Jumat, 04 Januari 2013

PEREMPUAN MEMBACA DUNIA

Perempuan itu berdiri telanjang di bibir pantai yang sepi. Tak seluruh tubuhnya kelihatan jelas. Hanya bagian dada hingga paha saja yang tampak dalam video itu. Tapi ini bukan sekadar tubuh yang telanjang. Perempuan itu menari dengan holahop. Dan, astaga, holahop itu terbuat dari kawat berduri! Saya membayangkan betapa sakit duri-duri tajam mengenai kulit yang halus itu. Sementara suara ombak berdebur di belakangnya, dengan musik yang tipis mengiringi, membuat suasana jadi terasa mendebarkan. Sebagian kulit perutnya sudah menampakkan luka bekas goresan yang membuat kita terasa miris saat melihatnya. Dalam pandangan saya, perempuan itu sedang melawan banyak mitos sosial tentang tubuhnya. Ia menampilkan imaji visual tentang betapa tubuh perempuan banyak dijadikan sebagai medan pertarungan kekuasaan, yang menimbulkan rasa sakit tak terhingga. Karya Sigalit Landau, seniman Israel yang kini bermukim di Paris, itulah, yang hingga sekarang masih terbayang kuat dalam ingatan saya.

***
Bangunan Centre de Pompidou, Paris, Perancis yang megah dan modern itu masih terasa sepi ketika saya sampai di sana sebelum pukul sebelas siang. Mumpung antrian belum panjang, saya segera masuk ke deretan pengunjung yang sudah datang terlebih dulu. Sebelumnya, dari seorang teman, saya tahu bahwa pameran utama di “museum modern art” Perancis ini subjeknya sesuatu yang saya suka, yaitu tentang seniman perempuan. Banyak orang memperdebatkan apakah masih perlu membuat pameran dengan melihat identitas gender sebagai subjek kuratorial? Tidakkah hal itu akan membuat posisi perempuan sendiri tidak pernah setara? Tapi pameran bertajuk elle@pompidou ini membuktikan bahwa pembacaan berbasis isu gender masih relevan dilakukan dalam sejarah seni rupa sekarang. Tak hanya menampilkan karya yang sangat kuat dari seniman-seniman terkemuka dari seluruh penjuru dunia, tetapi juga konsep dan penataan ruang yang sangat menarik dan membantu kita memahami sejarah keberadaan seniman perempuan dalam peta seni global. Seluruh catatan yang bertebaran di dinding pameran adalah artifak yang penting yang menandai gagasan fundamental seniman-seniman perempuan. Tak cuma karya, kita memang menemukan serak catatan, buku, foto dokumentasi, dan rekaman video dari proses berkarya mereka.

Begitu masuk ruang utama pameran, kita disuguhi neon box bertulis nama-nama seniman yang mengundang senyum. Sepintas, jika melihat nama-namanya, kita akan merasa sangat familiar karena mereka adalah figure papan atas dalam sejarah seni rupa dunia. Tapi, jangan salah, semua nama depan seniman itu diganti menjadi perempuan, misalnya Annie Warhol (plesetan dari Andy Warhol), Josephine Beuys (dari Joseph Beuys), Francoise Bacon (dari Francis Bacon), Jacky Pollock (dari Jackson Pollock), dan beberapa nama lain. Dari idenya kita bisa melihat bahwa ini merupakan bagian dari pertanyaan mengapa seniman perempuan sulit sekali diakui sebagai tokoh penting dalam sejarah seni dunia.

Bagian pertama dari pameran ini diberi tajuk “Pioneer”, menampilkan karya-karya seniman Shirley Jaffe, Joan Mitchell, Sonia Delaunay, Natalia S. Gontcharova, Hannah Höch, Frida Kahlo, Judit Reigl, Suzanne Valadon, Diane Arbus, dan Dora Maar. Mereka adalah pionir yang mewakili beragam medium lukisan, patung, fotografi, dan instalasi, yang menunjukkan nilai penting isu personal yang acap diolah perempuan dalam isu estetika kontemporer. Sebelum mereka, sulit sekali karya seniman perempuan dianggap serius, atau dikoleksi oleh museum. Mereka terus berada di bawah bayang-bayang para seniman lelaki. Tetapi mereka berjuang dan mendobrak, hingga kini mereka diakui sebagai seniman yang berpengaruh dalam sejarah.

Memasuki masa selanjutnya, terutama dari karya-karya yang lahir pasca 1960an, dapat terlihat bahwa ada pergeseran isu dari sesuatu yang melulu personal, pada tingkatan yang menyatakan bahwa “yang personal adalah politis”. Bagian menarik adalah “Body Slogan”, menampilkan karya-karya yang menggunakan ‘tubuh’ sebagai medium dan isu. Karya Langdau, “Barbed Hula”, masuk dalam kategori ini, bersama dengan karya dari ORLAN, Atsuko Tanaka and Ana Mendieta. Gagasan para seniman perempuan ini, terutama untuk karya yang dibuat sekitar tahun 1970an, memang terasa radikal berkaitan dengan isu tubuh. Mereka terutama berbicara tentang bagaimana tubuh perempuan telah diposisikan sedemikian rupa hanya untuk melayani kepentingan sosial kaum lelaki. Maka tak heran jika banyak tema yang mengupas tentang seksualitas, ketelanjangan, atau hak reproduksi, dalam karya-karya di bagian tersebut.

Karya menarik lainnya ditampilkan oleh Nan Goldin, berjudul “The Heart Beat”. Nan Goldin adalah seorang fotografer kontemporer yang paling gemilang pada 1980an. Untuk karya yang khusus dipesan oleh Centre de Pompidou kali ini, ia mengambil tema keintiman. Ia mengikuti kehidupan beberapa pasangan—sepasang anak muda, sebuah keluarga, dan pasangan gay—serta mengambil gambar dari situasi mereka yang paling intim dan personal. Pasangan ini tampak sedang berciuman, atau bahkan melakukan hubungan seks, dengan imaji yang telah diperbesar mencapai ukuran 2 X 3 m. Meskipun terdengar sebagai sebuah ide yang sangat sederhana, tetapi gambar-gambar Goldin seperti menampilkan keindahan yang sempurna. Kita melihat keintiman sebagai sesuatu yang wajar dan memberi daya pada hidup manusia, ketelanjangan bukan sebagai sesuatu yang dianggap tabu, tetapi situasi paling alamiah dari keberadaan manusia. Apalagi, sebagai latar untuk slide show ini, Goldin mengambil musik karya Bjork, yang membuat karyanya menjadi lebih dramatis.

Setelahnya, memasuki bagian lain, yang judulnya dipinjam dari novel Virginia Woolf, “A Room of One’s Own”, saya menemukan karya-karya yang tak kalah memukau. Di sinilah para perempuan berbicara tentang ruang—tempat, arsitektur, domestifikasi, dan isu yang terkait—dan relasinya dengan identitas mereka sebagai perempuan. Dorothea Tanning membuat instalasi sebuah ruang keluarga, lengkap sofa, meja, lemari, dan orang-orangan yang terbuat dari karung goni. Sementara Tatiana membuat fotografi dari wilayah perkotaan kota, di mana balkon-balkon apartemen tinggi dihiasi dengan baju-baju yang sedang dijemur atau para perempuan merenda sembari menghirup udara bebas. Tatiana menunjukkan betapa perempuan, dengan cara tertentu, selalu mengintervensi ruang kota yang biasanya selalu dianggap keras dan maskulin.

Karya Yayoi Kusama yang melegenda, “The Flower Piece”, juga bisa dilihat di sana. Karya ini dari jauh menyerupai bentuk bunga, tetapi kita bisa melihat bahwa bagian bawahnya terbuat dari kasur bekas yang dijahit sambung menyambung, sementara bagian atasnya terbuat dari kaus tangan yang dijahit dengan pola yang sama. Yayoi memberi warna merah darah untuk ‘bunga’-nya. Melalui metafor bunga, Yayoi berbicara tentang citra keperempuanan yang selalu dianggap indah (tetapi memberi banyak rasa sakit) serta ‘kodrat’ perempuan yang harus selalu berkembang (dalam pengertian reproduktif).

Pameran ini menarik banyak sekali pengunjung, selain karena tema dan nama-nama besar seniman yang terlibat di dalamnya, mulai dari yang Niki de Saint Phalle, Marina Abramovich, Louis Bourgeois, Barbara Kruger, Guerrilas Girl, Yayoi Kusama hingga Tracey Emin. Saya juga terkesan atas kelengkapan media yang menunjukkan keterbukaan Centre de Pompidou terhadap berbagai gagasan baru dalam seni. Tak hanya medium yang mulai dianggap konvensional seperti lukisan, patung, instalasi, atau fotografi, tetapi Pompidou juga menampilkan video instalasi dan bahkan desain terapan. Para seniman perempuan terbukti telah mengeksplorasi berbagai kemungkinan dalam seni visual untuk berbicara tentang berbagai isu, baik yang menyangkut identitas mereka sebagai perempuan maupun yang berbicara tentang isu-isu sosial secara umum. Beberapa seniman bahkan dipandang telah menampilkan terobosan baru berkaitan dengan visi estetik dan teori seni yang mengalahkan pencapaian seniman-seniman lelaki.

Pameran ini adalah salah satu pameran terbaik yang pernah saya saksikan. Mungkin karena saya perempuan, saya bisa dengan segera berkait pada sesuatu yang ingin dibicarakan seniman-seniman itu. Saya merasa bahwa perasaan dan pengalaman saya terbahasakan di sana, sesuatu dalam diri saya termanifestasikan.

0 komentar:

Posting Komentar