Dalam pandangan
saya yang jauh berbeda dengan pandangan dik indah yang menilai segalanya dari
kacamata instan sedang saya memandang segalanya dri kacamata proses, tentu
kalau di hadap hadapkan akan berbentturan.
Mertuaku yang
aku hormati,
Dengan kacamata
yang berbeda tentunya menghasilkan pandangan yang berbeda, saya yang berlatar
belakang petani , yang semua mesti prihatin , itung itungan, tentu beda dengan
prinsip anak jendral , yang kalau minta apa mesti segra , dan harus keturutan ,
kalau nggak keturutan lantas ngambeg , minggat , ndelik , cari perhatian ,
golek masalah , melempar masalah kea rah yang berlawanan biar saya di salahkan
banyak orang dan dipermalukan di depan banyak orang. Itu maah biasa , seperti
lakon film filem saja . dan sekarang saya ini baru benar-benar bermasalah dengan anak jenderal itu, dan anak jenderal
itu adalah anak bapak dan ibu ini .
sekali kenak hatinya , mrembetnya ke mana-mana , dendamnya lama pulih. Lalu
ibarat hewan lalu keluar taring dan tajinya, selalu ingin bertengkar , bertikai
, mencari masalah yang nggak ada relevansinya untuk dibawa – bawa ke ranahnya ,
yang intinya perburuan kepuasan dan ekonomi . dalam keadaan seperti ini kalau
cara bapak saya mesti bagaimana , sedang saya sendiri juga berada dalam keadaan
yang sama dengan dik Indah, Repot Bukan
? kapan keadaan ini berakhir dengan damai dalam keadaan sadar- sesadar
sadarnya.
Bukankah juga
kejadian seperti ini sangat alami , seperti yang di alami setiap orang , di
fase perkawinan 10 sampai 20 tahun perkawinan . pergolakan pemikiran yang
berdampak sistemik demikian bagi saya , saya anggap biasa, apalagi saya sudah
biasa di buang bapak dan ibuk di peesantren , bahkan sampai bertahun tahun. Di
belahan bumi dunia lain barangkali orang
kaget, tapi saya berusaha untuk mengukur pandangan saya untuk saya serasikan
tetapi tak juga sama seperti dik Indah yang hebat menghadapi saya , saya sangat
menghargai penyataan dik indah entah
benar atau tidak kalau dia sudah tidak
kuat jadi istri saya ? benerkah begitu , atau benerkah mas didik itu cengkiling
dan terkenal suka memukul ? monggo lah bapak dan ibu teliti , lukanya dimana ?
lukanya itu dendam di hati , luka lama , saling cemburu yang mendarah daging , berurat berakar di pendam
dik indah bertahun tahun . bagi saya mendingan begitu dan peris tiwa ini
terjadi untuk menguji keaslian mana emas dan mana loyangnya , kalau saya benar
benar emas tentu dik indah wegah melepas kalau Loyang yang terserah kalau di
rongsokke .pendapat saya lagi , menangis dan meratap itu ora mareki , ora
mateni . tetapi kelaparan , tidak ada yang di makan dan diminum sehari hari
itulah yang membunuh . hanya di kampleng , di tempeleng orang sehari pulih , ora mateni kok buu ,
monggo lah jangan njerok njerokke masalah . wong sing njerok njerokke masalah itu Ina dan Fauzi ,
di tambah ibu Asih ya ibu saya sendiri
yang memang kedonyan dan Rangkus so al
Warisan , gendheng olehe pengin apik , sampek tego ngorbanke kulo , sekalipun
anake dewe. Milo kulo seneng kalih njenengan menawi mbeneraken , mbelani Indah
, sebab tiyang sepuh panci kedahe kados
mekaten , milo kulo panci seneng , ayem , lan iklas dados mantu penjenengan lan
ugi kulo iklas menawi Goris lan Hilda
njenangan asuh , njenengan awasi ,awat, await, sebab menurun sifat keras
saya dan sikap pekoknya emboke , jadi double kerase.Milo nggih ampaun di kerasi kenceng kenceng , tapi nggih ampun
kekendhonen , menawi bapak lan ibu morosepuh sampun mboten tresno , mboten
pitados kalian kulo Mas Didik. Apapun kejadian efek dari tindakan salah mesti adal bayarannya ,
dan kesalahan saya memang harus di tebus mahal , milo kulo manut mawon ancasane
Indah , pikajengipun menopo , badhe kados pundi kulo turuti,.. say punya cara
sendiri dan sensitive kalau mengenai soal rasa , dengan hokum terbalik dengan
apa yang di nyatakan . Nodi Cerai (
artosipun Butuh perhatian lebih dan saying yang lembut dari saya ), saya
memahami istri dan anak – anak saya
dengan bahasa hati , yuswo mpun sekawan
ndoso buuk , mboten pantes malih kepruk-keprukan tinju. Bahasa ngoten niku bahasane
wong loro ati , marah dan geram—nek dituruti akan makin tidak baik , tidak adil
dan tidak netral , dan yang mengendarai masalah beginian saya pastikan orang jahat, dan tidak ngerti
rahasianya rumah tangga. Seninya berumah
tangga. Saya ngerti Mertua marah kepada Saya , saya juga yakin mertua tidak
akan membunuh saya , dan saya juga nggak tegel sakit hatinya mertua kepada saya
, apalagi kok membuat sakit hati mertua , saya sadar saya nggak bisa membantu
apa-apa kok malah menuntut macem , macem. Sangat tidak elegan dan tidak etis
dalam pikiran saya . say juga sadar sesadar-sadarnya , siapa saya , posisi saya
,dan kapasitas saya sekarang. Yaitu sedang di gembleng prose salami yang tak
bisa di pisah pisahkan dari fase pembelajaran , dan pendewasaan sikap dan
fikiran indah dalam memperlakukan saya , ehh siapa tahu dengan masuk ke
keluarga- keluarga orang lain ia dapat memetik manfaat , dan pelajaran
yang berharga dan hikamah yang akhirnya sadar untuk kembali baik-baik kepada
saya , bahwa semua keluarga mengalaminya , itu baru sebagian kecil sepenggal
kisah dan seni bercinta , berkeluarga, berumah tangga ?. hanya caranya orang itu macem macem , lain lading lain belalang,
lain otak lain pandangan, lain lubuk lain pula ikannya. Proses kumpul
dan pisah itu juga prose salami,siangnya pisah
malamnya kumpul , kadang setelah bertempur hebat mati matian habis
habisan , cintanya orang itu malah semakin dalam dan semakin besar , sebab dia
kan belajar cara baru bagaimana
membahagiakan pasangannya , saya yakin pula pada saat saat tertentu dik indah
pasti membanggakan saya , menyanjung saya di belakang saya di depan teman
temannya dan tidak serta merta menjelek jelekkan saya . sebab sejelek jeleknya
saya , saya juga bekas suaminya , soal
kembali atau tidak sudah tak jadi soal , sebab sementara ini ia merasa sebagai
orang lain yang bagi saya dia bukan dirinya lagi ,dan dia bukan yang dulu lagi.
Kalau semangat untuk berpisah sudah bulat , sumonggo bapak dan ibu atur saja ,
kalau sudah tak bisa di rem dan di hentikan , ibarat treg remnya blong.. ya
silakan saja kalau mau nabrak –nabrak tembok marka jalan , atau nglindesi
pejalan kaki lain , sebab pelanggaran kesusilaan sampai kapanpun ada hukumannya
dan dirinya sendiri yang menilainya , bukan orang lain lagi , orang lain hanya kelecam klecem saja , sambil bergumam
kok tego temen yo dik Indah ninggal mas Didik ?..suatu hal yang berada di luar
perkiraan . dengan bertambahnya umur
kukira dik Indah tambah dewasa , apalagi dengan bertambahnya tanggung
jawab . aku pun memaklumi dan terobosan
apapun yang dilakukan Indah pasti beralasan , karena aku di sembunyikan dan alasn indah pasti
bersebrangan dengan urghensi saya., atau mungkin metode penyelamatan diri dari
bahaya , untuk menangkal masalah yang menjerat dirinya dan diri saya ,
sebagaimana yang kusampaikan dahulu dahulu
Pak ,.karena itu bagi orang yang tidak normal , dan tidak genius
mencermati masalah saya dan indah ini mesti kepalanya pusing . semestinya dik
Indah tak poerlu pusing dengan urusan pertanyaan ini , sebab jawabannya di
tangan dia sendiri dan di tangan saya , tinggal dia terbuka sama saya , sebab
rahasianya ada di dia dan saya , orang di luar itu nggak boleh turun tangan ,
urun rembug dan turut campur, bahkan negarapun nggak boleh.itulah kekuatan keluarga dan rumah
tangga.lain halnya kalau dia sudah jandanya Pak didik, siapapun bebas dan boleh
ulik-ulik , ungkit ungkit , uthik uthik gurem ceker ceker latu panas., lalu
membuat kraman kekacauan yang lebuh besar, melibatkan system dan orang
tertentu, keadaan tertentu , strategi tertentu dan taktik tertentu untuk
menahan saya . dan itu mesti terencana yang mateng . bagi saya yang bekas
militer pula , suatu tindakan –tindakan tegas terhadap pelanggaran
disiplin adalah keharusan untuk
menghormati eksistensi organisasi atau lembaga . dan pemecahannya mesti
mengikuti arus yang besar secara poling dan demokrasi , sepakat , mufakat,
tindakannya terpola, dan bis dipertanggung jawabkan secara Moral dan kenegaraan.
Oleh karena itu sekiranya saya salah tentu bapak ibu mengerti tidak sepenuhnya
seratus persen salah saya , monggo di gragapi dhadhane masing masing , eh
seandainya saya berada di posisinya pa didik , barangkali malah tidak kuat. Kabeh masalah niku ko
pikirane , lak ngih ngoten a pak. Cobi
ibarat kulo teng rumah mewah , AC , dipun cukupi makane , di wenehi duwit akeh , tapi pikiran kacau , seperti terpola
terpenjara agenda orang lain , betapa tersiksanya. Orang terpaksa itu orang
yang tersiksa , kalau kembalinya dik indah kepada saya terpaksa untuk apa
kembali hanya buang buang masa ingkubasi. Malah makin susah
nanganinya kalau dia kumat meneh , sebab gejala menang-menangan dan pengen
ngatsi saya , saya disuruh selalu manut dia
itu masih dominan , sewaktu dipertemukan di polsek Winong sama polsek
winong.baru baru ini. Dia juga masih berpandangan negative dengan kepada saya.
Dan penanganan masalah berkaitan pelanggaran aturan rumah tangga kalau tak
sepandangan juga susah seperti orang yang beda keyakinan , saya Santri , dia
pake aturan Umum , itu saja sudah susah dipertemukan kalau yang sebalah tisak
sadar. Maka itu saya minta dia sedikit lah kursus dan belajar agama sedikit di
PPA, BP4 Depag Pati, untuk di bim bing soal pernikahan dan berumah tangga yang
islami. Dan tidak lagi berumah tangga nganggo coro Abri kados yang slalu di contohkan mertua .
artinya saya disuruh manut seprti di cucuk hidungnya sep[erti Bapak .dan
meninggalkan jejak jejak perang begituan.
Di lain pihak
kuakui saya salut dan bangga, juga sependapat dengan mertua walau tidak
sepenuhnya sekiranya mertua melonggarkan sedikit haluan pandangannya untuk
mengerti posisi Mantu.. saya acungi jempol etos kerja dik Indah soal di meja
dunia kerja , Hebat. Saya bahkan tak sangsikan itu.
Cumak saja dia
tak mampu membagi mengklasifikasi , kapan berkecimpung di dunia kerja , dan
kapan waktu untuk keluarga , membina
rumah tangga.dan kalau mau terbuka saya pasti menerima pendapatnya sejauh
pendapatnya wajar dan nilai lebih dan nggak beresiko. Sebab kehidupan tak lain
adalah soal pola hidup yang dipilih orang untuk melangsungkan keturunannya dan
menurunkan sifat dan warisan genetika yang dimiliki induk dulunya. Lha kalau indah melepaskan pilihannya sendiri
dan selalu manut saj dengan pandangan mertuaa,
apa saya ini suaminya mertua , secara lahiriah suami indah secara
batiniah saya kok malah koyok jadi
suaminya mertua. Sebab selama ini terkesan indah sama sekali tidak
memiliki otonomi dependensi dari orisinalitas berfikirnya sendiri, melainkan
membeo ,membebek saj sama pendapat dan
pandangan mertua. Saya hanya ingin Indah memiliki identitas tersendiri,
keunikan tersendiri, memiliki pendapat pendapat dan pandangan pandangan
sendiri. Itulah yang dinamkan kemampuan. Selam ini kan pandangannya selalu
terpecah belah dan tgidak utuh spenuhnya. Dia sama sekali tak tahu mesti duduk
di sebelah mana , memainkan peran sebagai apa, dan sampai kapan serta apa
capainnya itu. Pandangan yang terbelah seprti itu berbahaya , dan itu pulalah
yang emmbuatnya pusing sendiri sebab bgaimanapun suatu keputusan harus terukur,
terencana , jenis kebijakannya apa, didiskusikan panjang dan lebar . mana yang harus di prioritaskan lebih dulu ,
dan mana yang bisa di tunda belakngan. Semestinya memang ada harus ada pihak
pihak yang netral dan tiddak berkepentingan untuk memfasilitasi , memediasikan
perkara saya dengan perkara indah ini
kontra konsep perkawinan yang di kehendaki masing masing klien . sebab
pengambilan keputusan tanpa tahu tujuannya dan dampaknya , artinya sama saja
bunuh diri. Meliaht seberapa besar porsi proses pengambilan kesimpulan itu di
gunakan.
Setiap keluarga tentu saja tidak perlu sama ,
baik pola maupun cara menghendel masalah . ibarat bola atas n berbeda dengan
peraturan bola bawah. Tentu masih ada
peran dan pengaruh orang lain dalam kehidupa suatu orang. Kehadiran orang yang
klain yang tak berkepentingan sekalipun mestinya di akomodir , di konfrontir,
agar tidak terjadi kerancuannnberfikir dan bertindak , atau hanya karena pengaruh dri akibat kurang mendapat respond
atas keputusan tindakan yang di pilih. Juga tentu saja mesti sabar danmekstra
hati-hati dalam menimbang memilah dan mngklasifikasi, sebelum keputusan di buat
guna mencegah hal –hal yang sama sekali
tak di inginkan secara sporadic, tiba
TIBA, GEK GEK., semua tergantung pada orang melihat keputusan itu final
atau masih mngandung penafsiran ulang apakah ada harapan keuntungan atau bahkan
merugikan . kalau orang mau sedikit menahan diri dan mau mendengar masukan dan
kritikan tentu ia akan lebih mengetahui
lebih dalam, karena banyaknya permasalahan pengecoh dan bukan persoalan intinya
yang menyita perhatian yang menyita waktu dan tenaga , fikiran,perasaan . Yang
akibatnya jutru negative membawa ke jurang kekecewaan,penyesalan,kekesalan berkepanjangan dan keputus asaan yang saya
kira juga akan menyebabkan kerugian sebab keluarga semuanya. Sebab keluarga itu
merupakan satu kesatuan tak terpisahkan yang utuh dan tak bisa di bagi- bagi,
dimana semuanya punya peran , dan semuanya punya arti. Artinya lagi bolak balik
tidak diperlukan pihak luar terlibat
dalam pengambilan keputusan yang di luar
kewenangannya .
Mantu,
0 komentar:
Posting Komentar