Jumat, 04 Januari 2013

PREDD

Ingatan-Ingatan Bersembunyi dalam Laci

Dalam hampir dua puluh tahun terakhir, saya mengamati slogan-slogan yang berkaitan dengan pariwisata Indonesia selalu berupaya menampilkan ‘identitas’ Indonesia sebagai satu teritori yang eksotik. Brosur pariwisata hampir semuanya merujuk pada keindahan alam sebagai modal daya tarik yang utama. Kemudian, identitas lain direpresentasikan melalui gambar-gambar mengenai kekayaan budaya Indonesia yang majemuk, yang terutama diwakili oleh gambar tari-tarian tradisional, gambar rumah adat, gambar ritual tradisional, dan sebagainya. Imaji visual macam inilah yang diperkenalkan secara luas ke seluruh penjuru dunia. Hampir tak pernah berubah, seolah-olah dalam perkembangan 20 tahun ini, tak ada perubahan berarti di tempat-tempat wisata tersebut, yang lebih jauh bisa dilihat sebagai representasi yang statis atas masyarakat.

Soal menjual “keindahan Hindia” ini merupakan topik yang telah dibicarakan sejak lama, terutama berkaitan dengan “sejarah seni rupa” di Indonesia. Di hampir seluruh literatur yang membicarakan sejarah seni, selalu disebut tentang tema-tema Hindia yang molek (atau disebut sebagai Mooi Indie) sebagai wacana awal dalam seni rupa modern Indonesia. Lukisan-lukisan lanskap bergaya naturalis dan romantik, yang menggambarkan keindahan alam Indonesia, disebarkan secara luas ke daratan Eropa untuk mengundang mereka datang dan menikmatinya. Lukisan-lukisan itu tentu memberi gambaran yang ambigu; di satu sisi mengenai keindahan alam yang nyata adanya, tetapi di sisi yang lain ada ilusi mengenai kedamaian (yang tentu bukan gambaran dari sebuah negeri yang terjajah). Sebagian besar pelukis Mooi Indie ini adalah seniman-seniman yang datang dari Eropa, tinggal untuk menetap di wilayah-wilayah di Indonesia dengan penghasilan yang cukup besar dari pasar kelas menengah yang mulai bertumbuh, dengan keseragaman selera atas karya seni yang mudah dinikmati.

Adrienne Fast menulis bahwa sebagian besar lukisan-lukisan bergaya Mooi Indie tersebut dipesan oleh para pejabat pemerintahan atau pemilik pabrik berdarah Eropa yang ingin mengabadikan kenangan atas masa tinggalnya di negeri tropis koloni jika kelak mereka harus kembali ke Eropa. Tetapi, ada fakta yang harus disebut pula bahwa lukisan-lukisan semacam ini juga menarik minat kelompok aristokrasi Indonesia. Beberapa orang pelukis Eropa bahkan sempat diundang untuk melukis di rumah-rumah Pangeran Jawa, misalnya mereka yang bekerja secara resmi di Keraton Surakarta.

Tentu saja, gambaran-gambaran yang semacam ini mendapatkan pertentangan yang cukup kuat. Kelompok seniman Indonesia, Persagi, yang dimotori oleh S. Soedjojono adalah pengritik awal dan utama dari keberadaan imaji mooi Indie. Ia menyatakan bahwa objek-objek dalam lukisan naturalis, seperti gunung, pohon kelapa, sungai atau hamparan padi, bukanlah semata-mata objek dalam sebuah bingkai kanvas, melainkan menunjukkan gagasan kolonialis di baliknya, terutama berkaitan dengan kuasa melihat.

Kata kunci mengenai lukisan Mooi Indie, yakni bentuk karya seni yang mudah diterima, tampaknya membuat keberadaannya tak pernah lekang waktu, meskipun kritik atasnya membanjir. Setelah masa seni modern berkembang lebih jauh, dan lahirnya sekolah-sekolah seni telah memperkenalkan cita rasa baru pada kelas menengah Indonesia, sebuah bangsa yang masih belia tentang lukisan-lukisan mutakhir dengan pengaruh konsep seni Barat yang kuat, gaya lukisan Mooi Indie tetap bertahan. Dalam pelajaran menggambar di sekolah-sekolah misalnya, sadar atau tidak, lukisan ini diadopsi menjadi sesuatu yang diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hampir seluruh murid sekolah di Indonesia pernah diajarkan menggambar pemandangan dengan pola yang sama dengan lukisan-lukisan Mooi Indie. Lukisan Mooi Indie juga menjadi gaya dominan dalam bursa pasar lukisan yang biasanya ada di tempat-tempat wisata (yang terbesar misalnya di pasar kerajinan Sukowati, Bali), untuk dijual kepada turis-turis masa kini yang masih saja ingin mengabadikan kenangan atas perjalanannya di sebuah negeri tropis, tak beda dengan mereka yang datang beratus tahun lalu. Rupanya persoalan ‘kuasa melihat’ dan representasi visual ini sudah berlangsung dalam periode yang teramat lama sehingga sudah menjadi bagian yang nyaris integral, atau dianggap sebagai sesuatu yang terberi.

Setelah puluhan masa kolonialisme berlalu, nyatanya persoalan ini masih berada pada tempat yang sama. Selain berlangsung pada kehidupan sehari-hari sebagaimana yang sedikit saya gambarkan, industri pariwisata yang berkembang dalam lingkup dunia global, seperti tak bisa menghindar, selalu mencoba untuk menjual imaji keindahan dan eksotika negeri-negeri yang jauh. Brosur dan media-media promosi pariwisata masih bergerak dalam lingkup yang sama, meskipun menyertakan pula tambahan fasilitas yang menunjukkan bagaimana modernisasi berlangsung dengan penuh kegagapan, disertai dengan strategi lokal yang menakjubkan. Tetapi, pada kenyataannya, kehidupan sehari-hari tampak jauh dari apa yang ditampilkan kepada dunia luar. Selain Bali yang dikenal secara luas sebagai tempat tujuan wisata utama, masyarakat Indonesia sering direpresentasikan atau dipandang oleh Barat, secara umum (bukan dalam pandangan kelompok intelektual) sebagai kelompok yang terbelakang, jauh dari perkembangan peradaban, atau sebuah zona yang penuh ketidakamanan.

Pada lima tahun belakangan ini, mulai muncul upaya-upaya untuk memberikan gambaran baru tentang Indonesia, tidak dalam kerangka eksotika, melainkan sebagai bagian entitas global yang mengalami beragam perkembangan bersama dengan masyarakat dunia. Misalnya, beberapa media yang berbahasa Inggris terbitan Indonesia, lebih banyak mengeksplorasi isu yang bersifat keseharian dalam kehidupan masyarakat urban. Situasi-situasi nyata yang khas, misalnya banjir di Jakarta, kehidupan di klub-klub malam di berbagai kota besar di Indonesia yang tak kalah meriah dengan klub-klub di New York, atau ulasan mengenai berbagai peristiwa seni kontemporer, kehidupan kelompok-kelompok subkultur, merupakan cerita yang acap menghiasi publikasi tentang Indonesia beberapa tahun belakangan, mencoba untuk memberi pandangan lain atas Hindia yang molek tadi. Imaji visual baru diciptakan untuk memberikan alternatif citra, menyatakan pada dunia bahwa yang indah dan molek itu telah berubah.

Apakah imaji tentang hindia yang molek itu tinggal kenangan saja? Apakah ia menjadi sebentuk nostalgia bagi orang-orang dari masa lampau? Apakah ia menjadi representasi satu kelas tertentu? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi hal utama yang saya ajukan ketika menggagas pameran ini bersama dengan beberapa seniman muda dari Yogyakarta. Pada awalnya, beberapa kali mengantar teman dari luar negeri berbelanja souvenir di Indonesia, saya selalu suka mengamati kartu pos-kartu pos yang dijual di toko-toko tersebut. Imaji visual yang muncul dari kartu-kartu itu terasa sangat berbeda dengan imaji-imaji visual yang saya geluti sehari-hari berkaitan dengan pekerjaan saya dalam bidang seni rupa, padahal, keduanya sama-sama berbicara tentang Indonesia, dan di masa lalu ketertautan antara keduanya adalah sesuatu yang tak terhindarkan.

Dalam khazanah seni rupa kontemporer Indonesia tiga empat tahun belakangan ini, gaya-gaya yang dipengaruhi oleh komik populer menjadi sesuatu yang muncul di koridor aras utama. Imaji pop yang segar, penuh humor, komunikatif dan berwarna-warni (seringkali terasa ringan) dalam waktu yang singkat telah menarik perhatian publik dan lingkaran masyarakat seni. Mereka mengambil inspirasi karya dari beragam berita dan cerita hidup yang berserak di sekitar mereka. Kritisisme atas situasi dunia yang penuh pertarungan kuasa, hingga bentangan cerita atas kisah keseharian yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari, adalah tema-tema yang menjadi gagasan karya mereka. Mereka mengambil modus naratif sebagai strategi bercerita, karenanya simbol-simbol visual yang mereka tampilkan merupakan sesuatu yang muncul sebagai penunjang cerita, bukan menjadi hal utama. Ini tentu berbeda dengan lukisan-lukisan landskap di masa lalu di mana seluruh objek yang muncul di kanvas merupakan ‘tokoh’ pencerita itu sendiri. Sesekali, dalam lukisan bergaya pop dari seniman generasi muda ini, kita bisa juga menunjuk lanskap atau bagian dari alam. Tetapi sebagian besar lanskap itu digunakan sebagai setting, atau untuk menunjukkan konteks lokal dari cerita yang sedang digambarkan.

Dalam pameran ini, para seniman diajak untuk membaca kembali, melihat dan menafsirkan dengan cara mereka sendiri ingatan tentang hindia yang molek. Bagaimana seniman-seniman muda ini bersikap atas tonggak dari sejarah seni rupa Indonesia, dan kemudian mengaji perdebatan panjang atas masa-masa sesudahnya? Apakah, sebagaimana generasi Soedjojono, mereka memberikan pandangan kritis atas bagaimana Indonesia digambarkan untuk memberikan citra tertentu? Dalam lukisan-lukisan mereka, yang muncul di pameran ini, kita melihat bagaimana imaji tentang lanskap dan keindahan itu sudah menemukan wajahnya yang lain. Makna keindahan didefinisikan ulang, citra kedamaian berganti dengan pandangan atas sesuatu yang dinamis dan terus bergerak. Simbol-simbol Mooi Indie itu diterjemahkan sebagai sesuatu yang bukan romantik dan nostalgik, melainkan, menjadi bagian atas sejarah panjang yang membentuk identitas generasi masa kini. Generasi masa kini melihat turisme sebagai sesuatu yang sederhana, seolah sekadar tamasya, sehingga sering keasyikan sendiri dan cenderung lupa tentang bagaimana citraan-citraan yang semu terus diciptakan untuk melanggengkan imaji yang eksotik tentang Indonesia.

Barangkali, untuk generasi mereka, imaji dan pandangan kritis yang diperdebatkan pada masa lalu hanya tersimpan di laci lemari. Pameran ini berusaha untuk membuka lagi laci ingatan tersebut, menggelitik sesuatu yang barangkali kita lupa. Dengan imaji-imaji bergaya komik yang coba kita bentang, kita berusaha melihat bagaimana seniman muda membaca sejarah diri.
******

A Tribute to Mooi Indie: Memories hiding in a drawer

For close to twenty years, I’ve been watching the slogans attached to Indonesian tourism, always trying to present the “identity” of Indonesia as an exotic territory. Nearly all the tourist brochures reference the beauty of nature as the main asset of attraction. Then, other aspects of Indonesia’s identity are represented, through images of its composite cultural wealth, mainly reflected in pictures of traditional dances, pictures of customary houses, pictures of traditional rituals, and so on. Such visual images have become familiar worldwide. Almost unchanging—as if nothing significant has changed in these tourism spots in the course of twenty years—they can be seen as static representations of a society.

The issue of the selling of the “beauty of the Indies” is a topic that has long been discussed, especially in association with the “history of the fine arts” in Indonesia. Nearly every piece of literature addressing art history mentions the themes of the beautiful Indies, or what is known as Mooi Indie, as part of the early discourse of Indonesian modern art. Landscape paintings in naturalistic and romantic styles, depicting the natural beauty of Indonesia, were widely distributed around the European continent to entice people to come and enjoy it. Those paintings, of course, offered ambiguous depictions: they were, on the one hand, about the beauty of nature that really was there, but on the other, illusions of peace (certainly not depictions of a colonized land). Most of the Mooi Indie painters were artists who came from Europe and stayed, to settle in areas of Indonesia where they then made substantial incomes from a newly burgeoning middle-class market with a uniform taste for art that was easy to enjoy.

Adrienne Fast writes that many of the Mooi Indie style paintings were commissioned by government officials or factory owners of European blood, who wanted to perpetuate the memory of their soujourns in the colonial tropics when they had to return home to Europe later on. But the fact should be noted that such paintings also attracted the interest of the Indonesian aristocracy; some European painters were even invited to paint in the homes of Javanese princes, such as the ones formally employed at the Palace of Surakarta.

Of course, these kinds of pictures met with fairly strong opposition: the Indonesian artists’ group, Persagi, led by S. Soedjojono, was the first and foremost critic of the existence of the Mooi Indie images. Soedjojono asserted that the objects in these naturalistic paintings—mountains, coconut trees, rivers, or rice fields—were no mere objects framed on canvas, but rather, revealed the colonialist ideas behind them, especially those related to the “power of the (colonial) gaze”.

The key to Mooi Indie painting, as a form of artwork that is so easy to accept, is that it seems never to be eroded by time, despite the flood of criticism against it. Even after a period of further evolution of modern art, and the birth of schools of art that introduced the middle classes of the still young nation of Indonesia to a taste for the latest paintings, strongly influenced by Western art concepts, the Mooi Indie style of painting persisted. In drawing lessons at the schools, for example, consciously or not, this kind of painting has been adopted as something to be taught by one generation to the next. Almost every Indonesian school student has been taught to draw scenes patterned after the Mooi Indie paintings. Mooi Indie is also the dominant style of the paintings found in the art markets in tourist destinations (one of the largest, for example, is the handicrafts market in Sukawati, Bali) for sale to contemporary tourists—who still just want to preserve the memory of their trips to a tropical land, no different from those who came hundreds of years ago.

Apparently, the issue of the “power of the gaze” and visual representation has lasted so long, it has come to be regarded as a given, an almost integral part of things. Decades after the passing of the colonial period, in fact, this issue still seems to remain in the same place. Aside from becoming part of everyday life, as I have suggested, the tourism industry, with its ever growing global scope, apparently unavoidable, is always trying to sell images of the beauty and exotica of faraway lands. Tourism brochures and promotional media still cover the same terrain, although they also include the additional facilities that show how modernization is progressing, at a stuttering pace, along with amazing local strategies. But, in reality, everyday life seems a far cry from what is displayed to the outside world. Apart from Bali, which is renowned as Indonesia’s prime tourism destination, Indonesians are often represented or regarded by the West, in general (although not by its intellectuals) as a backward people, far from the progress of civilization, or in a zone filled with insecurity.

In the last five years, efforts have begun to emerge to provide a novel picture of Indonesia, not in terms of exotica, but as part of the global entity that is going through a diverse range of developments along with the rest of the people of the world. For example, there are a number of English-language media publications in Indonesia that mainly explore the everyday issues of urban society. Typical real-life situations, like floods in Jakarta, life in the nightclubs in Indonesia’s various big cities, which are no less lively than the clubs in New York, or commentaries on contemporary art events, the lifestyles of subcultural groups, are the stuff of the stories adorning publications on Indonesia in recent years, in attempt to offer a different view of the beautiful Indies discussed above. New visual images are being created, to provide an alternative vision, to tell the world that the beautiful and the picturesque have changed.

Are images of the beautiful Indies just a distant memory? Are they a form of nostalgia for the past? Are they the representations of a certain class? These were the key questions I asked when I dreamed up this exhibition together with several young artists from Yogyakarta. When I started taking friends from abroad shopping for souvenirs in Indonesia, I always enjoyed looking at the postcards that were sold in those shops. The visual imagery that came out of the cards felt so different from the visual imagery I wrestled with everyday in my work in the fine arts—even though both spoke of Indonesia, and their linkages with the past were inescapable.

In the repertory of contemporary Indonesian art in the last three or four years, styles influenced by popular comicbooks have come into the mainstream. Fresh pop images, full of humor, communicative and colorful (often lightweight in feel) have, in a brief time, attracted the attention of the public and the art community. The artists draw the inspirations for their works from the various news and life stories strewn around them. Themes ranging from criticisms of the situation of the world, brimming with power struggles, to expositions of stories of everyday life experiences, form the concepts underlying their artworks. They adopt narrative modes as storytelling strategies, so that the visual symbols they present are things that come up to support the stories, not the main thing. This is certainly different from the landscape paintings of the past, where all the objects appearing on the canvas were the storytelling “characters” themselves. Occasionally, in the pop-style paintings of the artists of the younger generation, we can also make out a landscape or a slice of nature. But such landscapes are mostly used as settings, or to show the local context of the story being portrayed.

For this exhibition, the artists were invited to read, view and interpret memories of the beautiful Indies again in their own ways. What attitudes do these young artists have toward these milestones of Indonesian fine art history, and then, how do they read the long debates that ensued in the times that followed? Do they, like Soedjojono’s generation, offer a critical view of how Indonesia is portrayed to evoke certain imagery? In their paintings, appearing in this exhibition, we can see how images of landscape and beauty have found a different face. The meaning of beauty is redefined. Images of peace are replaced by a view of something that is dynamic, in perpetual motion. The symbols of Mooi Indie are translated into something that is neither romantic nor nostalgic, but rather part of the long history that informs the identity of the contemporary generation. Today’s generation see tourism as something simple, just sightseeing, so that, absorbed by their own preoccupations, they often tend to forget about how these false images have been constantly fabricated to perpetuate exotic images of Indonesia.

Perhaps, for their generation, the images and critical views so hotly debated in the past are just stuff laid away in a dresser drawer. This exhibition attempts to re-open this drawer of memory, to tickle things that we’ve perhaps forgotten. In the comicbook-style spread of images unfolded here, we aim to see how young artists today are reading their own histories.

Artwork: Yang Paling Dicari, Daniel Timbul Cahya Krisna, woodcut on canvas, 2009

0 komentar:

Posting Komentar