Pernahkah anda
ragu-ragu dalam melangkah, seperti apakah hari Minggu akan keluar rumah
atau tidak. Sering terjadi niat yang semula begitu menggebu ingin
keluar rumah (misalkan: untuk berbelanja, atau ketemu saudara) menjadi
batal di saat-saat terakhir, karena kita merasa ragu, tidak nyaman,
atau merasa bahwa keperluan pergi keluar tersebut sebetulnya bisa
ditunda. Orang-orang tua mengatakan bahwa hal tersebut semacam
“firasat”, yang pada umumnya lebih banyak menghinggapi kaum wanita.
Apakah intuisi
itu? Bagaimana anda bisa menggunakannya lebih baik? Intuisi adalah
kekuatan yang dengan cepat menyadari bahwa “sesuatu” itu adalah
kasusnya. Hal tersebut dilakukan tanpa intervensi dari berbagai proses
yang masuk akal. Tidak ada langkah-langkah induktif atau deduktif yang
masuk akal. Tidak ada analisa yang wajar dari situasi tersebut, tidak
ada bantuan dari imajinasi. Hanya sekilas dan tiba-tiba muncul. Anda
hanya tahu ada yang tidak sesuai.
Mempercayai intuisi anda.
Intuisi
merupakan suatu kebutuhan, karena tidak semua masalah dapat dijelaskan
hanya dengan logika. Misal: Pada saat membaca laporan yang disodorkan
oleh anak buah, anda dihinggapi perasaan kurang nyaman, bahwa laporan
yang dibuat oleh anak buah anda tidak benar, atau anda mempunyai
perasaan bahwa bawahan anda akan berbuat curang.
Langkah apakah yang akan anda lakukan? Tentunya anda harus melakukan penelitian, check dan re check , apa yang ada dibalik laporan tersebut, dan melakukan probing dengan orang-orang yang ada hubungannya dengan laporan tersebut, sampai anda merasa yakin bahwa feeling anda benar atau tidak. Ada memang orang yang intuisi nya sangat kuat, dan sering apa yang dirasakan akan benar-benar terjadi.
Kalau anda
sekarang cenderung untuk lebih berhati-hati dan memberikan status yang
lebih terhadap intuisi dalam berpikir, anda telah mengambil langkah
pertama untuk menggunakan intuisi tersebut dengan lebih baik.
Selanjutnya adalah belajar untuk mempercayai kekuatan intuisi anda. Ini
tidak berarti selalu, juga tidak berarti kadang-kadang, karena
seseorang tidak bisa menyamakan tentang seberapa seringnya. Tetapi anda
sebaiknya bersiap untuk memberikan intuisi anda keuntungan dari
keraguan, anda harus membangun hubungan yang hangat dan akrab terhadap
bagian pikiran anda, yang siap menawarkan pelayanan unik ini.
Bagaimana
intuisi tersebut digunakan dalam bidang pekerjaan? Saya pernah
mendapatkan pelatihan, yang antara lain bagaimana agar peserta dapat
lebih memperdalam rasa dalam mengartikan intuisinya. Apabila anda
bekerja sebagai teller, misalnya, saat ada nasabah yang ingin
mencairkan uang di Bank, pertama-tama anda akan melihat apakah tanda
tangannya cocok dengan yang ada pada dokumen contoh tanda tangan,
kemudian apakah saldo mencukupi. Namun bilamana hati anda merasa
was-was, tidak yakin, maka anda harus mengulangi pengecekan tersebut,
dan membandingkan kembali dengan dokumen yang ada, serta melakukan
klarifikasi melalui telepon terhadap orang yang menandatangani cek
tersebut, apakah benar dia telah mengeluarkan cek nomor seri xxxx dengan
nilai Rp. y.000,-. Anda harus mengikuti intusisi tersebut, yang
sebenarnya merupakan alarm dari hati anda, bahwa ada sesuatu yang kurang wajar.
Mengapa? Bagi
seorang pemalsu tanda tangan, setiap goresan, ketajaman atau tebal
tipisnya garis pada tanda tangan, akan sama persis dengan yang ada pada
contoh tanda tangan. Sedangkan bagi penulis tanda tangan asli, setiap
tanda tangan akan berbeda, baik goresannya, tebal tipisnya, dan kadang
bentuknya tak sama persis. Anda tak percaya? Silahkan di coba. Dari
pelatihan tersebut peserta dapat memahami, bahwa intuisi yang muncul,
harus ditindak lanjuti, karena sebetulnya merupakan alarm adanya ketidak beresan.
Emosi dan intuisi
Emosi dan
intuisi memiliki sumber yang dekat sekali di kedalaman otak. Mungkin
sekali syaraf-syarafnya saling bersilangan. Emosi yang negatif dari
ketakutan dan kegelisahan bisa mengekspresikan dan muncul dalam
intuisi. Seorang penumpang yang gugup mungkin mempunyai intuisi bahwa
penerbangannya ke Paris akan mengalami kecelakaan dan ia pindah pesawat
lain. Tingkat keberhasilan dari intuisi kegelisahan ini bisa dikatakan
rendah. Emosi yang positif juga bisa menghasilkan intuisi yang
diharapkan. Seorang laki-laki dan perempuan yang sedang jatuh cinta
bisa memiliki intuisi tentang karakter dari kekasih yang dicintainya,
yang berubah menjadi irasional.
Seorang pemikir
yang mengandalkan hanya pada intuisi , sebagaimana dilakukan oleh
banyak pemikir yang efektif, harus sehat secara fisik dan emosional.
Anda hanya diharuskan untuk mempunyai sedikit rasa sakit untuk
mengetahui bagaimana influensa itu mempengaruhi emosi anda. Anda
mungkin menjadi lebih mudah marah dan tertekan, fokus anda terhadap
kepentingan jatuh ke perut, anda merasakan kesakitan, anda mungkin
hampir yakin bahwa mungkin anda akan meninggal dunia.
Stres dan
kelelahan pikiran atau tubuh bisa menyebabkan malapetakan dalam intuisi
para pemikir yang memahami dengan cepat situasi yang sebenarnya. Para
pendaki gunung menyadari bahwa keputusan yang diambil dalam kondisi
lelah sangat tidak berkualitas. Kalau anda lelah, yang terbaik adalah
berpikir secara logis apa yang harus dilakukan, dan tidak mengandalkan
intuisi anda.
Area yang mengunakan intuisi untuk pengambilan keputusan, sebagai berikut:
-
Corporate Strategy Planning 79,9%
-
Human Resources Development 78,6%
-
Marketing 76,8%
-
Research & Development 71,6%
-
Finance 31,1%
-
Production & Operation 27,7%
Dari ilustrasi
di atas, nampak bahwa untuk aspek yang mudah dikuantifikasi seperti
bidang keuangan, produksi dan operasi jarang sekali menggunakan intuisi
sebagai landasan membuat keputusan.
Mengambil
keputusan berdasar intuisi adalah merupakan ketrampilan yang dapat
dipelajari dari pengalaman, yang diperoleh dari proses berpikir, dengan
cara mengolah informasi yang akurat dan relevan.
Sumber Pustaka:
-
Bahan pelatihan yang diadakan oleh lembaga pendidikan, tanggal 21-23 Agustus 2004. PT Bank XXX, Jakarta.
-
John Adair. Effective Decision Making. Pann Books, London, 1985. p.92-97. (Dari Suplemen pelatihan. Indra keenam dan intuisi).
0 komentar:
Posting Komentar