Selasa, 01 Oktober 2013

REKAYASA KASUS



Dalam pandangan saya yang jauh berbeda dengan pandangan dik indah yang menilai segalanya dari kacamata instan sedang saya memandang segalanya dri kacamata proses, tentu kalau di hadap hadapkan akan berbentturan.
Mertuaku yang aku hormati,
Dengan kacamata yang berbeda tentunya menghasilkan pandangan yang berbeda, saya yang berlatar belakang petani , yang semua mesti prihatin , itung itungan, tentu beda dengan prinsip anak jendral , yang kalau minta apa mesti segra , dan harus keturutan , kalau nggak keturutan lantas ngambeg , minggat , ndelik , cari perhatian , golek masalah , melempar masalah kea rah yang berlawanan biar saya di salahkan banyak orang dan dipermalukan di depan banyak orang. Itu maah biasa , seperti lakon film filem saja . dan sekarang saya ini baru benar-benar bermasalah  dengan anak jenderal itu, dan anak jenderal itu adalah  anak bapak dan ibu ini . sekali kenak hatinya , mrembetnya ke mana-mana , dendamnya lama pulih. Lalu ibarat hewan lalu keluar taring dan tajinya, selalu ingin bertengkar , bertikai , mencari masalah yang nggak ada relevansinya untuk dibawa – bawa ke ranahnya , yang intinya perburuan kepuasan dan ekonomi . dalam keadaan seperti ini kalau cara bapak saya mesti bagaimana , sedang saya sendiri juga berada dalam keadaan yang sama dengan dik Indah,  Repot Bukan ? kapan keadaan ini berakhir dengan damai dalam keadaan sadar- sesadar sadarnya.
Bukankah juga kejadian seperti ini sangat alami , seperti yang di alami setiap orang , di fase perkawinan 10 sampai 20 tahun perkawinan . pergolakan pemikiran yang berdampak sistemik demikian bagi saya , saya anggap biasa, apalagi saya sudah biasa di buang bapak dan ibuk di peesantren , bahkan sampai bertahun tahun. Di belahan  bumi dunia lain barangkali orang kaget, tapi saya berusaha untuk mengukur pandangan saya untuk saya serasikan tetapi tak juga sama seperti dik Indah yang hebat menghadapi saya , saya sangat menghargai penyataan dik indah  entah benar atau tidak  kalau dia sudah tidak kuat jadi istri saya ? benerkah begitu , atau benerkah mas didik itu cengkiling dan terkenal suka memukul ? monggo lah bapak dan ibu teliti , lukanya dimana ? lukanya itu dendam di hati , luka lama , saling cemburu yang  mendarah daging , berurat berakar di pendam dik indah bertahun tahun . bagi saya mendingan begitu dan peris tiwa ini terjadi untuk menguji keaslian mana emas dan mana loyangnya , kalau saya benar benar emas tentu dik indah wegah melepas kalau Loyang yang terserah kalau di rongsokke .pendapat saya lagi , menangis dan meratap itu ora mareki , ora mateni . tetapi kelaparan , tidak ada yang di makan dan diminum sehari hari itulah yang membunuh . hanya di kampleng , di tempeleng orang  sehari pulih , ora mateni  kok buu ,  monggo lah jangan njerok njerokke masalah . wong sing  njerok njerokke masalah itu Ina dan Fauzi , di tambah ibu Asih ya  ibu saya sendiri yang memang kedonyan dan Rangkus  so al Warisan , gendheng olehe pengin apik , sampek tego ngorbanke kulo , sekalipun anake dewe. Milo kulo seneng kalih njenengan menawi mbeneraken , mbelani Indah , sebab tiyang sepuh panci kedahe  kados mekaten , milo kulo panci seneng , ayem , lan iklas dados mantu penjenengan lan ugi kulo iklas menawi Goris lan Hilda  njenangan asuh , njenengan awasi ,awat, await, sebab menurun sifat keras saya dan sikap pekoknya emboke , jadi double kerase.Milo nggih ampaun  di kerasi kenceng kenceng , tapi nggih ampun kekendhonen , menawi bapak lan ibu morosepuh sampun mboten tresno , mboten pitados kalian kulo Mas Didik. Apapun kejadian efek  dari tindakan salah mesti adal bayarannya , dan kesalahan saya memang harus di tebus mahal , milo kulo manut mawon ancasane Indah , pikajengipun menopo , badhe kados pundi kulo turuti,.. say punya cara sendiri dan sensitive kalau mengenai soal rasa , dengan hokum terbalik dengan apa yang di nyatakan .  Nodi Cerai ( artosipun Butuh perhatian lebih dan saying yang lembut dari saya ), saya memahami istri dan  anak – anak saya dengan bahasa  hati , yuswo mpun sekawan ndoso buuk , mboten pantes malih kepruk-keprukan tinju. Bahasa ngoten niku bahasane wong loro ati , marah dan geram—nek dituruti akan makin tidak baik , tidak adil dan tidak netral , dan yang mengendarai masalah beginian  saya pastikan orang jahat, dan tidak ngerti rahasianya rumah tangga. Seninya  berumah tangga. Saya ngerti Mertua marah kepada Saya , saya juga yakin mertua tidak akan membunuh saya , dan saya juga nggak tegel sakit hatinya mertua kepada saya , apalagi kok membuat sakit hati mertua , saya sadar saya nggak bisa membantu apa-apa kok malah menuntut macem , macem. Sangat tidak elegan dan tidak etis dalam pikiran saya . say juga sadar sesadar-sadarnya , siapa saya , posisi saya ,dan kapasitas saya sekarang. Yaitu sedang di gembleng prose salami yang tak bisa di pisah pisahkan dari fase pembelajaran , dan pendewasaan sikap dan fikiran indah dalam memperlakukan saya , ehh siapa tahu dengan  masuk ke  keluarga- keluarga orang lain ia dapat memetik manfaat , dan pelajaran yang berharga dan hikamah yang akhirnya sadar untuk kembali baik-baik kepada saya , bahwa semua keluarga mengalaminya , itu baru sebagian kecil sepenggal kisah dan seni bercinta , berkeluarga, berumah tangga ?. hanya caranya  orang itu macem macem , lain lading lain  belalang,  lain otak lain pandangan, lain lubuk lain pula ikannya. Proses kumpul dan pisah itu juga prose salami,siangnya pisah  malamnya kumpul , kadang setelah bertempur hebat mati matian habis habisan , cintanya orang itu malah semakin dalam dan semakin besar , sebab dia kan  belajar cara baru bagaimana membahagiakan pasangannya , saya yakin pula pada saat saat tertentu dik indah pasti membanggakan saya , menyanjung saya di belakang saya di depan teman temannya dan tidak serta merta menjelek jelekkan saya . sebab sejelek jeleknya saya , saya juga bekas  suaminya , soal kembali atau tidak sudah tak jadi soal , sebab sementara ini ia merasa sebagai orang lain yang bagi saya dia bukan dirinya lagi ,dan dia bukan yang dulu lagi. Kalau semangat untuk berpisah sudah bulat , sumonggo bapak dan ibu atur saja , kalau sudah tak bisa di rem dan di hentikan , ibarat treg remnya blong.. ya silakan saja kalau mau nabrak –nabrak tembok marka jalan , atau nglindesi pejalan kaki lain , sebab pelanggaran kesusilaan sampai kapanpun ada hukumannya dan dirinya sendiri yang menilainya , bukan orang lain lagi , orang lain  hanya kelecam klecem saja , sambil bergumam kok tego temen yo dik Indah ninggal mas Didik ?..suatu hal yang berada di luar perkiraan . dengan bertambahnya umur  kukira dik Indah tambah dewasa , apalagi dengan bertambahnya tanggung jawab . aku pun memaklumi dan terobosan  apapun yang dilakukan Indah pasti beralasan , karena  aku di sembunyikan dan alasn indah pasti bersebrangan dengan urghensi saya., atau mungkin metode penyelamatan diri dari bahaya , untuk menangkal masalah yang menjerat dirinya dan diri saya , sebagaimana yang kusampaikan dahulu dahulu  Pak ,.karena itu bagi orang yang tidak normal , dan tidak genius mencermati masalah saya dan indah ini mesti kepalanya pusing . semestinya dik Indah tak poerlu pusing dengan urusan pertanyaan ini , sebab jawabannya di tangan dia sendiri dan di tangan saya , tinggal dia terbuka sama saya , sebab rahasianya ada di dia dan saya , orang di luar itu nggak boleh turun tangan , urun rembug dan turut campur, bahkan negarapun nggak  boleh.itulah kekuatan keluarga dan rumah tangga.lain halnya kalau dia sudah jandanya Pak didik, siapapun bebas dan boleh ulik-ulik , ungkit ungkit , uthik uthik gurem ceker ceker latu panas., lalu membuat kraman kekacauan yang lebuh besar, melibatkan system dan orang tertentu, keadaan tertentu , strategi tertentu dan taktik tertentu untuk menahan saya . dan itu mesti terencana yang mateng . bagi saya yang bekas militer pula , suatu tindakan –tindakan tegas terhadap pelanggaran disiplin  adalah keharusan untuk menghormati eksistensi organisasi atau lembaga . dan pemecahannya mesti mengikuti arus yang besar secara poling dan demokrasi , sepakat , mufakat, tindakannya terpola, dan bis dipertanggung jawabkan secara Moral dan kenegaraan. Oleh karena itu sekiranya saya salah tentu bapak ibu mengerti tidak sepenuhnya seratus persen salah saya , monggo di gragapi dhadhane masing masing , eh seandainya saya berada di posisinya pa didik , barangkali  malah tidak kuat. Kabeh masalah niku ko pikirane , lak ngih ngoten a pak.  Cobi ibarat kulo teng rumah mewah , AC , dipun cukupi makane , di wenehi duwit  akeh , tapi pikiran kacau , seperti terpola terpenjara agenda orang lain , betapa tersiksanya. Orang terpaksa itu orang yang tersiksa , kalau kembalinya dik indah kepada saya terpaksa untuk apa kembali  hanya  buang buang masa ingkubasi. Malah makin susah nanganinya kalau dia kumat meneh , sebab gejala menang-menangan dan pengen ngatsi saya , saya disuruh selalu manut dia  itu masih dominan , sewaktu dipertemukan di polsek Winong sama polsek winong.baru baru ini. Dia juga masih berpandangan negative dengan kepada saya. Dan penanganan masalah berkaitan pelanggaran aturan rumah tangga kalau tak sepandangan juga susah seperti orang yang beda keyakinan , saya Santri , dia pake aturan Umum , itu saja sudah susah dipertemukan kalau yang sebalah tisak sadar. Maka itu saya minta dia sedikit lah kursus dan belajar agama sedikit di PPA, BP4 Depag Pati, untuk di bim bing soal pernikahan dan berumah tangga yang islami. Dan tidak lagi berumah tangga nganggo coro  Abri kados yang slalu di contohkan mertua . artinya saya disuruh manut seprti di cucuk hidungnya sep[erti Bapak .dan meninggalkan jejak jejak perang begituan.
Di lain pihak kuakui saya salut dan bangga, juga sependapat dengan mertua walau tidak sepenuhnya sekiranya mertua melonggarkan sedikit haluan pandangannya untuk mengerti posisi Mantu.. saya acungi jempol etos kerja dik Indah soal di meja dunia kerja , Hebat. Saya bahkan tak sangsikan itu.
Cumak saja dia tak mampu membagi mengklasifikasi , kapan berkecimpung di dunia kerja , dan kapan waktu untuk  keluarga , membina rumah tangga.dan kalau mau terbuka saya pasti menerima pendapatnya sejauh pendapatnya wajar dan nilai lebih dan nggak beresiko. Sebab kehidupan tak lain adalah soal pola hidup yang dipilih orang untuk melangsungkan keturunannya dan menurunkan sifat dan warisan genetika yang dimiliki induk dulunya.  Lha kalau indah melepaskan pilihannya sendiri dan selalu manut saj dengan pandangan mertuaa,  apa saya ini suaminya mertua , secara lahiriah suami indah secara batiniah saya kok malah koyok jadi  suaminya mertua. Sebab selama ini terkesan indah sama sekali tidak memiliki otonomi dependensi dari orisinalitas berfikirnya sendiri, melainkan membeo ,membebek saj  sama pendapat dan pandangan mertua. Saya hanya ingin Indah memiliki identitas tersendiri, keunikan tersendiri, memiliki pendapat pendapat dan pandangan pandangan sendiri. Itulah yang dinamkan kemampuan. Selam ini kan pandangannya selalu terpecah belah dan tgidak utuh spenuhnya. Dia sama sekali tak tahu mesti duduk di sebelah mana , memainkan peran sebagai apa, dan sampai kapan serta apa capainnya itu. Pandangan yang terbelah seprti itu berbahaya , dan itu pulalah yang emmbuatnya pusing sendiri sebab bgaimanapun suatu keputusan harus terukur, terencana , jenis kebijakannya apa, didiskusikan panjang dan lebar .  mana yang harus di prioritaskan lebih dulu , dan mana yang bisa di tunda belakngan. Semestinya memang ada harus ada pihak pihak yang netral dan tiddak berkepentingan untuk memfasilitasi , memediasikan perkara saya dengan perkara indah ini  kontra konsep perkawinan yang di kehendaki masing masing klien . sebab pengambilan keputusan tanpa tahu tujuannya dan dampaknya , artinya sama saja bunuh diri. Meliaht seberapa besar porsi proses pengambilan kesimpulan itu di gunakan.
 Setiap keluarga tentu saja tidak perlu sama , baik pola maupun cara menghendel masalah . ibarat bola atas n berbeda dengan peraturan bola bawah.  Tentu masih ada peran dan pengaruh orang lain dalam kehidupa suatu orang. Kehadiran orang yang klain yang tak berkepentingan sekalipun mestinya di akomodir , di konfrontir, agar tidak terjadi kerancuannnberfikir dan bertindak , atau hanya karena  pengaruh dri akibat kurang mendapat respond atas keputusan tindakan yang di pilih. Juga tentu saja mesti sabar danmekstra hati-hati dalam menimbang memilah dan mngklasifikasi, sebelum keputusan di buat guna  mencegah hal –hal yang sama sekali tak di inginkan secara sporadic, tiba  TIBA, GEK GEK., semua tergantung pada orang melihat keputusan itu final atau masih mngandung penafsiran ulang apakah ada harapan keuntungan atau bahkan merugikan . kalau orang mau sedikit menahan diri dan mau mendengar masukan dan kritikan  tentu ia akan lebih mengetahui lebih dalam, karena banyaknya permasalahan pengecoh dan bukan persoalan intinya yang menyita perhatian yang menyita waktu dan tenaga , fikiran,perasaan . Yang akibatnya jutru negative membawa ke jurang kekecewaan,penyesalan,kekesalan  berkepanjangan dan keputus asaan yang saya kira juga akan menyebabkan kerugian  sebab keluarga semuanya. Sebab keluarga itu merupakan satu kesatuan tak terpisahkan yang utuh dan tak bisa di bagi- bagi, dimana semuanya punya peran , dan semuanya punya arti. Artinya lagi bolak balik tidak diperlukan pihak luar  terlibat dalam pengambilan keputusan  yang di luar kewenangannya .

Mantu,

KH. Ahmad Sholihul Hadi Abdil Han

0 komentar:

Posting Komentar