Sabtu, 30 November 2013

tri risma harini

Jakarta Kota untuk Orang yang Tangguh

OPINI | 11 November 2013 | 05:22 Dibaca: 1646   5 Kita sebagai warga Jakarta beserta warga sekitar Jakarta yang turut berkegiatan serta mencari kehidupan dan penghidupan di Jakarta patut mengapresiasi diri sendiri. Masing-masing layak untuk mendapat bintang. Berarti termasuk ke dalam kategori orang-orang yang tangguh.Yang patut diacungi jempol, disematkan bintang. Kalau perlu tempel di dahi masing-masing. Tidak semua orang mau dan mampu seperti warga Jakarta. Artikel ini sekaligus melengkapi artikel sebelumnya, yaitu “Kata Siapa Hidup di Jakarta itu susah”.
Ada syarat pertama dan utama yang harus dimiliki oleh orang yang hendak tinggal dan bermukim sebagai warga Jakarta maupun orang yang mencari kehidupan dan penghidupan di Jakarta. Harus tahan banting. Maksudnya ketika dibanting, tetap membal, kenyal, dan segera kembali ke bentuk yang semula. Istilah kerennya, memiliki daya resilience yang tinggi, memiliki daya lenting yang prima.
Berikut beberapa hal yang turut menguji sebagian warga jakarta menjadi orang yang tangguh. Yakin, pasti ada di antara warga Jakarta mengalami salah satu atau salah dua di antara kejadian di bawah ini. Kalau iya, bersyukurlah, berarti Anda cukup tangguh.
1.   Balapan dengan sinar mentari
Bagaimana tidak tangguh, hari pun harus kita mulai dengan balapan. Balapan dengan sinar mentari. Masih teringat orang tua selalu mewanti-wanti, “Kalau bangun tuh jangan siang-siang, nanti rejekinya dipatok ayam!” Sekarang nasihat tersebut, ternyata tetap dijalani. Walau karena keterpaksaan. Terpaksa harus balapan dengan sinar mentari. Jika tidak, semua akan kacau. Anak-anak terlambat masuk sekolah, sarapan belum sempat tersedia, bahkan telat masuk ke kantor. Terpaksa sinar mentari harus kita kalahkan.
2.  Mempertahankan kesabaran menunggu kendaraan
Bagi warga yang masih kurang beruntung karena tidak memiliki mobil pribadi atau belum kebagian mobil murah, harus siap melatih kesabaran awal di pagi hari. Menunggu kehadiran angkutan umum kopaja, metromini, busway, kereta, atau bahkan tukang ojek yang biasa mangkal di ujung jalan. Terkadang, pekerjaan menunggu angkutan massal ini membutuhkan pertahanan kesabaran ekstratinggi. Sekalipun lewat, belum tentu tersedia tempat, bahkan untuk nyempil sekalipun. Terpaksa menunggu moda selanjutnya. Tidak tanggung-tanggung, pada jam-jam sibuk, terutama pagi dan sore hari, bisa hingga hitungan jam, yang ditunggu tak jua kunjung hadir

0 komentar:

Posting Komentar