kembali buku-buku puisi yang pernah saya baca, dan terhampar dalam
khazanah susastra di Indonesia, saya menduga bahwa ada dua jenis puisi
yang dengan mudah diterima oleh masyarakat pembaca kita. Yang pertama
adalah puisi-puisi jenis pamflet atau secara gamblang merujuk satu sikap
kritis terhadap peristiwa aktual, misalnya puisi-puisi karya Rendra,
Taufik Ismail, juga, belakangan, Wiji Thukul. Sementara, yang kedua,
puisi yang cenderung liris, terutama dari modus susastra yang
diperkenalkan oleh Sapardi Djoko Damono. Keduanya, punya kecenderungan
untuk menghampiri pembaca dengan cara yang komunikatif, yang membuat
pembaca merasakan bahwa perasaan dan gambaran mereka tentang dunia
terwakili dengan cara yang indah.
Puisi-puisi dalam buku kecil “Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya” karya Gunawan Maryanto ini merupakan sebuah upaya untuk memberi warna baru pada kecenderungan yang kedua. Barangkali, jika sering dikutip untuk undangan pernikahan atau bentuk musikalnya acap dipentaskan, puisi-puisi ini punya potensi untuk membuat publik luas makin jatuh cinta pada puisi.
Secara umum, puisi-puisi Gunawan Maryanto, memiliki semua ciri khas yang dicari orang dalam sebuah puisi: romantik, liris, berkait dengan kehidupan sehari-hari banyak orang, dan, yang sekarang menjadi kecenderungan baru: filmis. Membaca sajak-sajaknya, kita bisa mereka sebuah latar belakang, nama orang-orang, sosok-sosok terbayang, serta adegan demi adegan. Ia membahasakan kilasan peristiwa sehari-hari yang kita lihat di ruang publik kita, atau menumbuhkan kembali kenangan masa kecil yang sulit kita ceritakan kembali dengan kata-kata kita sendiri.
Mooi Indie dalam Puisi
Dalam khazanah seni rupa, istilah Mooi Indie digunakan untuk menyebut periode awal dari sejarah seni rupa di Indonesia, dimana para seniman punya kecenderungan untuk menggambarkan Indonesia dari sudut pandang yang cenderung turistik dan penuh eksotisme. Bentangan sawah, dengan pohon kelapa serta gunung dari kejauhan adalah hal yang mutlak ada dalam tiap citra yang memancarkan ketenangan. Begitupun manusia-manusianya, para petani pergi kesawah, anak-anak kecil tanpa sepatu, atau perempuan bertelanjang dada.
Dalam puisi Gunawan Maryanto, saya menemukan kembali metafor visual yang memenuhi kanvas di awal abad ke 20 itu, tetapi dalam cara pandang yang berbeda. Jika sebagian besar kritikus Mooi Indie, termasuk S. Soedjojono menyebut bahwa para pelukis itu telah menghamba pada selera para kolonialis, maka pada puisi Gunawan, kita menemukan bahwa objek-objek itu merupakan bagian yang wajar dari keseharian kita.
Misalnya, dalam sajak “Kampung dan Ladang Jagung”, Gunawan menulis:
Aku masih berada di belakang rumah nenek/Melewatkan sore dan film-film kartun/Melewatkan jalan kecil yang kau tunjuk dalam sebuah peta/--kita bisa sembunyi di sana sampai benar-benar dewasa …. Cari tempat sembunyi yang aman dari belukar dan ular.
Atau, mari kita dengarkan “Mereka”:
Langit oranye di matamu/bunga-bunga rumput di sweatermu/--tapi tak ada lagu… Harus kunamakan apa/cinta yang berjatuhan di kaki candi/Kataku kepadamu dengan tangan terentang/laiknya burung terbang…. Serakan andesit sakit dan ilalang/seribu kehilangan demi kehilangan.
Sebagaimana para pelukis zaman Mooi Indie, Gunawan menggunakan metafor yang cenderung menggambar lanskap seperti belakang rumah nenek, jalan kecil hingga belukar dan ular, batu andesit hingga burung terbang. Tetapi, ia tidak menggunakannya untuk membawa kita pada petualangan atas sesuatu yang asing, sebaliknya, dengan cara tertentu, pembaca disadarkan keberadaan objek-objek tersebut sebagai bagian yang amat wajar dari hidup sehari-hari. Alam desa tidak dihadirkan untuk merujuk pada “sang liyan”, tetapi bagian dari “kita”.
Pada puisi-puisi ini, objek-objek tersebut dihadirkan sebagai representasi visual yang paling mungkin dirujuk bersama untuk mewakili perasaan atau peristiwa. Karenanya, Gunawan dengan seenaknya bisa menyandingkan kampung neneknya dengan film kartun, antara langit dengan sweater. Keindahan Hindia itu kemudian menjelma menjadi satu cara bercerita yang penuh cita rasa kekinian, melibatkan sesuatu yang dekat dan terjangkau, ingatan atas imaji-imaji lanskap yang dilalui penyairnya atas hidupnya yang sehari-hari. Saya tidak mendapati sungai dan ilalang yang digambarkannya sebagai sesuatu yang eksotik, tetapi menjadi imaji yang puitik, yang mengantar saya untuk menikmati kembali keberadaan saya sebagai individu dengan semesta.
Dari Kelir Wayang Hingga Panggung Pertunjukan
Puisi-puisi pada kumpulan sajak ini menunjukkan jelajah tema yang luas dari sang penyair yang sehari-harinya menggeluti pula kerja penyutradraan atau penulisan naskah pertunjukan. Karenanya dalam karya puisi, pantulan dari pengalaman atas panggung itu bisa kita lihat dengan cukup jelas.
Yang pertama menjadi penanda adalah tema-tema dari kisah pewayangan. Gunawan Maryanto pernah belajar sastra Jawa, yang mengantarnya masuk dalam petualangan kisah-kisah dari masa lalu dan membawanya mempelajari pula mitologi. Sebagian besar kisah tersebut direka ulang, sehingga terasa relevan dengan yang kini. Ia membuka kembali Babad Tanah Jawi, dan setahu saya, menulis pula beberapa cerita pendek dari sana. Sebagian, yang tertinggal karena membawanya sedemikian dalam, menjelma menjadi puisi. Dongeng tentang perempuan berambut Jerami, atau penceritaan ulang tembang jineman, kisah tentang anak bajang, bagaimanapun juga, terasa membuat puisi-puisi ini menghadirkan bayangan ruang fisik yang otentik.
Menariknya, berbicara tentang wayang, Gunawan tampak tertarik berbicara tentang kisah dewi atau tokoh perempuan. Ada Surtikanti, Banowati, serta Gandari. Para perempuan ini berbicara tentang pandangan dan perasaan mereka tentang dunia, di tengah pergolakan kekuasaan dan peperangan. Gunawan tertarik untuk berbicara tentang yang subtil, pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang bagaimana mereka mengada.
Bagian yang mengetengahkan kehidupan panggung juga terasa menggetarkan. Sebagai orang dalam, Gunawan telah mencatat ketegangan-ketegangan perasaan yang acap terlewat sebelum atau sesudah pertunjukan. Ia tak hanya menunjuk panggung teater yang ditekuninya, tetapi juga bercerita tentang para penari di tobong-tobong, yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Mengudar cerita, tetapi, sebagaimana yang ditunjukkan Gunawan, selalu ada cerita baru yang bisa dibangun dari sana.
Pertunjukan adalah tentang kita; tentang siapa yang di panggung dan siapa yang menonton. Gunawan rupanya tertarik pada momen-momen ketika panggung menjadi lengang ditinggalkan penontonnya, menghayati diri dalam sebuah ruang besar yang menenggelamkannya. Satu sajaknya, “Sehabis Pertunjukan Buruk”:
Aku mabuk lagi, melupakan panggung yang buruk/menghindar sebentar dari lapar—dan perasaan bersalah/yang berlebihan…. Panggung kosong, para aktor kembali tidur/aku tahu mereka hanya bangun sesekali, dan tidur lagi/sedikit sekali menghirup kenyataan/atau demikianlah kenyataan yang mereka hayati.
Saya selalu percaya bahwa dialog terjadi antara penulis puisi dengan para pembacanya adalah sebuah dialog intertekstual yang penuh ketegangan, tetapi sedemikian mengasyikkan. Kata-kata, yang mengabstraksi peristiwa, benda-benda, nama-nama, dan jejalan kenangan, punya gambaran visual yang berbeda di benak masing-masingnya, dan karenanya, menimbulkan perasaan yang berbeda pula ketika bacaan atas puisi itu lebih dihayati. Menghadapi puisi Gunawan Maryanto, situasi semacam itulah yang sekiranya melintas di ruang pengalaman pembaca. Sebagaimana ia menggambarkan bagaimana dunianya yang lain acap demikian berbeda, begitu keluar dari kepala.
Puisi-puisi dalam buku kecil “Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya” karya Gunawan Maryanto ini merupakan sebuah upaya untuk memberi warna baru pada kecenderungan yang kedua. Barangkali, jika sering dikutip untuk undangan pernikahan atau bentuk musikalnya acap dipentaskan, puisi-puisi ini punya potensi untuk membuat publik luas makin jatuh cinta pada puisi.
Secara umum, puisi-puisi Gunawan Maryanto, memiliki semua ciri khas yang dicari orang dalam sebuah puisi: romantik, liris, berkait dengan kehidupan sehari-hari banyak orang, dan, yang sekarang menjadi kecenderungan baru: filmis. Membaca sajak-sajaknya, kita bisa mereka sebuah latar belakang, nama orang-orang, sosok-sosok terbayang, serta adegan demi adegan. Ia membahasakan kilasan peristiwa sehari-hari yang kita lihat di ruang publik kita, atau menumbuhkan kembali kenangan masa kecil yang sulit kita ceritakan kembali dengan kata-kata kita sendiri.
Mooi Indie dalam Puisi
Dalam khazanah seni rupa, istilah Mooi Indie digunakan untuk menyebut periode awal dari sejarah seni rupa di Indonesia, dimana para seniman punya kecenderungan untuk menggambarkan Indonesia dari sudut pandang yang cenderung turistik dan penuh eksotisme. Bentangan sawah, dengan pohon kelapa serta gunung dari kejauhan adalah hal yang mutlak ada dalam tiap citra yang memancarkan ketenangan. Begitupun manusia-manusianya, para petani pergi kesawah, anak-anak kecil tanpa sepatu, atau perempuan bertelanjang dada.
Dalam puisi Gunawan Maryanto, saya menemukan kembali metafor visual yang memenuhi kanvas di awal abad ke 20 itu, tetapi dalam cara pandang yang berbeda. Jika sebagian besar kritikus Mooi Indie, termasuk S. Soedjojono menyebut bahwa para pelukis itu telah menghamba pada selera para kolonialis, maka pada puisi Gunawan, kita menemukan bahwa objek-objek itu merupakan bagian yang wajar dari keseharian kita.
Misalnya, dalam sajak “Kampung dan Ladang Jagung”, Gunawan menulis:
Aku masih berada di belakang rumah nenek/Melewatkan sore dan film-film kartun/Melewatkan jalan kecil yang kau tunjuk dalam sebuah peta/--kita bisa sembunyi di sana sampai benar-benar dewasa …. Cari tempat sembunyi yang aman dari belukar dan ular.
Atau, mari kita dengarkan “Mereka”:
Langit oranye di matamu/bunga-bunga rumput di sweatermu/--tapi tak ada lagu… Harus kunamakan apa/cinta yang berjatuhan di kaki candi/Kataku kepadamu dengan tangan terentang/laiknya burung terbang…. Serakan andesit sakit dan ilalang/seribu kehilangan demi kehilangan.
Sebagaimana para pelukis zaman Mooi Indie, Gunawan menggunakan metafor yang cenderung menggambar lanskap seperti belakang rumah nenek, jalan kecil hingga belukar dan ular, batu andesit hingga burung terbang. Tetapi, ia tidak menggunakannya untuk membawa kita pada petualangan atas sesuatu yang asing, sebaliknya, dengan cara tertentu, pembaca disadarkan keberadaan objek-objek tersebut sebagai bagian yang amat wajar dari hidup sehari-hari. Alam desa tidak dihadirkan untuk merujuk pada “sang liyan”, tetapi bagian dari “kita”.
Pada puisi-puisi ini, objek-objek tersebut dihadirkan sebagai representasi visual yang paling mungkin dirujuk bersama untuk mewakili perasaan atau peristiwa. Karenanya, Gunawan dengan seenaknya bisa menyandingkan kampung neneknya dengan film kartun, antara langit dengan sweater. Keindahan Hindia itu kemudian menjelma menjadi satu cara bercerita yang penuh cita rasa kekinian, melibatkan sesuatu yang dekat dan terjangkau, ingatan atas imaji-imaji lanskap yang dilalui penyairnya atas hidupnya yang sehari-hari. Saya tidak mendapati sungai dan ilalang yang digambarkannya sebagai sesuatu yang eksotik, tetapi menjadi imaji yang puitik, yang mengantar saya untuk menikmati kembali keberadaan saya sebagai individu dengan semesta.
Dari Kelir Wayang Hingga Panggung Pertunjukan
Puisi-puisi pada kumpulan sajak ini menunjukkan jelajah tema yang luas dari sang penyair yang sehari-harinya menggeluti pula kerja penyutradraan atau penulisan naskah pertunjukan. Karenanya dalam karya puisi, pantulan dari pengalaman atas panggung itu bisa kita lihat dengan cukup jelas.
Yang pertama menjadi penanda adalah tema-tema dari kisah pewayangan. Gunawan Maryanto pernah belajar sastra Jawa, yang mengantarnya masuk dalam petualangan kisah-kisah dari masa lalu dan membawanya mempelajari pula mitologi. Sebagian besar kisah tersebut direka ulang, sehingga terasa relevan dengan yang kini. Ia membuka kembali Babad Tanah Jawi, dan setahu saya, menulis pula beberapa cerita pendek dari sana. Sebagian, yang tertinggal karena membawanya sedemikian dalam, menjelma menjadi puisi. Dongeng tentang perempuan berambut Jerami, atau penceritaan ulang tembang jineman, kisah tentang anak bajang, bagaimanapun juga, terasa membuat puisi-puisi ini menghadirkan bayangan ruang fisik yang otentik.
Menariknya, berbicara tentang wayang, Gunawan tampak tertarik berbicara tentang kisah dewi atau tokoh perempuan. Ada Surtikanti, Banowati, serta Gandari. Para perempuan ini berbicara tentang pandangan dan perasaan mereka tentang dunia, di tengah pergolakan kekuasaan dan peperangan. Gunawan tertarik untuk berbicara tentang yang subtil, pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial tentang bagaimana mereka mengada.
Bagian yang mengetengahkan kehidupan panggung juga terasa menggetarkan. Sebagai orang dalam, Gunawan telah mencatat ketegangan-ketegangan perasaan yang acap terlewat sebelum atau sesudah pertunjukan. Ia tak hanya menunjuk panggung teater yang ditekuninya, tetapi juga bercerita tentang para penari di tobong-tobong, yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Mengudar cerita, tetapi, sebagaimana yang ditunjukkan Gunawan, selalu ada cerita baru yang bisa dibangun dari sana.
Pertunjukan adalah tentang kita; tentang siapa yang di panggung dan siapa yang menonton. Gunawan rupanya tertarik pada momen-momen ketika panggung menjadi lengang ditinggalkan penontonnya, menghayati diri dalam sebuah ruang besar yang menenggelamkannya. Satu sajaknya, “Sehabis Pertunjukan Buruk”:
Aku mabuk lagi, melupakan panggung yang buruk/menghindar sebentar dari lapar—dan perasaan bersalah/yang berlebihan…. Panggung kosong, para aktor kembali tidur/aku tahu mereka hanya bangun sesekali, dan tidur lagi/sedikit sekali menghirup kenyataan/atau demikianlah kenyataan yang mereka hayati.
Saya selalu percaya bahwa dialog terjadi antara penulis puisi dengan para pembacanya adalah sebuah dialog intertekstual yang penuh ketegangan, tetapi sedemikian mengasyikkan. Kata-kata, yang mengabstraksi peristiwa, benda-benda, nama-nama, dan jejalan kenangan, punya gambaran visual yang berbeda di benak masing-masingnya, dan karenanya, menimbulkan perasaan yang berbeda pula ketika bacaan atas puisi itu lebih dihayati. Menghadapi puisi Gunawan Maryanto, situasi semacam itulah yang sekiranya melintas di ruang pengalaman pembaca. Sebagaimana ia menggambarkan bagaimana dunianya yang lain acap demikian berbeda, begitu keluar dari kepala.
0 komentar:
Posting Komentar