Kamis, 29 Desember 2011

PILIHANMU


DENNY JANUAR ALI Perbaikan Pemilukada BUTUH WAKTU 25 TAHUN

Denny JA (lengkapnya,Denny Januar Ali ), lahir di Palembang, 4 Januari 1963, mendapatkan gelar Phd dari Ohio State University, Amerika Serikat, bidang Comparative Politics. Sepulang dari Amerika, ia ikut memperkenalkan dan mendorong perkembangan riset politik kuantitatif yang membawa warna baru, baik untuk dunia akademis ilmu politik, maupun politik praktis soal pemilu.

Untuk kiprahnya itu, ia mendapatkan penghargaan 11 rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) di bidang akademis, jurnalisme, dan konsultan politik. Kini, ia menjabat direktur eksekutif Lingkaran Survei Indonesia, sebuah lembaga yang menangani mereka yang berminat maju dalam pemilihan kepala daerah (pemilukada).

Denny mengakui, pelaksanaan pemilukada masih jauh dari ideal. Bahkan, tak hanya pesertanya, para pemilihnya pun sama-sama bersikap pragmatis oportunistis.Perlu 25 tahun untuk memperbaiki situasi pemilukada seperti ini,tegasnya dalam wawancara di kantornya, Senin lalu (19/12).


Sampai sekarang terus terdengar kritikan buruknya kualitas ajang pemilihan kepala daerah (pemilukada) kita. Semua serba pragmatis-opotunistis, uang menjadi segalanya. Apa komentar Anda atas adanya situasi seperti ini?

Yang paling tepat, kita melihat ini harus mulai melihat keadaan demografi pemilih. Umumnya, para pemilih pemilukada atau pemilu nasional itu 70 persen pendidikannya hanya setingkat sekolah menengah pertama (SMP) ke bawah.Jadi, pemilih didominasi oleh mereka yang tamat sekolah dasar (SD) atau tidak tamat SD, begitu juga hanya yang tamat SMP atau tidak lulus SMP.

Jadi, total pemilih ini sampai 70 persen. Sementara itu, kelompok masyarakat yang pernah kuliah, yang tamat S1, S2, dan S3 untuk nasional besarannya hanya di bawah tujuh persen. Bahkan, di banyak daerah, kelompok pemilih ini jumlahnya malah di bawah lima persen. Ini jelas menunjukkan kapasitas knowledge dari para pemilih kita.

Maka, mau tidak mau pemilih yang mempunyai pengetahuan yang cukup untuk membuat adjusment itu sangat minoritas. Alhasil, kalau kita bilang pemilih yang memilih secara rasional atau berhitung akan kualitas calon adalah mereka yang berpendidikan dan itu artinya kelompok mahasiswa ke atas, maka jumlah besaran itu kurang dari 10 persen. Sisanya, merupakan pemilih yang hanya bermodal pendidikan yang tak terlalu tinggi atau sederhana.

Apa akibatnya atas situasinya?

Akibatnya, motif mereka ketika hendak memilih calon bukan atas dasar atau bermodal kelengkapan informasi, melainkan lebih berdasarkan impresi-impresi awal yang sifatnya mengesankan. Hal ini dengan sendirinya akan berpengaruh pada hasil pemilukada atau pemilihan nasional yang kini banyak yang bermasalah. Penyebabnya, jelas pemilih tidak hirau akan kompetensi teknik, kemampuan, dan rekam jejak seseorang pemimpin.
Rakyat, dalam hal ini, akan memilih pemimpinnya karena adanya pembagian bingkisan sembako dan program-program populis. Selain itu, pemilih akan memperhitungkan penampakan penampilan fisiknya yang ganteng atau cantik. Bahkan, kemampuan menyanyinya yang bagus di depan publik mereka jadikan acuan.

Kalau begitu, pemilih kita gampang sekali terombang-ambing dan dipengaruhi hal-hal dari luar?
Iya, jelas begitu. Para pemilih gampang sekali terombang-ambing. Mereka memang banyak dipengaruhi oleh efek-efek yang tampak dari luar itu. Ini sebagai konsekuensi dari mayoritas pendidikan mereka yang SMP ke bawah, sehingga mereka sangat tidak stabil dalam berpendirian. Bahkan, dari pengalaman saya, pilihan mereka juga gampang sekali berubah hanya beberapa saat sesaat sebelum pergi ke tempat pencoblosan. Biasanya ini terjadi karena ada perubahan penampilan dari calon pemimpin yang berasal dari luar. Mereka tak kenal riset seperti pemilih terdidik.

Kalau begitu, menurut Anda berapa lama para pemilih ini mengambil keputusan ketika hendak menentukan pilihan? Apakah jauh-jauh hari mereka juga bisa menentukannya?

Saya lihat, beragam waktunya. Namun, dari pemilukada yang sering saya ikuti itu, umumnya mayoritas pemilih menentukan pilihannya sebulan sebelum waktu pencoblosan. Ini juga konsekuensi dari mayoritas atau lebih dari 50 persen, keadaan masa pemilih kita yang merupakan masa mengambang itu.

Kalau begitu, apa signifikasi dari adanya situasi tersebut, terutama bagi peningkatan kualitas pemilu dan pemilukada Indonesia?

Hal yang sangat tampak adalah pemilih kita masih belum merupakan pemilih yang matang. Ajang pemilukada belum sepenuhnya bisa menjadi arena pemilihan kepala daerah yang berkualitas, seperti mempunyai moral dan rekam jejak yang baik. Celakanya, saya lihat, dalam mayortas pemilukada yang dilakukan pada sekitar 470 kabupaten dan kota, ya mayoritasnya masih menyedihkan. Kebanyakan pemilukada yang selama tahun 2011 sudah terlaksana di lima provinsi dan 57 kabupaten juga begitu.

Bagaimana hal ini dimanfaatkan oleh para calon pemimpin yang ikut pemilukada? Situasi ini menyadarkan mereka bahwa untuk memenangkan pemilu, faktor pengenalan publik atau popularitas menjadi hal yang sangat penting. Ini karena kemenangan mereka akan bisa diraih dengan ukuran sampai seberapa banyak dirinya disukai oleh publik yang mayoritas punya sikap dan pendidikan seperti itu.

Kalau begitu, menurut Anda sampai sejauh mana pengaruh uang di dalam menentukan pemenangan sebuah calon di pemilukada?

Mau tidak mau, karena keadaan pemilih seperti ini, maka uang menjadi hal yang penting.

Apalagi, kultur upah sudah begitu tinggi dalam bayangan mereka. Kini, banyak pemilih acap kali menyatakan bahwa untuk angkat batu saja ada upahnya, masak ini untuk soal mengangkat bupati, wali kota, atau gubernur tidak ada uangnya?

Nah, uang bisa mereka kumpulkan, maka keberhasilan berikutnya adalah berpulang pada kelihaian seorang calon pemimpin dalam memainkan impresi publik. Jadi, dalam hal ini uang tidak bisa diartikan dalam hal yang sempit, uang juga bisa diwujudkan dalam bentuk lain, misalnya, pemberian sembako dan adanya pembuatan program populis. Seorang incumbent yang ingin maju lagi, misalnya, tiba-tiba membuat program pembagian beras untuk orang miskin, pembagian sertifikat gratis tanah, dan berbagai program bernuansa kerakyatan lainnya.

Melihat bobroknya pemilukada kita itu, maka wajar jadinya bila banyak usulan agar ajang pemilihan kepada daerah secara langsung dihentikan atau dikembalikan kepada DPRD saja?

Saya yakin, jauh lebih bagus kalau pemilihan tetap saja secara langsung seperti sekarang. Ini karena kalau, misalnya, pemilihan nasional maka yang dihadapi adalah 170 juta pemilih. Maka, akan jauh lebih sulit kita mengendalikan pemilih yang banyak daripada, misalnya, hanya 1.000 orang bila dipindah ke MPR atau 50 orang bila di DPRD I dan DPRD II.

Jadi, meski perilaku elite politik dan pemilihnya sama, yakni “oportunis” dan bergantung pada intensif. Tapi, karena jumlah pemilih langsung ini banyak sekali, maka masih ada kemungkinan jangkauan politik uang hanya bersifat minoritas belaka. Ini jelas berbeda dengan risiko pemilihan ketika digeser ke DPRD, karena bisa saja anggota wakil rakyat ini semuanya dibayar sebelum memilih.

Sebenarnya, menurut Anda, bila skala kerusakan pilkada itu satu sampai 10, maka tingkat kerusakan pilkada kita berada pada level yang keberapa? Saya kira, skalanya berada pada tingkatan ketujuh. Tapi, kalau dibawa ke DPRD, tingkatan keterpurukannya akan mencapai 9,5. Sebab, bila dialihkan ke DPRD, sudah pasti permainan politik uang akan semakin mudah lagi. Jadi, kita dalam memilih sistem pemilu seringnya memilih berdasarkan perbandingan. Daripada dipilih oleh segelintir orang yang sangat senang dengan uang, maka lebih baik dipilih oleh begitu banyak orang yang senang uang juga.

Menurut Anda, apa risiko yang paling nyata atas situasi pemilukada yang terus saja seperti ini?

Akan menghasilkan sebuah pemilihan yang tidak menghasilkan satu pertarungan wacana mengenai apa yang baik untuk masyarakat. Yang ada hanya pertarungan untuk mendapatkan “impresi” sesaat dari pemilih berdasarkan insentif. Jadi, siapa calon yang mampu memberikan impresi yang memikat publik, maka dialah yang akan keluar sebagai pemenang di pemilukada. Tapi, harap diketahui, usaha meraup impresi pemilih tak selalu berbentuk pemberian uang.

Ini, misalnya, para incumbent dalam enam bulan terakhir masa jabatannya banyak membagikan bantuan traktor tangan petani yang di ada di kampung-kampung. Ada juga yang memberangkatkan haji atau umrah dengan memakai dana APBD, hingga menaikkan gaji penghulu. Nah, semua ini kan sebagai bentuk insentif jangka pendek. Tidak ada tawaran mengenai program-program lain yang lebih untuk memberikan solusi bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Apakah situasinya bisa berubah?
Keadaan ini terjadi sebagai konsekuensi dari kondisi awal demokrasi sebuah negara yang baru mengalami demokrasi. Pada waktunya ini akan berubah seiring dengan makin tingginya tingkat pendidikan masyarakat. Kelompok berpendidikan tinggi secara perlahan membesar dari lima persen menjadi 10 persen, 20 persen, hingga 30 persen.

Hal lain, pemilukada akan semakin baik bila kondisi ekonomi negara juga terus membaik. Sebab, semakin baik kondisi ekonomi maka akan semakin banyak kesempatan bagi masyarakat untuk menyerap informasi dalam rangka menambah kemampuan dirinya. Dan, yang terakhir, bila mereka semakin menjangkau sumber informasi maka akan semakin baik ketika dia menentukan pilihan.

Dalam situasi ini, maka tepat bila ada teori demokrasi yang menyatakan bahwa semakin banyak jumlah kelas menengah, semakin berkualitas demokrasi di sebuah negara. Ini karena pada saat itu pendidikan masyarakat sudah semakin tinggi, pendapatan ekonominya baik, dan akses publik pada ilmu pengetahuan akan semakin beragam.

Kalau begitu, situasi pemilukada ini juga dapat dipakai sebagai pembelajaran bagi masyarakat? Iya memang bisa begitu. Wajar bila memilih calon yang salah maka ia sendirilah yang akhirnya susah. Sebab, akan muncul bupati dan gubernur yang korup. Situasi sekarang memang masih dalam posisi transisi demokrasi. Dan, transisi ini dalam kajian lazimnya berjalan selama 25 tahun. Di Amerika Serikat juga terjadi hal seperti ini, pemilu menjadi proses pembelajaran. Di sana, pada 60-an, banyak presiden yang mempunyai banyak pacar, seperti John Kennedy yang mempunyai pacar Marlyn Monroe.

Tetapi, setelah itu pemilihnya ternyata tak mau memilih orang seperti dia, mereka memilih sosok presiden yang cenderung setia pada istri dan keluarga. Akibatnya, orang yang ingin menjadi presiden di sana harus menjaga betul keluarganya. Inilah yang dimaksud pemilu sebagai ajang pembelajaran, baik bagi para politisinya maupun pemilihnya.

Kalau begitu, situasi Indonesia selama kurun waktu 25 tahun seusai datangnya masa reformasi akan terus berbahaya?
Tapi, kalau sekarang tidak diambil, situasinya akan lebih berbahaya lagi. Demokrasi memang sistem politik yang paling jelek dan banyak sekali masalahnya. Tapi, ini masih lebih baik daripada sistem politik yang lain, istilahnya demokrasi sistem yang terbaik di antara sistem lain yang buruk. Tanpa demokrasi, pemerintah ini semakin tak bisa dikontrol.

Seberapa lama sihpersiapanan seseorang yang ingin menang dalam pemilihan umum dan pemilukada? Pengamatan saya, bila seseorang ingin menang dalam ajang pemilukada, dia harus mempersiapkan diri paling tidak dua tahun sebelum ajang pencoblosan. Ini bagi para calon yang datang non-incumbent dalam pemilu nasional. Sedangkan, bagi calon bupati atau gubernur, misalnya, dia harus mempersiapkan diri minimal setahun sebelumnya.

Sedangkan, patokan lainnya kalau ingin terpilih, dia harus mempunyai modal awal dikenal oleh 90 persen pemilih dan disukai oleh 70 persen pemilih. Besarnya dukungan ini harus terus dapat dipertahankan hingga sepekan menjelang pencoblosan. Dan, bila ada persaingan, maka dalam kurun waktu sepekan terakhir tersebut dia harus mempunyai modal dukungan minimal 20 persen lebih banyak dari para pesaingnya. Nah, bila ini bisa didapat, seorang calon pada saat itu sebenarnya sudah dapat memastikan diri akan keluar sebagai pemenang pemilu, termasuk pemilukada.

Terakhir, bagaimana peran media dalam situasi pemilih yang masih “kurang terdidik” ini?
Tetap saja sangat strategis, yakni untuk menyampaikan informasi dan membuat impresi kepada seorang calon. Anggaran pemilu biasanya habis banyak untuk membiayai hal ini, besarannya bisa mencapai 70 persen. Barack Obama, misalnya, dua tahun sebelum terpilih sama sekali bukan orang yang dikenal. Tapi, berkat kampanye yang jitu dengan menggandeng media massa, dalam waktu singkat dia kemudian menjadi sosok yang sangat dikenal dan akhirnya keluar sebagai pemenang pemilu presiden. Dan, yang penting lagi, media bisa menjadikan orang apa saja dalam sebuah ajang pemilihan nasional dan juga pemilukada.muhammad subarkah



Dusta, Angkuh, Tipu Daya, Angkara Murka!

Kemana pun dia berada, maka dusta adanya!
Angkuh sifat aslinya!
Selalu menipu daya dalam wujudnya!
Angkara murka kesenangannya!

Setan sang pemiliknya!
Manusia yang mengikutinya, buruk akhlaknya!
Manis di mulut, busuk di hatinya!
Tampak santun wajahnya, asyik dilihat senyumnya!

Berpura-pura sebenarnya!
Manisnya, santunnya adalah jebakannya!
Maka, simaklah pembicaraannya!
Dengarkan niatnya: selalu terdengar baik, padahal jahat!

Itulah tipu dayanya!
Sulit bila kosong hatinya tuk menangkap arahnya!
Ada Dia Yang Maha Mengetahui akhlaknya!
Adukan pada-Nya, jangan biarkan terlena menerima rayuannya!

Ajakannya selalu dusta penuh kepalsuan!
Rayuan manisnya menghanyutkan daya hayal!
Tertipu oleh godaannya, sesat jadinya!
Sayang solatnya bila selalu berkhidmat padanya!

Amarah, angkara murka selalu terselip di dadanya!
Marah adalah wataknya!
Adalah Dia Yang Maha Memberi Kesejukan Jiwa bila menyebut asma-Nya!
Asyik nikmatnya bila mengingat diri-Nya!

Berlindunglah kepada-Nya!
"Ya Robbi, aku berlindung dari bisikan setan di dalam diriku,"
"Dan aku berlindung kepada-Mu Ya Robbi,"
"Singkirkan setan dari diriku."

Allah Azza wa Jalla memerintah kaum mukmin agar menyeru asma-Nya!
Bukan untuk diri-Nya!
Ada-Nya adalah untuk makhluk-Nya, yang sangat menggantungkan kepada-Nya!
Dia lah Allah Sang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana di dalam kekuasaan-Nya!

Tiada daya dan kekuatan kecuali hanya dengan pertolongan-Nya!
Segala hal ada di dalam keagungan-Nya!
Kecil seluruh makhluk-Nya di dalam genggaman tangan-Nya!
Allah sangat menghendaki agar umat manusia tunduk dan patuh kepada-Nya!

Ada-Nya di wilayah-Nya!
Ada-Nya di dalam Dia Yang Maha Menguasai seluruh ciptaan-Nya!
Ada-Nya di dalam kehendak-Nya!
Ada-Nya di dalam seharusnya wujud Ilahi Yang Maha Suci atas diri-Nya!

***
Disalin dari syairku di Puisi Hati Seorang Pilihan

0 komentar:

Posting Komentar