perhatikan selama ini, dari banyak para
pendukung Jokowi malah mengatakan bahwa Koalisi Merah Putih (KMP) tidak
pantas disandang oleh pihak pendukung Prabowo dan malah dipaksakan
diganti dengan sebutan “Koalisi Pendukung Prabowo” dan sangat nyata
dipakai oleh media TV seperti MetroTV didalam setiap pemberitaannya.
Inilah gambaran kekerdilan berpikir dari para pendukung Jokowi di PDIP
selama ini, termasuk kelompok MetroTV partai Nasdem.
Sangat jelas bagi kita semua dalam
menyaksikan Pilpres Juli 2014 yang lalu dimana kekuatan asing sangat
mendominasi strategi didalam negeri dan luar negeri untuk memenangkan
dalam segala cara kuda tunggangan mereka dengan cara berbagai bentuk
kampanye hitam. Para kapitalis asing beserta kelompok Pluralis bentukan
asing, sangat takut akan terjadinya perubahan peta politik Indonesia
keluar dari skenario mereka, dimana Prabowo Subianto bisa menang dalam
Pilpres Juli 2014 untuk itu segala cara-pun ditempuh agar bisa
mengalahkan dan menghancurkan karakter Prabowo sampai kini hingga 2019
mendatang. (Abah Pitung
Pada wawancara di TV-One, Prabowo
mengatakan bahwa berpolitik itu bagi saya adalah sebagai proses upaya
maksimal untuk bisa berbakti dan mewujudkan kemajuan, kesejahteraan
rakyat dan bangsa serta Negara Indonesia. KMP dan Prabowo akan mendukung
semua yang kaitannya dan tujuannya dengan pembangunan kesejahteraan
rakyat dan kami tidak akan menjegal serta selama ini, kami tidak pernah
merencanakan untuk menjegal pemerintah selama pemerintah selalu
mengutamakan kepentingan serta kemanjuan rakyat, bagsa dan Negara
Indonesia. KMP diwujudkan adalah untuk menjaga keseimbangan pengawasan
agar sesuatu yang melenceng dalam kebijaksanaan pemerintah bisa
dikritisi agar kembali berjalan pada jalurnya.
Lucunya para penulis kacung asing,
masih saja mengatakan bahwa daulat simpati para pendukung yang diberikan
kepada Prabowo merupakan hal yang disesali karena terbentuknya KMP,
padahal justru Jokowilah yang mengalami penurunan simpati karena Kabinet
yang akan diumumkan Jokowi terdiri dari orang-orang yang sangat
transaksional melanggar janji Jokowi dahulu (tidak akan transaksional
dalam pembentukan Kabinet), begitu juga ketika Jokowi menyambut
bergabungnya PPP, akan memberikan kedudukan jabatan menteri kepada kader
PPP.
Terjawab sudah bahwa semua yang
dikatakan oleh Jokowi dan para pendukungnya di KIH termasuk semua fitnah
yang pernah ditujukan kepada Prabowo adalah tidak terbukti dan
dinyatakan secara lisan dan langsung oleh Prabowo sendiri kepada seluruh
masyarakat Indonesia. Hal ini bisa di baca dan dimaknai lebih dalam
lagi, setelah adanya kunjungan Jokowi untuk meminta bertemu kepada
Prabowo hari Jumat, 17 Oktober 2014, kisaran jam 09.30 pagi.
.Permintaan untuk bertemu dengan Prabowo
yang diinginkan oleh Jokowi adalah laku lumrah dan wajar saja, karena
seorang yang bakal memimpin mau-tidak mau harus menjalankan politik
merangkul semua pihak. Malah permintaan pertemuan ini, dijadikan oleh
para penulis kacung asing sebagai inisiatif yang sangat brilian dan
bersejarah bahwa langkah politik ini merupakan juga sebagai kecerdasan
serta kemampuan politik Jokowi. Tidakkah disadari oleh para pendukungnya
bahwa peran serta kapitalis asing barat dan kapitalis komunis China
dibantu dengan Kapitalis Aseng didalam negeri ada dibelakang kemenangan
Jokowi ? Malah Jkw-Jk akan dijadikan sebagai boneka dan kuda tunggangan
mereka selama lima tahun kedepan.
Pembacaan geo politik Nasional yang
tajam dilakukan KMP terhadap perubahan politik Nasional yang terjadi,
mengakibatkan terkristalisasinya berbagai partai politik dalam KMP
karena sudah menduga, adanya kekuatan pluralisme dimana berbagai
ideologi Kapitalisme, Sosialisme, Atheisme, Liberalisme, Zionisme,
Neo-Komunisme, Neo-Gospelisme akan bermuara dibelakang KIH bersama
Jokowi-Jk. Kekuatan pluralisme inilah yang dimanfaatkan oleh Kapitalis
Asing Barat dan China untuk bisa masuk kedalam mempengaruhi strategi
politik Jokowi-Jk nantinya. Oleh karena itu KMP tetap solid kecuali PPP
yang saat ini sedang bermasalah intern dan sangat terlihat para petinggi
PPP diluar SDA telah melakukan politik babi-buta yang tidak disadari
yaitu politik penyerahan leher kepada Kapitalis Asing demi untuk
mendapatkan kedudukan Menteri dalam kabinet Jokowi-Jk yang sangat
transaksional. Kehadiran KMP adalah sebagai kekuatan Politik penyeimbang
dalam perputaran roda pemerintahan 2014-2019 kedepan. Kejadian ini
merupakan hal yang patut dihargai dan disyukuri sehingga pemerintah
selalu dalam pengawasan ketat dari rakyat.
0 komentar:
Posting Komentar