Kok ngomong sendiri, Pak?”
“Bukan ngomong sendiri, aku sedang berpikir.”
“Mikiran apa? Mau kawin lagi?” Amat tertawa.
“Boro-boro kawin lagi, yang satu saja nggak habis.”
“O jadi kalau kawin itu berarti menghabisi?!”
“Bukan begitu!”
“Ya memang begitu! Kawin itu berarti menghabisi masa edan-edanan yang Bapak lakukan waktu masih jomblo. Kawin itu berarti menghabisi bertindak tanpa memakai perhitungan, bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain, bertindak yang merusak, seperti yang Bapak lakukan waktu masih bujangan. Kawin itu memang menghabisi apa yang tidak perlu!”
Amat tertegun.
“Sudah jangan mikir lagi. Cepat pasang bendera ini!”
Bu Amat mengulurkan bendera merah-putih yang baru dibelinya.
“Lho, Ibu beli bendera lagi? Kan yang tahun kemaren masih ada?”
“Itu warnanya sudah belel!”
“Belel juga itu bendera kita. Bukan warnanya yang penting, tetapi artinya sebagai simbol!”
“Sudah Bapak jangan ribut lagi. Pasang saja!”
Amat memperhatikan bendera baru itu. Lalu ia menghampiri tiang di
depan rumah yang mengibarkan bendera lama. Lalu bendera lama diganti
yang baru.
Seorang tetangga menghampiri.
“Pak Amat kalau bendera lama tidak dipakai lagi, biar saya kibarkan di rumah, kalau boleh.”
Amat menggeleng.
“Kan tidak dipakai?”
“Ya, menang. Ini akan disimpan sebab sudah ada yang baru.”
“Makanya kalau tidak dipakai, daripada nganggur biar saya kibarkan saja.”
Amat menolak tegas.
“Bendera itu memang tidak dipasang, tetapi dia tetap dikibarkan di dalam rumah kami.”
Tetangga ketawa.
“Masak mengibarkan bendera dalam rumah. Ada-ada saja!!”
Amat tersenyum.
“Kalau benar-benar mau merayakan ulang tahun kemerdekaan, benderanya jangan minta, tapi beli sendiri!”
“Ah bilang saja pelit!
Sambil tertawa Amat membawa bendera itu masuk rumah. Ketika membuka laci almari untuk menyimpannya, ia tertegun. Di dalam laci itu ada sekitar 10 buah bendera merah-putih dari tahun-tahun sebelumnya. Amat kembali berpikir.
Apa dengan mengibarkan bendera, seseorang menjadi merdeka. Atau karena merdeka orang boleh mengibarkan benderanya? Sudah sepuluh tahun, setiap kali menaruh bendera lama di dalam kotak ini, Bapak menanyakan hal itu, pak Amat!
Amat kaget.
Tapi ini adalah upacara. Di dalam upacara memang yang ada adalah pengulangan. Pengulangan itulah yang membedakan upacara dengan peristiwa. Perayaan hari kemerdekaan ini bukan peristiwa tetapi upacara. Tegasnya pengulangan. Dengan mengulang, memang banyak yang sama. Namun hasilnya berbeda. Kita jadi semakin dalam memahami.
Memahami apa?
Memahami apakah kita benar sudah merdeka?
Apakah kita sudah merdeka?
Kalau tidak merdeka, kita tidak akan boleh mengatakan betapa miskin, betapa tertindas, betapa terpuruk, betapa merosotnya moral kita. Karena hanya orang yang benar-benar merdeka memiliki kebebasan untuk menyatakan apakah dirinya masih terjajah, tersiksa atau angkara. Hanya orang yang merdeka yang mampu mengatakan bahwa dirinya belum merdeka.
“Papa adalah orang yang praktis dan realistis. Ia seorang yang bijaksana, luhur budi pekertinya dan ekonomis. Ia pasti tidak suka segala bentuk kemubaziran, termasuk yang menyangkut jasadnya sendiri,” kata Merdeka menimbang-nimbang.
Setelah tiga jam berpikir terus menerus, akhirnya ia memutuskan untuk memotong kedua tangan bapaknya dan kemudian memasangnya di tubuhnya sendiri. Ia juga hampir saja hendak memotong kedua kaki papanya, tetapi dokter yang memasang memprotes, sebab ia melihat ada penyakit di kaki orang tua itu. “Tangannya saja cukup, kau cukup mewarisi ringan tangannya, tidak perlu darah petualangan di kakinya, jangan nanti kamu keluyuran ke sana-ke mari seperti gombal,” kata dokter.
Merdeka sebenarnya merasa menyesal sekali, tapi terpaksa manut. Walaupun begitu ia masih punya usul kecil.
“Bagaimana kalau anunya saja, kelihatannya masih bagus,” kata Merdeka malu-malu kucing sambil menunjuk alat kelamin bapaknya.
Dokter merenung sejenak, kemudian mengambil mikroskop, lalu memeriksa dengan teliti. Akhirnya dengan sebuah alat ia mencoba ngetes alat vital itu. Ternyata kalau ada enerji, ia masih berfungsi dengan baik. Apalagi ukurannya termasuk gagah.
Merdeka hampir saja tertawa ngakak dan bangga, tetapi dokter kemudian menggelengkan kepala.
“Tidak mungkin,” katanya dengan tegas, “secara ethis ini akan menimbulkan skandal, secara praktis pasti akan mengakibatkan krisis moral dan dari segi hukum bisa diancam sebagai mengkampanyekan Oedipus Kompleks, karena termasuk barang import yang tidak sesuai dengan politik kepribadian kita. Dus resikonya sangat berat.”
“Lho tidak apa, itu malah bagus, ini kan eksperimen, makin banyak tantangannya, akan makin tinggi nilainya sebagai pencarian. Ini adalah sebuah revolusi yang tak berdarah dan murah. Sebuah kebangkitan nasional tanpa pembunuhan, kecuali memanfaatkan orang yang sudah dibunuh oleh Tuhan.”
Dokter tetap menggeleng.
“Tidak, aku tidak berambisi bikin revolusi, tidak mau ikut menanggung resikonya. Meskipun aku edan, aku belum gendeng. Jadi aku tidak bisa selalu mengatakan bisa-bisa, meskipun memang bisa, karena masih ada faktor-faktor X yang selalu aku perhitungkan di dalam pengembaraanku mencari kebahagiaan di dunia fana ini,” katanya.
“Sudah, sudah, dokter kok jadi sentimentil sekarang. Sudah kerjakan saja, biar nanti saya yang menanggung akibatnya,” kata Merdeka dengan kesal. “Dokter tinggal menyumbangkan ke trampilan, tanggungjawabnya urusan saya, anda harus bisa berpikir sederhana. Cobalah sedikit revolusioner dokter.”
“Saya revolusioner, jiwa saya cukup revolusioner.”
“Tetapi dalam hati tok. Itu tidak cukup. Ayo pasang saja alat vital itu, kan mubazir kalau dibusukkan di tanah. Coba apa lagi yang bisa kita manfaakan. Matanya? Jantungnya? Buah pinggangnya? Atau giginya?”
Dokter menggeleng.
“Masalahnya begini, organ-organ tubuh ini memang kelihatannya baik, tetapi dia sudah terlatih untuk melakukan sesuatu dengan pola tertentu, pola berpikir almarhum. Ideologinya, filsafat hidupnya, gayanya, aksinya dan kebiasaan-kebiasaannya sudah terbina. Sulit untuk mengubahnya lagi.
Saya bisa mencangkokkan ini di tubuh saudara, saudara Merdeka, tetapi saya tidak bisa menjamin bahwa dia akan bersedia tunduk di bawah perintah saudara. Bayangkan kalau terjadi sebaliknya, kalau seandainya kemudian anda sendiri yang diperintahnya. Bayangkan, buat apa anda bernama Merdeka kalau pada akhirnya tidak merdeka? Ini baru satu resiko saja, yang lain ….?”
Merdeka tertawa.
“Kalau saya bodoh, memang bisa saja alat vital papa memerintah saya, tetapi saya kan tidak sebodoh itu. Percuma dong kita lahir belakangan kalau tidak lebih pinter dari papa-papa kita. Ini dialektika kehidupan seorang Merdeka. Jadi dokter, kecemasan anda manusiawi tetapi sebenarnya tidak rasional. Dus pasang sajalah!”
“Apanya yang dipasang?”
“Alat vital itu.”
Dokter bingung.
“Jadi anda ingin punya dua?”
“Bukan hanya dua. Kalau bisa sepuluh juga saya mau. Dan dengar, saya tidak mau dipasang di tempat yang sama. Itu namanya tidak kreatif. Saya ingin anda berimprovisasi sedikit. Pasang saja di sini!”
Merdeka dengan tidak ragu-ragu kemudian menunjuk ke tengah-tengah dahinya. “Di sini, tepat, seakan-akan ia menjadi pipa penyalur langsung dari apa yang dikerjakan oleh otak, jadi bukan penyalur apa yang dihasilkan oleh perut!”
Dokter bengong dan menggelengkan kembali kepalanya. Merdeka langsung marah.
“Apa sih ini, apa sih? Dokter kok lamban sekali, dari tadi cuma bengong dan menggeleng-menggeleng. Langsung saja pasang sebelum dia busuk. Ayo. Saya tidak perlu membentak bukan?”
Dokter menggeleng lagi, lalu mendekatkan mulutnya berbisik. “Begini Merdeka, soalnya bukan apa-apa. Eksperimen begini juga sudah pernah dicoba, cuma kemudian tidak diteruskan karena hasilnya kurang memuaskan.
Maksud saya setelah dipasang, karena organ ini biasa terletak di bagian bawah, dekat dengan tanah, ia menolak untuk diletakkan di atas. Lalu ia berontak sedemikian rupa, sehingga kita terpaksa berjalan dengan kepala di bawah dan kaki di atas.”
“Bagaimana dokter tahu itu?”
“Ya karena, karena eksperimen itu pernah saya coba sendiri,” kata dokter dengan tersipu-sipu.
“Hebat-hebat!” teriak Merdeka, “Sayang dokter tidak punya darah revolusioner yang sejati. Justru itu yang saya inginkan. Jalan dengan kepala terbalik dengan mengingkari hukum gravitasi bumi, jailah, apa itu tidak sedep. Ayo dokter, jangan buang waktu, tancep saja sekarang!”
Walhasil, setelah digertak, akhirnya dokter mau juga memasang alat vital itu di kening Merdeka. Dan sebagaimana yang dikatakannya, begitu selesai pemasangan, Merdeka langsung tidak bisa lagi tegak di atas kakinya sendiri, karena kepalanya jadi terlalu berat. Terpaksa kemudian ia berjalan dengan kedua tangannya.
“Bagaimana rasanya,” tanya dokter dengan cemas.
Merdeka tertawa cekakakan.
“Hebat-hebat dokter. Bukan hanya dunia jadi terbalik, tapi segala nilai-nilai juga terbalik. Yang buruk jadi indah. Yang keras jadi lembut. Yang tidak cinta jadi cinta. Yang tidak adil jadi adil dan yang salah jadi betul. Fantastis. Saya puas dengan akrobatik ini!” teriak Merdeka.
Dokter heran tapi terpaksa ikut bergembira melihat langganannya puas.
Hanya saja sebulan kemudian Merdeka muncul lagi dengan
tergesa-gesa. Dari luar kamar praktek ia sudah berteriak seperti orang histeris.
“Dokteerrrrrrrrr!”
Dokter meloncat dan memeluk Merdeka.
“Ada apa?”
“Aku kesepiannnnnnnn! Kenapa tidak kamu bilang aku bisa kesepian berjalan terbalik sendirian. Kenapa tidak kamu bilang dulu!”
Dokter menggeleng.
“Maaf aku lupa Ka, aku lupa Merdeka.”
“Copot lagi-copot lagi, aku tidak mau kesepiannnnn! Hayo!”
Dokter menggeleng.
“Kenapa?”
“Aku bisa memasangnya, tapi aku tidak bisa mencopotnya.”
“Bohong! Kamu bisa. Kamu hanya tidak mau!”
Dokter terus menggeleng.
“Kenapa kamu tidak mau?”
Tiba-tiba dokter itu menangis. Matanya yang tua masih bisa mengeluarkan air mata. Tubuhnya gemetar.
“Sudahlah, sudahlah Merdeka, tetap saja begitu. Tetap saja begini berjalan dengan kepala di bawah, biar kesepian, tahan saja, itu baik, itu akan lebih mudah, maksudku itu akan lebih bermanfaat.
Aku sudah tua, aku sudah capek ngomong sama orang, mereka tidak akan percaya, lebih gampang buatku kalau ngomong pakai contoh. Sudahlah, biar saja, bijaksanalah, kuatkan imanmu, jadi pahlawan, jadilah contoh, supaya yang lain-lain tidak perlu mengulangi keedananmu!”
Dokter tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia jatuh pingsan. Merdeka tinggal sendirian di antara alat-alat yang ajaib dalam dekapan bau obat-obatan yang telah mencapai taraf kemajuan yang begitu tinggi.
Hatinya bertambah kosong, makin sepi, makin sepi saja tanpa titik henti.
“Bukan ngomong sendiri, aku sedang berpikir.”
“Mikiran apa? Mau kawin lagi?” Amat tertawa.
“Boro-boro kawin lagi, yang satu saja nggak habis.”
“O jadi kalau kawin itu berarti menghabisi?!”
“Bukan begitu!”
“Ya memang begitu! Kawin itu berarti menghabisi masa edan-edanan yang Bapak lakukan waktu masih jomblo. Kawin itu berarti menghabisi bertindak tanpa memakai perhitungan, bertindak tanpa memikirkan perasaan orang lain, bertindak yang merusak, seperti yang Bapak lakukan waktu masih bujangan. Kawin itu memang menghabisi apa yang tidak perlu!”
Amat tertegun.
“Sudah jangan mikir lagi. Cepat pasang bendera ini!”
Bu Amat mengulurkan bendera merah-putih yang baru dibelinya.
“Lho, Ibu beli bendera lagi? Kan yang tahun kemaren masih ada?”
“Itu warnanya sudah belel!”
“Belel juga itu bendera kita. Bukan warnanya yang penting, tetapi artinya sebagai simbol!”
“Sudah Bapak jangan ribut lagi. Pasang saja!”
Amat memperhatikan bendera baru itu. Lalu ia menghampiri tiang di
depan rumah yang mengibarkan bendera lama. Lalu bendera lama diganti
yang baru.
Seorang tetangga menghampiri.
“Pak Amat kalau bendera lama tidak dipakai lagi, biar saya kibarkan di rumah, kalau boleh.”
Amat menggeleng.
“Kan tidak dipakai?”
“Ya, menang. Ini akan disimpan sebab sudah ada yang baru.”
“Makanya kalau tidak dipakai, daripada nganggur biar saya kibarkan saja.”
Amat menolak tegas.
“Bendera itu memang tidak dipasang, tetapi dia tetap dikibarkan di dalam rumah kami.”
Tetangga ketawa.
“Masak mengibarkan bendera dalam rumah. Ada-ada saja!!”
Amat tersenyum.
“Kalau benar-benar mau merayakan ulang tahun kemerdekaan, benderanya jangan minta, tapi beli sendiri!”
“Ah bilang saja pelit!
Sambil tertawa Amat membawa bendera itu masuk rumah. Ketika membuka laci almari untuk menyimpannya, ia tertegun. Di dalam laci itu ada sekitar 10 buah bendera merah-putih dari tahun-tahun sebelumnya. Amat kembali berpikir.
Apa dengan mengibarkan bendera, seseorang menjadi merdeka. Atau karena merdeka orang boleh mengibarkan benderanya? Sudah sepuluh tahun, setiap kali menaruh bendera lama di dalam kotak ini, Bapak menanyakan hal itu, pak Amat!
Amat kaget.
Tapi ini adalah upacara. Di dalam upacara memang yang ada adalah pengulangan. Pengulangan itulah yang membedakan upacara dengan peristiwa. Perayaan hari kemerdekaan ini bukan peristiwa tetapi upacara. Tegasnya pengulangan. Dengan mengulang, memang banyak yang sama. Namun hasilnya berbeda. Kita jadi semakin dalam memahami.
Memahami apa?
Memahami apakah kita benar sudah merdeka?
Apakah kita sudah merdeka?
Kalau tidak merdeka, kita tidak akan boleh mengatakan betapa miskin, betapa tertindas, betapa terpuruk, betapa merosotnya moral kita. Karena hanya orang yang benar-benar merdeka memiliki kebebasan untuk menyatakan apakah dirinya masih terjajah, tersiksa atau angkara. Hanya orang yang merdeka yang mampu mengatakan bahwa dirinya belum merdeka.
→ Leave a comment
Ditulis pada cerpen
Pahlawan
Setelah membaca berita, Amat termenung sehari penuh. Makannya
kurang. Suaranya hilang. Ia tidak membalas senyum, walau pun Bu Amat
sudah cengar-cengir mengajak berbaikan setelah semalam agak tegang.
Bahkan ketika tetangga mengundangnya untuk makan duren, ia menolak.
Bu Amat lalu mendesak Ami, mencari tahu apa yang sedang menggondeli pikiran Amat. Dengan segan-segan Ami menghampiri bapaknya dan langsung saja menembak.
“Bapak kelihatannya keki ya. Kenapa?”
Amat terkejut. Tetapi kemudian berterimakasih.
“Kok terimakasih?”
“Habis itu berarti kamu memperhatikan Bapak. Bapak memang kesal sekali.”
“Jangan begitu Pak, Ibu kan kelihatannya sudah mau ngajak baikan. Dimasakin segala macam. Hargai dong!”
“O, ini bukan masalah aku dan ibumu.”
“Lalu masalah apa lagi?”
Amat memandang Ami tajam-tajam.
“Denger Ami, ini serius. Bapak senang sekali sebab kamu sudah bertanya. Bapak tidak usah capek-cepak lagi mencari kesempatan bicara. Begini. Nanti sepuluh atau dua puluh tahun lagi, atau mungkin lebih, pokoknya kalau Bapak sudah tidak ada, jangan sama sekali kamu biarkan ada orang yang berbicara tidak benar tentang Bapak.”
“Ah itu sudah pasti! Kalau ada yang menjelek-jelekkan Bapak, Ami akan langsung saja jawab tidak peduli di mana tempatnya. Maksud Bapak tetangga kita yang pernah menuduh Bapak itu korupsi, kan?”
“Bukan!”
“Lalu siapa?”
“Kalau ada yang mau menjelek-jelekkan Bapak biarkan saja. Kalau kamu bela, malah nanti orang akan semakin percaya. Biarkan kenyataan itu berbicara sendiri. Tapi kalau ada yang berbicara tidak benar tentang Bapak, kamu harus bertindak dan menolak!”
“Maksud Bapak?”
“Kalau ada yang mengatakan aku ini pahlawan, bahkan kalau pemerintah mengangkat aku menjadi pahlawan, kamu harus cepat, tegas dan berani menolak. Sebab aku bukan pahlawan!”
“Lho, tapi kan Bapak sudah berjuang dulu waktu revolusi?”
“Ah mengantongi lencana merah-putih dan bersimpati pada para pejuang itu, namanya belum berjuang. Bahkan membantu para gerilya dengan ketupat waktu mereka masuk hutan juga belum bisa dikatakan berjuang. Kalau sampai memanggul senjata, tertembak dan gugur, seperti Letkol IGN Rai itu baru pejuang. Kalau hanya salah tangkap dan dipukuli atau dimaki-maki, itu belum pejuang. Bapak bukan pejuang. Jadi tidak pantas menerima sebutan pahlawan, mengerti?”
Ami tak menjawab.
“Kok tidak menjawab?”
“Habis Bapak egois! Buat bapak sebutan pahlawan itu mungkin tidak penting, tapi buat Ami dan buat Ibu penting sekali. Kemungkinan untuk dapat posisi akan lebih gampang sebagai anak pahlawan. Apalagi kalau nantinya ada santunan uang, rumah dan sebagainya.
Masak kita terus-terusan harus tinggal di rumah tua seperti ini, sementara semua teman-teman Ami sudah pindah ke real estate? Boleh dong Ami dan Ibu merasakan kenikmatan. Masak berjuang dan menderita terus. Kita kan sudah merdeka?!”
Amat kontan mau menjawab, tetapi Ami sudah berdiri.
“Bapak boleh merasa kepahlawanan Bapak itu bukan apa-apa, tapi jangan memaksa saya berbohong. Itu namanya penggelapan sejarah!” kata Ami sambil pergi.
Amat termenung. Ia teringat masa-masa perjuangan. Puluhan teman-teman sekolahnya lenyap di dalam rimba. Mereka pejuang-pejuang sejati. Tetapi ia sendiri, hanya memainkan peran kecil yang tidak penting. Ia malu mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak pernah berjuang. Tetapi ia tak sanggup menolak ketika teman-temannya mendaulat agar ia menjadi ketua perhimpunan bekas pejuang.
Bu Amat mendekat, lalu menyapa.
“Bapak masih marah?”
Amat mengangguk.
“Ya. Tapi bukan karena yang tadi malam.”
“Karena apa?”
“Karena sekarang semakin rancu mana yang pahlawan, mana yang tidak. Aku jadi bingung, sejarah kok bisa ditulis lagi. Tadi aku bilang pada Ami, kelak kalau ada yang mau mengangkatku sebagai pahlawan, dia harus berani mengatakan tidak. Sebab aku bukan pahlawan.”
Bu Amat kaget.
“Jadi kalau begitu, semua cerita itu tidak betul?”
“Cerita yang mana?”
“Bapak kan dulu mengatakan bahwa Bapak pernah tertembak dua kali. Bapakku dulu sangat kagum dan hormat melihat bekas luka peluru itu. Ami juga selalu mencantumkan dalam riwayat hidupnya, bahwa Bapak pernah berjuang. Itu di dalam lamaran untuk menjadi asisten dosen, dia juga bilang bahwa dia adalah putri pejuang kemerdekaan, putri seorang pahlawan.”
“O ya?”
“Ya! Tapi apa semua itu bohong? Apa semua itu hanya cerita yang Bapak karang-karang supaya Bapakku mengizinkan aku kawin dengan Bapak dulu?”
Amat terkejut. Ia hampit saja hendak berterus-terang bilang ya, tetapi mata istrinya begitu serius. Bahkan terlalu serius.
“Jadi semua itu bohong, Pak????”
“Bukan bohong! Tapi untuk apa sih menceritakan soal-soal kepahlawanan yang sudah lewat,. Yang penting kan apa yang kita perbuat hari ini.”
“Tapi sejarah itu tidak boleh dihapuskan, Pak. Pahlawan harus tetap pahlawan. Apa salahnya orang jadi pahlawan. Ya tidak? Itu kan membuat keluarga jadi bangga dan kita dihormati? Ya tidak!”
Amat mengangguk.
“Lho ya tidak?!!!!”
“Ya.”
Malam-malam setelah istrinya tidur, Amat mendekati Ami.
“Ami, soal pahlawan tadi ada perubahan.”
“Maksud Bapak?”
“Kalau ada yang mau menjadikan Bapak pahlawan, biar sajalah.”
Ami tertegun.
“Tidak keberatan kan?”
“Sangat keberatan. Kalau ada yang hendak menjadikan Bapak pahlawan, padahal Bapak bukan pahlawan, Ami yang pertama akan mengatakan: bohong!”
Bu Amat lalu mendesak Ami, mencari tahu apa yang sedang menggondeli pikiran Amat. Dengan segan-segan Ami menghampiri bapaknya dan langsung saja menembak.
“Bapak kelihatannya keki ya. Kenapa?”
Amat terkejut. Tetapi kemudian berterimakasih.
“Kok terimakasih?”
“Habis itu berarti kamu memperhatikan Bapak. Bapak memang kesal sekali.”
“Jangan begitu Pak, Ibu kan kelihatannya sudah mau ngajak baikan. Dimasakin segala macam. Hargai dong!”
“O, ini bukan masalah aku dan ibumu.”
“Lalu masalah apa lagi?”
Amat memandang Ami tajam-tajam.
“Denger Ami, ini serius. Bapak senang sekali sebab kamu sudah bertanya. Bapak tidak usah capek-cepak lagi mencari kesempatan bicara. Begini. Nanti sepuluh atau dua puluh tahun lagi, atau mungkin lebih, pokoknya kalau Bapak sudah tidak ada, jangan sama sekali kamu biarkan ada orang yang berbicara tidak benar tentang Bapak.”
“Ah itu sudah pasti! Kalau ada yang menjelek-jelekkan Bapak, Ami akan langsung saja jawab tidak peduli di mana tempatnya. Maksud Bapak tetangga kita yang pernah menuduh Bapak itu korupsi, kan?”
“Bukan!”
“Lalu siapa?”
“Kalau ada yang mau menjelek-jelekkan Bapak biarkan saja. Kalau kamu bela, malah nanti orang akan semakin percaya. Biarkan kenyataan itu berbicara sendiri. Tapi kalau ada yang berbicara tidak benar tentang Bapak, kamu harus bertindak dan menolak!”
“Maksud Bapak?”
“Kalau ada yang mengatakan aku ini pahlawan, bahkan kalau pemerintah mengangkat aku menjadi pahlawan, kamu harus cepat, tegas dan berani menolak. Sebab aku bukan pahlawan!”
“Lho, tapi kan Bapak sudah berjuang dulu waktu revolusi?”
“Ah mengantongi lencana merah-putih dan bersimpati pada para pejuang itu, namanya belum berjuang. Bahkan membantu para gerilya dengan ketupat waktu mereka masuk hutan juga belum bisa dikatakan berjuang. Kalau sampai memanggul senjata, tertembak dan gugur, seperti Letkol IGN Rai itu baru pejuang. Kalau hanya salah tangkap dan dipukuli atau dimaki-maki, itu belum pejuang. Bapak bukan pejuang. Jadi tidak pantas menerima sebutan pahlawan, mengerti?”
Ami tak menjawab.
“Kok tidak menjawab?”
“Habis Bapak egois! Buat bapak sebutan pahlawan itu mungkin tidak penting, tapi buat Ami dan buat Ibu penting sekali. Kemungkinan untuk dapat posisi akan lebih gampang sebagai anak pahlawan. Apalagi kalau nantinya ada santunan uang, rumah dan sebagainya.
Masak kita terus-terusan harus tinggal di rumah tua seperti ini, sementara semua teman-teman Ami sudah pindah ke real estate? Boleh dong Ami dan Ibu merasakan kenikmatan. Masak berjuang dan menderita terus. Kita kan sudah merdeka?!”
Amat kontan mau menjawab, tetapi Ami sudah berdiri.
“Bapak boleh merasa kepahlawanan Bapak itu bukan apa-apa, tapi jangan memaksa saya berbohong. Itu namanya penggelapan sejarah!” kata Ami sambil pergi.
Amat termenung. Ia teringat masa-masa perjuangan. Puluhan teman-teman sekolahnya lenyap di dalam rimba. Mereka pejuang-pejuang sejati. Tetapi ia sendiri, hanya memainkan peran kecil yang tidak penting. Ia malu mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak pernah berjuang. Tetapi ia tak sanggup menolak ketika teman-temannya mendaulat agar ia menjadi ketua perhimpunan bekas pejuang.
Bu Amat mendekat, lalu menyapa.
“Bapak masih marah?”
Amat mengangguk.
“Ya. Tapi bukan karena yang tadi malam.”
“Karena apa?”
“Karena sekarang semakin rancu mana yang pahlawan, mana yang tidak. Aku jadi bingung, sejarah kok bisa ditulis lagi. Tadi aku bilang pada Ami, kelak kalau ada yang mau mengangkatku sebagai pahlawan, dia harus berani mengatakan tidak. Sebab aku bukan pahlawan.”
Bu Amat kaget.
“Jadi kalau begitu, semua cerita itu tidak betul?”
“Cerita yang mana?”
“Bapak kan dulu mengatakan bahwa Bapak pernah tertembak dua kali. Bapakku dulu sangat kagum dan hormat melihat bekas luka peluru itu. Ami juga selalu mencantumkan dalam riwayat hidupnya, bahwa Bapak pernah berjuang. Itu di dalam lamaran untuk menjadi asisten dosen, dia juga bilang bahwa dia adalah putri pejuang kemerdekaan, putri seorang pahlawan.”
“O ya?”
“Ya! Tapi apa semua itu bohong? Apa semua itu hanya cerita yang Bapak karang-karang supaya Bapakku mengizinkan aku kawin dengan Bapak dulu?”
Amat terkejut. Ia hampit saja hendak berterus-terang bilang ya, tetapi mata istrinya begitu serius. Bahkan terlalu serius.
“Jadi semua itu bohong, Pak????”
“Bukan bohong! Tapi untuk apa sih menceritakan soal-soal kepahlawanan yang sudah lewat,. Yang penting kan apa yang kita perbuat hari ini.”
“Tapi sejarah itu tidak boleh dihapuskan, Pak. Pahlawan harus tetap pahlawan. Apa salahnya orang jadi pahlawan. Ya tidak? Itu kan membuat keluarga jadi bangga dan kita dihormati? Ya tidak!”
Amat mengangguk.
“Lho ya tidak?!!!!”
“Ya.”
Malam-malam setelah istrinya tidur, Amat mendekati Ami.
“Ami, soal pahlawan tadi ada perubahan.”
“Maksud Bapak?”
“Kalau ada yang mau menjadikan Bapak pahlawan, biar sajalah.”
Ami tertegun.
“Tidak keberatan kan?”
“Sangat keberatan. Kalau ada yang hendak menjadikan Bapak pahlawan, padahal Bapak bukan pahlawan, Ami yang pertama akan mengatakan: bohong!”
Sepi
Ketika ayahnya meninggal, Merdeka mendapat inspirasi.“Papa adalah orang yang praktis dan realistis. Ia seorang yang bijaksana, luhur budi pekertinya dan ekonomis. Ia pasti tidak suka segala bentuk kemubaziran, termasuk yang menyangkut jasadnya sendiri,” kata Merdeka menimbang-nimbang.
Setelah tiga jam berpikir terus menerus, akhirnya ia memutuskan untuk memotong kedua tangan bapaknya dan kemudian memasangnya di tubuhnya sendiri. Ia juga hampir saja hendak memotong kedua kaki papanya, tetapi dokter yang memasang memprotes, sebab ia melihat ada penyakit di kaki orang tua itu. “Tangannya saja cukup, kau cukup mewarisi ringan tangannya, tidak perlu darah petualangan di kakinya, jangan nanti kamu keluyuran ke sana-ke mari seperti gombal,” kata dokter.
Merdeka sebenarnya merasa menyesal sekali, tapi terpaksa manut. Walaupun begitu ia masih punya usul kecil.
“Bagaimana kalau anunya saja, kelihatannya masih bagus,” kata Merdeka malu-malu kucing sambil menunjuk alat kelamin bapaknya.
Dokter merenung sejenak, kemudian mengambil mikroskop, lalu memeriksa dengan teliti. Akhirnya dengan sebuah alat ia mencoba ngetes alat vital itu. Ternyata kalau ada enerji, ia masih berfungsi dengan baik. Apalagi ukurannya termasuk gagah.
Merdeka hampir saja tertawa ngakak dan bangga, tetapi dokter kemudian menggelengkan kepala.
“Tidak mungkin,” katanya dengan tegas, “secara ethis ini akan menimbulkan skandal, secara praktis pasti akan mengakibatkan krisis moral dan dari segi hukum bisa diancam sebagai mengkampanyekan Oedipus Kompleks, karena termasuk barang import yang tidak sesuai dengan politik kepribadian kita. Dus resikonya sangat berat.”
“Lho tidak apa, itu malah bagus, ini kan eksperimen, makin banyak tantangannya, akan makin tinggi nilainya sebagai pencarian. Ini adalah sebuah revolusi yang tak berdarah dan murah. Sebuah kebangkitan nasional tanpa pembunuhan, kecuali memanfaatkan orang yang sudah dibunuh oleh Tuhan.”
Dokter tetap menggeleng.
“Tidak, aku tidak berambisi bikin revolusi, tidak mau ikut menanggung resikonya. Meskipun aku edan, aku belum gendeng. Jadi aku tidak bisa selalu mengatakan bisa-bisa, meskipun memang bisa, karena masih ada faktor-faktor X yang selalu aku perhitungkan di dalam pengembaraanku mencari kebahagiaan di dunia fana ini,” katanya.
“Sudah, sudah, dokter kok jadi sentimentil sekarang. Sudah kerjakan saja, biar nanti saya yang menanggung akibatnya,” kata Merdeka dengan kesal. “Dokter tinggal menyumbangkan ke trampilan, tanggungjawabnya urusan saya, anda harus bisa berpikir sederhana. Cobalah sedikit revolusioner dokter.”
“Saya revolusioner, jiwa saya cukup revolusioner.”
“Tetapi dalam hati tok. Itu tidak cukup. Ayo pasang saja alat vital itu, kan mubazir kalau dibusukkan di tanah. Coba apa lagi yang bisa kita manfaakan. Matanya? Jantungnya? Buah pinggangnya? Atau giginya?”
Dokter menggeleng.
“Masalahnya begini, organ-organ tubuh ini memang kelihatannya baik, tetapi dia sudah terlatih untuk melakukan sesuatu dengan pola tertentu, pola berpikir almarhum. Ideologinya, filsafat hidupnya, gayanya, aksinya dan kebiasaan-kebiasaannya sudah terbina. Sulit untuk mengubahnya lagi.
Saya bisa mencangkokkan ini di tubuh saudara, saudara Merdeka, tetapi saya tidak bisa menjamin bahwa dia akan bersedia tunduk di bawah perintah saudara. Bayangkan kalau terjadi sebaliknya, kalau seandainya kemudian anda sendiri yang diperintahnya. Bayangkan, buat apa anda bernama Merdeka kalau pada akhirnya tidak merdeka? Ini baru satu resiko saja, yang lain ….?”
Merdeka tertawa.
“Kalau saya bodoh, memang bisa saja alat vital papa memerintah saya, tetapi saya kan tidak sebodoh itu. Percuma dong kita lahir belakangan kalau tidak lebih pinter dari papa-papa kita. Ini dialektika kehidupan seorang Merdeka. Jadi dokter, kecemasan anda manusiawi tetapi sebenarnya tidak rasional. Dus pasang sajalah!”
“Apanya yang dipasang?”
“Alat vital itu.”
Dokter bingung.
“Jadi anda ingin punya dua?”
“Bukan hanya dua. Kalau bisa sepuluh juga saya mau. Dan dengar, saya tidak mau dipasang di tempat yang sama. Itu namanya tidak kreatif. Saya ingin anda berimprovisasi sedikit. Pasang saja di sini!”
Merdeka dengan tidak ragu-ragu kemudian menunjuk ke tengah-tengah dahinya. “Di sini, tepat, seakan-akan ia menjadi pipa penyalur langsung dari apa yang dikerjakan oleh otak, jadi bukan penyalur apa yang dihasilkan oleh perut!”
Dokter bengong dan menggelengkan kembali kepalanya. Merdeka langsung marah.
“Apa sih ini, apa sih? Dokter kok lamban sekali, dari tadi cuma bengong dan menggeleng-menggeleng. Langsung saja pasang sebelum dia busuk. Ayo. Saya tidak perlu membentak bukan?”
Dokter menggeleng lagi, lalu mendekatkan mulutnya berbisik. “Begini Merdeka, soalnya bukan apa-apa. Eksperimen begini juga sudah pernah dicoba, cuma kemudian tidak diteruskan karena hasilnya kurang memuaskan.
Maksud saya setelah dipasang, karena organ ini biasa terletak di bagian bawah, dekat dengan tanah, ia menolak untuk diletakkan di atas. Lalu ia berontak sedemikian rupa, sehingga kita terpaksa berjalan dengan kepala di bawah dan kaki di atas.”
“Bagaimana dokter tahu itu?”
“Ya karena, karena eksperimen itu pernah saya coba sendiri,” kata dokter dengan tersipu-sipu.
“Hebat-hebat!” teriak Merdeka, “Sayang dokter tidak punya darah revolusioner yang sejati. Justru itu yang saya inginkan. Jalan dengan kepala terbalik dengan mengingkari hukum gravitasi bumi, jailah, apa itu tidak sedep. Ayo dokter, jangan buang waktu, tancep saja sekarang!”
Walhasil, setelah digertak, akhirnya dokter mau juga memasang alat vital itu di kening Merdeka. Dan sebagaimana yang dikatakannya, begitu selesai pemasangan, Merdeka langsung tidak bisa lagi tegak di atas kakinya sendiri, karena kepalanya jadi terlalu berat. Terpaksa kemudian ia berjalan dengan kedua tangannya.
“Bagaimana rasanya,” tanya dokter dengan cemas.
Merdeka tertawa cekakakan.
“Hebat-hebat dokter. Bukan hanya dunia jadi terbalik, tapi segala nilai-nilai juga terbalik. Yang buruk jadi indah. Yang keras jadi lembut. Yang tidak cinta jadi cinta. Yang tidak adil jadi adil dan yang salah jadi betul. Fantastis. Saya puas dengan akrobatik ini!” teriak Merdeka.
Dokter heran tapi terpaksa ikut bergembira melihat langganannya puas.
Hanya saja sebulan kemudian Merdeka muncul lagi dengan
tergesa-gesa. Dari luar kamar praktek ia sudah berteriak seperti orang histeris.
“Dokteerrrrrrrrr!”
Dokter meloncat dan memeluk Merdeka.
“Ada apa?”
“Aku kesepiannnnnnnn! Kenapa tidak kamu bilang aku bisa kesepian berjalan terbalik sendirian. Kenapa tidak kamu bilang dulu!”
Dokter menggeleng.
“Maaf aku lupa Ka, aku lupa Merdeka.”
“Copot lagi-copot lagi, aku tidak mau kesepiannnnn! Hayo!”
Dokter menggeleng.
“Kenapa?”
“Aku bisa memasangnya, tapi aku tidak bisa mencopotnya.”
“Bohong! Kamu bisa. Kamu hanya tidak mau!”
Dokter terus menggeleng.
“Kenapa kamu tidak mau?”
Tiba-tiba dokter itu menangis. Matanya yang tua masih bisa mengeluarkan air mata. Tubuhnya gemetar.
“Sudahlah, sudahlah Merdeka, tetap saja begitu. Tetap saja begini berjalan dengan kepala di bawah, biar kesepian, tahan saja, itu baik, itu akan lebih mudah, maksudku itu akan lebih bermanfaat.
Aku sudah tua, aku sudah capek ngomong sama orang, mereka tidak akan percaya, lebih gampang buatku kalau ngomong pakai contoh. Sudahlah, biar saja, bijaksanalah, kuatkan imanmu, jadi pahlawan, jadilah contoh, supaya yang lain-lain tidak perlu mengulangi keedananmu!”
Dokter tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia jatuh pingsan. Merdeka tinggal sendirian di antara alat-alat yang ajaib dalam dekapan bau obat-obatan yang telah mencapai taraf kemajuan yang begitu tinggi.
Hatinya bertambah kosong, makin sepi, makin sepi saja tanpa titik henti.