Oleh:
M. R. Aulia
Ditulis Sabtu Siang, 30 November 2013, dan diselesaikan pukul 12:03 WIB.
Bung Karno dan Bung Hatta, Sumber: uniqpost.com
Baru sadar, salah satu filosofi kenapa dahulu tokoh-tokoh Indonesia, kebanyakan dipanggil dengan imbuhan Bung.
Bung Karno, Bung Hatta, dan sebagainya. Dalam kehidupan masyarakat
Indonesia, dikenal varian kelas yang mengkotak-kotakkan diri antar
mereka. Varian kelas tersebut jarang sekali membuat kehidupan antar
mereka berbaur secara fleksible. Keberbatasan usia, kelas sosial, interests dan sebagainya, membuat segala bentuk proses keakraban antar penghuni masyarakat Indonesia harus berbatas.
Rata-rata
masyarakat dahulu, memanggil pemimpin mereka dengan imbuhan bung,bukan
tidak beralasan. Kesengajaan memanggil dengan imbuhan bung sebelum nama
panggilan dan kerelaan pemimpin Indonesia waktu itu adalah sebagai
bentuk evidensi atau bukti bahwa sesama mereka sudah terjalin suasana
keakraban yang kental. Tak berbatas dengan kelas sosial yang berbeda,
dan kelas perbedaan lainnya.
Kita
pasti telah memahami, bila keakraban dapat terjalin dengan baik, maka
semua permasalahan dapat diselesaikan dengan baik. Namun bagaimana
dengan sebaliknya. Ketika keakraban bernilai langka, maka dialog dua
arah atau lebih, seringkali harus termentahkan. Awalnya bersepakat untuk
dialog, namun yang terjadi adalah dialog bercita rasa monolog.
Pemahaman
bahwa penggunaan bahasa dan tata krama dengan yang lebih tua, sebaya,
atau yang lebih muda adalah baik. Kesopanan dan keramahan yang dahulu
menjadi ciri khas Indonesia mencerminkan bahwa masyarakat kita hidup
dengan keteraturan dan penuh penghormatan. Lalu bagaimana ketika alasan
untuk bersopan santun tersebut, mendekati angka yang berlebihan dan
tidak seharusnya. Sehingga membuat kekakuan dalam suatu hubungan tidak
dapat terelakan. Diantaranya adalah hubungan antar pemimpin dan yang
dipimpin olehnya.
Kesadaran saya, berawal dari ilustrasi yang disampaikan Anis Matta, pada saat menjadi pembicara di seminar series dewan guru besar (DGB) UI, 26 November 2013. Salah satu bukti keakraban masyarakat Indonesia di awal-awal menjadi Indonesia secara negara bangsa modern.
Mereka saling memanggil dan bertegur sapa dengan sapaan bung dan
sebagainya. Sapaan yang masih menujukkan rasa hormat, namun terasa tidak
berbatas. Sapaan yang terlihat setara meski kelas dan tanggung jawab
mereka secara sadar memiliki perbedaan yang jauh.Tentu ini akan menjadi
kesopanan yang lebih bercita rasa istimewa.
Pun
demikian, ketika kita melihat sosok pemimpin saat ini. Salah satunya
walikota Bandung, Ridwan Kamil. Sebelum terlibat langsung di dunia
pemerintahan secara praktis, hingga sekarang, ia lebih akrab dipanggil
dengan istilah Kang Emil. Panggilan yang relatif setara dan membuat
hubungan diantara penyapa dan yang disapa dapat terbangun secara akrab
dan hangat, dan lain sebagainya.
Hal
yang demikian perlu dibudayakan kembali, apalagi ketika kita menyapa
pemimpin kita di berbagai level dan lingkungan kelas masing-masing.
Disinilah kemungkinan rasa akrab dan saling menghormati yang lebih
elegan dapat menjamin sirkulasi dan pertukaran informasi akan suatu hal,
sehingga permasalahan tertentu dapat menemukan jalan keluarnya.
Negara
besar seperti Indonesia memiliki permasalahan yang seringkali mudah,
namun sulit untuk diperbaiki dan dirawat. Berawal dari kemungkinan tipe
pemimpin yang menginginkan dirinya diperlakukan secara berlebihan.
Ketemu harus cium tangan, kata-kata yang keluar dari mulutnya, sangat
tidak etis untuk dibantah, dan sebagainya. Tipe pemimpin yang merusak
arti kenapa dia harus menjadi pemimpin.
Pemahaman
akan segala bentuk titik permasalahan, dapat dipastikan bahwa semua
pemimpin hebat manapun tak akan mampu menguasai segala sesuatu yang
terjadi secara detail dan objektif. Alasannya sangat jelas. Karena dalam
komposisi masyarakat itu sendiri, terdapat mereka yang lebih mengetahui
tentang suatu hal dan permasalahan mereka masing-masing. Ketika
pemimpin bersikap terbuka, dan mampu membangun keakraban dengan yang
dipimpin, makatitik permasalahan yang rumit dapat terselesaikan dengan
sangat mudah, tentunya sikap keterbukaan dan dialog yang harmonis
diantara mereka.
Disamping
itu, sikap lain keterbukaan seorang pemimpin adalah tidak berharap
penghormatan kepada dirinya secara berlebihan. Inilah yang membuat
keberbatasan itu terjadi. Seperti sikap keterbukaan dalam menerima
sapaan.
Ketika
pemimpin membatasi diri dari sikap keterbukaan dan keakraban, maka
dikhawatirkan dapat berimplikasi terhadap hubungan antar dirinya dan
yang dipimpin, menjadi berjarak. Alur informasi yang seharusnya dapat
mengalir deras, lancar, kualitasnya yang jernih, akan sedikit terganggu,
dan pada akhirnya kebijakan serta jalan keluar yang diambil tidak tepat
amunisi.
Amunisi dari hasil olahan hearing
atau dengar pendapat masyarakat yang langsung merasakan permasalahan di
akar rumput. Kemudian berjalan, dan dipahami oleh pengambil keputusan.
Permasalahannya amunisi olahan tersebut tak tepat guna. Amunisi
pengambilan kebijakan menjadi sia-sia dan tak dapat berdaya hidup di
tengah-tengah objek ataupun target, kenapa amunisi tersebut harus
dilesakkan dari sarangnya.
Dan
pada akhirnya, bahasa senderhana yang bisa kita ambil sekarang adalah
bagaimana seorang pemimpin harus memiliki sikap keterbukaan yang luas
dan tidak terlalu haus akan penghormatan, apalagi harapan tersebut
dinilai lebay. Seperti
halnya, seorang anak manusia yang kebetulan sudah mengenyam semua level
bangku pendidikan, dan ia berhak menyandang gelar pendidikan tersebut
kemanapun ia pergi.
Namun,
ia harus bermuka merah, atau merasa tersinggung ketika orang selain
dirinya lupa menyebutkan gelar yang dimilikinya. Lalu apa yang terjadi?
Kekakuan akan mewarnai hubungan antar mereka. Sehingga esensi dan inti
utama tentang sebuah alasan kenapa mereka harus bertemu, dan berdialog
dengan penuh perhatian antar sesama, akan menjadi punah dan sia-sia
begitu saja.
Lebih-lebih
ketika kita berhasil mengaitkannya dengan pemimpin nyata yang ada dalam
keseharian dimana kita hidup dan sebagainya. Haus akan penghormatan
yang berlebih, membuat proses leadership dan
penerimaan akan ide, menjadi hampa dan tak bernilai. Alih-alih
menyelesaikan permasalahan yang rumit, hal yang sangat sederhana saja,
seringkali memiliki cita rasa yang rumit dan sebagainya.
0 komentar:
Posting Komentar