PUTU WIJAYA:
“Tradisi Baru” yang bangkit setelah satu dekade berdirinya TIM, membuat pemetaan teater modern Indonesia tidak lagi ke Barat, tetapi pada puncak-puncak karya yang telah muncul di TIM. Barat tetap menjadi referensi, namun dasar-dasar penilaian selalu dikembalikan kepada akar kearifan lokal dalam tradisi teater Indonesia yang begitu kaya.
Keharusan untuk mementaskan naskah hasil sayembara DKJ di masa lalu, menyebabkan para peserta final mendapat beban yang relatif sama, yang menguji kemampuan mereka untuk mengekspresikan apa yang kini – 35 tahun kemudian – menjadi tema festival: realitas dan panggung pertunjukan.
Tetapi memasuki 90-an sampai kini, keinginan untuk kembali pada naskah-naskah Barat yang tanpa disertai oleh kebutuhan yang sungguh-sungguh, apalagi tidak didukung oleh kekuatan kelompok, dapat mengganggu pencapaian di samping juga akan mengembalikan teater Indonesia pada referensi Barat, pada peta teater Barat
Dalam keadaan seperti itu, peran sutradara amat penting. Kelompok-kelompok teater di Indonesia umumnya identik dengan sutradaranya. Mulai dari memahami kelemahan dan kekuatan kelompoknya, sampai pada memilih naskah, kemudian menganalisa naskah dan menyusun konsepnya, membuat fungsi sutradara bukan hanya sebagai pelatih pementasan, tetapi juga pemimpin kelompok.
Bila mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasinya sendiri, seorang sutradara bisa minta bantuan seorang dramaturg (ahli drama) yang bisa memberinya masukan, sehingga tidak melakukan kesalahan fatal dalam menafsirkan naskah.
Di sudut lain, pembuatan naskah adalah bidang yang memerlukan perhatian khusus. Tidak semua kelompok memiliki seorang penulis. Bahkan tidak semua penulis bisa menyusun lakon, apalagi membuat naskah yang bagus dan tepat untuk dimainkan kelompoknya. Bila dipaksakan akibatnya akan merugikan pementasan.
Untuk itu tema yang telah dipilih oleh DKJ sebagai bendera festival dalam setiap kali festival, benar-benar harus diikuti. Dan naskah yang sudah dibawakan dalam Babak Penyisihan ada baiknya dimungkinkan untuk dimainkan sampai ke final, kecuali kalau finalis tersebut memang ingin mengganti dengan naskah lain, asal tetap sesuai dengan tema festival.
Demikian catatan kami para juri. Namun di atas semua catatan-catatan itu, kami bersyukur bahwa FTJ telah berhasil dilangsungkan dengan meriah dan menelorkan pemenang yang tidak berbeda kualitasnya dengan tahun lalu.
Selamat berjuang, sampai ketemu lagi dalam pertarungan panggung yang lebih seru di tahun 2008.
Jakarta, 30 Desember 2007
DEWAN JURI FTJ 07
“Tradisi Baru” yang bangkit setelah satu dekade berdirinya TIM, membuat pemetaan teater modern Indonesia tidak lagi ke Barat, tetapi pada puncak-puncak karya yang telah muncul di TIM. Barat tetap menjadi referensi, namun dasar-dasar penilaian selalu dikembalikan kepada akar kearifan lokal dalam tradisi teater Indonesia yang begitu kaya.
Keharusan untuk mementaskan naskah hasil sayembara DKJ di masa lalu, menyebabkan para peserta final mendapat beban yang relatif sama, yang menguji kemampuan mereka untuk mengekspresikan apa yang kini – 35 tahun kemudian – menjadi tema festival: realitas dan panggung pertunjukan.
Tetapi memasuki 90-an sampai kini, keinginan untuk kembali pada naskah-naskah Barat yang tanpa disertai oleh kebutuhan yang sungguh-sungguh, apalagi tidak didukung oleh kekuatan kelompok, dapat mengganggu pencapaian di samping juga akan mengembalikan teater Indonesia pada referensi Barat, pada peta teater Barat
Dalam keadaan seperti itu, peran sutradara amat penting. Kelompok-kelompok teater di Indonesia umumnya identik dengan sutradaranya. Mulai dari memahami kelemahan dan kekuatan kelompoknya, sampai pada memilih naskah, kemudian menganalisa naskah dan menyusun konsepnya, membuat fungsi sutradara bukan hanya sebagai pelatih pementasan, tetapi juga pemimpin kelompok.
Bila mengalami kesulitan yang tidak bisa diatasinya sendiri, seorang sutradara bisa minta bantuan seorang dramaturg (ahli drama) yang bisa memberinya masukan, sehingga tidak melakukan kesalahan fatal dalam menafsirkan naskah.
Di sudut lain, pembuatan naskah adalah bidang yang memerlukan perhatian khusus. Tidak semua kelompok memiliki seorang penulis. Bahkan tidak semua penulis bisa menyusun lakon, apalagi membuat naskah yang bagus dan tepat untuk dimainkan kelompoknya. Bila dipaksakan akibatnya akan merugikan pementasan.
Untuk itu tema yang telah dipilih oleh DKJ sebagai bendera festival dalam setiap kali festival, benar-benar harus diikuti. Dan naskah yang sudah dibawakan dalam Babak Penyisihan ada baiknya dimungkinkan untuk dimainkan sampai ke final, kecuali kalau finalis tersebut memang ingin mengganti dengan naskah lain, asal tetap sesuai dengan tema festival.
Demikian catatan kami para juri. Namun di atas semua catatan-catatan itu, kami bersyukur bahwa FTJ telah berhasil dilangsungkan dengan meriah dan menelorkan pemenang yang tidak berbeda kualitasnya dengan tahun lalu.
Selamat berjuang, sampai ketemu lagi dalam pertarungan panggung yang lebih seru di tahun 2008.
Jakarta, 30 Desember 2007
DEWAN JURI FTJ 07
- Jajang C. Noer
- Seno Joko Suyono
- Radhar Panca Dahana
- Danarto
- Putu Wijaya
0 komentar:
Posting Komentar