3. Mandi Sauna
Kendaraan yang ditunggu tak kunjung datang. Begitu datang, penuhnya minta ampun. Sudah jelas-jelas penuh sesak, kondektur tetap matap dengan imbauannya, “Coba ya, bergeser ke tengah, di tengah masih kosong.” Padahal sudah jelas-jelas penuh sesak. Kalau sudah begini, patut bersyukur. Bisa mandi sauna tanpa perlu ke tempat sauna. Keringat dengan aroma tujuh hingga belasan rupa sudah bisa kita hirup. Masih terhitung lumayan kalau mandi saunanya di pagi hari ketika berangkat kerja. Jangan bayangkan aromanya ketika pulang kerja. Jalani saja. Niscaya anda akan menjadi orang yang tangguh.
4. Bertarung melawan kemacetan
Supaya tahan banting hidup di jakarta, siapkan kondisi fisik yang prima, ketahanan mental yang tetap terjaga, dan emosi yang terkendali. Pertarungan akan segera dimulai. Yang punya kendaraan sendiri maupun yang menggunakan kendaraan umum sama-sama harus bertarung melawan kemacetan. Yang membedakan, jika menggunakan kendaraan pribadi, masih beruntung. Macetnya masih di tengah kondisi ber-AC, sambil mendengarkan radio, atau sambil bersenandung kecil, atau teriak-teriak sendiri melampiaskan kesal karena macet. Resikonya, harus mengeluarkan biaya ekstra, biaya kemacetan. Bahan bakar yang diperlukan lebih banyak dibandingkan kalau tidak macet. Bagi yang berkendaraan umum, lengkaplah sudah penderitaan. Berdesakan, kepanasan, macet pula. Kita tidak perlu teriak, “Jokowi…Tolong…!”. Ini tanggung jawab semua. Tanggung jawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tanggung jawab SBY (Pemerintah Pusat) juga. Tanggung jawab kita semua. Jadi, SBY, jangan hanya curhat dan menyalahkan yang lain. Ini tanggung jawab bersama. Yang perlu diingat, jangan keluarkan kebijakan yang saling bertentangan. Cukup sudah kefatalan kebijakan mobil murah. Jangan ditambah lagi dengan kebijakan yang kontra produktif lainnya.
5. Latihan ketahanan telinga
Tidak cukup hanya di situ, warga Jakarta pun harus memiliki ketahanan terlinga yang ekstra. Bunyi klakson kendaraan tidak cukup hanya ditekan satu kali. Bisa berkali-kali. Padahal sudah jelas-jelas tidak akan memiliki fungsi. Warga Jakarta sudah kebal dengan bunyi klakson. Maksudnya, walau sudah berkali-kali dibunyikan, tetap tak bergeming. Jadi sebenarnya, percuma juga membunyikan klakson.
6. Latihan adaptasi dengan polusi
Tingkat polusi udara di Jakarta tidak perlu diragukan lagi. Sangat meyakinkan. Yakin seyakin-yakinnya, sangat terpolusi. Berapa banyak polusi udara yang diakibatkan oleh gas buangan knalpot jutaan kendaraan yang memadati Jakarta setiap hari? Berapa banyak karbonmonoksida yang anda hirup? Semoga dapat segera beradaptasi dengan kondisi yang terpolusi. Miris? Ya….
7. Berpacu melawan penuaan dini
Cobalah sesekali hitung. Berapa waktu terbuang untuk perjalanan yang dilakukan setiap hari? Berapa hari terbuang dalam sebulan hanya untuk menghabiskannya di jalanan ibukota? Tidak perlu terkejut berlebihan. Masih banyak orang-orang di Jakarta dan sekitar Jakarta yang harus menempuh perjalanan lebih dari 4 jam per hari untuk pergi ke dan pulang dari tempat kerjanya. Wow! Siapa yang hendak menyangkal? Mereka termasuk orang-orang yang tangguh! Terdengar terlalu sinis? Mungkin iya. Istilah “tua di jalan” memang benar adanya.
8. Sikap rela berkorban
Tinggal di Jakarta atau hidup dan berkehidupan dari Jakarta harus senantiasa memupuk sikap rela berkorban. Rela untuk menghadapi situasi berkurangnya waktu berkumpul dengan keluarga. Rela terkorupsi waktunya di jalan. Rela mengorbankan tenaga dan pikirannya hampir habis untuk hal yang seharusnya tidak perlu. Tenaga, pikiran, dan emosi yang terkuras untuk menghadapi jalanan Jakarta seharusnya dapat dialihkan untuk hal-hal yang produktif. Demi mewujudkan waktu yang lebih berkualitas.
Hal-hal yang diungkapkan di atas, bukan sesuatu yang baru. Semua juga sudah tahu. Hanya terkadang, dengan berbagai alasan, kita seolah berupaya berdamai. Menerima karena keterpaksaan. Hanya sekedar menghibur orang Jakarta. Ternyata mereka termasuk orang yang tangguh. Boleh miris, boleh sinis. Inilah Jakarta. Kota yang sering dicaci, diumpat, namun tetap dicintai dan dihuni oleh jutaan warga, dengan segenap alasannya.
Jadi, masih siapkah untuk hidup dan berkehidupan di Jakarta? Semangat! Berarti anda termasuk salah satu orang yang tangguh! Salam
Kendaraan yang ditunggu tak kunjung datang. Begitu datang, penuhnya minta ampun. Sudah jelas-jelas penuh sesak, kondektur tetap matap dengan imbauannya, “Coba ya, bergeser ke tengah, di tengah masih kosong.” Padahal sudah jelas-jelas penuh sesak. Kalau sudah begini, patut bersyukur. Bisa mandi sauna tanpa perlu ke tempat sauna. Keringat dengan aroma tujuh hingga belasan rupa sudah bisa kita hirup. Masih terhitung lumayan kalau mandi saunanya di pagi hari ketika berangkat kerja. Jangan bayangkan aromanya ketika pulang kerja. Jalani saja. Niscaya anda akan menjadi orang yang tangguh.
4. Bertarung melawan kemacetan
Supaya tahan banting hidup di jakarta, siapkan kondisi fisik yang prima, ketahanan mental yang tetap terjaga, dan emosi yang terkendali. Pertarungan akan segera dimulai. Yang punya kendaraan sendiri maupun yang menggunakan kendaraan umum sama-sama harus bertarung melawan kemacetan. Yang membedakan, jika menggunakan kendaraan pribadi, masih beruntung. Macetnya masih di tengah kondisi ber-AC, sambil mendengarkan radio, atau sambil bersenandung kecil, atau teriak-teriak sendiri melampiaskan kesal karena macet. Resikonya, harus mengeluarkan biaya ekstra, biaya kemacetan. Bahan bakar yang diperlukan lebih banyak dibandingkan kalau tidak macet. Bagi yang berkendaraan umum, lengkaplah sudah penderitaan. Berdesakan, kepanasan, macet pula. Kita tidak perlu teriak, “Jokowi…Tolong…!”. Ini tanggung jawab semua. Tanggung jawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tanggung jawab SBY (Pemerintah Pusat) juga. Tanggung jawab kita semua. Jadi, SBY, jangan hanya curhat dan menyalahkan yang lain. Ini tanggung jawab bersama. Yang perlu diingat, jangan keluarkan kebijakan yang saling bertentangan. Cukup sudah kefatalan kebijakan mobil murah. Jangan ditambah lagi dengan kebijakan yang kontra produktif lainnya.
5. Latihan ketahanan telinga
Tidak cukup hanya di situ, warga Jakarta pun harus memiliki ketahanan terlinga yang ekstra. Bunyi klakson kendaraan tidak cukup hanya ditekan satu kali. Bisa berkali-kali. Padahal sudah jelas-jelas tidak akan memiliki fungsi. Warga Jakarta sudah kebal dengan bunyi klakson. Maksudnya, walau sudah berkali-kali dibunyikan, tetap tak bergeming. Jadi sebenarnya, percuma juga membunyikan klakson.
6. Latihan adaptasi dengan polusi
Tingkat polusi udara di Jakarta tidak perlu diragukan lagi. Sangat meyakinkan. Yakin seyakin-yakinnya, sangat terpolusi. Berapa banyak polusi udara yang diakibatkan oleh gas buangan knalpot jutaan kendaraan yang memadati Jakarta setiap hari? Berapa banyak karbonmonoksida yang anda hirup? Semoga dapat segera beradaptasi dengan kondisi yang terpolusi. Miris? Ya….
7. Berpacu melawan penuaan dini
Cobalah sesekali hitung. Berapa waktu terbuang untuk perjalanan yang dilakukan setiap hari? Berapa hari terbuang dalam sebulan hanya untuk menghabiskannya di jalanan ibukota? Tidak perlu terkejut berlebihan. Masih banyak orang-orang di Jakarta dan sekitar Jakarta yang harus menempuh perjalanan lebih dari 4 jam per hari untuk pergi ke dan pulang dari tempat kerjanya. Wow! Siapa yang hendak menyangkal? Mereka termasuk orang-orang yang tangguh! Terdengar terlalu sinis? Mungkin iya. Istilah “tua di jalan” memang benar adanya.
8. Sikap rela berkorban
Tinggal di Jakarta atau hidup dan berkehidupan dari Jakarta harus senantiasa memupuk sikap rela berkorban. Rela untuk menghadapi situasi berkurangnya waktu berkumpul dengan keluarga. Rela terkorupsi waktunya di jalan. Rela mengorbankan tenaga dan pikirannya hampir habis untuk hal yang seharusnya tidak perlu. Tenaga, pikiran, dan emosi yang terkuras untuk menghadapi jalanan Jakarta seharusnya dapat dialihkan untuk hal-hal yang produktif. Demi mewujudkan waktu yang lebih berkualitas.
Hal-hal yang diungkapkan di atas, bukan sesuatu yang baru. Semua juga sudah tahu. Hanya terkadang, dengan berbagai alasan, kita seolah berupaya berdamai. Menerima karena keterpaksaan. Hanya sekedar menghibur orang Jakarta. Ternyata mereka termasuk orang yang tangguh. Boleh miris, boleh sinis. Inilah Jakarta. Kota yang sering dicaci, diumpat, namun tetap dicintai dan dihuni oleh jutaan warga, dengan segenap alasannya.
Jadi, masih siapkah untuk hidup dan berkehidupan di Jakarta? Semangat! Berarti anda termasuk salah satu orang yang tangguh! Salam
0 komentar:
Posting Komentar