Bahaudin
Mudhary
Ada kiat untuk memahami
sedalam-dalamnya hikmah yang tersembunyi di dalam ibadah shalat. Lantaran salah
satu ibadah terpenting yang dapat membawa manusia ke alam Hakikat Ketuhanan
Yang Maha Esa. Setiap insan seyogyanya berusaha dengan penuh kesadaran untuk
mengetahui Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa itu, sehingga setiap tindakan dan
laku perbuatan serta rencana-rencana kita selalu dipimpin dan diberi petunjuk
Tuhan Yang Maha Kuasa, dan berhasillah cita-cita yang ditujukan ke arah
keadilan, kemakmuran yang hakiki dan abadi.
Kalau
benda-benda mati (materi) dan atom pada zaman ini telah dapat dipecah di dalam
beban listrik, dan ilmu urai (anatomi) bagian badan kasar ini telah dapat
diselidiki sampai ke atom-atomnya, mengapa badan halus masih belum didekati
secara ilmiah?. Bukankah telah diakui, bahwa manusia ini tersusun dari pada
jasmani (badan kasar) dan ruhani (badan halus) atau metafisis?. Kita menyadari
bahwa semua kenyataan yang disaksikan dengan pertolongan panca indera masih
tertutup dengan beberapa lapisan dan belum merupakan hakikat kenyataan.
Untuk
memenuhi kenyataan yang hakiki, hendaklah ilmu pengetahuan harus merupakan
persiapan bagi religi dan dengan alat metafisika, atom akan memungkinkan
membuka pintu hijab nuansa kehidupan beserta rahasianya. Ilmu pengetahuan yang semata-mata
ke arah Yang Hakiki, Yang Mutlak, inilah ilmu pengetahuan yang sejati. Ilmu ini
baru dapat diperoleh dengan syarat di samping memiliki ilmu pengetahuan eksak,
harus memiliki pula kegiatan batin yang terlepas dari keinginan mementingkan
diri sendiri. Aktivitas akal (rasio) tidak lebih sebatas menguasai tenaga alam
yang diperlukan oleh kebutuhan lahir saja. Sedangkan kegiatan atau olah batin
merupakan kekuasaan manusia yang tertinggi, lebih kuasa dari pada akal (rasio).
Tegasnya
di samping memiliki intelek kebendaan wajib pula memiliki intelek keTuhanan.
Memang komunikasi ritual dengan Rabbi, setelah wahyu hanya kepada para Nabi
terpilih, lantas ilham diterima hamba tertentu, bahkan tidak semata-mata kepada
manusia, juga kepada lebah misalnya, seperti dalam Surat an-Nahl ayat 68.
Artinya:
"Dan
Tuhanmu wahyukan kepada lebah: “Hendaklah engkau jadikan sebagian dari
gunung-gunung sebagai rumah dan pohon-pohon serta sebagian dari apa yang mereka
(manusia) jadikan atap”.
Maka
jelaslah, jika Allah Subhanahu wa Ta'ala melimpahkan hidayah kepada hambanya
dengan Nur Allah tanpa perantara, sebagian diantaranya lewat firasat atau mimpi
yang benar yang kerap kali terjadi secara berulang-ulang.
Tidak
mengherankan kalau sebagian para sarjana yang mengabaikan tentang
peristiwa-peristiwa di luar dari pada rasio, justru mereka dalam hidupnya
banyak mengutamakan dasar-dasar lahir (rasionalisme, realisme, materialisme,
sekularisme), sehingga menjadi kendala dan perintang untuk mengakui
keadaan-keadaan yang tidak dapat diraba, dilihat dengan panca indera. Beragam
peristiwa kasat mata yang tak dapat ditimbang dan diukur, disebut
inponderabilia. Dengan ibadah shalat, akan mendorong kita untuk mengetahui
peristiwa di luar rasio, menemui Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa yang harus
dimiliki pada setiap batin manusia.
Banyak
sekali tirai hijab yang menutup manusia untuk menemukan hakikat setiap sesuatu.
Hal ini disebabkan manusia selalu terikat oleh dunia lahir dan keadaan maujud
yang diciptakan. Ilmu pengetahuan eksak, terutama berupa teknik, sehingga tidak
dapat menemukan hakikat yang tersembunyi di balik ilmu pengetahuan eksak
sendiri. Upaya menembus tirai menuju hakikat setiap sesuatu itu hendaklah
selalu menunaikan kewajiban-kewajiban yang diajarkan agama. Senantiasa membaguskan
ibadah, kadarnya terus ditingkatkan, bahkan boleh jadi memberikan dorongan
dzikrullah yang lebih mapan, sehingga iman bertambah kukuh.
Walau
hikmah-hikmah besar yang terkandung di dalam ibadah shalat belum dapat
dibuktikan dengan ilmu pengetahuan eksak dan belum bisa diterima sepenuhnya
oleh rasio, hal ini tidak mengherankan, lantaran buat menemukan hakikat di
dalam ibadah shalat dibutuhkan ilmu pengetahuan yang berdiri di atas rasio
yaitu ilmu metafisika dan nilai rasa yang tinggi. Hakikat itu bukan suatu
kenyataan-kenyataan yang dapat disaksikan lewat panca indera. Tentu mustahil
alat panca indera manusia yang tidak sempurna tersebut dapat menemukan Yang
Maha Sempurna. Otak lahir hanya dapat menyaksikan kenyataan yang riel.
Sedangkan untuk menemukan kenyataan yang hakiki, dibutuhkan alat panca indera
batin, yang menyingkap kenyataan metafisis.
Kami
berpendapat, bahwa timbulnya ketegangan dan kekacauan di dunia, disebabkan
sebagian umat manusia dalam cara berpikirnya mengingkari hal-hal yang abstrak
dan menjauhi hubungannya dengan Hakikat Yang Mutlak, bersifat universal
meliputi semua kenyataan. Mereka banyak terpukau kepada ilmu pengetahuan eksak
meninggalkan yang abstrak, sehingga memandang dunia lahir ini sebagai hakikat
yang sejati dan akhirnya mereka tidak mengetahui batas-batas yang fana dan
baqa, antara yang nyata dan yang tersembunyi, antara benda dan ruh, antara yang
materill dan spiritual, yang eksak dan yang abstrak. Maka untuk menghalau
ketegangan-ketegangan di dunia, sangat dibutuhkan kebangkitan spiritual
disamping materi yang sanggup membawa ummat ke alam kehidupan yang tentram dan
damai.
Syarat
mutlak membangun spiritual ialah ibadah shalat, selaku zat pembawa (draagstof )
menuju Hakikat Yang Maha Suci yang dapat menuntun manusia ke arah berfikir
murni, perbuatan suci dan angan-angan suci mempunyai kesanggupan menjelmakan
dunia tertib dan teratur, ahlakul karimah.
dari:
Shalat dan Panggilan Arafa
0 komentar:
Posting Komentar