Sila bukan hanya barang dagangan yang dipajang sebagai slogan, tetapi dikembangkan di dalam rumah, di dalam diri. Mereka suka, jarena itu mereka akan datang.”
Amat tercengang.
“Jadi mereka tidak mengharapkan nasi kuning dan betutu?”
“Apa Bapak tidak malu kalau teman-temanku datang merayakan kelahiran Panca Sila karena tertarik nasi kuning dan berutu?! Itu menghina! Ami tidak pernah bilang sama mereka ada nasi kuning dan betutu!”
Amat terkejut.
“Jadi kamu tidak pernah bilang ada nasi kuning dan betutu?”
“Ngapain nasi kuning dan betutu! Itu namanya melecehkan kebesaran Panca Sila!”
Amat mengurut dada senang. Ia merasa amat bahagia.
Malam hari, sekitar 15 orang teman-teman seperjuangan Ami datang. Peringatan diadakan dengan membacakan Pidato Bung Karno yang menandai kelahiran Panca Sila itu. Disusul dengan uraian dari salah seorang mahasiswa yang membentangkan Panca Sila dengan begitu bagusnya, sehingga Amat mnerasa seperti makan nasi kuning dengan betutu ayam kampung.
Setelah peringatan Panca Sila yang sederhana namun khususk itu selesai, tiba-tiba salah seorang mahasiswa nyeletuk.
“Tapi mana nasi kuning dan betutu ayam kampungnya?”
Amat tersirap. Ia gugup. Buru-buru ia mencari Ami ke belakang, sebab ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.
“Ami! Kenapa teman kamu menanyakan nasi kuning dan betutu ayam kampung?”
“O ya?”
“Ya! Padahal kamu kan sudah bilang, kamu tidak pernah mengundang mereka dengan nasi kampung dan ayam kuning!” bentak Amat keliru-keliru karena panik.
Ami tersenyum.
“Tenang, Pak. Mereka sudah biasa dibohongi. Dibohongi sekali lagi, mereka tidak akan apa-apa. Apalagi hanya janji betutu dan nasi kuning. Bangsa kita kan jago memaafkan. Lagipula kalau manusianya pembohong, tidak berarti Panca Silanya yang bohong! Ayo, kalau berani berbohong, Bapak harus berani juga menghadapi hasil kebohongan itu!”kata Ami menyeret bapaknya kembali ke depan.
Dengan sangat malu Amat terpaksa ikut. Ternyata di depan, para mahasiswa sedang rebutan nasi kuning dan betutu ayam kampung yang baru saja dibawa Bu Amat dari tetangga.

Bung Karno

Ami bertemu dengan Bung Karno.
“Pak!”
“Ya? Ada apa Ami?”
“Kenapa Bapak tidak pernah kembali?”
“Kenapa harus kembali? Sejarah untuk dipelajari bukan untuk diulangi.”
“Tapi kami perlu Bapak.”
“Memang. Sesuatu yang sudah tidak ada menjadi berguna, kalau tetap ada mungkin sia-sia.”
“Tidak. Kalau Bapak ada, tidak akan begini jadinya.”
“Itu rasa hormatmu pada yang sudah terjadi, yang harusnya membuat kamu bangkit bukannya menyerah.”
“Kami sudah mencoba, Pak, tapi ternyata tidak ada di antara kami yang kalibernya cukup besar seperti Bapak.”
Bung Karno tersenyum.
“Kamu kurang sabar saja.”
“Tidak! Kami sudah terlalu sabar. Kami sudah menunggu. Kami memberikan kesempatan, kepercayaan bahkan juga dukungan. Tetapi harapan kami selalu lebih besar dari apa yang terjadi.”
“Itu namanya kurang sabar.”
“Kami tidak bisa disuruh menunggu 350 tahun lagi. Kita sudah merdeka mestinya kita dapat menikmati kemerdekaan, bukan menjadi lebih perih. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu dan pasrah, Pak. Kalau terlambat kita tidak akan dapat apa-apa!”
“Lho kamu mau apa? Kemerdekaan kan sudah ada di tanganmu.”
“Memang tetapi bukan hanya kemerdeaan politik. Kami juga ingin merdeka dari beban ekonomi. Kami tidak hanya ingin demokrasi politik, seperti pidato Bapak, kami juga perlu demokrasi ekonomi.”
“Kan sudah banyak sekali ahlinya.”
“Memang. Tapi masing-masing ahli punya pendapat berbeda. Yang kami dapat hanya pertentangan.”
“Itu namanya demokrasi.”
“Tidak Pak, bukan itu. Kami ingin makmur, sejahtera, aman supaya kami tenang. Seperti kata dalang dalam wayang, kami ingin Indonesia yang gemah-ripah kerta raharja loh jinawi.”
Bung Karno tertawa.
“O kamu juga suka wayang? Tokoh favoritmu siapa? Karna?”
“Tidak, Pak. Bapak saya yang suka wayang. Saya lebih suka dongeng-dongeng baru seperti Harry Porter atau kisah-kisah seperti Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi.”
Bung Karno tertegun.
“Apa itu? Aku belum pernah dengar.”
“Lho Bapak katanya kutu buku. Masak Bapak tidak pernah baca?”
“Belum.”
“Baca dong Pak. Nanti Bapak tahu apa yang terjadi sekarang ini. Beda sekali dengan dulu, Pak. Apa yang dulu tidak mungkin sekarang terjadi. Ini dunia yang lain sekali dengan apa yang Bapak alami dulu. Sekarang maling ayam bisa dipenjara seumur hidup, tapi rampok trilyunan dan membuat sengsara rakyat malah bisa berfoya-foya di luar negeri. Air putih pernah lebih mahal dari bensin Pak. Tapi bensin juga sekarang sudah mahal sekali. Di sini sekarang ada dosen yang jadi pemulung, Pak.”
” O begitu?”
“Ya! Makanya Bapak harus kembali. Kami memerlukan Bapak!”
Bukan Karno mengangkat tangannya.
“Tidak mungkin!”
“Kenapa Pak? Bapak tidak cinta kepada kami?”
“O kalau itu, lebih dari cinta.”
“Kalau cinta kembali dong!”
“Tidak bisa. Karena cinta Bapak tidak akan kembali, supaya kamu bisa tumbuh sendiri. Dulu Bapak juga begitu! Sudah ya, Bapak harus pergi, ada undangan untuk bicara di depan PBB!”
“Pak!!!!”
Tapi Bung Karno sudah pergi. Waktu Ami mencoba berdiri mengejar, tangannya dipegang oleh Pak Amat.
“Ami!”
Ami terkejut dan membuka matanya.
“Sudah siang kok ngelindur. Ayo bangun!”
Ami mengusap matanya.
“Saya mimpi ketemu Bung Karno.”
“Ya siapa yang tidak. Juni kan bulan ulang tahunnya. Pengikutnya bahkan juga musuh-musuhnya pasti akan selalu ingat. Orang besar itu tidak pernah pergi.”
“Tapi beliau bilang, tidak bisa kembali.”
“Ya tidak perlu karena dia masih di sini!”
“O masih di sini?”
“Ya masih.”
“Di mana?”
“Panca Sila itu apa?!”
Ami mengangkat tangannya.
“Bukan itu. Kita memerlukan sosok seperti Bung Karno sekarang, supaya kita kembali bangga jadi orang Indonesia. Baru kalau kita bangga, kita akan bisa bangkit. Kalau tidak ada kebanggaan, tidak akan ada tenaga untuk bangkit. Makanya 100 tahun Kebangkitan Nasional kita masih menggeletak saja koma.”
Amat tertawa.
“Kamu masih ngelindur!”
Ami menggosok matanya.
“Ami bicara soal realita yang kita hadapi sekarang. Sampai mimpi Ami terus memikirkan negara dan bangsa. Bapak jangan meremehkan Ami gara-gara Ami masih muda.”
Amat tertawa.
“Kalau kamu benar-benar memikirkan realita, jangan hanya mimpi, itu lihat sudah jam berapa sekarang. Ayo bantu ibumu di dapur lagi masak!”
Amat membuka jendela kamar Ami. Sinar matahari menerobos masuk. Ami menutup matanya karena silau. Hari Minggu yang mestinya menjadi hari panjang untuk istirahat sudah rusak. Sudah bukan zamannya perempuan dilempar ke dapur.
“Ayo bangun!”
Ami berdiri kesal. Dia membanting bantal lalu menarik seprei. Tetapi ketika dia berbalik. Bung Karno berdiri di pintu dan tersenyum.
“Bapak terkejut mendengar curhatmu semalam. Tapi waktu kembali ke mari, lebih terkejut lagi melihat warga sedang kerja bhakti untuk membersihkan lingkungan, seperti di masa lalu. Ternyata tidak ada yang berubah, Ami. Gedung, kendaraan dan keadaan memang sudah lain, tetapi hati mereka masih sama. Hanya saja kamu harus berusaha melihatnya, seperti Ibumu yang sekarang sedang masak untuk dapur umum mereka itu. Coba lihat!”

0 komentar:

Posting Komentar