Sabtu, 30 November 2013

berita dijual

Doamu yang selalu kutunggu.
Sungguh, aku merindukanmu. Merindukan belaian mesra dari tanganmu, merindukan hangatnya pelukanmu. Namun, saat ini aku tak lagi mendapatkan itu semuanya. Demi meraih cita-citaku, demi menghilangkan kebodohan dalam diriku, agar kelak nanti aku mampu menjunjung tinggi namamu, aku rela berada jauh darimu.
Dulu, saat-saat terakhir ketika aku melepas seragam merah putih, dan masih begitu polosnya aku, yang mengira kau sangat kejam membuangku sendirian ke tempat yang sangat jauh dari pandangan mata ini, serta menangis sejadi-jadinya, meraung-raung ketika kau meninggalkanku di tempat ini. Meski saat itu, aku pun melihat matamu berkaca-kaca, tapi aku hanya memvonismu sebagai Ibu yang sangat kejam, yang tega melepas anaknya sendiri.
Sesekali kau menjengukku, dan masih seperti pertama kalinya, aku kembali menangis saat kau pergi meninggalkanku untuk pulang, mengemis-ngemis ingin ikut pulang bersamamu, karena aku masih yang dulu, sebagai anak bungsu kesayanganmu yang tak ingin jauh darimu.
Namun, lambat laun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, aku pun mengerti akan maksud hatimu, membuangku sementara ke lingkungan pendidikan, agar aku berkwalitas, dan akhirnya bisa menjunjung tinggi namamu.
Ketika liburan tiba, yang hanya datang dua kali saja dalam satu tahun, dan itu pun tak lebih dari satu minggu saja, aku melihat perbedaan denganmu, badanmu yang dulu tegap kini mulai membungkuk; rambutmu yang dulu hitam, kini mulai memutih; kulitmu pun yang dulu kencang, kini mulai keriput. Tapi beban pekerjaanmu, malah semakin berat; kau tak sejaya dahulu, kini usahamu bangkrut akibat tertipu oleh saudaramu sendriri, hingga kau harus berjuang lebih keras, membanting tulang demi memenuhi semua kebutuhanku, kau rela berpuasa sehari-hari, rela mengorbankan waktu istirahatmu untuk mendoakanku, di saat orang-orang tertidur pulas sambil mendengkur, tapi lain halnya denganmu, yang rela melepaskan kenikmatan tidurmu hanya demi aku, anakmu yang sampai saat ini pun masih belum bisa membahagiakanmu.
Kau berjuang keras agar aku tetap bisa mengenyam pendidikan sampai akhir. Tapi, lain halnya denganku, melihat itu semua aku merasa bersalah, rasanya secara tidak langsung aku menyiksamu, aku telah memperkerjakanmu secara paksa, tanpa imbalan yang kau terima. Namun, hanya peluh yang kau dapatkan. Sehingga aku pun berniat untuk berhenti dari sekolah yang baru saja menduduki kelas XI itu, dan ketika niat itu telah tersampaikan kepadamu langsung. Namun, apa tanggapanmu? Bukan bahagia yang terlintas dari wajahmu, karena akan  mengurangi bebanmu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, serta ada yang membantumu pula dalam segala rutinitasmu. Tapi malah mata merah yang tampak dari wajahmu, yang mungkin telah banyak menanggung air mata dan tak terbendung lagi. Tapi kau tak tampakkan itu semua di hadapanku, kau hanya pergi dariku tanpa memberikan pendapat langsung menurutmu. Aku yang saat itu benar-benar egois, dan merasa marah karena tak dihargai untuk membantumu dengan cara aku berhenti dari sekolah dan bekerja, membanting tulang demi memenuhi kehidupan sehari-hari.
Aku sungguh tak tega melihatmu, seharusnya di usiamu yang sudah senja ini hanya duduk manis saja, menunggu anak-anakmu datang untuk membahagiakanmu, tak perlu lagi kerja keras banting tulang pergi ke sawah dari sang mentari membiaskan cahayanya di ufuk timur hingga terbenam kembali karena malam telah menjemput. Masih kuatkah kau memanggul beratnya beban? Tak jarang tubuhmu perasa pegal-pegal dan sakit, karena beban yang kau pinggul oleh pundakmu sudah tak sesuai dengan kadar kekuatanmu sekarang, kau telah lanjut usia, sudah bukan saatnya lagi untuk bekerja keras, itulah sebabnya aku bertekad bulat untuk menyudahi bangku sekolah ini sebelum waktunya, serta beralih untuk membantumu. Jika perlu, biarkanlah aku saja yang bekerja siang dan malam sampai titik penghabisan nafasku. Aku rela bekerja untukmu, dan kau hanya tinggal duduk manis saja menungguku, itu sudah membuatku cukup bahagia.
Tapi pikiranmu tak sepicik itu, kau tak rela jika melihat anakmu harus bersusah payah, bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan hidup, sementara kau hanya duduk manis dan bertopang dagu saja menunggu kehadiran seorang anak. Kau mengorbankan semuanya untukku, demi selesainya jenjang pendidikanku, serta cita-cita yang kuinginkan. Kau menangis di depan Bibiku ketika aku menyampaikan keinginan untuk berhenti sekolah, kau merasa sudah gagal dalam mendidikku, gagal untuk membuatku lebih baik darimu.
Setelah aku mengetahui bahwa Ibu menangis dan mengadukan permintaanku untuk berhenti sekolah kepada Bibiku, aku sungguh merasa bersalah; aku benar-benar anak Durhaka yang telah membuat Ibu memangis karena ulahku sendiri yang aku anggap benar, dan berdalih akan menyenangkan hatimu. Namun, semuanya salah besar. Kau lebih bahagia melihatku belajar di sini dengan sungguh-sungguh sampai akhirnya selesai, ketimbang aku harus berhenti dari sekolah ini dan bekerja untukmu sekali pun. Maafkan aku, sungguh aku tak akan mengulanginya lagi.
Kubuktikan bakti sebagai seorang anak kepadamu saat ini hanya dengan prestasi yang kuraih, kuberjuang dengan keras pula untuk belajar, memerangi kebodohan. Kau pun rela demi aku untuk bekerja. Dan sungguh, aku telah membuktikannya untukmu, di hari pelulusanku aku meraih juara sebagai Siswi istimewa dengan nilai tertinggi yang belum pernah diraih oleh siswa-siswa sebelumnya, serta mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studyku di sebuah Universitas.
Saat itu pula, aku mengenakan baju kebangsaanku, Toga. Baju kebangsaan yang kau mimpikan agar aku kelak bisa mengenakannya. Ooh Ibu, kupersembahkan prestasi ini untukmu, kupersembahkan Toga ini untukmu, sungguh aku mencintaimu.
Ketika ku berdiri di atas panggung ini
Mengenakan baju kebangsaanku
Atas pendidikan bangku sekolah yang telah usai, dan
Langkah ini terhenti sesaat
Ketika kumelihat sesosok dari kejauhan sana
Yang sudah tak asing lagi dalam pandangan mata
Sesosok yang tak hentinya berjuang untukku
Yah, kaulah Ibu sayang.
Namun, pernahkah kau berfikir sejenak saja tentang dirimu
Lihatlah!
Badanmu yang dulu tegap, kini mulai membungkuk
Pernahkah kau mengeluh sedikit saja?
Ketika kau merasa lelah
Ketika kau merasa lapar
Tapi semuanya tak kau gubris sedikitpun
Karena yang ada dalam benakmu hanyalah Satu
Bagaimana caranya, agar aku mengenyam pendidikan yang tinggi.
Sungguh, kau korbankan semuanya untukku
Bahkan nyawa sekali pun.
Ibu…
Kau bagai mentari
Yang senantiasa menerangi hatiku
Ibu…
Kupersembahkan semuanya untukmu

0 komentar:

Posting Komentar