beberapa kali menonton perhelatan Biennale yang disebut-sebut sebagai
heboh dan berskala Internasional, tetapi pada akhirnya acap tidak bisa
sepenuhnya saya pahami, akhirnya saya punya juga kesempatan untuk
menonton satu biennale yang benar-benar saya sukai, sekaligus terpahami.
Saya harus mengakui, bahwa datang dari Indonesia, dengan situasi
sejarah seni rupa yang sangat spesifik, pameran-pameran besar di luar
negeri (baca: Amerika dan Eropa) seringkali membuat saya terasing,
karena saya harus bekerja keras melompat dari situasi saya yang
primitif, dan berusaha memasuki logika seni kontemporer dunia yang
melesat jauh ke depan. Nah, Lyon Biennale 2009 ini memberi saya sebuah
pengalaman lain, di mana karya-karya terasa dekat dan tak terlalu
berjarak dengan saya, di mana yang visual masih saya rasakan keindahan
dan kemegahannya.
Biennale de Lyon ini sudah diselenggarakan sebanyak sepuluh kali. Sebuah usia cukup panjang untuk perhelatan besar. Itulah mengapa, menandai usianya ke 10 ini, mereka mengundang para desainer untuk menafsir angka romawi 10 (X) menjadi berbagai bentuk visual yang menarik di materi-materi publikasi seperti poster, balihoo, dan berbagai iklan di majalah. Kota Lyon yang terasa kecil dan sepi itu (meski mereka mengklaim sebagai kota kedua terbesar di Perancis) untuk sejenak memang terasa lebih meriah dan ramai. Untuk publik seni di Perancis sendiri, Biennale kali ini terasa istimewa karena mereka mengundang Hou Hanru, kurator kenamaan Cina yang tinggal selama lebih dari 20 tahun di Paris dan baru tiga tahun ini pindah ke San Francisco, Amerika. Boleh dibilang, ini semacam pembuktian Hanru kepada publik Perancis, setelah sebelumnya ia dinilai sedikit gagal mengeksekusi Istambul Biennale tahun 2007.
Lyon Biennale kali ini diselenggarakan sepanjang September hingga November 2009, bertempat di empat ruang, yaitu La Sucriere (semacam bekas pabrik yang disulap menjadi ruang pamer), Museum of Contemporary Art Lyon, Bulukian Foundation dan Warehouse. La Sucriere, meski letaknya sedikit jauh dari pusat kota, tapi menyuguhkan pemandangan yang cantik dan memukau. Terletak di tepi sungai Shaone, kita bisa melihat gedung ini dari jalanan panjang di sisi seberang. Dan, yang membanggakan, sisi luar tembok gedung yang besar itu sekarang dihiasi oleh mural yang dibuat seniman Indonesia, Eko Nugroho.
Dua minggu sebelum perhelatan dimulai, Eko memang secara khusus diundang untuk membuat mural di La Sucriere. Dibantu empat orang asisten, selama seminggu ia bekerja untuk menyelesaikan lukisan di dinding ukuran 25 meter X 15 meter. Hasilnya menarik! Hampir semua orang senang dengan karya mural ini, dan menjadi salah satu atraksi paling dikagumi selama Biennale. Seminggu dari sisa waktunya digunakan Eko untuk latihan ulang dengan tim kolaborator pertunjukan wayang kontemporer yang dipresentasikan pada malam pembukaan. Sebelumnya, proyek wayang ini diundang secara khusus untuk program Veduta, yang merupakan program komunitas untuk perhelatan Lyon Biennale. Pertunjukan pertama yang melibatkan sutradara teater, penari, pemusik dan penulis naskah warga setempat ini telah sukses diadakan pada Juli 2009, di “alun-alun” kota Lyon.
Selain Eko Nugroho, dari Indonesia Lyon Biennale 2009 juga mengundang Agustinus Kuswidananto aka Jompet dengan karyanya Java’s Machine, yang dipajang di Museum of Contemporary Art. Ini merupakan Biennale ketiga yang mempertunjukkan instalasi dashyat prajurit Jawa itu, yang menurut Jompet akan menjadi Biennale terakhir untuk mereka. Sebelumnya Java’s Machine sempat mampir di Yokohama Triennale, Jepang (2008) dan Curve Biennale (2009). Setelah ini, Jompet menyatakan ia akan mulai mengeksplorasi gagasan visual yang baru untuk menghindarkan identifikasi kesenimanannya dengan prajurit Jawa.
Di luar kebanggaan melihat seniman Indonesia berpartisipasi dalam Biennale besar semacam ini, saya juga merasa senang menikmati karya-karya yang dipamerkan di Lyon Biennale. Pertama, saya melihat kecenderungan estetika baru yang lebih menghubungkan saya dengan dunia ide para seniman. Kedua, banyak nama baru yang terlibat, selain mereka yang sudah terbiasa berkeliling dari biennale satu ke biennale yang lain. Kebanyakan nama baru ini berasal dari jazirah Islam, seperti seniman Libanon, Pakistan, atau Algeria. Cerita saya tentang karya dalam Biennale de Lyon ini setidaknya akan didasarkan pada dua poin tersebut.
Kecenderungan Estetika Baru
Sebagai kurator, Hou Hanru mengambil satu tema yang cukup spesifik untuk diolah oleh para seniman: “The Spectacle of Everyday”. Judul/tema ini tentu mengacu pada teori-teori terbaru dalam kajian budaya kontemporer satu dekade terakhir ini, dan dalam konteks seni, Hanrou mencoba untuk menarik korelasinya dengan praksis kesenian sebagai sesuatu yang di luar kebiasaan (extra ordinary). Dalam keterangan kuratorialnya, ia menulis: “Dalam kehidupan masa kini, “ada” acap berarti menjadi bagian dari kerumunan penonton, itulah yang kita hadapi sekarang. Kita menjadi penonton dari banyak hal: imaji dari majalah, imaji dari sebuah pameran, dan sebagainya. Di sisi yang lain, ada terma lain, yaitu keseharian, di mana kita menyaksikan hal-hal menjadi rutin dan teratur. Proyek seni dalam biennale ini mengajak kita untuk memikirkan kembali alasan dan keberadaan praksis seni, mengembalikan lagi kedekatan antara dunia penciptaan kreatif dan kehidupan orang sehari-hari.”
Sebuah tawaran yang menarik. Dan dalam praktiknya, Hanrou telah memilih seniman-seniman yang secara tegas menawarkan satu kedekatan antara gagasan kreatif dengan praktik hidup sehari-hari. Saya melihat bahwa bentuk-bentuk seni yang “terlalu konseptual” sekarang sudah tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting sebagaimana dulu. Beberapa seniman tetap mendasarkan penciptaannya dari gagasan conseptual art, tetapi, terma itu sendiri telah berkembang menyesuaikan dengan situasi yang berubah. Jika dulu seni konseptual secara sederhana acap dirujuk sebagai gaya seni yang lebih menekankan gagasan/konsep ketimbang bentuk, sekarang bentuk juga dianggap penting dalam seni konseptual, karena bagaimanapun di sana pulalah inti kerja seorang seniman: bergelut dengan bentuk untuk menciptakan imaji yang kuat dan mendobrak.
Karya “Untitled” dari seniman favorit saya, Shilpa Gupta (India), masih saja kuat dan mengundang perhatian banyak orang. Ia mendapat ruang paling depan, sehingga ketika masuk, para pengunjung langsung berhadapan dengan karyanya. Kali ini, masih sesederhana karyanya yang memukai di Yokohama, Shilpa menciptakan instalasi pagar yang bergerak membuka dan menutup sendiri membentuk sudut 180 derajat. Ketika pagar itun menabrak tembok, terdengar dentuman keras yang membuat atmosfer menjadi lebih dramatik. Apalagi, lampu ruangan sengaja dibuat redup, sehingga karya Shilpa terlihat sebagai imaji fotografis yang mengandalkan bayangan. Karya ini berbicara tentang batasan dan kekuasaan, tentang rasa aman dan ketidakteraturan, tentang memori dan logika. Meskipun secara visual tidak spektakuler, tetapi imajinya yang puitis membuat kita merasa dekat dan mengalami gagasan yang dipertontonkan oleh senimannya.
Karya lain yang menarik adalah Pedro Reyes, seniman Meksiko berusia 38 tahun berjudul “Palas for Pistolas”. Di Yokohama 2007 yang lalu, ia membuat karya yang tidak terlalu bagus dan membuat orang bingung apa yang ingin ia sampaikan. Tetapi, karyanya di Lyon kali ini sungguh memukau. Ia mendisplay hampir 50 buah sekop yang dijajarkan memanjang ke dinding secara rapi. Tentu, ini tidak akan terlalu istimewa kalau kita tidak melihat video yang menyertai karyanya. Dari video ini, kita tahu bahwa sekop-sekop itu dibuat ketika ia melakukan penyelidikan tentang senjata-senjata illegal yang beredar di Meksiko. Ia mengumpulkan senjata-senjata itu, kemudian, mencairkannya menjadi bahan material besi dan mengolahnya menjadi sekop yang digunakan untuk menggarap lahan pertanian. Video itu menceritakan bagaimana Rayes bertemu dengan beberapa keluarga yang menyimpan senjata di rumahnya, lalu mereka berdiskusi tentang situasi Meksiko yang penuh rasa tidak aman. Total, Rayes berhasil mengumpulkan 1527 senjata untuk diolah menjadi sekop. Sepanjang Oktober-November 2009, Rayes akan mengorginisir penanaman pohon di sekitar halaman Rumah Sakit Ibu dan Anak di Lyon menggunakan sekop-sekop tersebut.
Tak jauh dari karya Rayes, saya mendapati sebuah kotak kubus setinggi dua meter yang dipasangi dengan jendela kecil berwarna-warni. Ketika mengintip ke dalam, saya melihat miniator sebuah kota, serba putih dan rapi. Nah, yang membuat karya ini jadi menarik, semua bangunan dibuat dari kotak bekas kemasan dari barang yang kita pakai sehari-hari. gedung-gedung serba tinggi di kota utopia dibuat dari kardus jus siap saji, sementara rumah-rumah kecil dibuat dari kotak biskuit. Sederhana, tapi bagaimanapun mereka mengemasnya menjadi menarik. Karya ini dibuat oleh kelompok mahasiswa arsitektur dari Sekolah Arsitek di Lyon, UN NOUS.
Seniman-seniman Cina menyuguhkan kecenderungan bentuk yang serupa dalam Lyon Biennale ini. Michael Lin, Yangjiyang Group dan Xijing Men. Ketiganya membuat karya yang gagasannya bersumber dari memindahkan realitas lokal ke ruang pamer. Michael Lin memindahkan toko kelontong yang menjual barang kebutuhan sehari-hari (juga alat memasak, seperti piring, gelas, sapu, pembersih), sementara Yangjiyang Group membuat taman kecil dimana mereka kemudian melakukan performance pesta dan bermain mah yong di sebuah meja bundar yang terletak di tengah taman. Hampir sama dengan Yangjiyang, Xijing Men membuat gurun pasir penuh kaktus di sudut ruang yang lainnya.
Era Baru untuk Asia dan Afrika
Meski masih mengundang seniman-seniman terkenal dunia seperti Jeremie Durham, Barry McGee, Agnes Varda, dan George Brecht, dalam Biennale de Lyon ini Hanrou banyak melibatkan seniman-seniman baru dari Asia dan Afrika (meski sebagian besar dari mereka menjadi manusia beridentitas hybrid karena menetap di Eropa atau Amerika). Tentu ini menjadi angin segar yang memberi warna baru pada biennale internasional yang selama ini selalu didominasi karya seniman Barat. Dan, tak terhindarkan, kemajemukan latar belakang para seniman ini memberi pengaruh cukup besar pada kemajemukan isu dan wacana yang disampaikan para seniman. Apalagi, seniman-seniman Asia, Afrika dan Amerika Latin ini cenderung untuk setia berbicara tentang persoalan-persoalan aktual yang dihadapi oleh masyarakat asalnya.
Seniman-seniman dari jazirah Arab, misalnya Fikret Atay (Turki), Latifa Echachch (Maroko), atau Bani Abidi (Pakistan) berbicara tentang kontestasi kekuasaan antara Islam dan Barat, yang menyinggung pula tentang representasi Islam atau kelompok Muslim di masyarakat Barat. Beberapa berhasil menghadirkan imaji yang puitik tentang perang identitas sementara beberapa karya lain memang cenderung terlalu verbal dan kurang diolah agar lebih simbolis dan tak melulu meruapkan kemarahan. Bani Abadi, misalnya, membuat video menarik yang berbicara tentang kehidupan imigran Arab di Amerika pasca 9/11, dan mengaitkannya dengan tuduhan Barat terhadap mereka atas aksi terorisme radikal. Bani menampilkan seorang pria yang melakukan orasi di jalanan kota Amerika, dan mendandani wajahnya bak seorang badut (dengan khas bulatan merah dihidung). Sebagai imaji, video ini menarik, tetapi teksnya terasa terlalu radikal, apalagi diberi judul “Terorrist”.
Sebagian lain berbicara tentang pergeseran pola hidup di kalangan masyarakat muslim, terutama berkait dengan keterasingan, individualitas, ruang publik, dan konsep-konsep yang selama ini dipandang sebagai gagasan Barat. Saya menikmat karya Adel Abdessmed berupa seri foto berjudul “Foot On” dan “Talk is Cheap” yang menampilkan imaji-imaji ganjil tentang relasi manusia dan binatang, yang pada akhirnya menyeret saya pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang keterasingan, eksistensi dan relasi antar manusia, serta makna peradaban.
Seniman Afrika lain yang menonjol adalah Wangechi Mutu, perempuan Kenya yang tinggal di New York selama lima tahun terakhir. Karya Wangechi Mutu, “Dutty Water”, yang memanfaatkan teknologi pompa air dan lampu pijar, terasa feminin dan intim, berbicara tentang relasi perempuan dan teknologi. Yang menarik, entah mengapa, dari visualisasi karyanya, saya tetap merasa ada yang menghubungkan karya Wangechi dengan imaji dari karakter primitif Afrika (atau dari kebudayaan Vodoo) yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga menjadi imaji yang terasa kini.
Penutup
Secara umum, Biennale de Lyon ini merupakan satu pencapaian baru untuk Hou Hanrou. Banyak kalangan menyatakan bahwa pameran ini merupakan salah satu karya Hanrou yang terbaik, terutama karena ia berhasil menunjukkan kembali peran seni dalam membahasakan soal-soal aktual dalam masyarakat dalam satu bentuk yang tetap indah dan kreatif secara visual. Saya merasa bahwa Hanrou melihat dengan tepat perubahan yang terjadi di kalangan masyarakat seni dunia, bahwa konseptual art seharusnya berkembang ke ranah lebih jauh. Bukan berarti konseptual art sudah mati, tetapi nyatanya, selama dua dekade belakangan, ia gagal mendekati masyarakatnya. Hampir seluruh karya dalam pameran ini berhasil menampilkan bentuk visual yang segar dan kuat, serta pada saat yang sama, terjelaskan dan terpahami. Saya merasa saya bertamasya dalam dunia ide yang penuh arahan dan tak terlalu liar. Di tempat yang asing, kadang-kadang arus liar itu sedemikian menakutkan.
Biennale de Lyon ini sudah diselenggarakan sebanyak sepuluh kali. Sebuah usia cukup panjang untuk perhelatan besar. Itulah mengapa, menandai usianya ke 10 ini, mereka mengundang para desainer untuk menafsir angka romawi 10 (X) menjadi berbagai bentuk visual yang menarik di materi-materi publikasi seperti poster, balihoo, dan berbagai iklan di majalah. Kota Lyon yang terasa kecil dan sepi itu (meski mereka mengklaim sebagai kota kedua terbesar di Perancis) untuk sejenak memang terasa lebih meriah dan ramai. Untuk publik seni di Perancis sendiri, Biennale kali ini terasa istimewa karena mereka mengundang Hou Hanru, kurator kenamaan Cina yang tinggal selama lebih dari 20 tahun di Paris dan baru tiga tahun ini pindah ke San Francisco, Amerika. Boleh dibilang, ini semacam pembuktian Hanru kepada publik Perancis, setelah sebelumnya ia dinilai sedikit gagal mengeksekusi Istambul Biennale tahun 2007.
Lyon Biennale kali ini diselenggarakan sepanjang September hingga November 2009, bertempat di empat ruang, yaitu La Sucriere (semacam bekas pabrik yang disulap menjadi ruang pamer), Museum of Contemporary Art Lyon, Bulukian Foundation dan Warehouse. La Sucriere, meski letaknya sedikit jauh dari pusat kota, tapi menyuguhkan pemandangan yang cantik dan memukau. Terletak di tepi sungai Shaone, kita bisa melihat gedung ini dari jalanan panjang di sisi seberang. Dan, yang membanggakan, sisi luar tembok gedung yang besar itu sekarang dihiasi oleh mural yang dibuat seniman Indonesia, Eko Nugroho.
Dua minggu sebelum perhelatan dimulai, Eko memang secara khusus diundang untuk membuat mural di La Sucriere. Dibantu empat orang asisten, selama seminggu ia bekerja untuk menyelesaikan lukisan di dinding ukuran 25 meter X 15 meter. Hasilnya menarik! Hampir semua orang senang dengan karya mural ini, dan menjadi salah satu atraksi paling dikagumi selama Biennale. Seminggu dari sisa waktunya digunakan Eko untuk latihan ulang dengan tim kolaborator pertunjukan wayang kontemporer yang dipresentasikan pada malam pembukaan. Sebelumnya, proyek wayang ini diundang secara khusus untuk program Veduta, yang merupakan program komunitas untuk perhelatan Lyon Biennale. Pertunjukan pertama yang melibatkan sutradara teater, penari, pemusik dan penulis naskah warga setempat ini telah sukses diadakan pada Juli 2009, di “alun-alun” kota Lyon.
Selain Eko Nugroho, dari Indonesia Lyon Biennale 2009 juga mengundang Agustinus Kuswidananto aka Jompet dengan karyanya Java’s Machine, yang dipajang di Museum of Contemporary Art. Ini merupakan Biennale ketiga yang mempertunjukkan instalasi dashyat prajurit Jawa itu, yang menurut Jompet akan menjadi Biennale terakhir untuk mereka. Sebelumnya Java’s Machine sempat mampir di Yokohama Triennale, Jepang (2008) dan Curve Biennale (2009). Setelah ini, Jompet menyatakan ia akan mulai mengeksplorasi gagasan visual yang baru untuk menghindarkan identifikasi kesenimanannya dengan prajurit Jawa.
Di luar kebanggaan melihat seniman Indonesia berpartisipasi dalam Biennale besar semacam ini, saya juga merasa senang menikmati karya-karya yang dipamerkan di Lyon Biennale. Pertama, saya melihat kecenderungan estetika baru yang lebih menghubungkan saya dengan dunia ide para seniman. Kedua, banyak nama baru yang terlibat, selain mereka yang sudah terbiasa berkeliling dari biennale satu ke biennale yang lain. Kebanyakan nama baru ini berasal dari jazirah Islam, seperti seniman Libanon, Pakistan, atau Algeria. Cerita saya tentang karya dalam Biennale de Lyon ini setidaknya akan didasarkan pada dua poin tersebut.
Kecenderungan Estetika Baru
Sebagai kurator, Hou Hanru mengambil satu tema yang cukup spesifik untuk diolah oleh para seniman: “The Spectacle of Everyday”. Judul/tema ini tentu mengacu pada teori-teori terbaru dalam kajian budaya kontemporer satu dekade terakhir ini, dan dalam konteks seni, Hanrou mencoba untuk menarik korelasinya dengan praksis kesenian sebagai sesuatu yang di luar kebiasaan (extra ordinary). Dalam keterangan kuratorialnya, ia menulis: “Dalam kehidupan masa kini, “ada” acap berarti menjadi bagian dari kerumunan penonton, itulah yang kita hadapi sekarang. Kita menjadi penonton dari banyak hal: imaji dari majalah, imaji dari sebuah pameran, dan sebagainya. Di sisi yang lain, ada terma lain, yaitu keseharian, di mana kita menyaksikan hal-hal menjadi rutin dan teratur. Proyek seni dalam biennale ini mengajak kita untuk memikirkan kembali alasan dan keberadaan praksis seni, mengembalikan lagi kedekatan antara dunia penciptaan kreatif dan kehidupan orang sehari-hari.”
Sebuah tawaran yang menarik. Dan dalam praktiknya, Hanrou telah memilih seniman-seniman yang secara tegas menawarkan satu kedekatan antara gagasan kreatif dengan praktik hidup sehari-hari. Saya melihat bahwa bentuk-bentuk seni yang “terlalu konseptual” sekarang sudah tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting sebagaimana dulu. Beberapa seniman tetap mendasarkan penciptaannya dari gagasan conseptual art, tetapi, terma itu sendiri telah berkembang menyesuaikan dengan situasi yang berubah. Jika dulu seni konseptual secara sederhana acap dirujuk sebagai gaya seni yang lebih menekankan gagasan/konsep ketimbang bentuk, sekarang bentuk juga dianggap penting dalam seni konseptual, karena bagaimanapun di sana pulalah inti kerja seorang seniman: bergelut dengan bentuk untuk menciptakan imaji yang kuat dan mendobrak.
Karya “Untitled” dari seniman favorit saya, Shilpa Gupta (India), masih saja kuat dan mengundang perhatian banyak orang. Ia mendapat ruang paling depan, sehingga ketika masuk, para pengunjung langsung berhadapan dengan karyanya. Kali ini, masih sesederhana karyanya yang memukai di Yokohama, Shilpa menciptakan instalasi pagar yang bergerak membuka dan menutup sendiri membentuk sudut 180 derajat. Ketika pagar itun menabrak tembok, terdengar dentuman keras yang membuat atmosfer menjadi lebih dramatik. Apalagi, lampu ruangan sengaja dibuat redup, sehingga karya Shilpa terlihat sebagai imaji fotografis yang mengandalkan bayangan. Karya ini berbicara tentang batasan dan kekuasaan, tentang rasa aman dan ketidakteraturan, tentang memori dan logika. Meskipun secara visual tidak spektakuler, tetapi imajinya yang puitis membuat kita merasa dekat dan mengalami gagasan yang dipertontonkan oleh senimannya.
Karya lain yang menarik adalah Pedro Reyes, seniman Meksiko berusia 38 tahun berjudul “Palas for Pistolas”. Di Yokohama 2007 yang lalu, ia membuat karya yang tidak terlalu bagus dan membuat orang bingung apa yang ingin ia sampaikan. Tetapi, karyanya di Lyon kali ini sungguh memukau. Ia mendisplay hampir 50 buah sekop yang dijajarkan memanjang ke dinding secara rapi. Tentu, ini tidak akan terlalu istimewa kalau kita tidak melihat video yang menyertai karyanya. Dari video ini, kita tahu bahwa sekop-sekop itu dibuat ketika ia melakukan penyelidikan tentang senjata-senjata illegal yang beredar di Meksiko. Ia mengumpulkan senjata-senjata itu, kemudian, mencairkannya menjadi bahan material besi dan mengolahnya menjadi sekop yang digunakan untuk menggarap lahan pertanian. Video itu menceritakan bagaimana Rayes bertemu dengan beberapa keluarga yang menyimpan senjata di rumahnya, lalu mereka berdiskusi tentang situasi Meksiko yang penuh rasa tidak aman. Total, Rayes berhasil mengumpulkan 1527 senjata untuk diolah menjadi sekop. Sepanjang Oktober-November 2009, Rayes akan mengorginisir penanaman pohon di sekitar halaman Rumah Sakit Ibu dan Anak di Lyon menggunakan sekop-sekop tersebut.
Tak jauh dari karya Rayes, saya mendapati sebuah kotak kubus setinggi dua meter yang dipasangi dengan jendela kecil berwarna-warni. Ketika mengintip ke dalam, saya melihat miniator sebuah kota, serba putih dan rapi. Nah, yang membuat karya ini jadi menarik, semua bangunan dibuat dari kotak bekas kemasan dari barang yang kita pakai sehari-hari. gedung-gedung serba tinggi di kota utopia dibuat dari kardus jus siap saji, sementara rumah-rumah kecil dibuat dari kotak biskuit. Sederhana, tapi bagaimanapun mereka mengemasnya menjadi menarik. Karya ini dibuat oleh kelompok mahasiswa arsitektur dari Sekolah Arsitek di Lyon, UN NOUS.
Seniman-seniman Cina menyuguhkan kecenderungan bentuk yang serupa dalam Lyon Biennale ini. Michael Lin, Yangjiyang Group dan Xijing Men. Ketiganya membuat karya yang gagasannya bersumber dari memindahkan realitas lokal ke ruang pamer. Michael Lin memindahkan toko kelontong yang menjual barang kebutuhan sehari-hari (juga alat memasak, seperti piring, gelas, sapu, pembersih), sementara Yangjiyang Group membuat taman kecil dimana mereka kemudian melakukan performance pesta dan bermain mah yong di sebuah meja bundar yang terletak di tengah taman. Hampir sama dengan Yangjiyang, Xijing Men membuat gurun pasir penuh kaktus di sudut ruang yang lainnya.
Era Baru untuk Asia dan Afrika
Meski masih mengundang seniman-seniman terkenal dunia seperti Jeremie Durham, Barry McGee, Agnes Varda, dan George Brecht, dalam Biennale de Lyon ini Hanrou banyak melibatkan seniman-seniman baru dari Asia dan Afrika (meski sebagian besar dari mereka menjadi manusia beridentitas hybrid karena menetap di Eropa atau Amerika). Tentu ini menjadi angin segar yang memberi warna baru pada biennale internasional yang selama ini selalu didominasi karya seniman Barat. Dan, tak terhindarkan, kemajemukan latar belakang para seniman ini memberi pengaruh cukup besar pada kemajemukan isu dan wacana yang disampaikan para seniman. Apalagi, seniman-seniman Asia, Afrika dan Amerika Latin ini cenderung untuk setia berbicara tentang persoalan-persoalan aktual yang dihadapi oleh masyarakat asalnya.
Seniman-seniman dari jazirah Arab, misalnya Fikret Atay (Turki), Latifa Echachch (Maroko), atau Bani Abidi (Pakistan) berbicara tentang kontestasi kekuasaan antara Islam dan Barat, yang menyinggung pula tentang representasi Islam atau kelompok Muslim di masyarakat Barat. Beberapa berhasil menghadirkan imaji yang puitik tentang perang identitas sementara beberapa karya lain memang cenderung terlalu verbal dan kurang diolah agar lebih simbolis dan tak melulu meruapkan kemarahan. Bani Abadi, misalnya, membuat video menarik yang berbicara tentang kehidupan imigran Arab di Amerika pasca 9/11, dan mengaitkannya dengan tuduhan Barat terhadap mereka atas aksi terorisme radikal. Bani menampilkan seorang pria yang melakukan orasi di jalanan kota Amerika, dan mendandani wajahnya bak seorang badut (dengan khas bulatan merah dihidung). Sebagai imaji, video ini menarik, tetapi teksnya terasa terlalu radikal, apalagi diberi judul “Terorrist”.
Sebagian lain berbicara tentang pergeseran pola hidup di kalangan masyarakat muslim, terutama berkait dengan keterasingan, individualitas, ruang publik, dan konsep-konsep yang selama ini dipandang sebagai gagasan Barat. Saya menikmat karya Adel Abdessmed berupa seri foto berjudul “Foot On” dan “Talk is Cheap” yang menampilkan imaji-imaji ganjil tentang relasi manusia dan binatang, yang pada akhirnya menyeret saya pada pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang keterasingan, eksistensi dan relasi antar manusia, serta makna peradaban.
Seniman Afrika lain yang menonjol adalah Wangechi Mutu, perempuan Kenya yang tinggal di New York selama lima tahun terakhir. Karya Wangechi Mutu, “Dutty Water”, yang memanfaatkan teknologi pompa air dan lampu pijar, terasa feminin dan intim, berbicara tentang relasi perempuan dan teknologi. Yang menarik, entah mengapa, dari visualisasi karyanya, saya tetap merasa ada yang menghubungkan karya Wangechi dengan imaji dari karakter primitif Afrika (atau dari kebudayaan Vodoo) yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga menjadi imaji yang terasa kini.
Penutup
Secara umum, Biennale de Lyon ini merupakan satu pencapaian baru untuk Hou Hanrou. Banyak kalangan menyatakan bahwa pameran ini merupakan salah satu karya Hanrou yang terbaik, terutama karena ia berhasil menunjukkan kembali peran seni dalam membahasakan soal-soal aktual dalam masyarakat dalam satu bentuk yang tetap indah dan kreatif secara visual. Saya merasa bahwa Hanrou melihat dengan tepat perubahan yang terjadi di kalangan masyarakat seni dunia, bahwa konseptual art seharusnya berkembang ke ranah lebih jauh. Bukan berarti konseptual art sudah mati, tetapi nyatanya, selama dua dekade belakangan, ia gagal mendekati masyarakatnya. Hampir seluruh karya dalam pameran ini berhasil menampilkan bentuk visual yang segar dan kuat, serta pada saat yang sama, terjelaskan dan terpahami. Saya merasa saya bertamasya dalam dunia ide yang penuh arahan dan tak terlalu liar. Di tempat yang asing, kadang-kadang arus liar itu sedemikian menakutkan.
0 komentar:
Posting Komentar