Selasa, 01 Oktober 2013

arena berbagai kasus



Bahaudin Mudhary
Ada kiat untuk memahami sedalam-dalamnya hikmah yang tersembunyi di dalam ibadah shalat. Lantaran salah satu ibadah terpenting yang dapat membawa manusia ke alam Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa. Setiap insan seyogyanya berusaha dengan penuh kesadaran untuk mengetahui Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa itu, sehingga setiap tindakan dan laku perbuatan serta rencana-rencana kita selalu dipimpin dan diberi petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa, dan berhasillah cita-cita yang ditujukan ke arah keadilan, kemakmuran yang hakiki dan abadi.
Kalau benda-benda mati (materi) dan atom pada zaman ini telah dapat dipecah di dalam beban listrik, dan ilmu urai (anatomi) bagian badan kasar ini telah dapat diselidiki sampai ke atom-atomnya, mengapa badan halus masih belum didekati secara ilmiah?. Bukankah telah diakui, bahwa manusia ini tersusun dari pada jasmani (badan kasar) dan ruhani (badan halus) atau metafisis?. Kita menyadari bahwa semua kenyataan yang disaksikan dengan pertolongan panca indera masih tertutup dengan beberapa lapisan dan belum merupakan hakikat kenyataan.
Untuk memenuhi kenyataan yang hakiki, hendaklah ilmu pengetahuan harus merupakan persiapan bagi religi dan dengan alat metafisika, atom akan memungkinkan membuka pintu hijab nuansa kehidupan beserta rahasianya. Ilmu pengetahuan yang semata-mata ke arah Yang Hakiki, Yang Mutlak, inilah ilmu pengetahuan yang sejati. Ilmu ini baru dapat diperoleh dengan syarat di samping memiliki ilmu pengetahuan eksak, harus memiliki pula kegiatan batin yang terlepas dari keinginan mementingkan diri sendiri. Aktivitas akal (rasio) tidak lebih sebatas menguasai tenaga alam yang diperlukan oleh kebutuhan lahir saja. Sedangkan kegiatan atau olah batin merupakan kekuasaan manusia yang tertinggi, lebih kuasa dari pada akal (rasio).
Tegasnya di samping memiliki intelek kebendaan wajib pula memiliki intelek keTuhanan. Memang komunikasi ritual dengan Rabbi, setelah wahyu hanya kepada para Nabi terpilih, lantas ilham diterima hamba tertentu, bahkan tidak semata-mata kepada manusia, juga kepada lebah misalnya, seperti dalam Surat an-Nahl ayat 68.
Artinya:
"Dan Tuhanmu wahyukan kepada lebah: “Hendaklah engkau jadikan sebagian dari gunung-gunung sebagai rumah dan pohon-pohon serta sebagian dari apa yang mereka (manusia) jadikan atap”.
Maka jelaslah, jika Allah Subhanahu wa Ta'ala melimpahkan hidayah kepada hambanya dengan Nur Allah tanpa perantara, sebagian diantaranya lewat firasat atau mimpi yang benar yang kerap kali terjadi secara berulang-ulang.
Tidak mengherankan kalau sebagian para sarjana yang mengabaikan tentang peristiwa-peristiwa di luar dari pada rasio, justru mereka dalam hidupnya banyak mengutamakan dasar-dasar lahir (rasionalisme, realisme, materialisme, sekularisme), sehingga menjadi kendala dan perintang untuk mengakui keadaan-keadaan yang tidak dapat diraba, dilihat dengan panca indera. Beragam peristiwa kasat mata yang tak dapat ditimbang dan diukur, disebut inponderabilia. Dengan ibadah shalat, akan mendorong kita untuk mengetahui peristiwa di luar rasio, menemui Hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa yang harus dimiliki pada setiap batin manusia.
Banyak sekali tirai hijab yang menutup manusia untuk menemukan hakikat setiap sesuatu. Hal ini disebabkan manusia selalu terikat oleh dunia lahir dan keadaan maujud yang diciptakan. Ilmu pengetahuan eksak, terutama berupa teknik, sehingga tidak dapat menemukan hakikat yang tersembunyi di balik ilmu pengetahuan eksak sendiri. Upaya menembus tirai menuju hakikat setiap sesuatu itu hendaklah selalu menunaikan kewajiban-kewajiban yang diajarkan agama. Senantiasa membaguskan ibadah, kadarnya terus ditingkatkan, bahkan boleh jadi memberikan dorongan dzikrullah yang lebih mapan, sehingga iman bertambah kukuh.
Walau hikmah-hikmah besar yang terkandung di dalam ibadah shalat belum dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan eksak dan belum bisa diterima sepenuhnya oleh rasio, hal ini tidak mengherankan, lantaran buat menemukan hakikat di dalam ibadah shalat dibutuhkan ilmu pengetahuan yang berdiri di atas rasio yaitu ilmu metafisika dan nilai rasa yang tinggi. Hakikat itu bukan suatu kenyataan-kenyataan yang dapat disaksikan lewat panca indera. Tentu mustahil alat panca indera manusia yang tidak sempurna tersebut dapat menemukan Yang Maha Sempurna. Otak lahir hanya dapat menyaksikan kenyataan yang riel. Sedangkan untuk menemukan kenyataan yang hakiki, dibutuhkan alat panca indera batin, yang menyingkap kenyataan metafisis.
Kami berpendapat, bahwa timbulnya ketegangan dan kekacauan di dunia, disebabkan sebagian umat manusia dalam cara berpikirnya mengingkari hal-hal yang abstrak dan menjauhi hubungannya dengan Hakikat Yang Mutlak, bersifat universal meliputi semua kenyataan. Mereka banyak terpukau kepada ilmu pengetahuan eksak meninggalkan yang abstrak, sehingga memandang dunia lahir ini sebagai hakikat yang sejati dan akhirnya mereka tidak mengetahui batas-batas yang fana dan baqa, antara yang nyata dan yang tersembunyi, antara benda dan ruh, antara yang materill dan spiritual, yang eksak dan yang abstrak. Maka untuk menghalau ketegangan-ketegangan di dunia, sangat dibutuhkan kebangkitan spiritual disamping materi yang sanggup membawa ummat ke alam kehidupan yang tentram dan damai.
Syarat mutlak membangun spiritual ialah ibadah shalat, selaku zat pembawa (draagstof ) menuju Hakikat Yang Maha Suci yang dapat menuntun manusia ke arah berfikir murni, perbuatan suci dan angan-angan suci mempunyai kesanggupan menjelmakan dunia tertib dan teratur, ahlakul karimah.
dari: Shalat dan Panggilan Arafa

0 komentar:

Posting Komentar