Kamis, 29 Desember 2011

Tahun Baru


Tahun Baru di Gedung Harmonie

Pieter Erbelveled, putra seorang Jerman dan ibu dari Jawa, memilih untuk melakukan pemberontakan di Batavia pada malam Tahun Baru 1722. Dia bersama para pengikutnya akan menyerang benteng kompeni di Pasar Ikan, Jakarta Utara, dan membunuh semua orang Belanda. Ia sengaja memilih malam pergantian tahun karena para tentara Belanda pada malam tersebut tengah pesta dan mabuk-mabukan.

Peristiwa hampir 300 tahun itu menunjukkan sejak awal penjajahan Belanda membawa acara pergantian tahun dengan pesta pada malam Tahun Baru dari negerinya ke nusantara. Salah satu gedung tua yang telah berusia lebih dari tiga abad yang hingga kini masih kita jumpai di Jakarta Kota adalah Balai Kota Batavia yang kini dijadikan Museum Sejarah DKI Jakarta. Halaman depannya yang luas sejak abad ke-17 menjadi ajang pesta pergantian tahun semalam suntuk.

Tidak jelas bagaimana kemeriahan pesta menyambut Tahun Baru ketika itu. Tapi, saat pusat kota dipindahkan ke arah selatan yang mereka namakan Weltevreden yang kira-kira berarti 'sangat puas', kemeriahan beralih ke Noordwijk dan Risjwijk, jalan yang dibelah oleh kanal Sungai Ciliwung. Di sini terdapat Gedung de Harmonie yang kini telah menyatu dengan Istana Negara dan menjadi tempat parkir kendaraan. Tidak kalah meriahnya dengan pesta-pesta di Paris, London, dan Amsterdam, serta kota-kota di Eropa lainnya, di Harmonie, para elite Belanda juga memeriahkannya dengan pesta semalam suntuk.

Menurut penulis Belanda abad ke-19, De Haan, pada pesta pergantian Tahun Baru ini tidak kurang dari 6.000 undangan yang hadir. Tentu saja tidak sembarang undangan. Tapi, warga yang menempati kedudukan tinggi. Seperti juga sekarang yang akan kita jumpai saat-saat pergantian tahun di hotel-hotel dan tempat rekreasi, saat itu dibunyikan trompet seperti para tamu yang sebagian teler akibat minuman keras saling memberikan tos. Sementara, di Klub Concordia-yang kini menyatu dengan Departemen Keuangan-di Lapangan Banteng (Waterlooplein), para militer juga merayakannya dengan pesta.

Pada abad ke-19, kehidupan sosial di Batavia mengingatkan orang pada penduduk di kota-kota Eropa yang romantis. Dua gedung tempat pesta, yaitu Harmonie untuk kelompok elite dan Concordia untuk militer, menyediakan jamuan makan dan dansa-dansa seperti layaknya mereka berada di negeri kelahirannya: Eropa. Tapi juga, seperti saat ini, masyarakat bawah juga merayakannya di jalan-jalan. Sementara, perahu-perahu diterangi lampion hilir mudik di Ciliwung, depan Istana Rijswijk (kini Istana Negara) yang siap untuk disewakan.

Tentu saja para sinyo dan noni Belanda tidak melewatkan malam pergantian tahun untuk berpacaran. Tentu saja saat itu, Ciliwung airnya masih agak jernih dan dalam. Pesta rakyat semalam ini juga berlangsung di Wilhelmina Park (kini Masjid Istiqlal) dan Deca Park (kini merupakan bagian dari Monas di Merdeka Utara), serta masih banyak tempat lainnya. Termasuk di kawasan Cina Town Glodok, yakni di Princen Park di Jalan Mangga Besar. Yang unik kala itu adalah pesta Tahun Baru selalu diramaikan dengan musik tanjidor. Mereka mengamen ke rumah warga Belanda dari satu kampung ke kampung lainnya.

Setelah sepi pada masa pemerintahan Bung Karno, kemeriahan perayaan malam Tahun Baru seolah-olah mendapat darah segar pada masa mantan gubernur Ali Sadikin. Dia telah memelopori pesta rakyat semalam suntuk di sepanjang Jalan Thamrin dan Monas. Kemudian, di Taman Impian Jaya Ancol hingga saat ini. Hal itu menunjukkan budaya yang dibawa pemerintahan kolonial sejak empat abad lalu hingga kini masih terpelihara.

0 komentar:

Posting Komentar