Doamu yang selalu kutunggu.
Sungguh, aku merindukanmu. Merindukan
belaian mesra dari tanganmu, merindukan hangatnya pelukanmu. Namun, saat
ini aku tak lagi mendapatkan itu semuanya. Demi meraih cita-citaku,
demi menghilangkan kebodohan dalam diriku, agar kelak nanti aku mampu
menjunjung tinggi namamu, aku rela berada jauh darimu.
Dulu, saat-saat terakhir ketika aku melepas
seragam merah putih, dan masih begitu polosnya aku, yang mengira kau
sangat kejam membuangku sendirian ke tempat yang sangat jauh dari
pandangan mata ini, serta menangis sejadi-jadinya, meraung-raung ketika
kau meninggalkanku di tempat ini. Meski saat itu, aku pun melihat matamu
berkaca-kaca, tapi aku hanya memvonismu sebagai Ibu yang sangat kejam,
yang tega melepas anaknya sendiri.
Sesekali kau menjengukku, dan masih seperti
pertama kalinya, aku kembali menangis saat kau pergi meninggalkanku
untuk pulang, mengemis-ngemis ingin ikut pulang bersamamu, karena aku
masih yang dulu, sebagai anak bungsu kesayanganmu yang tak ingin jauh
darimu.
Namun, lambat laun, seiring berjalannya waktu
dan bertambahnya usia, aku pun mengerti akan maksud hatimu, membuangku
sementara ke lingkungan pendidikan, agar aku berkwalitas, dan akhirnya
bisa menjunjung tinggi namamu.
Ketika liburan tiba, yang hanya datang dua
kali saja dalam satu tahun, dan itu pun tak lebih dari satu minggu saja,
aku melihat perbedaan denganmu, badanmu yang dulu tegap kini mulai
membungkuk; rambutmu yang dulu hitam, kini mulai memutih; kulitmu pun
yang dulu kencang, kini mulai keriput. Tapi beban pekerjaanmu, malah
semakin berat; kau tak sejaya dahulu, kini usahamu bangkrut akibat
tertipu oleh saudaramu sendriri, hingga kau harus berjuang lebih keras,
membanting tulang demi memenuhi semua kebutuhanku, kau rela berpuasa
sehari-hari, rela mengorbankan waktu istirahatmu untuk mendoakanku, di
saat orang-orang tertidur pulas sambil mendengkur, tapi lain halnya
denganmu, yang rela melepaskan kenikmatan tidurmu hanya demi aku, anakmu
yang sampai saat ini pun masih belum bisa membahagiakanmu.
Kau berjuang keras agar aku tetap bisa
mengenyam pendidikan sampai akhir. Tapi, lain halnya denganku, melihat
itu semua aku merasa bersalah, rasanya secara tidak langsung aku
menyiksamu, aku telah memperkerjakanmu secara paksa, tanpa imbalan yang
kau terima. Namun, hanya peluh yang kau dapatkan. Sehingga aku pun
berniat untuk berhenti dari sekolah yang baru saja menduduki kelas XI
itu, dan ketika niat itu telah tersampaikan kepadamu langsung. Namun,
apa tanggapanmu? Bukan bahagia yang terlintas dari wajahmu, karena akan
mengurangi bebanmu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, serta ada yang
membantumu pula dalam segala rutinitasmu. Tapi malah mata merah yang
tampak dari wajahmu, yang mungkin telah banyak menanggung air mata dan
tak terbendung lagi. Tapi kau tak tampakkan itu semua di hadapanku, kau
hanya pergi dariku tanpa memberikan pendapat langsung menurutmu. Aku
yang saat itu benar-benar egois, dan merasa marah karena tak dihargai
untuk membantumu dengan cara aku berhenti dari sekolah dan bekerja,
membanting tulang demi memenuhi kehidupan sehari-hari.
Aku sungguh tak tega melihatmu, seharusnya di
usiamu yang sudah senja ini hanya duduk manis saja, menunggu
anak-anakmu datang untuk membahagiakanmu, tak perlu lagi kerja keras
banting tulang pergi ke sawah dari sang mentari membiaskan cahayanya di
ufuk timur hingga terbenam kembali karena malam telah menjemput. Masih
kuatkah kau memanggul beratnya beban? Tak jarang tubuhmu perasa
pegal-pegal dan sakit, karena beban yang kau pinggul oleh pundakmu sudah
tak sesuai dengan kadar kekuatanmu sekarang, kau telah lanjut usia,
sudah bukan saatnya lagi untuk bekerja keras, itulah sebabnya aku
bertekad bulat untuk menyudahi bangku sekolah ini sebelum waktunya,
serta beralih untuk membantumu. Jika perlu, biarkanlah aku saja yang
bekerja siang dan malam sampai titik penghabisan nafasku. Aku rela
bekerja untukmu, dan kau hanya tinggal duduk manis saja menungguku, itu
sudah membuatku cukup bahagia.
Tapi pikiranmu tak sepicik itu, kau tak rela
jika melihat anakmu harus bersusah payah, bekerja siang dan malam untuk
memenuhi kebutuhan hidup, sementara kau hanya duduk manis dan bertopang
dagu saja menunggu kehadiran seorang anak. Kau mengorbankan semuanya
untukku, demi selesainya jenjang pendidikanku, serta cita-cita yang
kuinginkan. Kau menangis di depan Bibiku ketika aku menyampaikan
keinginan untuk berhenti sekolah, kau merasa sudah gagal dalam
mendidikku, gagal untuk membuatku lebih baik darimu.
Setelah aku mengetahui bahwa Ibu menangis dan
mengadukan permintaanku untuk berhenti sekolah kepada Bibiku, aku
sungguh merasa bersalah; aku benar-benar anak Durhaka yang telah membuat
Ibu memangis karena ulahku sendiri yang aku anggap benar, dan berdalih
akan menyenangkan hatimu. Namun, semuanya salah besar. Kau lebih bahagia
melihatku belajar di sini dengan sungguh-sungguh sampai akhirnya
selesai, ketimbang aku harus berhenti dari sekolah ini dan bekerja
untukmu sekali pun. Maafkan aku, sungguh aku tak akan mengulanginya
lagi.
Kubuktikan bakti sebagai seorang anak
kepadamu saat ini hanya dengan prestasi yang kuraih, kuberjuang dengan
keras pula untuk belajar, memerangi kebodohan. Kau pun rela demi aku
untuk bekerja. Dan sungguh, aku telah membuktikannya untukmu, di hari
pelulusanku aku meraih juara sebagai Siswi istimewa dengan nilai
tertinggi yang belum pernah diraih oleh siswa-siswa sebelumnya, serta
mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studyku di sebuah Universitas.
Saat itu pula, aku mengenakan baju kebangsaanku, Toga.
Baju kebangsaan yang kau mimpikan agar aku kelak bisa mengenakannya.
Ooh Ibu, kupersembahkan prestasi ini untukmu, kupersembahkan Toga ini untukmu, sungguh aku mencintaimu.
Ketika ku berdiri di atas panggung ini
Mengenakan baju kebangsaanku
Atas pendidikan bangku sekolah yang telah usai, dan
Langkah ini terhenti sesaat
Ketika kumelihat sesosok dari kejauhan sana
Yang sudah tak asing lagi dalam pandangan mata
Sesosok yang tak hentinya berjuang untukku
Yah, kaulah Ibu sayang.
Namun, pernahkah kau berfikir sejenak saja tentang dirimu
Lihatlah!
Badanmu yang dulu tegap, kini mulai membungkuk
Pernahkah kau mengeluh sedikit saja?
Ketika kau merasa lelah
Ketika kau merasa lapar
Tapi semuanya tak kau gubris sedikitpun
Karena yang ada dalam benakmu hanyalah Satu
Bagaimana caranya, agar aku mengenyam pendidikan yang tinggi.
Sungguh, kau korbankan semuanya untukku
Bahkan nyawa sekali pun.
Ibu…
Kau bagai mentari
Yang senantiasa menerangi hatiku
Ibu…
Kupersembahkan semuanya untukmu
0 komentar:
Posting Komentar