Jumat, 04 Januari 2013

Sebuah dunia kecil yang penuh fantasi kanak-kanak tampaknya menjadi inspirasi yang tiada habis bagi seniman Prilla Tania. Seniman lulusan Institut Teknologi Bandung ini, dalam pameran tunggalnya, “Mikrocosmos”, di MD Artspace, City Plaza, Jakarta, menunjukkan betapa fantasi-fantasi naïf itu berharga untuk diolah menjadi kisah yang bisa dibagi dalam bentuk karya visual yang segar dan menarik. Medium karya Prilla pun sangat tidak biasa di tengah kecenderungan pameran lukisan yang kian lama kian membosankan sekarang ini.

Pameran “Mikrocosmos” ini merangkum beberapa karya Prilla yang dibuat tiga tahun terakhir. Dari seniman Bandung generasi akhir 1990an, Prilla termasuk di antara mereka yang paling konsisten membuat karya, dengan terlibat dalam pameran-pameran selektif yang bertema menarik dan variatif, termasuk beberapa pameran penting di galeri manca negara. Saya kira, intensitasnya dalam pameran-pameran “berwacana” semacam inilah yang membuat karya-karya Prilla, meski sederhana dalam konsep dan gagasan, tetapi memberi tawaran yang menarik atas makna-makna yang mapan dalam benak kita. Pengalamannya melakukan residensi di beberapa kota di Australia, Taipei, Jepang, dan tempat-tempat lain memberi kontribusi yang tak kalah penting berkaitan dengan pemilihan kosa visual untuk setiap karyanya.

Sejak awal memasuki ranah seni rupa, Prilla sudah tertarik untuk menjelajahi bentuk-bentuk media baru, mulai dari drawing installation, video art, video instalasi, performans, bahkan animasi manual. Dalam pengantar kuratorialnya, Agung Hujatnikajennong menyebut bahwa pada generasi angkatan Prilla, ada sebuah gelombang di Bandung, dipelopori kelompok Lambaners yang ingin mendobrak kemapanan-kemapanan medium dan visi estetik, terutama dalam ranah seni rupa. Keterlibatan Prilla dengan kelompok ini rupanya melatih sensibilitasnya untuk mengolah dongeng-dongeng dan fantasi kekanakan ke dalam satu kotak gagasan yang lebih subtil dan ‘meneror’.

Atraksi utama dalam pameran ini adalah video performans yang berjudul “Ruang dalam Waktu” (series 1 sampai 3). Video ini diproyeksikan pada dinding kayu bercat putih ukuran 2,5 X 2 meter, sehingga ia terlihat menonjol dibanding karya-karya lainnya yang lebih banyak berukuran kecil. Dalam karya “Ruang dalam Waktu” ini, Prilla menggabungkan gagasan tentang ruang, citraan diri dan relasi manusia dengan benda-benda dalam kehidupan sehari-hari. Menariknya, ia mengemas ide tersebut dalam medium yang menggabungkan medium video, performans, dan drawing sekaligus. Prilla menggambarkan setting sehari-hari yang biasa ia hadapi, misalnya adegan memasak di dapur, dengan imaji visual yang unik. Awalnya, ia terlihat menggambar dahulu ruangan dapur di sebuah papan tulis berwarna hijau. Ia membuat lemari, kompor, perabotan dapur, semuanya dengan kapur tulis. Lalu, setelahnya, baru ia memulai adegan memasak dengan dirinya sendiri yang tampil di layar, mengenakan piyama tidur. Karya ini menampilkan imaji visual yang menunjukkan kontradiksi antara yang nyata dan tidak nyata, yang aktual dan yang citraan, yang spontan dan terencana.

Video lainnya adalah Bleech yang menggunakan modus animasi sebagai teknik utama, digabungkan dengan teknik drawing dan gunting. Prilla membuat semacam “prakarya”, menggunting gambar mesin cuci, baju, dan perangkatnya, lalu di layar kita melihat bagaimana proses baju itu dimasukkan ke dalam mesin, lalu keluar satu persatu. Ide yang sederhana, tetapi tiba-tiba membuat kita dipaksa untuk melihat proses dan perangkat mencuci dalam satu cara pandang yang berbeda.

Karya-karya lain Prilla hadir dalam bentuk patchwork, atau lukisan kain dengan model sulam dan jahit. Modus ini memang dikenal sebagai salah satu teknik yang banyak digunakan oleh seniman perempuan, terutama karena teknik itu sendiri dengan segera memproyeksikan satu pertanyaan tentang domestifikasi dan peran gender. Kita ingat salah satu yang paling intensif menggunakan medium ini adalah seniman perempuan Inggris, Tracey Emin. Ia menjahit segala macam bentuk, seperti tenda, selimut, atau gordin, dari kain-kain perca yang kemudian penuh dengan teks-teks yang terutama berbicara tentang pandangannya yang jujur tentang seksualitas.

Pada karya Prilla, patchwork ini tampak tidak terlalu sarat dengan beban ideologis, sebagaimana yang kita temukan pada karya Tracey. Prilla mengolah imajinasi visual dari dongeng anak-anak untuk dituangkan dalam bentuk yang paling sederhana. Ia sibuk menggali dunia dari dalam dirinya yang dipenuhi dengan pertanyaan tentang relasi manusia dengan benda-benda, yang kadang terasa sedemikian wajar dan sederhana. Pilihan warna yang digunakan Prilla juga menunjukkan kepolosan dan kegembiraan masa kanak yang selalu dirindukan oleh manusia dewasa.

Tapi ini bukan berarti Prilla tak punya gagasan yang lebih besar. Yang menarik dari karya-karya Prilla adalah seluruh narasi besar itu ditelusuri dalam konteks personalnya, bagaimana nilai dan norma sosial berpengaruh dalam laku hidup seorang individu, bagaimana ideologi diterjemahkan dalam praktik-praktik yang penuh kebebasan bagi sebuah pribadi. Pada periode sebelumnya, 1999 – 2002, beberapa kali Prilla mengangkat tentang isu perempuan dalam karya-karyanya, juga dengan perspektif yang unik dan personal, tanpa dibebani teori-teori aras utama dalam ranah feminisme. Itu sebabnya, sebagian karya ini berbicara sebagaimana yang dituturkan oleh dongeng-dongeng pengantar tidur pada kita. Sebuah lagu nina bobok yang kaya imajinasi.

0 komentar:

Posting Komentar