Kita sekarang memang sudah kehilangan kecintaan kita pada alam. Semua
orang kalau punya uang pasti mau membangun rumah. Jadinya kita sesak
tidak punya paru-paru untuk bernafas. Mudah-mudahan yang lain-lain
mengikuti jejak Pak Amat.”
Anak muda yang lain, memandang dengan kecewa.
“Yah, Pak Amat, padahal minggu depan rencananya mau minjam tempat untuk pertandingan antar wilayah merebut juara 2008. Sekarang batal dah!”
Amat tak berusaha menanggapi. Ia hanya menjadi tambah sedih. Namun ia terus menlanjutkan mencangkul, karena sudah terlanjur. Sampai sore, ia hanya mampu mencangkul lapangan itu sekitar seperlimanya. Terpaksa dihentikan karena pinggangnya sakit.
Malam hari Amat merintih di tempat tidur. Lebih banyak karena kecewa. Ia tak punya suara lagi di rumah. Kemauan anak dan istrinyalah yang selalu jalan. Ia memang suka mengalah dan memang lebih baik mengalah. Tetapi heran juga, ketika ia mengalah, anak-istrinya bukannya tahu diri, malahan tambah menjajah.
“Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk melawan ini adalah mengalahkan diriku sendiri. Penyakit tidak hanya dilawan dengan obat, tetapi sekarang bisa diusir dengan menikmati penyakit itu. Jadi kenapa aku harus mundur dan menyiksa perasaanku sendiri, padahal aku sudah terlanjur mencangkul? Aku harus menjadikan lapangan badminton itu kebun, kebun yang indah supaya dipuji oleh semua orang bahwa keluarga Amat ini sadar anti pada pemanasan global!” kata Amat dalam hati.
Dengan pikiran itu Amat baru bisa tidur pulas.
Esoknya, pagi-pagi Amat sudah bangun. Ia langsung memakai celana pendek dan singlet. Kemudian dengan semangat yang luar biasa ia meneruskan mencangkul. Heran sekali, kalau kemaren dalam satu hari ia hanya mampu mencangkul seperlima lapangan, sekarang dalam tempo dua jam, hampir separuh lapangan sudah tergarap.
“Stop!!!!” tiba-tiba teriak Ami yang nampaknya bangun kesiangan.
Amat pura-pura tak mendengar, malah menambah cepat ayunan cangkulnya.
“Stopppp!” teriak Ami lebih keras sambil menghampiri bapaknya.. “Sudah, sudah Pak, jadi rusak dah lapangannya!”
Amat berhenti dann tercengang.
“Apa?”
“Jadi rusak lapangannya!”
“Memang dirusak, kan mau bikin kebuh untuk melawan pemanasan global!”
“Itu nanti saja!”
“Nanti bagaimana?”
“Apa artinya kebun seupil beginji, kalau Amerika, Jepang, Australia dan Kanada sendiri tidak peduli. Dia yang bikin rusak ozon, kita yang disuruh kerja. Sudah tidak usah! Minggu depan lapangan ini mau dipinjam untuk seleksi cari juara 2008!”
“Apa?”
“Sebaiknya Bapak kembalikan lagi fungsinya!”
Pak Amat bengong.
“Bapak kembalikan lagi jadi lapangan, sebab Ami sudah bilang oke sama mereka. Kalau tidak, kita bisa malu!”
Amat takjub. Dia tidak bisa ngomong. Tapi mukanya menahan marah. Lalu datang istrinya.
“Sudah Pak, tidak apa. Kembalikan saja jadi lapangan badminton. Tentang pemanasan global, kita kan bisa menanam yang hijau-hijau di dalam pot. Itu lihat aku sudah mulai!”
Bu Amat menunjuk pada beberapa pot yang ditanami dengan cabe, tomat, seledri dan kembang sepatu yang batangnya kemaren diminta dari tetangga.
“Bapak balikkan saja lagi jadi lapangan badminton. Lagipula sebenarnya penghijauan yang lebih penting itu bukan di halaman kita, tetapi di d alam pikiran kita. Kalau pikiran kita hijau, dengan sendirinya segala tindakan kita akan ikut hijau memerangi pemanasan global!”
Amat melempar pacul, lalu istirahat. Sehariann ia termenung. Malam hari ketika Ami pulang dari kampus dan bertanya apa lapangan badminton sudah dibalikkan fungsinya lagi, Amat mengangguk.
“Ya sudah. Dalam pikiranku kebun yang gagal itu sudah aku bangun lagi jadi lapangan badminton. Silakan main di situ dengan sepuasnya!”
Anak muda yang lain, memandang dengan kecewa.
“Yah, Pak Amat, padahal minggu depan rencananya mau minjam tempat untuk pertandingan antar wilayah merebut juara 2008. Sekarang batal dah!”
Amat tak berusaha menanggapi. Ia hanya menjadi tambah sedih. Namun ia terus menlanjutkan mencangkul, karena sudah terlanjur. Sampai sore, ia hanya mampu mencangkul lapangan itu sekitar seperlimanya. Terpaksa dihentikan karena pinggangnya sakit.
Malam hari Amat merintih di tempat tidur. Lebih banyak karena kecewa. Ia tak punya suara lagi di rumah. Kemauan anak dan istrinyalah yang selalu jalan. Ia memang suka mengalah dan memang lebih baik mengalah. Tetapi heran juga, ketika ia mengalah, anak-istrinya bukannya tahu diri, malahan tambah menjajah.
“Satu-satunya yang bisa aku lakukan untuk melawan ini adalah mengalahkan diriku sendiri. Penyakit tidak hanya dilawan dengan obat, tetapi sekarang bisa diusir dengan menikmati penyakit itu. Jadi kenapa aku harus mundur dan menyiksa perasaanku sendiri, padahal aku sudah terlanjur mencangkul? Aku harus menjadikan lapangan badminton itu kebun, kebun yang indah supaya dipuji oleh semua orang bahwa keluarga Amat ini sadar anti pada pemanasan global!” kata Amat dalam hati.
Dengan pikiran itu Amat baru bisa tidur pulas.
Esoknya, pagi-pagi Amat sudah bangun. Ia langsung memakai celana pendek dan singlet. Kemudian dengan semangat yang luar biasa ia meneruskan mencangkul. Heran sekali, kalau kemaren dalam satu hari ia hanya mampu mencangkul seperlima lapangan, sekarang dalam tempo dua jam, hampir separuh lapangan sudah tergarap.
“Stop!!!!” tiba-tiba teriak Ami yang nampaknya bangun kesiangan.
Amat pura-pura tak mendengar, malah menambah cepat ayunan cangkulnya.
“Stopppp!” teriak Ami lebih keras sambil menghampiri bapaknya.. “Sudah, sudah Pak, jadi rusak dah lapangannya!”
Amat berhenti dann tercengang.
“Apa?”
“Jadi rusak lapangannya!”
“Memang dirusak, kan mau bikin kebuh untuk melawan pemanasan global!”
“Itu nanti saja!”
“Nanti bagaimana?”
“Apa artinya kebun seupil beginji, kalau Amerika, Jepang, Australia dan Kanada sendiri tidak peduli. Dia yang bikin rusak ozon, kita yang disuruh kerja. Sudah tidak usah! Minggu depan lapangan ini mau dipinjam untuk seleksi cari juara 2008!”
“Apa?”
“Sebaiknya Bapak kembalikan lagi fungsinya!”
Pak Amat bengong.
“Bapak kembalikan lagi jadi lapangan, sebab Ami sudah bilang oke sama mereka. Kalau tidak, kita bisa malu!”
Amat takjub. Dia tidak bisa ngomong. Tapi mukanya menahan marah. Lalu datang istrinya.
“Sudah Pak, tidak apa. Kembalikan saja jadi lapangan badminton. Tentang pemanasan global, kita kan bisa menanam yang hijau-hijau di dalam pot. Itu lihat aku sudah mulai!”
Bu Amat menunjuk pada beberapa pot yang ditanami dengan cabe, tomat, seledri dan kembang sepatu yang batangnya kemaren diminta dari tetangga.
“Bapak balikkan saja lagi jadi lapangan badminton. Lagipula sebenarnya penghijauan yang lebih penting itu bukan di halaman kita, tetapi di d alam pikiran kita. Kalau pikiran kita hijau, dengan sendirinya segala tindakan kita akan ikut hijau memerangi pemanasan global!”
Amat melempar pacul, lalu istirahat. Sehariann ia termenung. Malam hari ketika Ami pulang dari kampus dan bertanya apa lapangan badminton sudah dibalikkan fungsinya lagi, Amat mengangguk.
“Ya sudah. Dalam pikiranku kebun yang gagal itu sudah aku bangun lagi jadi lapangan badminton. Silakan main di situ dengan sepuasnya!”
0 komentar:
Posting Komentar