Keluhuran yang mestinya juga bisa ditempel atau menempeli manusia sehingga ada satu arus yang mendesak kita untuk berkumpul dan menjadi satu monumen yang besar. Dan saya mengkhayal tentang satu keluarga besar, satu kerajaan besar, satu perdamaian besar, satu dongeng besar tentang cinta kasih yang luruh, satu harmoni besar yang menyebabkan semua makhluk berkomunikasi satu sama lain, seperti cerita-cerita wayang, Tantri atau Nabi Sulaiman. Tentang perdamaian yang abadi.
Kenyataan sehari-hari selalu menghajar kerinduan itu sebagai mimpi, sehingga setiap kali dengan mudah saja kita bisa terkecoh untuk menganggap hidup ini sia-sia. Bahwa seakan-akan apa pun yang dikerjakan semuanya tak akan ada artinya, kecuali sebagai sebuah sejarah panjang gagalan manusia.
Untuk mencegah hal tersebut atau katakanlah untuk melupakannya, saya memilih untuk bekerja secara maksimal berdasarkan apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, kelemahan yang disulap menjadi kekuatan – apa adanya dari saya.
Bekerja secara total dan kerangsukan. Sehingga peristiwa “bekerja” jadi heroik, berkobar-kobar hampir menyerupai pertempuran, revolusi atau perang saudara di dalam diri. Peristiwa yang gegap-gempita dan berdarah, tetapi diam-diam dan tanpa etalase bagi orang lain. Sebuah petualangan yang sunyi.
Itulah semua kecap saya.
kita kenal sebagai sesuatu yang universal. Cita-cita tentang kesejahteraan manusia dikenal oleh seluruh umat manusia di seantero dunia dengan cara masing-masing. Betapa pun beragam corak pelafalannya, karena konteks setiap kelompok masyarakat banyak memberikan warna, tak pelak lagi, semangat ini meruap dari naluri cinta kepada sesama.
Rasa kemanusiaan itu menyebrangi perbedaan budaya, warna kulit, agama, panutan, keyakinan, menembus batas suku, negara. Menyebrangi waktu dan jarak, menembus perbedaan-perbedaan strata sosial. Bahkan tak terhalangi oleh kekuasaan yang merupakan bagian yang sangat berpengaruh dalam berbagai sengketa dewasa ini.
Sastra sejak awal sudah melihat kemanusiaan sebagai lahan yang sangat kaya dan luas jangkauannya. Sebagai upaya untuk menerobos segala barikade konteks manusia masing-masing pada desa-kala-patranya (tempat-waktu-suasananya), sastra telah memilih tema-tema terbaik. Seperti kematian, kelahiran, kesakitan, kesedihan, kesenangan, kesangsian, penantian, persengketaan, persaudaraan, cinta, nafsu-nafsu bawah sadar dan sebagainya yang sangat mendasar dan berserak pada setiap manusia di seluruh jagatraya.
Sastra tertulis yang kemudian membuat bahasa menjadi halangan untuk mencapai manusia secara serentak, tidak sepenuhnya bisa menghalangi penjelajahan sastra sebagai pengembaraan spiritual manusia sejagat. Dalam waktu-waktu yang tertentu, suara-suara kemanusiaan itu secara estafet meloncat dari satu bahasa ke bahasa yang lain, sehingga cepat atau lambat, seperti air, suara yang mau digemakannya, merembes ke seluruh dunia.
Sastra lisan yang kemudian merupakan kelanjutan kalau tidak bisa dikatakan pasukan khusus dari sastra, secara informal menusukkan peluru-peluru kemanusiaan itu, langsung kepada manusia lain dengan bahasa ibunya. Akhirnya tak berkelebihan kalau dikatakan bahwa sastra adalah jembatan ajaib yang menghubungkan manusia dengan manusia tanpa perlu melalui petugas pabean apalagi harus menunjukkan paspor.
Sastra menjadi warganegara dunia yang bebas masuk ke mana saja, karena dia kelihatan tetapi tidak nampak seluruhnya. Karena ia adalah imajinasi yang hanya akan tertangkap oleh mata hati yang peka. Ia berwujud namun tidak seluruhnya bertubuh, karena ia adalah sebuah pengalaman spiritual.
Sastra sudah menjadi sebuah jaringan internasional, yang tak terkendali lagi kemampuan jangkauannya. Tidak terhalang-halangi lagi oleh batas-batas negara dan politik. Ia begitu ampuh namun juga begitu halus. Tak ubah seperti yang dilakukan oleh jaringan internet dewasa ini. Sastra sudah membebaskan manusia dari berbagai batasan.
Sastra dengan demikian tidak hanya tulisan, bukan hanya buku-buku. Sastra adalah bentuk pengalaman spiritual yang diungkapkan dengan kata-kata yang plastis sehingga memiliki daya magis yang dikemas melalui bentuk-bentuk cerita rekaan atau semi rekaan, sehingga ia merupakan lukisan-lukisan kehidupan yang merupakan cerminan dari kehidupan nyata manusia sehari-hari sehingga penikmatnya menjadi percaya.
Sastra adalah cerita tentang manusia. Atau cerita tentang apa saja yang memberikan kepada manusia sebuah pengalaman spiritual, untuk merenungi kehidupan masa lalu, masa kini dan masa datang, untuk mengantarkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik, lebih sempurna, lebih membahagiakan manusia bersama-sama.
Sastra dengan demikian adalah sebuah senjata kemanusiaan yang ditembakkan, sebagai upaya untuk memangkas batas-batas yang memisahkan manusia. Tidak untuk mengatakan bahwa manusia yang satu harus sama rata dengan manusia yang lain, tetapi hanya untuk menyadarkan bahwa manusia satu dengan yang lain saling terkait dan tidak mungkin hidup tanpa manusia yang lain.
Bahwa manusia memiliki kemungkinan yang seharusnya sama, namun adalah perjuangan, kegigihan dan kemudian keberuntungan/nasib baik yang menjadikannya berbeda. Berbeda tidak berarti bermusuhan, tetapi memiliki perjalanan yang tak sama perkembangannya.
Sebagai sebuah senjata, sastra bisa saja dibelokkan untuk menembak yang lain. Sastra bisa menjadi senjata politik dan memihak kepada kebenaran politik. Sastra juga bisa menjadi prajurit kemiskinan untuk memperjuangkan nasib manusia yang papa agar bangkit dan menjadi seimbang dengan mereka yang gemah-ripah. Sastra juga bisa menjadi alat perjuangan bagi manusia-manusia yang tertindas untuk menendang kekuasaan yang menidurinya dengan semena-mena.
Tetapi semua itu hanya bagian dari kemungkinan sastra sebagai alat, di tangan manusia yang menciptakannya. Sastra itu sendiri, betapa pun sudah dibelokkan menjadi berbagai senjata, ia tetap saja memiliki, potensi dasarnya untuk menyentuh perasaan kemanusiaan dengan cinta. Sebab kalau tidak, tidak akan mungkin ia potensial untuk menjadi berbagai tembakan meriam.
Sastra yang memihak kepada kemanusiaan, dalam pergolakan politik, kadangkala terasa aneh. Ia bisa dituduh sebagai sebuah mimpi yang mengingkari sejarah, karena seperti mengingkari konteksnya. Namun sebenarnya, ia bersetia kepada konteks dasarnya sebagai suara dasar kemanusiaan yang berbicara untuk manusia secara umum.
Kenyataan di atas sering dipertentangkan. Sering membuat sastra menjadi blok-blok yang satu sama lain saling tembak-menembak. Sehingga bukan saja dunia kekuasaan dan dunia politik serta dunia ekonomi yang berperang, dunia sastra pun berperang. Para sastrawan pun gotok-gontokan. Sastra pun menjadi medan kurusetra dan para sastrawan saling membunuh, seperti melupakan hakekatnya untuk menuntun manusia kepada kesejahteraan.
Tetapi itulah persolan kita semua, persoalan seluruh sektor kehidupan kita semua di seluruh dunia. Setiap ciptaan manusia, kalau memiliki potensi luar biasa, akhirnya akan melahirkan kekuasaan. Dan kekuasaan itu kalau tidak bisa dipergunakan dengan baik, akan menciderakan manusia itu sendiri.
Kalau sastra menjadi begitu ampuh, ketika ia menjadi sebuah kekuatan, ia pun mengulangi sejarah kekuasaan yang lama. Sastra dapat dibalikkan untuk menyerang manusia. Sastra yang semula dibuat untuk melindungi manusia dari deraan kekuasaan, pada akhirnya bisa menjadi kekuasaan itu sendiri, yang tidak segan untuk merobek kemanusiaan.
Karena itu dalam kesempatan ini, saya ingin mengatakan sebuah kalimat: bahwa sastra adalah barang yang sangat canggih dan sekaligus sangat berbahaya, sehingga kita harus benar-benar super hati-hati untuk mempergunakannya untuk menembak.
sebaiknya mengajarkan sastra? Itu bukan pertanyaan pertama yang harus dijawab oleh seorang guru sastra. Karena mula-mula yang harus dijawabnya adalah: apakah sastra itu? Kemudian, menyusul pertanyaan: apa yang dimaksudkan dengan mengajarkan? Dapatkah sastra diajarkan? Lalu siapa saja yang hendak dibelajarkannya pada sastra.
Mungkin setelah itu seorang guru sastra mendapatkan beberapa pegangan untuk untuk menjawab, walau pun tidak benar-benar tuntas tentang: bagaimana mengajarkan pelajaran sastra. Tetapi sementara itu, pertanyaan lain sudah buru-buru hendak mengejar. Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya ada di luar sastra. Apa, siapa dan bagaimana sebenarnya apa yang disebut “guru” itu. Apakah itu sebuah lembaga atau orang?
Sastra menurut etimologinya adalah tulisan. Sedangkan kesusastraan adalah segala tulisan yang indah. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah yang tidak indah tidak termasuk sastra. Apa batas/syarat keindahan itu. Bagaimana kalau ada sebuah karya yang sama sekali tidak indah, tetapi mengandung ekspresi yang sangat penting, sehingga menuntun imajinasi mengembara ke sesuatu yang lain, yang mengantarkan ke pada makna-makna yang mendasar, sehingga menciptakan haru?. Apa itu juga keindahan? Kalau begitu keindahan itu bisa tidak indah?
Lalu bagaimana dengan sastra lisan yang menjadi salah satu kekuatan di dalam tradisi kita, apa itu bukan sastra hanya karena tidak tertulis? Sebuah sastra lisan Bali yang dikenal dengan nama Men Kelodang ( Bu Kelodang), misalnya, (atau ambillah sastra lisan yang mana pun) transkripsinya bila dibaca akan terasa patah dan tak indah.
Tetapi bila dibunyikan, lewat mulut seorang nenek untuk didengarkan oleh cucunya yang sedang tumbuh, ia menjadi sebuah tenung yang mengandung berbagai aspek. Di situ ada pendidikan moral yang diam-diam menjadi kekayaan batin calon penerus generasi itu di masa depan. Sastra lisan adalah sebuah lab, sebuah kepustakaan yang berwujud bunyi yang sangat besar artinya pada tradisi Timur yang menempatkan pembelajaran sebagai proses yang non formal yang disebut magang atau nyantrik..
Sastra dalam pemahaman saya, adalah segala bentuk ekspresi dengan memakai bahasa sebagai basisnya. Dengan membuat kapling yang begitu lebar dan umum, maka kita seperti menjaring ikan dengan pukat harimau. Bukan hanya apa yang tertulis, apa yang tidak tertulis pun bisa masuk dalam sastra. Tidak hanya yang su (indah), catatan-catatan, surat-surat, renungan, berita-berita, apalagi cerita dan puisi, anekdot, graffiti, bahkan pidato, doa dan pernyataan-pernyataan, apabila semuanya mengandung ekspresi, itu adalah sastra.
Dengan memandang sastra dengan kaca mata lebar seperti itu, lingkup sastra mendadak membludak menyentuh segala sektor kehidupan. Tidak ada satu sudut kehidupan pun yang tidak mempergunakan bahasa sebagai alat komunikasinya. Segala hal kena gigit oleh sastra. Teknologi dan dagang pun tak mampu bebas dari sastra.
Dengan kata lain, tak ada bidang yang tak terkait dengan sastra. Karenanya, bila sastra tiba-tiba menjadi sesuatu yang terisolir dalam kehidupan, pasti ada sesuatu yang telah sesat . Termasuk kesesatan dalam mengajarkan sastra itu sendiri.
Bila di masa lalu, pelajaran sastra hanya dikunyah oleh anak-anak bagian A (budaya) di SMA, bahkan kemudian nyaris dibuang, karena jam pelajarannya dikanibal oleh pelajaran tata bahasa, maka sebenarnya sudah terjadi kesalahan besar. Sastra harus dibelajarkan kepada semua jurusan, karena tanpa menguasai sastra, tata bahasa hanya akan menjadi alat menyambung pikiran/logika dan bukan menyambung rasa. Dan tanpa kehidupan rasa, semua cabang ilmu pengetahuan bukan hanya kering, membosankan, tidak manusiawi, tetapi juga tidak beradab.
Dengan memandang sastra seperti itu, tak ada yang tidak terjamah oleh sastra. Sastra sendiri sebaliknya juga tidak hanya terpatok pada dirinya sendiri. Sastra tak terkunci pada keindahan, kemolekan dan tulisan tok. Sastra tak hanya masturbasi kata-kata, tetapi idiom idiom bahasa, yang menjadi kanal-kanal ekspresi ke segala bidang, baik seni-budaya, teknologi, ekonomi maupun masalah-masalah sosial-politik, pendidikan, pemerintahan bahkan juga agama.
0 komentar:
Posting Komentar