Risma sebagai punggawa Kota Surabaya, memiliki rencana untuk
menggratiskan angkutan umum perkotaan (angkot). Sopir angkot akan
diganjar dengan gaji sehingga para sopir tidak perlu pusing memikirkan
target penumpang dan bertindak ugal-ugalan demi kejar setoran. Terobosan
ini untuk mendorong masyarakat agar mau menggunakan angkot sebagai moda
transportasinya. Rencana angkot gratis tercetus dari mulut Bu Risma
sendiri pada acara Lokakarya Pengembangan Transportasi Perkotaan di
Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (20/11/2011). Rencananya, program angkot
gratis akan direalisasikan mulai tahun depan. Tentunya selain program
angkot gratis, tidak lupa pula diiringi dengan program peremajaan armada
angkotnya dengan menggandeng koperasi angkot yang ada. Modal peremajaan
angkot akan diberikan melalui koperasi angkot. Rute angkot pun akan
terkoneksi dengan sistem angkutan monorel dan trem yang juga akan
dikembangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Semoga terwujud.
Bandung tidak mau kalah, ternyata Ridwan Kamil pun memiliki ide yang serupa tapi tak sama. Sama-sama memiliki ide menggratiskan angkutan umum. Namun, jika Bu Risma menggratiskan angkutan umum, maka Kang Emil (panggilan Ridwan Kamil) memiliki rencana mengratiskan angkutan umum bis pada waktu-waktu tertentu.
Yang akan digarap oleh Ridwan Kamil adalah program naik bus gratis bagi pelajar dan naik bus gratis khusus untuk hari Senin. Dengan menjalankan program naik bus gratis di Hari Senin, diharapkan dapat mengurangi jumlah kendaraan yang tumpah ruah di jalanan Kota Bandung. Demikian yang disampaikan Ridwan Kamil di acara Lokakarya Pengembangan Transportasi Perkotaan di jakarta, Rabu (20/11/2013). Pemerintah Kota Bandung pun berencana untuk menambah frekwensi program naik bus gratis menjadi pagi dan sore hari jika jumlah bis nya mencapai 100 unit. Kita tunggu.
Sebenarnya sudah banyak kota-kota di dunia yang telah menerapkan kebijakan angkutan umum gratis. Salah satu contohnya adalah Kota Tallin di Estonia. Dalam 4 bulan sejak kota tersebut menerapkan kebijakan free public transport (angkutan publik gratis), kemacetan sudah jauh berkurang. Bahkan Kota Chengdu di China merasa perlu belajar pada Kota Tallin dalam penerapan free public transport. Kota Chengdu ingin mengatasi kemacetan yang senantiasa dialami oleh 14 juta penduduknya. Atau kita bisa berkaca pada Kota Dubai, yang menerapkan angkutan publik gratis setiap hari Jumat.
Semoga rencana-rencana kedua pemimpin jempol di atas segera terwujud, segera terealisasi. Agar keruwetan jalanan di kedua kota tersebut sedikit demi sedikit terurai, dan terselesaikan. Bagaimana dengan Jakarta? Jokowi dan Ahok pun memiliki rencana. Jakarta pun tengah berupaya mengurai kemacetan yang terjadi. Mencoba mengurai satu persatu benang kusut yang melilitnya. Jokowi dan Ahok harus lebih siap. Kemacetan yang ada sekarang akan ditambah dengan gempuran mobil murah yang terlihat mulai melanda Jakarta. Jokowi-Ahok memiliki strategi lain. Program ERP, monorel, MRT, tambahan armada bus Transjakarta, peremajaan kopaja, metromini, dsb sangat dinanti. Semua menunggu dengan harapan dan asa yang besar. Semoga. (Del)
Bandung tidak mau kalah, ternyata Ridwan Kamil pun memiliki ide yang serupa tapi tak sama. Sama-sama memiliki ide menggratiskan angkutan umum. Namun, jika Bu Risma menggratiskan angkutan umum, maka Kang Emil (panggilan Ridwan Kamil) memiliki rencana mengratiskan angkutan umum bis pada waktu-waktu tertentu.
Yang akan digarap oleh Ridwan Kamil adalah program naik bus gratis bagi pelajar dan naik bus gratis khusus untuk hari Senin. Dengan menjalankan program naik bus gratis di Hari Senin, diharapkan dapat mengurangi jumlah kendaraan yang tumpah ruah di jalanan Kota Bandung. Demikian yang disampaikan Ridwan Kamil di acara Lokakarya Pengembangan Transportasi Perkotaan di jakarta, Rabu (20/11/2013). Pemerintah Kota Bandung pun berencana untuk menambah frekwensi program naik bus gratis menjadi pagi dan sore hari jika jumlah bis nya mencapai 100 unit. Kita tunggu.
Sebenarnya sudah banyak kota-kota di dunia yang telah menerapkan kebijakan angkutan umum gratis. Salah satu contohnya adalah Kota Tallin di Estonia. Dalam 4 bulan sejak kota tersebut menerapkan kebijakan free public transport (angkutan publik gratis), kemacetan sudah jauh berkurang. Bahkan Kota Chengdu di China merasa perlu belajar pada Kota Tallin dalam penerapan free public transport. Kota Chengdu ingin mengatasi kemacetan yang senantiasa dialami oleh 14 juta penduduknya. Atau kita bisa berkaca pada Kota Dubai, yang menerapkan angkutan publik gratis setiap hari Jumat.
Semoga rencana-rencana kedua pemimpin jempol di atas segera terwujud, segera terealisasi. Agar keruwetan jalanan di kedua kota tersebut sedikit demi sedikit terurai, dan terselesaikan. Bagaimana dengan Jakarta? Jokowi dan Ahok pun memiliki rencana. Jakarta pun tengah berupaya mengurai kemacetan yang terjadi. Mencoba mengurai satu persatu benang kusut yang melilitnya. Jokowi dan Ahok harus lebih siap. Kemacetan yang ada sekarang akan ditambah dengan gempuran mobil murah yang terlihat mulai melanda Jakarta. Jokowi-Ahok memiliki strategi lain. Program ERP, monorel, MRT, tambahan armada bus Transjakarta, peremajaan kopaja, metromini, dsb sangat dinanti. Semua menunggu dengan harapan dan asa yang besar. Semoga. (Del)
0 komentar:
Posting Komentar