Praktik rekrutmen pegawai 'liar' di RSUD Nganjuk bakal menjadi bola
panas. Bahkan mengancam banyak orang yang diduga terlibat percaloan uang
pelicin untuk rekrutmen kurun waktu 2012 hingga pertengahan 2013 lalu.
Satu per satu para calo bakal berurusan dengan polisi setelah sejumlah
korban melaporkan kasusnya. Para pegawai liar tersebut masuk tidak
serentak, melalui jalur 'gelap'. Sebagian masuk lewat orang dalam RSUD
Nganjuk sendiri, lainnya lewat 'mafia'.
Untuk dapat diterima menjadi pegawai di RSUD Nganjuk, mereka harus
membayar uang pelicin rata-rata Rp 50 juta. Setelah membayar, mereka
kemudian dipekerjakan sebagai satpam, petugas kebersihan, pembantu
perawat, dan lainnya. Hanya sekitar pertengahan 2013 lalu, para pekerja
yang sudah bekerja berbulan-bulan, mendadak dipecat. Hal ini bersamaan
saat kasus dugaan korupsi proyek barang-barang farmasi RSUD Nganjuk
ditangani polisi. Informasinya, untuk menghilangkan jejak agar tidak
masuk dalam bidikan polisi, para pekerja yang disebutnya sebanyak 51
orang tersebut mendadak dipecat. Karuan saja, mereka yang sudah
menyetorkan uang pelicin itu protes dan minta kembali uang yang sudah
disetorkan.
Informasi yang dihimpun Anjukzone.com, skandal rekrutmen pegawai liar di RSUD Nganjuk ini melibatkan banyak orang. Mereka berasal dari orang dalam dan luar RSUD Nganjuk. Oknum pegawai negeri sipil (PNS), Kun disebut-sebut menjadi sanksi kunci terbongkarnya kasus tersebut.
Kun diduga juga memiliki jaringan lain, termasuk oknum petinggi rumah sakit tersebut yang memerintahkan untuk mengumpulkan uang dari calon pegawai.
Untuk itu, keberadaan Kun, hinggak ini terus dicari para korban rekrutmen pegawai yang dipecat. Bahkan mereka hingga rela menunggu berjam-jam di kantor tempat Kun berkerja sekarang. Hanya usaha mereka berbuah sia-sia, pasalnya Kun belakangan sering menghilang.
"Dicari di kantor juga tidak ada," jelas Ta, (50), salah satu keluarga korban penipuan Kun asal luar kabupaten Nganjuk itu. Namun demikian, Ta tidak berhenti mencari keberadaan Kun.
Penelusuran media ini ke sejumlah rekan sekantor Kun, sudah beberapa bulan ini terlihat gelisah dan tidak betah berlama-lama di kantor. Kun datang ke kantor sekitar jam 07.00, setelah itu menghilang dan tidak kembali.
"Katanya juga begitu, ketika saya ke kantornya, sedang keluar, tapi tidak kembali," sambung Ta.
Tak berhenti mencari keberadaan Kun, Ta pun mendatangi rumahnya dan hanya bertemu istrinya.
Sumber terpercaya lain koran ini mengungkapkan, Kun memang memiliki peran strategis ketika menjabat di RSUD Nganjuk. Untuk itu, Kun memiliki jaringan yang luas untuk menjalin komunikasi. Di antaranya, penegak hukum, wartawan, LSM, pengacara hingga para pejabat dan stakeholder penting di Nganjuk. Untuk itu, Kun memiliki peran sebagai 'penyambung' informasi dan pengepul uang dari luar.
"Biasanya uang titipan rekrutmen pegawai," ujar sumber yang mendengar penjelasan langsung dari Kun.
Para penyetor uang berasal dari berbagai pihak, mulai oknum wartawan, LSM, hingga anggota dewan. Kata sumber, Kun memang mendapat instruksi dari 'orang kuat' yang menurutnya juga bekerja di RSUD Nganjuk. "tapi dia(Kun,red) tidak menyebut siapa orang itu," katanya.
Peran Kun bukan hanya sebagai pengepul, tapi juga sebagai orang yang dipercaya. Kepadanya, Kun pernah mengutarakan jika dirinya belum lama mendapat perintah atasan untuk menyetor uang senilai Rp 300 juta kepada salah satu oknum PNS guru yang juga merangkan wartawan.
Pasalnya, oknum PNS guru tersebut dianggap sebagai bukan sembarang orang oleh para petinggi maupun internal RSUD Nganjuk. Pasalnya oknum tersebut dikabarkan kerap mengancam akan melaporkan praktik penyelewengan pejabat RSUD dalam melaksanakan proyek. "Katanya oknum PNS itu mengancam sambil membawa data lengkap proyek bermasalah, jadi tak berkutik," tutur sumber tersebut.
Bukan hanya itu, oknum PNS itu menurut cerita Kun seringkali meminta jatah, termasuk uang hasil makelar pegawai. Untuk meyakinkan kesepakatannya, oknum PNS tersebut dikabarkan juga menggunakan tangan anggota dewan. Wakil rakyat tersebut kemudian berperan sebagai perantara agar Kun mau menyetor uang kepada oknum PNS tersebut. "Kaget, dengar pengakuan dia (Kun,red), dewan kok ikut-ikutan," tegas sumber tersebut.
Humas Eko Santoso memilih tak banyak menanggapi kabar tersebut. Menurutnya, selama berdinas di RSUD Nganjuk dia tak pernah mendengar atau mendapat laporan perihal praktik percaloan pegawai di institusinya. "Setahu saya tidak ada yang seperti itu," bantahnya.
Informasi yang dihimpun Anjukzone.com, skandal rekrutmen pegawai liar di RSUD Nganjuk ini melibatkan banyak orang. Mereka berasal dari orang dalam dan luar RSUD Nganjuk. Oknum pegawai negeri sipil (PNS), Kun disebut-sebut menjadi sanksi kunci terbongkarnya kasus tersebut.
Kun diduga juga memiliki jaringan lain, termasuk oknum petinggi rumah sakit tersebut yang memerintahkan untuk mengumpulkan uang dari calon pegawai.
Untuk itu, keberadaan Kun, hinggak ini terus dicari para korban rekrutmen pegawai yang dipecat. Bahkan mereka hingga rela menunggu berjam-jam di kantor tempat Kun berkerja sekarang. Hanya usaha mereka berbuah sia-sia, pasalnya Kun belakangan sering menghilang.
"Dicari di kantor juga tidak ada," jelas Ta, (50), salah satu keluarga korban penipuan Kun asal luar kabupaten Nganjuk itu. Namun demikian, Ta tidak berhenti mencari keberadaan Kun.
Penelusuran media ini ke sejumlah rekan sekantor Kun, sudah beberapa bulan ini terlihat gelisah dan tidak betah berlama-lama di kantor. Kun datang ke kantor sekitar jam 07.00, setelah itu menghilang dan tidak kembali.
"Katanya juga begitu, ketika saya ke kantornya, sedang keluar, tapi tidak kembali," sambung Ta.
Tak berhenti mencari keberadaan Kun, Ta pun mendatangi rumahnya dan hanya bertemu istrinya.
Sumber terpercaya lain koran ini mengungkapkan, Kun memang memiliki peran strategis ketika menjabat di RSUD Nganjuk. Untuk itu, Kun memiliki jaringan yang luas untuk menjalin komunikasi. Di antaranya, penegak hukum, wartawan, LSM, pengacara hingga para pejabat dan stakeholder penting di Nganjuk. Untuk itu, Kun memiliki peran sebagai 'penyambung' informasi dan pengepul uang dari luar.
"Biasanya uang titipan rekrutmen pegawai," ujar sumber yang mendengar penjelasan langsung dari Kun.
Para penyetor uang berasal dari berbagai pihak, mulai oknum wartawan, LSM, hingga anggota dewan. Kata sumber, Kun memang mendapat instruksi dari 'orang kuat' yang menurutnya juga bekerja di RSUD Nganjuk. "tapi dia(Kun,red) tidak menyebut siapa orang itu," katanya.
Peran Kun bukan hanya sebagai pengepul, tapi juga sebagai orang yang dipercaya. Kepadanya, Kun pernah mengutarakan jika dirinya belum lama mendapat perintah atasan untuk menyetor uang senilai Rp 300 juta kepada salah satu oknum PNS guru yang juga merangkan wartawan.
Pasalnya, oknum PNS guru tersebut dianggap sebagai bukan sembarang orang oleh para petinggi maupun internal RSUD Nganjuk. Pasalnya oknum tersebut dikabarkan kerap mengancam akan melaporkan praktik penyelewengan pejabat RSUD dalam melaksanakan proyek. "Katanya oknum PNS itu mengancam sambil membawa data lengkap proyek bermasalah, jadi tak berkutik," tutur sumber tersebut.
Bukan hanya itu, oknum PNS itu menurut cerita Kun seringkali meminta jatah, termasuk uang hasil makelar pegawai. Untuk meyakinkan kesepakatannya, oknum PNS tersebut dikabarkan juga menggunakan tangan anggota dewan. Wakil rakyat tersebut kemudian berperan sebagai perantara agar Kun mau menyetor uang kepada oknum PNS tersebut. "Kaget, dengar pengakuan dia (Kun,red), dewan kok ikut-ikutan," tegas sumber tersebut.
Humas Eko Santoso memilih tak banyak menanggapi kabar tersebut. Menurutnya, selama berdinas di RSUD Nganjuk dia tak pernah mendengar atau mendapat laporan perihal praktik percaloan pegawai di institusinya. "Setahu saya tidak ada yang seperti itu," bantahnya.
0 komentar:
Posting Komentar